The Crane Dan Lima Bayi Kembar

The Crane Dan Lima Bayi Kembar
Bab. 52


__ADS_3

"Kenapa harus ke Hotel WJ, disini juga ada kamar mandi. Lagi pula Hotel WJ sekarang kosong tidak ada orang, semua tersapu oleh mantramu Baby Choi!" Alisha gak tahan lagi mengeraskan suaranya saat berkata, gak sanggup memikirkan kerugian yang ditanggung perusahaannya.


Mendengar itu Kireni kembali terisak di pelukan Dewa. "Hiks hiks," tangisnya tertahan di dada Pamannya itu.


"Uwaaaa aaaa," kembali bayi-bayi mendukung Kireni, menangis semakin menjadi.


Mereka sama pikiran, keempat bayi memandang pada Baby Choi. 'Apakah burung abadi ikut tersapu mantramu?' Dalam pikiran mereka saling terkoneksi, Choi menunduk sedih tanda mengakui kesalahannya.


"Uwaaaaa!" Semakin teriak kelima bayi. Terutama Moni dan Choi, alamat nikah bayi lah ini dalam hati mereka.


'Astaghfirullah,' ucap dalam hati Alisha memicit kepalanya yang pening.


"Sudah jangan menangis lagi, lihat itu bayi-bayi jadi ikutan menangis melihat kamu menangi." Dewa membujuk Kireni, semakin memeluknya.


"Hiks hiks, uhuk uhuk!" Sembari menangis Kireni terbatuk-batuk jadi sesak karena dipeluk Dewa.


Sabit tidak bisa tidak mengepal tangannya melihat itu, pengen rasanya nonjok Dewa pake jab kanan. Paman kesempatan dalam kesempitan ia memanggilnya.


"Bagaimana kalau kita makan es krim saja dulu, biar Pepa yang traktir." Berkata Arjit dengan niat membantu mau menghibur bayi-bayi.


"Uwaaaaa aaaaa aaaaa."


Moni berteriak paling kencang parah diantara semua, teringat kerugian yang ditanggung oleh perusahaannya.


"Astaghfirullah, apa salah hamba ya Tuhan." Arjit kaget.


Mendapat tatapan tajam dari Alisha segera ia kabur ke ruang keluarga. "Pusing," keluhnya.


Lebih baik menenangkan diri dulu fokus ke masalah perusahaan.


"Pabrik es krimku, uwaaaaa."


Masih terdengar olehnya suara Moni menangis dari kamar bayi.


Jadi karena itu dia menjerit.


Sabit dibuat penasaran apakah ada hubungannya dengan semua keanehan ini. "Apa yang membuat kalian tiba-tiba ingin mandi di Hotel, apa perbedaan air disini dengan air disana?" Tanyanya.


Mendengar Sabit semua mata ke arah lima bayi, sudah pasti secara otomatis keempat bayi akan memandang Sebi si juru bicara.

__ADS_1


Hais, sepertinya aku gak kuat jadi jubir. Berat banget tanggung jawabnya...


Dalam hati Sebi setelah urusan ini selesai ia akan mempertimbangkan peletakkan jabatannya.


Melihat bayi terdiam. "Menjadi Bayi Penyihir, apakah kamu tidak heran Choi? Di zaman modern ini penyihir itu hanya mitologi, tidak ada di alam nyata. Jadi katakan siapa Yang ingin kalian jumpai di kamar mandi Hotel?" Lanjut tanya Sabit seperti seorang detektif.


"Iya, sayang. Siapa yang ingin kalian jumpai di hotel?" tanya Alisha juga penasaran.


"Darah keturunan penyihir, sebagai nenek kalian, kenapa Nena gak tau?"


Mendengar Alisha, Sora jadi ingat malam kejadian kemarin. "Oh iya! Saat di hotel di kamar Ayah Yudi, aku mendengar suara yang memanggil namaku. Apakah kalian didatangi makhluk halus itu juga?" Tanyanya.


Semua mata sekarang beralih ke arah Sora.


"Makhluk halus apa, jangan bikin gosip yang merusak reputasi Hotel." Sabit menengking adiknya.


"Iya, gak bohong. Menjelang malam sebelum kamu menjemputku, Sabit. Jangan-jangan makhluk itu yang memberimu kemampuan sihir, Choi." Sora.


Betul sekali, sepertinya aku akan ketahuan, hah!


