
"Sebelum membaca mantra sebaiknya biarkan Choi memantau keadaan sepanjang jalan protokol," bisik Kireni yang masih bisa di dengar olah penumpang lainnya.
Barus Kelana yang lagi nyetir, "ehem," berdehem untuk meminta perhatian sebelum bicara.
Kepala Bodyguard grup WJ itu baru saja menerima laporan dari anak buahnya yang berjaga di Hotel dan Gedung perkantoran grup WJ juga di sekitar Apartemen Tuan muda Bramasta Wijaya.
Seperti segitiga bermuda yang sedang badai di lautan, daerah pusat perekonomian WJ grup itu dipenuh oleh gelombang manusia.
"Saya sudah mendapatkan laporan dari anak buah yang berjaga di sekitar jalan Protokol Nyonya," ujarnya memulai laporannya.
"Ha, bagaimana keadaannya Barus, apakah ada masalah?" Alisha bertanya nada khawatir.
Melirik Alisha dari spion. "Sepertinya Nyonya," jawab Barus. Hah, menarik nafas pelan sebelum lanjut bicara.
"Sepanjang jalan Protokol tiba-tiba ramai didatangi masyarakat dari berbagai daerah bahkan dari luar Negeri," jawab Barus suaranya terdengar lemah.
O
Semua orang tanpa sadar membuka mulutnya lebar, mendengar dengan seksama.
"Tujuan beberapa maskapai internasional ke negara I petang tadi, merupakan penerbangan terbanyak sepanjang sejarah dan akan bertambah banyak lagi pada esok hari menurut siaran Radio Bandara dan Menteri Negara Kepariwisataan," lanjut Barus menyampaikan laporannya sambil mengemudikan mobilnya perlahan akhirnya berhenti di sisi jalan, mengikuti arahan dari mobil anak buah yang berada di depannya.
Mereka hampir tiba di jalan Baru ternyata sama juga seperti di Jalan Protokol, jauh beberapa meter di depan ramai luar biasa masyarakat turun ke jalan.
"Hah," menarik nafas lagi sebentar. "Sampai sebulan ke depan booking tiket tujuan Jkt penuh seluruh maskapai dalam dan luar negeri," lanjut Barus menyudahi laporannya
"Wow, keren!" Teriak kelima bayi penuh kekaguman, ternyata kedatangan mereka ke tanah kelahiran orang tua mereka tidak sia-sia.
Aduh, mati aku.
Keluh Kireni menepuk jidatnya, Dewa yang merasa kasihan merangkul bahunya mencium pelipis gadis kecilnya.
Si Bendahara kelompok berpikir lebih ke segi ekonomi. "Bagaimana sekarang, apakah Choi bisa mengembalikan keadaan?" Baby Moni yang duduk di pangkuan Nena Alisha bertanya khawatir pada adik kembarnya.
Perusahaannya tidak boleh Shutdown terlalu lama, Moni tak sanggup membayangkan berapa ratus M kerugian yang akan ditanggungnya. Sebagai ahli waris grup WJ, bukannya mendapat harta malah tekor menjadi berhutang.
Semua mata sekarang memandang si Bayi Penyihir.
__ADS_1
"Aku pasti bisa!" Baby Choi menjawab yakin akan kemampuannya.
"Hah!" Menarik nafas lega. "Syukurlah Choi! Kamu tidak mau kan, kita membayar hutang WJ sepanjang hidup," Baby Moni nada serius berbicara layaknya sebagai seorang pengusaha.
"Fruufht."
Alisha mau gak mau tersenyum geli mendengar kata-kata bijak cucunya.
Ha, aku saja pusing.
Dalam hati Kireni mendelik melihat Choi yang santai bersandar di dada Paman Dewanya, Peri burung Abadi itu dapat mendengar detak jantung bayi itu paling deg degan diantara manusia fana yang ada di dalam mobil mewah itu. Bukan karena khawatir atau gemetar karena takut akan tetapi karena terlalu bersemangat.
Merasa malam ini dia akan jadi bintang panggung, membaca mantra di depan orang banyak merupakan kebanggaan tersendiri baginya. Jadi pusat perhatian dan dielu-elukan sebagai Bayi Penyihir hebat adalah impiannya.
"Apa rencanamu Choi?" Tanya Lara Sevi yang duduk di pangkuan Nainai Dwi menatap kagum pada saudari kembarnya.
