The Crane Dan Lima Bayi Kembar

The Crane Dan Lima Bayi Kembar
Bab. 17


__ADS_3

"Lalu itu apa?" tanya Kiren penuh perhatian, ada yang berbeda antara dirinya dan Dewa saat pria tampan itu menurunkan celananya.


"Kenapa aku tidak punya itu?" Kireni hampir saja memegang miliknya kalau Dewa tidak segera menghindar. Padahal ia sudah menutup bagian pinggangnya pakai handuk. "Hei, apa yang kau lakukan! Jangan main sentuh sembarangan, tutup matamu dan jangan lihat kemari!" Dewa menepis tangan Kireni.


Oh, Kireni spontan menutup matanya pakai telapak tangan. Sampai Dewa selesai ganti baju yang kering, ia membiarkan saja Kireni mengintip dari sela jari-jarinya.


Dasar, tidak bisa dipercaya.


Dalam hati Dewa merasa lucu dengan tingkah Kireni. Walaupun gak tega melihatnya tidak pakai baju, tapi gak ada lagi kaos yang bisa diberikan Dewa pada Kireni. Maka dibiarkannya saja gadis kecil itu hanya memakai handuk sementara menunggu pakaiannya tiba. "Kita tunggu baju kamu datang," Dewa membawa Kireni duduk di sofa.


"Mari lihat sini, aku beritahu kamu cara membuang kotoran di WC." Dewa membuka laptopnya, browsing hal-hal yang berhubungan dengan anatomi tubuh manusia termasuk kepentingan urgen. "Nah Kiren, kalau perut tiba-tiba mules seperti tadi, carilah tempat-tempat seperti di gambar ini."


***


Sarimon menunggu di mobil, anak buahnya mengendap ke bagian belakang penginapan. Kalau tidak dilihat secara cermat tidak ada yang tau kalau di sana ada terowongan menuju dapur. Dan hanya mereka yang tahu, karena penginapan adalah markas mereka yang telah disulap jadi guest house sementara. "Kami sudah sampai bos," lapor anak buahnya.


"Tunggu di situ," jawab Sarimon.


"Kapan mau dilepas, bos?" tanya anak buahnya. Mereka bisa beku kalau harus menunggu terlalu lama di belakang penginapan yang dingin dan lembab. Lebih menderita lagi karena bersama ular-ular berbisa, sekali mendesis bisa mengundang kawanannya datang. Habislah mereka...


Sarimon mendengar ada suara dari udara. "Tunggu aba-aba! Sebentar ada yang mau lewat, aku harus sembunyi. Ntah ngapain helikopter malam-malam ke mari?" kesal nya yang masih bisa didengar anak buahnya melalui sambungan telepon.


"Apa bos, Helikopter?"


"Kalian juga, cepat cari tempat sembunyi!'


Hais, Sarimon bersama dua anak buahnya yang tersisa segera masuk ke semak-semak.


***


"Bos," panggil Baim mengintip ke kamar Dewa.


"Hm," Dewa menoleh.


"Pengacara untuk besok sudah datang, heli sudah mendarat bos."


"Oke, suruh tunggu sebentar!"


Dewa perlu mengajari Kireni beberapa hal, banyak banget yang tidak diketahui nya. "Kiren, mulai besok tugas kamu belajar membaca huruf dan angka, ngerti!"


"Hm," angguk Kireni. Ia senang melihat banyak gambar di layar bahkan ada gambar manusia juga, yang bisa bergerak. "Apa kita bisa masuk ke dalam itu?" tanya Kiren menunjuk layar.

__ADS_1


Dewa membrowsing beberapa tempat-tempat yang disebut WC, kalau lagi kebelet di tempat umum. Seperti di super mall, rumah sakit bahkan stasiun kereta, halte bus dll yang ada toiletnya.


"Tidak Kiren, kita hanya bisa menonton. Aku akan pergi menemui tamu, kamu jangan keluar dari kamar. Di sini saja, ngerti."


"Baiklah Paman," jawabnya. Kireni menyukai mainan barunya bahkan dia sudah ahli mengendalikan mouse.


Sepertinya Kiren cerdas, sekali diberitahu langsung nangkap.


Batin Dewa, tapi kenapa dia belum bisa membaca. Namun ia tidak punya waktu memikirkan itu sekarang, Dewa harus keluar menemui tamunya. Lalu menutup pintu kamarnya meninggalkan Kireni sendirian dengan laptopnya.


