The Crane Dan Lima Bayi Kembar

The Crane Dan Lima Bayi Kembar
Bab. 83


__ADS_3

O


Kelima bayi melongo.


"Lalu siapa yang pernah berkata kalau mereka telah dewasa tidak akan mudah menangis?"


Kelimanya pandang-pandangan.


Aku.


isi pikiran Sebi


Aku juga pernah.


Isi pikiran Sevi.


Kita juga Choi.


isi pikiran Moni.


Astaga.


Ucap Choi.


"Bukan aku yang bilang uuu aku mau Kak Kireni," jawab Duta sedih, jauh dari kakak cantiknya sama dengan mimpi buruk yang menyeramkan.


Keempat bayi perempuan memandang gak senang pada Duta, mereka serasa dikhianati oleh satu-satunya lelaki di kelompoknya.


Ingat jangan ada yang pernah percaya pada mulut lelaki.


Ujar pikiran Sebi.


Benar, lihatlah ini contohnya.


Isi pikiran Moni menatap sinis Duta.


Ketiga lainnya menatap tajam Duta yang masih menangis dengan tidak tau malunya.


Hei, jangan menatapku begitu, ini bentuk usahaku agar kita bisa bersama Kak Kireni lagi.


Kata Bayi lelaki itu membela dirinya.


Tapi tidak dengan cara berkhianat juga kan.


Sinis keempatnya.


Terserah kalian, pokoknya segala cara akan aku lakukan untuk Kak Kiren.


"Uwaaaaa, aaaa." Duta semakin teriak.


Merasa berisik mendengar suara bayi menangis, Kiara tidak mau lebih lama lagi mempermainkan perasaan kelima bayi seperti Bram, "Kak Kiren ada di sini di lantai tiga," ujarnya.


Cis, dengus Bram.


O


Kelima bayi pandang-pandangan.


"Benar Ma?" Tanya Choi langsung turun dari pangkuan Kiara ingin segera ke lantai tiga.


"Benar sayang," jawab Kiara.


"Kalian lebih merindukan orang lain dari pada Papamu, Choi dan kamu Moni."


Kata Bram lalu menangkap kedua putri kecilnya si bayi Penyihir nakal.


"Aaaaaaa, aaaaaa!!!" Teriak kedua bayinya antara senang dan khawatir.


"Hahaha, dasar penyihir nakal apa yang telah kalian lakukan pada perusahaanku!" Bram berlagak marah mengangkat kedua bayinya setinggi tangannya ke udara.


Waduh.


Gawat.


Dalam pikiran Moni dan Choi yang bisa didengar keempat bayi lainnya.


"Aaaaa, Papa ampun!" Teriak Choi, disusul teriakan Moni. "Ampun Papa!"


Kiara yang merasa ketiga bayi Laras cemburu dengan kebahagiaan Moni dan Choi bersama Papanya, "sini Mama peluk," katanya.

__ADS_1


Ayo peluk Mama Kiara jangan sampai kita juga ikut diangkat olah Papa Bram.


Ajak Sebi pada kedua kembarannya.


Iya benar ayo Duta cepat peluk Mama Kiara, apa kamu mau dijadikan Barbel?


Ajak Sevi pada adik lelakinya.


Oh, tidak.


Jawab Duta.


Ketiga bayi memeluknya, Kiara balas memeluk mereka di pangkuannya. "Ayah dan Mama Laras dalam perjalanan kemari sayang, jangan sedih ya." Katanya.


waduh gawat.


Sebi.


Apakah kita akan dimarahi juga?


Sevi khawatir.


Kalau denganku gak mungkin Ayah marah, tapi gak tau denganmu Sebi. Bukankah kamu sudah biasa dimarah karena selalu mengutak-atik komputernya.


Lara Duta.


O~ow.


*


Menunggu Kireni belum juga bangun, Dewa tertidur di samping gadis kecilnya.


Ish


Keluh Sabit saat mengetahui ternyata Kireni satu kamar dengan Pamannya itu.


Remaja pria itu pindah ke lantai tiga agar mudah mengawasinya dan sekalian bisa tepe dengan ceweknya, ternyata hati dan perasaannya semakin dibuat tidak bisa tenang, apalagi dia memilih kamar persis di depan kamar Dewa dan Kireni apa gak tambah panas.


Yang namanya sedang jatuh cinta melihat sendalnya saja udah senang, penasaran ingin melihat bayangan Kireni, Sabit mengintip dari lubang kunci yang gak mungkin kelihatan.


Panggilan belajar guru bela dirinya tidak dihiraukan. "Sabit, kalau kamu tidak mau konsen belajar lebih baik minta bayi penyihir memulangkan gurumu ini ke kampung halamannya," Kata Lee. "Sore ini Ayahmu datang aku akan minta resign saja," ancamnya lagi.


"Tidak! Jangan dong, ayo kita belajar sekarang."


