
"Paman kita jumpa lagi, tapi maaf karena harus berangkat subuh kami belum sempat sarapan, berilah kami sarapan yang lezat." ucap Sebi si juru bicara mewakili adik-adiknya.
Siapa juga yang nyuruh kalian datang subuh.
Gerutu Dewa hanya berani dalam hati. "Tidak masalah tapi tunggu sebentar koki sedang membuatnya, tidak akan lama. Bagaimana kalau sambil menunggu kalian membersihkan wajah dulu," usul Dewa melihat mata dan mulut bayi-bayi merupakan gambaran anak manusia normal bangun tidur pada umumnya.
Hehe, bayi-bayi jadi malu. Karena takut ketinggalan, saat bangun mereka langsung melompat ke kamar Sora yang telah siap berangkat. Kalang kabut mereka ikut dengan apa adanya.
"Kalian boleh menggunakan kamar mandiku, ayo aku tunjukkan." ujar Kireni berdiri, berjalan menuju kamarnya.
"Ayo bayi-bayi kita ke kamar mandi," sitters mengajak anak asuhnya mengikuti Kireni, takut tuan rumah jadi gak nafsu makan. Nyium bau pesing dari popok yang penuh tapi gak mau ganti sebelum bertemu Kireni.
Beruntung semalam mereka telah bersiap dengan berbagai perlengkapan anak asuh masing-masing. Sudah tau bahwa besok bakalan heboh.
"Tunggu!"
Panggil Sora mau ikut juga walaupun gak harus mandi. Ia hanya tidak mau duduk berdua dengan Paman Dewa, ketampanannya mengintimidasi. Takut hatinya berpaling dari Omze.
Bayi-bayi telah rapi, cute dan menggemaskan, duduk rapi di meja makan Dewa. Sejak bisa memegang sendok, pisau dan garpu makan, mereka tidak pernah lagi mau disuap.
Papa Bram pernah mencoba menyuap Moni dan Choi dengan uang satu juta dollar saat kedua bayi kembarnya itu tidak mau pisah tidur dari Kiara.
"Bisa kena prostat kalau pedang lama gak diasah, ya kan!"
Bram mengeluh pada istrinya padahal baru satu malam gak kena, udah uring-uringan. Duduk gelisah, berdiri gelisah apalagi baring tambah gelisah.
Malas mendengar suaminya, ditanggapi tidur oleh Kiara. Karena memang dirinya yang talah menghasut kedua bayinya agar mereka mau tidur bersama. Kiara gak tahan pada Bram yang minta jatah mulu gak siang gak malam.
"Kapan Mama bisa tidur nyenyak, iya kan!" Keluhnya pada kedua bayinya.
Kedua bayinya itu pun menolak tegas demi membela Mama Kiara yang merasa diperbudak olah Papa Bram. "Harga seorang Mama bagi kami, tidak ternilai Paa." Baby Moni and Choi berbarengan kemudian memeluk Mama Kiara tertidur sampai pagi.
"Heh."
Bukan Bram namanya kalau gak punya akal yang bijak. Keesokan harinya sebelum malam, saat mandi sore dia membiarkan bayi-bayi berenang sampai mereka kelelahan.
"Setelah ngantuk tidur dimanapun mereka gak bisa protes lagi kan. Hahaha, problem solve."
__ADS_1
Brama pun lembur menggempur Kiara sebagai hukuman, membuat adik untuk Moni and Choi sampai pagi menjelang.
Hah!
Kiara pingsan gak bisa gerak dari kasur, semua-semua dilayani Bram dengan senang hati, hihi.
*
Ayah Yudi juga pernah mencoba menyuap si kembar tiga Baby Lara, masing-masing dengan uang satu milyar rupiah.
"Ayo tidur bersama Sebi, Sevi dan kamu Duta please, Ayah dan Mama kangen kita seperti dulu." Yudi memohon pada ketiga buah hatinya yang masih belum puas mencurahkan kasih sayangnya.
Anaknya baru usia satu tahun sudah minta kamar pribadi masing-masing, walaupun masih tetap ditemani sitter dan seorang bodyguard yang menunggu di luar kamar.
Tapi ketiga bayi itu menolak tegas. "Ayah stop childish, please! We've grown up, now. Sudah saatnya punya privasi sendiri-sendiri, oke."
