
Sementara Dewa si Pemeran utama dalam kisah ini, memandang mereka dengan perasaan khawatir.
Tidak mendengar apa yang direncanakan Kireni bersama kelima bayi dan kedua Burung yang telah berubah ke wujud manusia di atas sana, perasaan Dewa semakin takut, merasa akan kehilangan Kireni tidak lama lagi. Sesungguhnya dirinya belum siap berpisah dari gadis kecilnya itu.
Apakah kedua jelmaan itu sedang negosiasi dengan bayi-bayi karena tidak mendapat persetujuan membawa Kireni pergi, semoga saja begitu.
Dalam hati Dewa berharap dia memiliki kemampuan seperti bayi yang bisa berkomunikasi dengan kedua jelmaan Bangau di atas, yang ia yakin bahwa mereka adalah keluarga Kireni yang sesungguhnya.
Gadis kecil yang dibawanya dari hutan rawa, kalau boleh Dewa ingin memohon pada kedua burung itu agar membiarkan Kireni tinggal bersamanya lebih lama lagi.
Dewa pernah membaca bahwa cara berkomunikasi Bangau menggunakan gerak tubuh, karena mereka tidak bisa mengeluarkan suara disebabkan tidak adanya organ suara (syrinx : data dari google).
Tapi mereka kan berbeda dari bangau hutan rawa ataupun bangau-bangau lainnya.
Dalam hati Dewa. "Hei kalian," panggilnya.
Kireni dan kelima bayi menoleh pada Dewa begitu juga dengan kedua pangeran Bangau di atas sana, tidak ketinggalan orang dewasa yang ada disitu. Paling konsen Barus si Kepala Keamanan, menatap Kireni tajam tak berkedip. Begitu juga dengan para bodyguardse, Alisha dan juga Dwi.
Sabit si kameraman mengarahkan ponselnya ke arah Dewa dan bayi yang telah berkumpul bersama, pria remaja itu kelihatan serius dengan liputannya. Ntah mengapa di hatinya ada feeling bahwa masalah ini berhubungan dengan nasib percintanya dengan Kireni tidak berbuah indah.
Sementara Sora tidak jadi mengambil gambar, duduk diam memperhatikan dari dalam mobil di samping Baim yang juga tidak bersuara.
"Bisa tidak kalau bicara pakai bahasa yang bisa dimengerti oleh manusia?" Berkata Dewa memandang pada gadis kecilnya dan bayi-bayi bergantian.
"Iya benar, gelagat kalian sangat mencurigakan dan itu membuat kami orang dewasa yang berakal sehat disini merasa khawatir," sambung Alisha sangat setuju dengan Dewa.
Dan merasa dibodohi.
Tambah nenek cantik itu dalam hatinya.
Hihihihi.
Kelima bayi serentak terkikik yang bisa dilihat dari ekspresi wajah mereka.
Ya Tuhan
Sekarang Kireni yakin seratus persen bahwa tanpa sengaja dirinya telah melakukan kesalahan yang fatal dan hukuman yang berat dari kaisar langit sedang menunggunya.
"Biarkan bodyguardse yang membantu dan melindungi Bayi Penyihir membaca mantra," tambah Barus. "Sesuai dengan perintah Big Bos Brama, keamanan bayi-bayi menjadi prioritas nomor satu bagi kami bagian keamanan grup WJ di sini!" Tegasnya.
Waduh gawat.
Dalam pikiran kelima bayi memandang Kireni khawatir.
Kak Kiren tolong rahasiakan mengenai kedua kakak Bangau ya, kalau bodyguard Barus melaporkan pada Mama Kiara bahwa kami mempunyai sahabat burung, habislah. Kami tidak akan dibenarkan berteman dengan kalian, Mama tidak mengerti arti persaudaraan antara sesama makhluk ciptaan Tuhan.
__ADS_1
Suara pikiran Choi.
Ia telah jatuh cinta pada Kakak kedelapan Kireni yang sekarang telah berganti wujud menjadi seorang pemuda tampan seperti Papanya, Bramasta.
Kakak kedelapan tidak bisa tidak tersenyum mengetahui dirinya telah ditaksir oleh anak bayi berumur satu tahun, penasaran ingin tau apakah kelima bayi sama seperti Pangeran Poenix yang turun ke Bumi untuk menjalani ujian hidup sebagai manusia.
