The Crane Dan Lima Bayi Kembar

The Crane Dan Lima Bayi Kembar
Bab.10


__ADS_3

"Pak Dewa, ada baiknya kita dengar apa kata Pak Sarimon." Sekarang Baim yang khawatir. Kalau ada apa-apa pada Dewa, bagaimana dia bertanggung jawab pada bos besarnya. Nyawanya ikut jadi taruhan.


Bagaimanapun aku harus ke sana dalam hati Dewa. "Aku mau melihat sendiri, Baim. Kalau kau takut tidak usah ikut, tunggu di sini," ujarnya.


"Melihat apa Pak Dewa?" tanyanya.


Baim melihat ke arah pohon tidak ada apa-apa yang aneh kecuali perasaan seram dan angker karena tertutup kabut seolah ada penunggunya makhluk tak kasat mata. Lagian untuk apa mendatangi sarang ular dalam hati Baim, sejak kapan Dewa tertarik dengan hewan melata. Setiap berburu, paling kelinci ataupun rusa, ah. Cari masalah, geram Baim.


"Kalian tidak melihat ada Bangau dibalik pohon itu?" Tanya Dewa pada semua pengikutnya.


Semua pandangan fokus melihat pada pohon namun tidak ada apa-apa selain kabut, tempat gitu jauh mana nampak lalu mereka menggeleng bersamaan. "Putih-putih maksud Pak Dewa, bukankah itu kabut Pak?" lanjut tanya Sarimon.


"Itu yang aku mau cari tahu, kalian tidak bisa melihat maka aku akan ke sana. Aku mau perahu dalam lima menit, cepat! Dan jangan berisik nanti dia kabur!"


Suara Dewa semakin gak sabaran, takut Bangaunya hilang tapi kenapa cuma dia yang bisa melihat. Kali ini dia tidak mau kehilangan Bangau cantik yang telah menawan hatinya itu.


***


Sementara itu Kireni masih asik menari, tidak mengetahui ada bahaya yang mengancam. Seekor buaya buntung sedang berjalan mengendap perlahan-lahan mendekatinya.


Beruntung Mengyue membuat pembatas alam, sehingga si buaya tidak bisa mendekati Kireni dalam jarak dua meter. Saat menyadari ada yang aneh. "Ha...han..tuuu?" Si buaya teriak ketakutan melihat Kireni lalu lari tunggang langgang melompat ke dalam air dengan nafas ngos-ngosan. Karena tertutup selimut kabut Peri, wujud Kireni hanya terlihat seperti bayang-bayang kakinya gak jejak tertutup kabut.


"Hahaha!"


Kireni tertawa geli setelah menyadari ada buaya ketakutan saat melihat dirinya lalu Kireni kembali menari dengan memeluk gambar Pangeran.


*


Sampai pada habitatnya. Hah! Hah! Hah! Buaya menghembuskan nafas besar-besar.


"Jadi cerita raja katak mengenai Hutan Rawa sekarang berhantu tidak bohong, Bos?" tanya teman-teman buayanya.


Buaya menangis meringkuk seperti anak kecil, dia tidak perduli lagi dengan statusnya sebagai kepala Preman di daerah Hutan Rawa.


"Ka-kalau ti-dak percaya, pergi lihat sen-diri, hiks hiks," jawab Buaya gagap, tubuhnya masih gemetaran.


"Barusan juga manusia berteriak-teriak seolah melihat hantu," jelas salah satu buaya yang hadir prihatin dengan keadaan kepala preman yang biasanya galak mendadak jadi cemen.


Segitu mengerikan kah si hantu?

__ADS_1


Saat beberapa buaya sedang mengintai bangau, gosip itu juga telah sampai ke telinga beberapa diantara mereka, namun belum ada yang melihat langsung.


"Jadi bagaimana sekarang, hutan rawa ini sekarang anker tidak aman untuk ditinggali. Aku tidak mau mati ketakutan tapi kemana kita akan pergi cari tempat baru? Kita bukan burung yang bisa terbang berpindah-pindah ke tempat yang jauh." Seru kawanan Buaya, mereka berkumpul semakin ramai. Berita Kepala preman ketakutan melihat hantu telah tersebar luas di kawasan hutan.


"Bagaimana dengan bangsa ular, apa mereka tidak takut?" tanya satu buaya.


"Tentu saja takut," jawab anakonda tiba-tiba kepalanya muncul dari dalam air.


Ahhh!


"Bikin kaget saja! Kamu nguping ya," jerit seekor buaya terkejut hampir terkentut melihat anakonda tepat di belakangnya.


Hehe.


