The Crane Dan Lima Bayi Kembar

The Crane Dan Lima Bayi Kembar
Bab. 62


__ADS_3

Berbeda dengan Sora putri adopsinya, gadis kecil seusia Kireni itu mendengar dengan jelas suara dan melihat dengan jelas juga ada Bangau setinggi rumah melayang-layang di udara. Jadi teringat suara yang didengarnya di kamar hotel ayahnya.


Tapi kenapa Sabit tidak heboh, apakah itu artinya dia tidak melihat kedua makhluk itu. Sepertinya begitu, hanya bayi-bayi dan Kireni serta aku yang aneh disini. Tidak boleh takut, aku tidak boleh takut! Bayi baru lahir saja berani...


Dalam hati Sora merasa lega, beruntung malam hari dan kakaknya sibuk dengan kameranya. Jadi Sabit tidak terlalu perhatian padanya, kalau tidak kan dia bisa curiga melihat kaki Sora yang gemetaran.


Gadis beranjak remaja itu terduduk di aspal menahan tubuhnya yang menggigil, dirinya sudah memutuskan akan ikut menjaga rahasia yang ingin disimpan oleh kelima adik bayinya dan juga teman barunya Kiren.


"Hm."


Dewa menarik nafas diam, pria tampan itu juga memilih pura-pura tidak melihat seperti layaknya manusia dewasa lainnya.


Disaat ia sudah mulai terbiasa melihat keanehan Kireni, sekarang harus menerima satu keanehan lagi dari kelima bayi yang bisa mendengar suara siluman Burung yang jauh di atas langit.


Apakah mereka jahat?


Tanya dalam hati Dewa, tapi dia yakin kedua burung itu ada hubungannya dengan Kireni. Namun berbeda dengan Sora dan kelima bayi, ia tidak mendengar kedua burung itu berkomunikasi dengan gadis kecilnya.


Siapa yang tidak terkejut melihat ada dua Bangau lebih tinggi dari ukuran normal yang pernah dilihatnya di hutan rawa.


Ada perlu apa mereka datang ke Jkt yang bukan habitatnya, oh mungkinkah...


Dalam hati Dewa tiba-tiba sedih.


Daripada mengkhawatirkan keselamatan bayi-bayi, Dewa justru merasa takut kedua burung itu akan membawa gadis kecilnya pergi dari sisinya.


*


Kireni yang mendengar isi pikiran kelima bayi meneguk ludah lalu berkata pada kedua saudaranya.


Kakak! Kita berbicara melalui pikiran saja, ternyata bayi-bayi dapat mendengar suara Kakak berdua.


Kedua Kakaknya mengangguk setuju.


Baiklah Dewi, tapi mereka sudah melihat kita bahkan berani mengklaim kami ini kepunyaan mereka.


Hahahaha, Kireni tertawa di dalam pikirannya teringat peristiwa di kamar mandi hotel WJ.


Maafkan mereka Kakak, hanya bayi-bayi yang over aktif.


Ucap dalam pikiran Kireni.


Iya tahu, Kakak juga tidak mengambil hati masalah itu.

__ADS_1


Kata Kakak ketiga.


Tapi mengapa Pangeran Poenix dalam wujud fana nya bisa melihat kami dan perempuan kecil sebayamu itu juga. Kasian sekali dia hampir mati ketakutan...


Kakak Kedelapan bertanya heran bersamaan dengan suara Sebi yang memanggilnya.


Kak kiren!!


Kireni kaget begitu juga kedua kakaknya, Sebi masuk dalam jaringan telepati. Oh no, tidak mungkin!


Kalian bisa mendengar?


Menggunakan pikiran kireni bertanya, mata membelalak memandang pada kelima bayi bergantian.


Hm.


Angguk mereka berbarengan.


Astaga!


Kireni menghela nafas berat seolah memanggul dua hektar sawah.


Jadi kedua Bangau itu kakaknya Kak kiren?


Bagaimana mau menjawab.


Kireni melihat ke jalan Baru, kerumunan orang-orang bukannya berkurang malah semakin padat penduduk.


Lain kali saja kita bahas itu ya, sekarang pikirkan bagaimana caranya memperbaiki keadaan yang sedang kacau.


Ujar Kireni.


O hampir lupa.


Jawab pikiran kelima bayi.


Semua itu tak luput dari perhatian Dewa dan semua orang Dewasa yang masih bernafas disekitarnya. Kireni dan kelima bayi berbicara menggunakan gerak tubuh dengan ekspresi wajah yang berubah-ubah.


