The Crane Dan Lima Bayi Kembar

The Crane Dan Lima Bayi Kembar
Bab.7


__ADS_3

Bertengger! Bagaimana mungkin burung bertengger di atas pesawat yang sedang melaju kencang. Ah sudahlah...


Dalam hati Co pilot. "Kalau begitu, kami mohon maaf perjalanan anda jadi terganggu. Kita usahakan tetap sampai tepat waktu, tidak sampai satu jam lagi pesawat akan landing di negara J." Jawabnya tidak mau memperpanjang masalah burung hinggap di pesawat.


Yang ada metong kalau burung berani dekat-dekat dengan pesawat yang sedang terbang.


Hm, angguk Dewa menahan kesal. Kelihatan si Pilot juga gak percaya dengannya. "Tidak apa-apa," jawab Dewa.


"Baiklah terima kasih, saya permisi Tuan." Co pilot kembali ke Kokpit dengan perasaan serba salah.


*


Di negara I waktu menunjukkan angka 11.00wib.


Sonia tiba di Apartemen Dewa. "Ratu masih tidur, sepertinya telah terjadi perang. Macam kapal pecah," gumamnya saat masuk kamar melihat Claudia tertidur pulas. Kelihatan separoh tubuh polosnya, bantal guling berceceran di lantai.


Seksi betul neh tempat peraduan, enak neh buat shoting dalam hati Sonia terbayang adegan dalam film blou.


"Mak!" Panggil Claudia saat Sonia hendak keluar dari kamar.


Sonia menoleh kaget, oh sudah bangun ternyata. "Kok lu tau Son, gue disini?" tanya Claudia tak kalah kaget melihat asistennya ada di kamar Dewa.


Ini bukan mimpikan?


"Si Baim, asisten laki lu yang nelpon. Dikasi alamat ini sekalian nomor akses," jawab Sonia.


"Oh, jam berapa ini?" tanya Claudia.


"Jam sebelas lewat dua lima, mau lanjut tidur lagi kah?" tanya Sonia.


"Gak ah, gue lapar. Pesan makan gih, Mak!" Claudia duduk dari baringnya.


"Hm," angguk Sonia. "Mau makan apa?" Tanyanya, segera mengeluarkan ponselnya.


Karena Sonia sudah memeriksa dapur duluan saat baru tiba sebelum ke kamar dan memang tidak ada apa-apa selain air mineral.


"Makan Dewa, hahaha." Claudia tertawa dengan tak tahu malunya.


"Dasar oneng, belum puas semalam!" Sonia mengutip bantal terus dilempar ke arah Claudia.


"Puas dong hehe," jawab Claudia, menangkap bantal satu persatu sekalian dia susun rapi di atas kasurnya. "Tapi kok Dewa tau nomor hape lu, Mak?" lanjutnya bertanya saat menyadari sesuatu ada yang aneh.


"Nah itu dia yang gua mau nanya ke elu," jawab Sonia tak kalah aneh.


Kalau bukan Claudia yang memberi nomor lalu siapa...


"Waduh, jangan-jangan si Dewa..." Claudia dan Sonia pandang-pandangan.


"Yang jelas, status lu dalam pengawasan," lanjut Sonia.

__ADS_1


Aaaaaaa! Jerit Claudia tiba-tiba berdiri melompat-lompat di atas kasur.


"Kenapa lagi si Kelod." Sonia bergidik, tiba-tiba Claudia menggila, menari-nari tanpa busana.


Artinya Dewa mencintaiku, syukurlah Ya Tuhan. Maafkan hamba mendapatkannya dengan cara yang salah dalam hati Claudia.


Sonia meninggalkannya, takut ketularan sedengnya.


***


Di hutan Rawa negara J.


"Hah hah hah!"


Kireni menghela nafasnya yang ngos-ngosan, jantungnya berdegup kencang. Setelah beberapa saat lalu Mengyue mengajaknya lomba lari dengan burung raksasa, benar-benar pengalaman yang sangat mendebarkan.


"Aduh Mengyue, itu tadi sangat berbahaya tau gak sih?" Kiren memegangi dadanya, saat ini ia dalam wujud manusianya begitu juga Mengyue. Lama-lama Kireni nyaman menggunakannya, jadi tau satu persatu fungsi tubuhnya.


"Hahaha."


Mengyue menertawai Kireni.


Peri 900 tahun baru kali ini mengetahui wujud manusianya, kasian sekali.


"Aku ajari kamu cara bersenang-senang sambil berlatih menggunakan kemampuan Perimu Kiren, biar kamu pintar," jelas Mengyue.


"Terimakasih Mengyue, tapi itu burung jenis apa? Di alam Peri aku belum pernah melihatnya dan kenapa sayapnya kaku dan keras, tidak mengepak. Aku takut sekali tadi mendengar suaranya dan kenapa manusia-manusia itu ada di dalam perutnya? Masuk ke dalam perut, apa burung itu tidak merasa sakit. Kita mah cukup duduk manis di atas punggung ya kan."