"Apakah kamu ada ide?" Tanya Choi balik memandang Sevi masih santai walau hati berdebar.
"Yeeaaah!" Keluh keempat bayi bersamaan menepuk kening masing-masing.
"Harus bisa Choi, aku akan membantumu." Moni berkata yakin dan pasti.
"Kamu punya ide?" Tanya Sevi.
Hm, angguk Moni. "Bukankah saat itu kita berdua yang membaca mantra," ujarnya pada Choi. "Kamu baca matra Om Harry dan aku membaca mantra Tante Harmoine," lanjutnya.
"Ah!" Pekik Alisha membuka mata dan mulutnya lebar. "Jadi bukan cuma Choi yang penyihir?!" Lanjutnya bertanya makin teriak, masih tidak percaya dengan apa yang didengarnya.
"Iya itu benar Nena," Lara Sebi yang menjawab. "Akhirnya aku sadar kenapa ini menjadi masalah besar, karena memang ada dua mantra sekaligus yang dibaca secara berurutan, hah!" Keluhnya menepuk-nepuk jidat kecilnya.
Duta mendelik, wajahnya merah padam sekarang. "Iya, sekarang aku ingat ini adalah ulah kalian berdua!" Marahnya pada kedua Bayi Moni dan Choi.
"Jadi memang kalian berdua yang harus membaca ulang mantra, syukurlah kamu mendapat bantuan Choi! Ayo Choi, Baby Moni semangat!" Teriak Lara Sevi memberikan dukungannya.
"Akhirnya masalah terpecahkan, andai aku punya mantra dengan senang hati pasti akan ikut membantu," keluh Sebi si jubir menyesali dirinya sebagai Ketua hanya manusia biasa.
Semua orang dewasa terdiam mendengarkan kelima bayi berdiskusi, tidak ada yang menyadari Kireni pusing tujuh keliling mencari cara penyelesaian kecuali Paman Dewa yang memandang prihatin padanya.
__ADS_1
*
Melihat mobil di depannya, Samsir juga membawa mobil yang dikemudikannya ke sisi jalan. Berhenti tepat di belakang mobil yang dikemudikan Barus, disusul oleh mobil pengiring lainnya.
"Ada apa?" tanya Sabit hendak turun dari mobil yang ditumpanginya, sepuluh menit tidak melihat Kireni bagaikan seabad rasa rindunya.
"Kita tidak bisa maju lebih jauh lagi Samsir." Arjit berkata pada supir setia Alisha itu.
"Benar Manager," angguk Samsir menyandarkan tubuhnya.
Berpuluh tahun ikut keluarga Wijaya dari semenjak remaja baru ini ada kejadian seperti ini, darah keturunan penyihir, ada-ada saja.
Dalam hatinya melihat ke ujung jalan ramai orang berkerumun.
"Aku ke mbak Alisha sebentar!" Arjit pamit pada istrinya mau menyusul Sabit yang telah berjalan terlebih dahulu.
"Hm," angguk Olivia mau ikut turun ia segan. Sudah lebih setahun mereka nikah masih belum bisa akrab dengan Alisha, kakak iparnya itu seolah menjaga jarak dengannya.
Arjit berjalan sampai di mobil Alisha berdiri di samping Sabit, Barus telah membuka pintu geser untuk mereka berdua agar bisa berbicara dengan penumpang yang berada di dalam.
Malas berdiri di luar seperti kambing congek. "Sebi biar Pepa gendong kamu," ujar Arjit ingin bergabung duduk di mobil kakaknya.
Mendengar itu Sabit gak mau dong kalah dari Pepa, merasa tubuhnya lebih kurus dari Pepa maka dialah yang lebih pantes duduk. "Sebi, aku yang pangku saja!" Ujarnya maksa menggendong adik bayinya itu nyelonong duduk diantara Kireni dan Sora.
Ah selamat.
Batinnya tersenyum dalam hati, untuk pertama kali dia bersenggolan dengan cewek seumur hidup selain adik-adiknya.
Ck, decak Arjit mendelik pada Sabit, merasa dirinya juga kurus. "Ayo Sora bangun, beri Pepa duduk."
"Aaa," rajuk Sora.
"Pepa pangku kamu," ujar Arjit mendelik pada si gempal.
Mendengar itu Dewa menggeser duduknya lebih mepet ke tepi, Kireni mengikut Pamannya.
***tbc.
__ADS_1
Like Komen and Share 👍.