"Maaf tidak sengaja." jawab Anakonda. "Aku hewan paling berani dan ditakuti bangsa hewan dan juga manusia tapi pada hantu, aku nyerah," Lanjutnya.


"Hahahaha," semua buaya tertawa.


***


Akhirnya anak buah Dewa berhasil mendapatkan satu perahu dayung, bersama dengan supir yang merupakan seorang pawang.


"Benar Pak Dewa," Baim setuju pake bingit.


"Kamu bisa bawa saya ke sana?" tanya Dewa pada yang punya perahu, tidak perduli kekhawatiran orang-orang.


"Di situ berbahaya Tuan, ada liang ular sebesar pohon kelapa," jawab Pawang.


"Kamu tidak mau membawa saya ke sana?" Dewa ngotot ingin pergi juga, sendirian juga gak apa-apa lebih bagus.


"Silakan kalau Bapak tidak takut," jawab Pawang. "Saya sudah biasa dengan hewan melata tapi kalau ada apa-apa hanya bisa menyelamatkan diri sendiri, saya tidak bisa menolong Bapak," jelasnya.


"Baik, bawa saya ke sana. Kamu tidak akan disalahkan kalau terjadi apa-apa tapi kalau kau sengaja mau mencelakai saya, kamu tanggung akibatnya." ancam Dewa memandang sekali lagi ke pohon. Masih ada bayangan putih meliuk-liuk seperti gadis penari.


"Siap Tuan, mari silahkan naik ke perahu."


"Pak Dewa, tolong jangan pergi!" tahan Baim penuh drama. "Biar saya saja," lanjutnya.


Lebih baik dia yang mati di tangan ular atau buaya-buaya itu, dari pada Pak Dewa yang celaka, dirinya akan tetap mati di tangan bos besarnya.

__ADS_1


"Tinggallah disini Baim, saya tidak akan lama."


Hah!


Akhirnya Baim melepas kepergian Dewa naik perahu dengan perasaan gelisah, masalahnya tidak ada pelampung keselamatan. Hanya modal nekad, kalau ada perahu ekstra kan dia bisa ikut nyusul tapi Dewa melarang tegas pergi beramai-ramai. Alasannya berisik Bangau jadi takut lalu kabur.


Dewa terus memandang ke pohon, takut cahaya putihnya menghilang. "Apa anda melihat cahaya putih dari balik pohon itu?" tanyanya pada supir perahu.


Supir memandang ke pohon, terlihat hanya kabut menutupi bagian batang sebelah bawah setinggi dua meter. "Kabut itu, maksud Tuan?" supir perahu balik bertanya, karena memang dia tidak melihat apa-apa.


Sepanjang berkarir di hutan Rawa tidak pernah ada penampakan aneh di sekitar pohon itu walaupun kelihatan angker selain penampakan Ular dan telur-telurnya.


Itu adalah tempat yang tidak akan dikunjungi kawanan Bangau, bagaimana Tuan ini menduga disitu ada Bangau?


Hem, desah Dewa. Kenapa cuma aku yang bisa melihat cahaya putih itu dalam hatinya semakin penasaran. "Bisa lebih cepat lagi?" Dewa gak tahan melihat pawang mengayuh dayung perlahan seperti kura-kura jalan. Ingin rasanya ia gantian mendayung, biar cepat sampai.


"Ini batas maksimal paling cepat Tuan, sebaiknya jangan mengundang bahaya. Air beriak bisa membangunkan buaya lapar," jelasnya. "Dan anda merupakan santapan yang lezat bagi anakonda saat musim kawin."


Gleg, Dewa menelan liur susah payah melihat ke dalam air apa ada makhluk menggelikan itu di bawah perahu mereka. Kalau jatuh lumayan seram juga dalam hatinya.


"Sudah berapa lama kamu berperahu di Rawa ini?" tanya Dewa.


"Lima tahun Tuan," jawab supir perahu.


"Sendirian saja?"


"Semula berlima Tuan, saat satu teman meninggal dimakan buaya akhirnya yang tiga lainnya menyerah, gak mau jadi santapan Buaya ataupun ular berikutnya," jelas supir perahu.


"Tugasmu apa saja?" tanya Dewa lagi mengusir kebosanan.


"Hanya mengawasi setiap buaya dan ular dewasa yang akan diambil kulitnya, nanti petugas dari perusahaan yang turun ke lapangan buat eksekusi," jawab supir perahu.


"Hikado and co maksudnya?"


"Benar Tuan," jawabnya.


"Kamu tidak takut jadi santapan buaya?" Dewa.


***tbc.

__ADS_1


Like, komen and share, jumpa lagi 👍 thanks guys.


__ADS_2