Untuk Kiren aku harus kelihatan lebih jantan dan keren.


*


Di kamar kelima bayi Bram bermain dengan kedua Putri kecilnya Moni dan Choi, seolah mereka adalah barbel untuk olah raga angkat beban.


"Papa, turunkan aku takut!"


Choi menjerit saat Bram mengangkat dirinya dan kembarannya Moni, naik turun masing-masing di kiri dan kanan tangan Papanya itu.


"Jadi masih ada yang ditakuti oleh kalian, ha! Biarkan Papa olah raga sebentar mengangkat kedua bayi penyihir siapa tau bisa menyerap ilmunya, eyah eyah."


Bram semangat mengangkat Moni Choi naik turun bergantian.


Oh no


Moni.


Oh yes


Choi.


Hahahaha.


Tawa ketiga bayi Lara hanya berani dalam hati melihat penderitaan kedua saudarinya.


Moni Choi, kami turut berduka cita.


Kata pikiran Sevi.


"Sayang sudah itu, kasihan Moni Choi jadi pusing!" Kata Kiara khawatir dan gamang, ibu cantik itu menepuk pundak suaminya, "Bram!" Panggilnya nada khawatir.


Barulah Bram menurunkan keduanya di kasur terkulai lemas karena kepala puyeng.


"Hei, ternyata bayi Penyihir hebat yang bisa memanggil hujan petir bisa pusing dan lemas juga."

__ADS_1


Bram ikut berbaring memeluk kedua putrinya, menciuminya bergantian, bahagia tak bisa dibendung oleh perasaannya.


"Bayi Penyihir juga punya kepala Papa tentu saja bisa pusing," jawab Moni.


"Maaf Papa sengaja, hehe." Bram mencium lagi bayi-bayinya.


"Maaf diterima, sekarang ijinkan kami ke lantai tiga." Jawab Choi.


"Hum," keempat bayi mengangguk setuju.


"Tidak ada yang boleh keluar apalagi ke lantai tiga!" Bram berkata tegas.


O


Kelimanya membuka mulut lebar.


"Papa please, kita mau Melihat sebentar saja," mohon Moni mewakili saudara saudarinya.


Dalam hal ini jabatan Sebi sebagai ketua kelompok menjadi tidak berfungsi jika berurusan dengan Papa Bram dan Mama Kiara, jadilah ia diam saja menyerahkan tanggung jawabnya ke pundak Moni Choi.


Ayo cari akal bagaimana melepaskan Mon Choi dari cengkeraman Papa Bram.


Isi pikiran Duta yang sudah habis batas kesabaran, kangen berat ingin melihat Kakak cantiknya.


"Papa please ya, sebentar saja." Mohon Moni lagi namun Papa Bram semakin memeluk mereka.


Kiara memandang lucu pada kelima bayi, baru satu tahun sudah terlihat seperti lima tahun. "Lihat wajah kalian yang imut ini penuh dengan iler, popok bengkak. Bagaimana kalau mandi Sekarang," ujarnya


O


Kelimanya saling pandang dengan pikiran tetap terkoneksi.


Mandi! Yes, bisa jadi alasan.


Isi pikiran Moni.


Benar kita pura-pura mandi, aku bisa melihat Kak Kiren tidur bersama Paman Dewa di kamar depan di lantai tiga.


Balas Choi, keempat bayi lainnya mengembara mengikuti pikirannya.


Iya benar, Kak Kiren benar-benar di Mansion Nena.


Pikiran Moni.


Ah, syukurlah.


Ucap mereka, diantaranya Duta yang paling senang.


Ayo Moni Choi, aku gak tahan lagi mau jumpa Kak Kiren.


Desaknya.


"Papa!" Panggil Moni. "Mama menyuruh kita mandi," ujarnya.


"Mama, minta Papa melepaskan kita. Kalau dipeluk terus bagaimana mau mandi," sambung Choi memandang Kiara nada memohon.


Kiara memandang suaminya yang mendengkur pura-pura tidur memeluk erat Moni and Choi.


🎶 Zzzzzz, zzzzz, zzzzzz 🎶


Astaga.


Ucap kelima bayi.


"Sayang! Lepaskan bayi-bayi, biarkan mereka mandi," ujarnya menekan pundak suaminya pelan dengan niat baik mau menolong bayi-bayi.


Moni yang sesak dipeluk hampir gak bisa bernafas mendapat akal. "Pa, Mama cemburu tuh minta dipeluk!"


"What!" Pekik Kiara merasa dirinya dikhianati oleh bayinya. "Bukan begitu maksudnya."


Hihi.


Kelima bayi terkikik.


"Hehe."


Barulah Bram membuka mata. "Ayo sayang kita ke kamar saja," ajaknya.


"Yes!" Sorak kelima bayi.

__ADS_1


***


like vote dan hadiah, 🙏


__ADS_2