Untuk menghibur suaminya. "Sudahlah Bang, kita bikin adik saja buat mereka sampai abang puas," ajak Mama Laras.
"Nah tunggu apalagi, ayo ayah semangat. Mumpung Mama ngajak tuh, hajar!" Ketiga Bayi berbarengan.
"Aaargghh!" Yudi terotak.
Mama Laras rela berkorban sampai pingsan kelelahan, digempur Ayah Yudi lembur sampai pagi. Tak mau kalah dari si Bosnya, Bramasta Omes.
Yudi gak pernah pakai pengaman, Laras juga gak pasang kabe atau minum sesuatu untuk mencegah kehamilan
Tapi kenapa istriku belum isi lagi, usia tiga bayi sudah lewat satu tahun. Soal bercocok tanam lancar..
Dalam hati Yudi menghitung, siapakah yang menghamili Laras dulu. Dirinya sendiri ataukah dirinya saat hilang ingatan.
"Itu sama juga kamu yang menghamili, Yudi!" jelas othor.
"Hehe," gelak Yudi semakin giat mencangkul istrinya menanam benih, sampai kemudian.
"Sayang....arrrgg!" Ia nembak seperti petasan tahun baru melayang sampai langit ketujuh.
Laras bergetar menahan semburan air keni'matan suami di dalam dirinya. "Bang! Jangan muncrat-muncrat sampai keluar, tunggu didalam agak lamaan biar nempel," tegurnya.
__ADS_1
Kelamaan bergaul dengan Yudi, sekarang Laras sudah mahir membaca pikiran suaminya. Dengan melihat dari ekspresi wajahnya yang memang pengen banget nambah momongan.
"Hehe, habisnya enak banget dek argh." Yudi nyengir kuda menahan dengkulnya yang getar.
"Si abang mau momongan, gak!"
"Iya, habis ini ronde kelima kita rendam."
*
Kembali ke Mansion Dewa.
Kelima bayi kembar makan dengan lahap, tidak seperti biasanya malas-malasan satu porsi dua jam baru kelar. Kalau ditegur mereka pandai memberi alasan, satu suapan harus mengunyah sebanyak tiga puluh enam kali gigitan sesuai standard ahli gizi.
Baim terpaksa makan di lantai satu bersama dua bodyguard Dewa, mereka jadi tidak kebagian tempat duduk karena sudah diisi oleh lima bayi ditambah sepuluh pengasuh. Padahal meja makan sudah ukuran delapan belas kursi, semua full untuk tamu tak diundang.
Selesai makan Baim naik ke lantai dua untuk memeriksa apakah Pak Dewa sudah selesai makan, ternyata masih menunggu lima bayi menghabiskan sarapannya. Lagi santai disuap sitters masing-masing karena tangan mereka kelelahan, sementara makanan masih ada sisa.
"Kalau sudah kenyang ditinggal saja," tegur Dewa.
"Sayang Paman, mubazir kalau tidak dihabisin. Ini makanan terlezat yang pernah aku makan." Kata Duta alasan, dia jadi berselera makan karena duduk di samping Kak Kirennya.
"Iya aku juga merasa begitu," sambung bayi lainnya serentak dengan niat yang sama agar sering-sering diundang makan.
Hum.
"Meja makan perlu diganti Baim, ke ukuran yang lebih banyak bangku lagi." Dewa menghibur Baim, ia tau asistennya itu kesal.
"Siap Bos, tapi apakah perlu? Mereka tidak akan setiap hari makan di sini kan," jawab Baim yang langsung mendapat tatapan tajam dari bayi-bayi.
"Baim, lakukan saja dari pada kamu tidak kebagian kursi!" Sebi si juru bicara merasa perlu maju unjuk rasa mewakili bayi-bayi lain yang juga merasa tersinggung.
"Aku sudah menghitung semua ada 18 kursi, tambah dua kali lipat saja jadi 36 kursi," lanjutnya sambil mengunyah suapan terakhirnya.
"Aku sebagai ketua kelompok akan mengundang keluarga WJ lainnya untuk merasakan kelezatan masakan koki Mansion Paman Dewa. Koki Hotel WJ juga kalah, huh."
***tbc.
__ADS_1
Like, komen and shara, 👍.