
"Hm," angguk keempat bayi lainnya mereka juga sempat membaca.
"Pembelinya ngantri sepanjang jalan Baru," sambung Sevi.
"Jadi kalian mengambilnya dari penjual jalanan?" Alisha tak percaya bayinya menggunakan mantra untuk mencuri.
"Jangan khawatir Nena, kebab-kebab ini sudah dibayar jadi halal dimakan," jelas Moni si Bendahara yang mengerti arti ekspresi wajah Alisha.
"Oh syukurlah," ucap Alisha.
"Akhhh sumpah, ini pedas banget!" teriak Sabit yang baru tiga gigitan sudah gak tahan, air matanya keluar.
"Hahahaha," tawa para bodyguard melihat Sabit, sebagai mantan tentara mereka sudah biasa makan pedas jadi bisa tahan.
"Obat ngantuk untuk meningkatkan kewaspadaan seperti sekarang," kata mereka sudah mulai relaks tidak lagi merasa khawatir.
*
Acara makan kebab petir berlangsung damai, Bram dan Yudi di dalam jet pribadi masing-masing tersenyum bahagia melihat kelucuan bayi-bayi mereka melalui layar kaca lebar. Kedua orang tua dari bayi-bayi ajaib itu merasa senang mengetahui bayi-bayi mereka dalam keadaan aman tiada yang perlu dikhawatirkan.
Ada-ada saja.
Dalam hati Bram bersandar di kursi ruang khusus pesawat pribadinya yang bisa diturunkan sandarannya layaknya kursi malas.
"Tunggu sampai besok pagi, Papa akan menghajar kalian Moni Choi!" Presiden direktur grup WJ itu mengancam kedua bayinya.
"Memangnya tidak takut dipulangkan." Choi balik mengancam Papanya sambil menelan gigitan terakhir dari dua kebab yang dimakannya.
"Hahahaha."
Tidak ada yang tidak tertawa, kecuali Bram, Big Bos grup WJ itu pasang tampang merengut.
Semua Anak buah memandang segan dan hormat padaku malah bayiku sendiri menganggapku remeh.
Kiara melihat raut kecewa Bram. "Hei! Apa kamu tidak tau dimana kampung halaman Papamu choi, di Negara yang sekarang kamu berada! Coba saja pulangkan sekarang." Mama Kiara berkata pada bayinya membela harga diri suaminya.
"Eheg."
Kelima bayi cekukan, bau kebab menguar dari mulut mereka.
Oh no.
"Mama! Tidak perlu terburu-buru ya, kita bisa menunggu kok! Dah Papa dah Mama hati- hati di udara," ujar Baby Moni cepat-cepat.
Dia yang paling takut diantara semua karena ulahnya dan adik kembarnya perusahaan orang tuanya mengalami banyak kerugian.
Di dalam pesawat pribadinya, Bram tersenyum jail pada istrinya. "Ayo sayang. Lebih baik kita buat bayi-bayi baru yang tidak nakal seperti kakak-kakak mereka," ujarnya menyeret Kiara, semua yang mendengar tidak bisa tidak tersenyum
Astaghfirullah, gak dibela salah dibelain malah lebih salah.
Kiara pasrah dibawa masuk ke kamar oleh suaminya.
Dasar omes.
*
__ADS_1
Dewa dan Kireni tidak ikut makan kebab, kedua orang itu benar-benar tidak berselera. Mereka duduk bersandar sambil melamun, diam seribu bahasa.
Kedua pangeran Bangau memandang kasihan pada adik mereka.
Dewi, apa rencanamu?
Tanya kakak ketiga melalui pikirannya, kelima bayi diam-diam konsentrasi menguping pembicaraan.
Satu lagi pengetahuan Kireni bertambah setelah Nadi Perinya dibuka yaitu kemampuan membaca pikiran.
Telepati juga membaca pikiran bedanya adalah orang yang dibaca pikirannya harus memiliki kemampuan telepati juga. Seperti aplikasi grup chat di ponsel, sekali tersambung selamanya akan terhubung jika kita menginginkan nya.
Sementara kemampuan Kireni bisa membaca pikiran siapa saja meskipun orang itu tidak terhubung dengan pikirannya atau orang awam sekalipun, maka dengan mudah Dewi Bangau Abadi itu mengetahui isi pikiran Dewa bahwa Pamannya itu belum siap berpisah dengannya.
Kemampuan itu juga dimiliki oleh kelima bayi mengikuti Kireni yang tidak sengaja telah mentransfer energinya kepada mereka, secara otomatis.
