The Crane Dan Lima Bayi Kembar

The Crane Dan Lima Bayi Kembar
Bab. 35


__ADS_3

Di kamar Kireni.


Dewa menangis seperti anak kecil memeluk gadis kecilnya, masa sudah diguncang-guncang tubuhnya gak bangun juga. Dari tadi dia gangguin Kiren, dicubit pipi, diuyel-uyel, diputar ke kanan diputar ke kiri tidak ada reaksi.


Kalau manusia normal diperlakukan seperti Dewa memperlakukan Kireni sudah pasti terbangun dan sudah bisa dipastikan dia akan kena tabok paling tidak kena omelan.


Meraba tubuhnya hangat tapi tidak ada nafas yang keluar dari hidungnya, membuat Dewa bingung apa yang sebenarnya terjadi pada Kireni. Banyak keanehan yang sudah dilihatnya, baru ini yang membuatnya benar-benar khawatir. Dewa tidak ingin ada orang yang tau tentang ini, maka dari itu ia mendiamkan saja. Percaya Kireni akan bangun, seperti saat dia menghilang, jika dipanggil akan segera datang.


"Kiren," panggil Dewa lagi tapi gadis kecil itu bergeming. "Ayo bangunlah."


Dewa mengangkat tubuhnya yang terkulai seperti putri tidur yang terkena mantra kutukan seorang nenek sihir yang jahat.


"Apa yang terjadi padamu, Kiren," tangis Dewa membawa gadis kecilnya ke dalam pelukan.


*


Sudah tiga jam Dewa di kamar Kireni, membuat Baim bingung mau menggedor kamarnya apa tidak. Mana panggilan Claudia di ponselnya menjerit-jerit minta diangkat lagi.


Tok tok tok.


Diputuskan mengetuk pintunya, sudah mau Maghriban juga. "Pak Dewa," panggil Baim, tidak ada jawaban. Tok tok tok. Sekali lagi, tetap tidak ada jawaban.


Apa ku buka saja pintunya, gak dikunci ini. Siapa tau Pak Dewa ketiduran...


Baim di depan pintu kamar Kireni seperti seterikaan, kedua bodyguard jadi pusing melihatnya.


"Baim, ayo kita main game saja dari pada kamu seperti orang linglung mondar-mandir disitu." Salah satu bodyguard memanggil Baim, mereka tidak berani main kalau tidak ada yang mulai duluan.


"Main saja berdua," jawab Baim mengerti perasaan bosan yang dirasakan kedua bodyguard.


Mereka tidak ada kerjaan kecuali Pak Dewa sedang tugas keluar, kalau sedang di mansion kan sudah ada banyak sekuriti yang menjaga di setiap sudut rumah.


Mendengar Baim, yes! Seru kedua bodyguard segera pergi ke ruang bermain.


*


Kireni dan Sora sudah bertukar alamat sehingga dengan mudah ia menemukan tempat tinggal teman barunya itu. Kelihatan mewah seperti mansion paman Dewa, beberapa kamar penuh dengan wanita melakukan perawatan tubuh dan wajah.


Tapi sepertinya mereka belum ada di Mansion deh, apakah masih di hotel...

__ADS_1


Batin Kireni langsung teleportasi ke hotel WJ.


Sampai di Hotel Kireni ingin menguji seseorang apakah ada yang dapat melihatnya. Seorang pria yang sedang berdiri di atas sebuah tangga sedang memandang ke atas gedung akan jadi korban kejailannya, dia adalah petugas instalasi listrik yang sedang mengganti bola lampu.


"Ciluk ba!"


Dan orang itu tidak terkejut, saat Kireni mencoba muncul tiba-tiba di depannya.


Syukurlah.


Kireni mencoba lagi pada satu orang wanita yang sedang berdiri di loby.


"Door!"


Kireni mengejutkannya tetap gak ngaruh juga, hm.


Apakah karena hari mulai gelap, mereka jadi rabun seperti ayam. Baiklah aku akan masuk saja mencari Sora. Penasaran apakah dia bisa melihatku atau tidak..


Menyapu pandangan ke seluruh gedung, seperti melihat film layar lebar Kireni menyaksikan apa yang terjadi di setiap kamar.