Mendengar isi pikiran adiknya Kakak ketiga juga penasaran, merasa yakin ini bukan hanya akibat dari transferan energi Kireni semata.
"Hah," desahnya. "Paman!" Kireni memanggil Dewa.
"Hm," jawab yang dipanggil bergumam.
"Sebelum pagi sebaiknya kita segera mulai saja," kata Kireni.
Hm, angguk Dewa. "Paman akan mendukung kamu sepenuhnya, katakan saja apa rencanamu."
Bagaimana Kakak.
Kireni telepati pada kedua saudaranya pangeran Bangau Abadi.
Kami juga mendukung kamu, Dewi.
Jawab pikiran kedua kakaknya.
Aku tidak akan membantumu Choi, coba gunakan kemampuanmu sendiri. Apakah kamu yakin masih punya energi?
O
Bayi viral itu merasa ragu lalu memandang pada Sebi meminta pendapatnya, Sebi si Jubir juga menatap Choi, sejenak ia berpikir.
Mulai dari hal kecil saja dulu, Choi.
Usul ketua kelompok bayi-bayi itu memandang Kireni, memohon dukungan pada Peri cantik yang sekarang jadi panutannya.
Aku lapar, apakah kamu bisa menyediakan kebab ukuran porsi setengah sekarang Choi?
Celetuk pikiran Sevi.
"Hah!"
Keempat bayi mengeluarkan bersuara yang bisa didengar oleh manusia normal.
"Astaga!" Lanjut mereka menepuk kening masing-masing.
Boleh ya Kak Kiren, kita isi energi dulu barulah ke tugas pokok. Kamu juga Choi, jangan coba-coba membaca mantra dalam keadaan perut kosong apalagi sedang lapar berat kalau gak mau mati lemas.
__ADS_1
"Hum."
Keempat bayi lainnya mengangguk setuju dengan Sevi, si paling berhati-hati di dalam kelompok yang diartikan lelet oleh mereka ternyata paling bijaksana diantara semua.
Apa yang terpikirkan olehmu?
Tanya Kireni pada Choi.
Seketika pikiran kelima bayi mengikuti pikiran Choi yang mengembara pada penjual kebab dipinggir jalan yang sedang laris-larisnya, di keranjang ada lusinan kebab sambil menunggu lusinan lagi yang sedang dibungkus oleh penjualnya. Antrian pembeli sepanjang kali Ciliwung, menunggu pesanan dibuatkan.
Hehehe, lets do it.
Kelima bayi menyeringai.
Melihat itu Barus dan anak buahnya mengambil sikap siaga dengan pistol ditangan mengarah ke tengah jalan Baru, khawatir kalau-kalau ada monster yang datang tiba-tiba menghalangi jalannya proses memanggil hujan petir.
Hahahaha.
Tawa dalam hati kelima bayi melihat tingkah para bodyguards seperti orang bodoh.
Kamera Sabit ke tengah jalan Baru sesuai dengan arah telunjuk Choi.
Jeng jeng jeng.
"Its, time! Waktunya menurunkan hujan petir."
Gumam pria remaja itu menarik ujung bibirnya menyeringai. "Huh, tidak disangka ternyata sangat seberdebar ini!" Pekiknya antusias.
Bodyguardse mengetatkan penjagaan, waspada dengan kemungkinan datangnya penggangu yang mengahalangi proses pembacaan mantra.
Barus mengirim sinyal pada Big Bos Brama dan Asisten Yudi, agar mereka standby di depan layar masing-masing.
Alisha juga telah siap sepayung berdua dengan Dwi, siapa tau hujan merembes sampai ke tempat mereka berdiri.
Deg deg deg, deg deg deg.
Sora yang diam-diam mendengarkan pembicaraan tersenyum, sekarang dia sudah mulai relaks tidak lagi merasa takut. Walaupun jantungnya berdebar itu karena ada pertanyaan yang mengganjal di hatinya.
Bukankah aku juga ikut balapan, berarti aku juga kebagian transferan energi Kiren dong, aaaaah!
Pekik gadis bertubuh gempal itu memandang telapak tangannya yang mendapatkan tatapan heran dari Barus dan Dewa, hehe.
"Fokus Choi," suara Sebi tidak lagi bicara melalui pikiran. "Aku akan memantaumu." Berkata bijaksana sebagai mana layaknya seorang ketua kelompok.
***tbc.
__ADS_1
Like komen and share, ✌️