Dalam hati Arjit dan Alisha semakin yakin bahwa Kireni lah yang telah mempengaruhi kelima cucu bayinya.


"Aku yakin seribu persen, gadis itu lah sumber dari semua masalah ini," bisik Arjit marah di telinga Alisha.


"Kamu benar Arjit! Tapi tenang dulu ada Barus kepala keamanan, dia juga tidak bodoh. Aku akan mengirimkan pesan padanya sekarang juga," ujar Alisha mengeluarkan ponselnya.

__ADS_1


Bersamaan dengan itu masuk pesan chat dari Bos Bram yang isinya ditulis dengan huruf besar-besar.


"Jika keselamatan kelima bayi-bayi terancam, jangan segan-segan melumpuhkan gadis itu dengan senjatamu, mengerti!"


Gleg.


Barus meneguk liur membaca pesan Big bosnya, memang dia meminta salah satu anak buahnya merekam diam-diam yang bisa dilihat langsung oleh Bram dan asisten Yudi dari jet pribadi masing-masing.


Gak lama masuk pesan lagi dari Nyonya besar. "Barus, aku tidak mau cucuku terluka sedikitpun, kamu mengerti!!"


Barus memandang ke Alisha. "Hm," Angguknya.


*


Di dalam jet pribadinya Bram menenangkan Istrinya, Mama dari kedua bayinya itu tidak bisa berhenti menangis sejak dari kamar Hotel bulan madu mereka di negara E.


Papa dari kedua Bayi Penyihir viral itu tentu saja merasa khawatir melihat kondisi istrinya yang menyedihkan. "Sayang tenangkan dirimu please, jangan sampai kamu jatuh sakit. Sudah dulu ya nangisnya nanti disambung lagi," pujuknya.


"Aaa!" Menepuk Bram geram, nasib bayi-bayinya mengkhawatirkan dibawa bercanda oleh suaminya.


"Aduh!" Bram pura-pura meringis kesakitan padahal pukulan Kiara baginya cuma buat geli-geli doang.


"Hiks hiks uuu." Kiara menangis manja di dada Bram.


Sebagai Bapak dari kedua bayinya, tidak mungkin dia tidak khawatir hanya karena dirinya tidak mengeluarkan air mata.


"Moni dan Choi kita adalah bayi-bayi tangguh dan cerdas, tidak akan terjadi apa-apa pada mereka." Lanjut Bram memeluk istrinya itu pada ketinggian puluhan ribu kaki di atas permukaan laut.


"Kamu sih mikirnya gituan mulu sampai-sampai bayi kita terlantar di jalanan!" Sentak Kiara memarahi Bram. "Heboh mau bulan madu sampai tega mentransfer Moni dan Choi dijaga Mama Alisha!"


Itu karena kamu enak sekali sayang..


Dalam hati Bram pengen banget nyedot bibir lembab istrinya, hidung dan pipinya pink merona. Meski kedua bayinya terancam bahaya masih sempat berpikir mesum dia, setiap kali berdekatan dengan Kiara. Dari ujung rambutnya sampai ujung kaki membuat Bram pening kepala atas dan bawah, mau ngajak gituan buat ngurangin tekanan istrinya pula salah paham.


Ntar dikiranya kita gak prihatin dengan keadaan bayi-bayi, hah serba salah. Logikanya, di samping kita saja sebagai orang tuanya kalau mau musibah siapa yang bisa menolak takdir.


"Iya maaf, aku pikir kalau cuma ikut ke Mansion Mama Alisha pasti aman. Mereka dilengkapi dengan Bodyguardse dan sitters, disana juga banyak satuan pengaman. Selanjutnya kita serahkan pada Tuhan, tidak ada yang perlu dikhawatirkan sayang." Bram merayu ibu dari bayi-bayinya yang manjanya ngalahin bayinya sendiri.


"Tapi aku khawatir! Kalau saja Moni dan Choi ikut kita ke Negara E, mereka tidak akan bertemu dengan gadis aneh itu!" Sergah Kiara memukul dada suaminya lagi, yang bersikap santai seolah tidak terjadi masalah pada kedua bayinya.


"Aaa!" Jeritnya gak sanggup membayangkan jika sesuatu yang terburuk pada Moni and Choi. "Uuu..uuu," ibu muda itu kembali menangis.


***tbc.

__ADS_1


Like komen and share, 👍


__ADS_2