Batin Kireni mendesah menarik nafas berat. Dewa yang juga penasaran luar biasa mau memecahkan masalah siapa Kireni sebenarnya, memeluk sayang gadis kecilnya itu. Mencium pipinya, wajah Kireni di ceruk leher Pamannya.


Ck, Sabit berdecak sinis, hatinya panas seperti disiram air mendidih. Tapi tak bisa berbuat apa-apa, ah! Jerit dalam hatinya.


Hah!


Sebi mendesah berat, ingin menggali lubang lalu ngumpet di dalamnya. Kelima bayi mengerti ini adalah perkara yang berat, terutama Choi yang sudah lama kepengen punya teman hewan.


Kalau ketahuan aku mengenal satu burung abadi, yakin Mama Kiara akan mengusir burung itu. Dengan burung biasa saja gak boleh berteman, pokoknya pembicara mengenai burung harus dihentikan.


"Kenapa Sebi ayo jelaskan, siapa yang ingin kalian jumpai di hotel?" Alisha bertanya tegas, merasa sepertinya Sebi yang lebih tau.


Tidak boleh ada yang tau tentang burung abadi, pokok nya tidak boleh!


Gelisah dalam hati Choi mencari-cari cara untuk mengalihkan pembicaraan, yups.


"...." Sebi.


Plak!

__ADS_1


Choi menepuk bahunya sebelum Sebi sempat membuka mulutnya.


"Ya udah tidak usah mandi di hotel kalau begitu, Kak Kiren!" Ujar Choi memanggil Kireni lantang.


"Hum," Jawab Kireni.


"Bagaimana kalau aku membaca Mantra lagi untuk mengembalikan tamu-tamu hotel?" Tanyanya setelah mendapat akal.


Moni yang masih terisak merasa ada secercah harapan untuk menyelamatkan perusahaan tanpa harus mengorbankan dirinya serta adik kembarnya. "Iya Choi hiks begitu saja hiks, kamu gak mau kan kita dinikahkan hiks," ujarnya.


Dinikahkan...


Semua orang dewasa disitu kena mental mendengar perkataan Moni, tidak kecuali dua remaja Sora dan Kakaknya.


"Hahaha, siapa yang mau menikah dengan kalian?" Tanya Sabit gak bisa menahan tawa.


"Khayalanmu terlalu jauh Moni, itu masih lama ke masa 20 tahun yang akan datang, hahaha." Sabit lanjut tertawa, hampir lemas memegangi perutnya.


"Hahahaha," begitu juga Sora. "Aku saja minta menikah sama Omje sudah dari setahun yang lalu, gak boleh sebelum usia 19 tahun. Kalian masih bayi, ya ampun Mon, Mon." Sora menepuk jidatnya.


O


Bibir imut Moni membulat, air masih menggenang di mata besarnya. "Bukankah waktu WJ pernah mau bangkrut, Nena menjual Papa ke Pernikahan bisnis. Sekarang Papa sudah menikahi Mama, siapa lagi kalau bukan kami yang akan jadi tumbalnya," jelas Moni dengan baby facenya.


Astaga.


Alisha mengelus dada teringat kelakuan masa lalunya. "Tapi dari mana kalian tau WJ pernah hampir bangkrut, saat itu kalian bahkan belum diadon?" tanya Alisha pada kedua cucunya dengan senyuman geli di hati.


"Hahahaha." Sabit kembali tertawa, gak tahan mendengar kata 'diadon.' Langsung dia ngelirik Kireni tertular omes adiknya Sora. Waduh cakepnya minta ampun dalam hati Sabit.


Dewa dan Baim tersenyum cukup dalam hati, memandang kagum pada kemajuan pikiran bayi-bayi. Dewa semakin dibuat penasaran ada hubungan apa mereka dengan Kireni.


Moni memandang Choi, Choi memandang Sebi. Sebi si jubir memandang siapa? Tanggung jawabnya yang harus menjelaskan semua ini. "Dari Mama Laras dan Mama Kiara, kami mendengar mereka bergosip tentang Ayah Yudi dan Papa Bram," jelas Sebi, bibirnya mengerucut takut.


Hais, dasar perempuan gak tau bayi-bayinya jenius main asal bicara.


Dalam hati Alisha. "Bagaimana menurut Pak Dewa, haruskan Choi membaca mantra lagi. Terus terang saya belum percaya kalau cucu saya bisa sihir." Alisha meminta pendapat Dewa.


Hum, Dewa menarik nafas pelan.

__ADS_1


***tbc.


Like, komen and share 👍.


__ADS_2