Mengyue merasa lucu melihat kepolosan Kireni, wajahnya yang putih bertambah pucat. Kasian anak orang, gue kerjain dalam hati mengyue. "Itu bukan burung Kiren, orang Bumi menamainya pesawat. Dia tidak makan orang, tapi begitu cara manusia fana berpindah ke tempat yang cukup jauh. Alat transportasi seperti kereta kencana milik Kaisar langit," jelasnya.


"Iya, kamu memang pintar Mengyue. Banyak pengetahuan tentang alam manusia."


"Tentu saja. Aku paling suka membaca novel tentang kisah manusia Bumi, karya Dewa Takdir."


"Adakah?"


"Banyak Kiren, bermacam-macam judul novel ada. Kamu pergi ke perpustakaan langit masuk daftar jadi anggota, bisa pinjam buku sepuasnya tapi tidak boleh dibawa pulang."


"Kisah Poenix juga adakah, Mengyue?" tanya Kireni penasaran.


"Tentu saja ada. Saat ke istana langit mencari Dewa Bintang mau meminta petunjuk keberadaan Pangeranmu, aku mampir sebentar ke perpustakaan. Penasaran mau tau bagaimana bentuk dan rupa Pangeran yang kamu maksud itu."


"Oh, terus bagaimana ceritanya?" tanya Kiren semakin penasaran.


"Pangeran mu itu sangat populer di langit Kiren, terutama bagi Dewi-dewi yang masih jomblo termasuk adik perempuan dari Peri Naga. Ini aku duplikat dari foto yang ada di dinding kamar calon adik iparku."


Mengyue mengeluarkan gulungan kertas yang dibawanya, memberikannya pada Kireni.


Oh, Kireni memandang takjub wajah Pangeran tampan. "Hapus liurmu Kiren, kamu masih bocil kok omes banget sih!" Ledek Mengyue.

__ADS_1


Hehe, tawa Kireni. "Kamu tidak menyukainya kah, Mengyue?" tanya Kireni.


"Tidak Kiren, aku terlanjur menyukai Panglima perang Naga Api," jawab Mengyue sendu.


"Kekasihmu sekarang?" Tanya Kireni dengan mata tak lepas memandang foto Pangeran impiannya.


"Bukan! Itu Naga air Kiren, sudahlah tidak usah membahas tentang aku."


Mengyue tak ingin luka lama terbuka lagi. Sesuatu yang ingin dilupakannya, tapi masih selalu mengganjal di hatinya.


"Bagaimana, apa kamu sudah ingat sekarang?"


"Iya, Mengyue. Benar, ini Pangeran yang aku maksud."


"Nah, bagaimana menurutmu dengan wajah pria yang ada di dalam pesawat tadi?"


Oh, Kireni terkesiap. "Mengyue, ayo cepat! Kita kejar lagi pesawatnya, di perutnya ada Pangeran Poenix!" Teriak Kireni. membelalak, akhirnya otaknya terbuka. "Pantes saja saat aku menatapnya, merasa dejavu seperti pernah jumpa tapi karena kamu buru-buru menarikku, aku jadi lupa lagi. Rasa ingin memandang terus wajahnya," lanjutnya.


"Padahal aku telah menutup wujudmu dengan selimut kabut alam Peri, Kiren. Tapi bagaimana Pangeran masih bisa melihatmu, apakah hanya Poenix saja yang bisa melihat ataukah yang lainnya juga?"


Tiba-tiba Mengyue merasa khawatir.


"Memangnya kenapa, Mengyue?" Tanya Kireni.


"Bahaya Kiren, aku takut kamu akan ketahuan kalau-kalau dia juga bisa melihat wujud aslimu," jelas Mengyue.


Ha! "Jadi bagaimana, sekarang?" Kireni.


"Aku juga tidak tau dimana silapnya. Sebentar, beri aku waktu berpikir sejenak."


"Jangan lama-lama berpikirnya, ya Mengyue."


*


Pesawat berhasil mendarat di landasan pacu salah satu anak perusahaan milik TC grup cabang negara J. Sebelum turun Pilot dan kru menghadap Dewa untuk menerima perintah selanjutnya.


"Sebagai Kapten saya sekali lagi minta maaf pada Pak Dewa," ucap pilot.


"It,s oke. Bukan salah anda juga, harap lakukan sekali lagi pemeriksaan pada pesawat Kapten."


"Baik, Pak Dewa. Siap laksanakan!" Kapten memberi hormat.


"Jadwal tetap, empat hari dari sekarang kita harus pulang ke Negara I," tambah Baim mengingatkan.


"Siap, komandan." hormat Kapten padanya.


***tbc.


Like, komen and share, vote and gift juga ya.

__ADS_1


Pastikan jempol kalian berubah warna ya gaes. 👍


__ADS_2