Betapa ajaibnya pil hitam emas Dewa Naga.
Dalam pikiran kedua kakaknya berharap Dewa Naga Naga punya pil ekstra, dihukum apapun pasti tidak akan musnah kecuali malaikat kematian yang datang menjemput.
Kalau memang harus mendapatkan hukuman, aku mohon minta ditangguhkan sampai Pangeran Poenix kembali ke Alam Peri, bolehkah Kakak?
Kelima bayi saling melirik, mereka tidak berani berpikir macam-macam. Demikian juga Sora, berat juga jadi Peri dalam hatinya.
Kakak Kedelapan dan Kakak ketiga saling pandang.
Setelah kembali ke alam Peri, kami akan mencoba selidiki masalah ini. Kamu tidak sengaja berbuat kesalahan, adik Kiren. Kakak akan membelamu sampai ke pengadilan tertinggi.
Kakak Kedelapan memberi dukungan semangat pada Adik kesayangannya.
Ucap pikiran Kireni.
Kami pergi dulu Dewi, tunggulah berita baik pada pertemuan kita yang selanjutnya.
Ujar kedua Kakaknya.
Apakah kalian akan memberitahu ayah?
Tanya Kireni.
Seharusnya Dewi, tapi kami akan coba menghindari pertemuan dengan ayah selama mungkin sampai masalah ini jelas bagi kami sendiri.
Jawab Kakaknya.
Terimakasih.
Ucap Kireni lalu,
Cring!
Kedua jelmaan Bangau itu pun menghilang disaksikan oleh kelima bayi, Dewa dan Sora.
Mengetahui Kireni bersedih Duta menghampirinya. "Kak Kiren," panggilnya naik ke pangkuan Kakak cantiknya.
Hm," jawab Kireni lemah mengecup kening Duta.
__ADS_1
Melihat itu Dewa tidak mau tinggal diam, pria dewasa itu balas memeluk di bahu Kireni.
Ck, decak Sabit merasa cemburu.
Dalam hal memeluk Kireni aku selalu tak berdaya, sudah pasti kalah bersaing dengan bayi dan orang dewasa itu, hah!
Keluhnya membuang muka tak mau menatap lagi.
Mengingat Papa dan Mamanya akan sampai besok pagi, sementara perusahaan belum berjalan sebagaimana mestinya, Moni bayi pertama di keluarganya itu tentu saja paling khawatir melebihi adik kembarnya.
"Kalau sudah selesai tidak perlu menunggu lama lagi ya," ujar Moni mengusap bibirnya yang belepotan saos lalu menenggak semangkuk air, eheg.
Beruntung Dwi banyak membawa persediaan air minum, sehingga tidak perlu membaca mantra untuk mendapatkan nya.
"Siap Choi?"
Sebi si ketua mengerti pikiran Moni, dirinya juga khawatir kalau WJ bangkrut Ayah Yudi juga ikut bangkrut kan.
"Siap!" Baby Choi, mengangkat jempol mungilnya.
"Kami juga siap!" Lara Duta dan Sevi ikutan mengangkat kelima jarinya.
Kali ini Barus dan bodyguardse tidak terlalu ketat di dalam pengawasan, kalau pun datang Monster dari alam gaib mereka bisa apa. Lebih baik jadi penonton yang budiman, kalau sukses ikut tepuk tangan kalau belum jangan putus asa.
"Jadi kita ke tengah jalan Baru sekarang?" Tanya Dewa pada Kireni.
Gadis Peri itu merasa tidak perlu, apalagi sekarang pandangan masyarakat semakin tajam mencari keberadaan Bayi Penyihir. Setiap bayi diperiksa orang-orang yang penasaran, hatinya jatuh kasihan.
Tiga Lara apa sudah menyiapkan mantra?
Tanya pikiran Kireni kepada bayi-bayi memandang Duta di pangkuannya.
Aku belum.
Jawab Sevi.
Aku juga belum kepikiran.
Geleng Duta.
Na do
Pikiran Sebi merasa sebagai ketua dirinya tak berguna, kenapa tidak punya bacaan mantra, ah!
Tidak usah sedih Sebi, aku yang akan membantu Choi dan Moni.
Ujar Kireni masih telepati dengan kelima bayi
"Yes," serentak Bayi.
Orang dewasa yang gak punya kemampuan peri hanya diam mendengarkan.
***tbc
Like komen and share 👍.
__ADS_1