Di layar Kireni melihat ada orang sedang melihat laptop sama seperti dirinya sambil baring di tempat tidur, kelihatannya lebih santai ia pun menirunya. Naik ke kasur membawa laptop Dewa.


***


Dewa di ruang tamu bersama pengacara, malam itu juga mereka meeting membahas akuisisi Hikado and co. Lalu menetapkan Sirobune Hikado sebagai dalang penggelapan sejumlah dana pada perusahaan-perusahaan aliansi lainnya yang bermasalah.


Disela-sela meeting, pakaian Kireni yang dipesan Baim pun sampai. "Baiklah saudara-saudara, malam ini kalian ikut menginap disini!" Perintah Dewa. "Baim, perketat pengawalan."


"Siap, Bos!"


Dewa membawa baju baru Kireni ke kamarnya, saat membuka pintu alangkah terkejutnya dia melihat Kireni di atas kasur sambil tertawa-tawa. Entah apa yang lucu, gadis kecil itu tengkurap di atas kasur kakinya diangkat-angkat. Handuknya sudah terlepas jatuh di lantai, segera Dewa menutup pintu kamarnya.


"Hahahaha," Kireni terus tertawa guling-guling, memegangi perutnya. "Paman, hahahaha..." sapanya melihat kehadiran Dewa.


Astaga!


"Kireni kemari, pakai baju dulu!" Panggil Dewa.


"Hahahaha," Kireni tidak perduli, masih terus tertawa setiap kali melihat ke laptop.


Tidak bisa dibiarkan, aku bisa khilaf.


Batin Dewa tiba-tiba kepikiran calon istri genitnya di negara I. "Kiren!" panggilnya segera naik ke kasur. "Pakai baju dulu!"


Tok tok tok, "bos!" tiba-tiba Baim mengetuk pintu kamarnya. "Jangan masuk!" teriak Dewa kencang.


"Cuma mau bilang, baju dalam Kiren ketinggalan neh!" Suara Baim dari balik pintu.


"Gantung dulu di gagang pintu!" Teriak Dewa menarik Kiren, namun si Kiren malah melompat ke tubuhnya.


Ngek!

__ADS_1


Dewa bengek tertindih tubuh Kireni. "Oh astaga, cari masalah." Sesuatu di tubuhnya yang seharusnya tertidur jadi terbangun.


*


Sementara si gadis kecil ketawa-tawa di atas tubuhnya, Dewa kesusahan mengatur nafasnya berjalan normal. "Apanya yang lucu?" Ia heran, melirik ke layar Laptop, ternyata ada kucing dan tikus lagi kejar-kejaran. Kartun favorit koleksi jadulnya, Tom and Jerry.


Hm, dasar Dewa juga sudah 27 tahun masih suka nonton hiburan untuk anak-anak itu kalau lagi butuh refreshing. Masih ada banyak koleksi kartun di-save di folder laptopnya.


"Kamu jangan begini pada Paman-paman lain, ngerti!" Ujar Dewa di wajah Kireni.


"Aku gak punya Paman lain," pungkas Kireni cepat, masih betah di atas tubuh Dewa.


"Pria dewasa seperti Baim dan dua bodyguard itu, mereka termasuk Paman, Kiren." Dewa menyentil hidung kecil Kireni.


Oh, "Kalau sama paman Dewa boleh kan."


"Tidak boleh juga! Kamu sudah segede gini seharusnya tau sopan santun dan ada rasa malu. Perempuan tidak boleh sembarangan lompat ke tubuh lelaki dan tidak boleh sembarangan buka baju di depan lelaki manapun!" Dewa suara tegas.


"Aa," rajuk Kireni.


Lagian aku suka begini hanya pada Pangeran, ada rasa ser-seran gimana gitu.


Batinnya. "Tapi aku gak punya baju."


Aku bisa menyihirnya tapi nanti pangeran kaget pula, bisa gawat.


Dalam hati Kireni.


"Jangan alasan gak punya baju, bisa ditutup pakai handuk, selimut sementara. Sekarang itu sudah ada, ayo pakai! Sudah malam waktunya tidur, apa kamu tau apa itu tidur?" tanya Dewa sekalian ngetes Kireni.


"Belum ngantuk," jawab gadis kecil itu.


Setidaknya kamu ngerti kalau tidur harus ngantuk dulu dalam hati Dewa. "Nanti Paman bacakan cerita, kamu pasti langsung tertidur."


"Benarkah, cerita apa?"


"Cerita dongeng si kancil anak yang nakal."


"Apa itu?" Tanya Kireni melongo.


***tbc.

__ADS_1


like, komen and share 👍


__ADS_2