Sungguh seru kehidupan dunia perhotelan.


Sampai satu pemandangan yang membuatnya kembali bersedih, saat melihat kasur indah yang penuh bunga-bunga. Perempuan yang dia ketahui sebagai istri Pamannya itu sedang menangis di salah satu sudut kamar.


Di luar ada seorang pria yang mengetuk-ngetuk pintunya dan memanggil-manggil sebuah nama, ditemani seorang wanita...sekaligus pria?


"Aaa,"


Kireni bingung menentukan jenis kelamin om-om yang berpakaian serupa wanita itu.


Dor dor dor!


Pintu digedor-gedor oleh si pria tulen. "Bebi, bebi please! Buka pintunya Beb, ini aku Doni kekasih yang masih mencintaimu," ujarnya berteriak.


"Sudahlah Doni, ngapain lu gangguin istri orang itu!" Suara perempuan setengah pria setengah itu, berkata.


"Istri apa? Mana suaminya, mana?!!" Suara pria tulen marah-marah.


"Ada Don, kan tadi datang saat akad nikah. Mereka sudah sah sah sah, lu gak bisa masuk ke kehidupan Claudi lagi." Perempuan setengah pria setengah itu, membalas marah pada si pria tulen.

__ADS_1


Aaa, mana yang benar? Bebi atau Claudi sih nama si Kakak ini. Jadi dia punya seorang kekasih yang masih mencintainya, sepertinya nasibku sama dengan si pria tulen ini...


Cklekk!


Terbuka satu pintu kamar di seberang yang kamar Bebi Claudi. "Hei, kalau mau ribut jangan disini!" Bentak pria berperut buncit dari depan pintu kamarnya.


"Diam lu, sana di dalam aja! Bukankah kamar kedap suara ya, kok lu bisa dengar!" Doni balas membentak, sekalian dia ngajak ribut penghuni Hotel biar heboh. Orang lain honeymoon masa dia enggak, kan emosi jadinya.


Semua itu tak luput dari perhatian Kireni, ternyata satu lagi keahlian yang tidak disadarinya bertambah setelah kunci nadi perinya dibuka adalah kemampuannya yang bisa melihat masa lalu tapi tidak masa depan. Karena itu adalah rahasia alam langit di atas langit.


Tidak menunggu lama Kireni melihat ke dalam pikiran Ka Bebi dan si pria tulen yang bernama Doni.


O~ow, baiklah. Kalau begitu kau tidak pantas untuk pangeran, baik di bumi maupun di alam Peri.


Batin Kireni mengenali siapa Claudia di kehidupan masa lalunya.


Sebaiknya aku pergi mencari Sora dan kelima bayi eh, tapi tunggu...


Cring!


Kiren menggunakan mantra sihirnya untuk membuka pintu kamar, menimbulkan bunyi, ngek yang kencang.


Doni yang masih bertengkar dengan tetangga kamar seberang berhenti cari gara-gara, seketika ia lega lalu meninggalkan teman gaduhnya begitu saja. "Beb, bebi!" panggilnya menerobos masuk ke kamar pengantin Claudia dan Dewa.


Si perempuan setengah pria setengah, melongo. Melihat Claudi menangis terpuruk di sudut kamar,


Jadi siapa yang bukain pintunya kalau si eneng masih mojok disitu...ih. Apa hotel ini ada penunggunya...


"Jangan mulai deh Son! Ntar gak ada lagi orang yang mau nginap di hotel WJ, gua hapus peran lu dari novel ini," geram othor mengancam Sonia si manusia setengah-setengah.


"Maaf ya thor, memang kenyataan kan. Yang buka pintunya tadi hantu," balas Sonia gak mempan diancam, terus aja dibahas.


"Sudah ya Son, pokoknya jangan nyebar gosip!" Marah othor.


"Iye, iye! Emang gua Florentina si lambe kompor, hum!" Sonia melengos buang muka.


Othor pun tak mau berdebat lagi dengannya, begitu juga Kireni tidak mau melihat lagi apa selanjutnya yang terjadi antara Kak Bebi dan Bang Doni.


***tbc.

__ADS_1


Like komen and share, 👍


__ADS_2