
Di bawah landasan beberapa Manager bagian telah menunggu mereka, Baim mengawal Dewa turun diikuti dua orang bodyguard yang biasa mengawalnya kemana-mana.
"Selamat datang Pa Dewa," sapa kepala rombongan dengan bahasa negara I yang pasih."
"Hm," angguk Dewa mengulurkan tangan berjabatan dengan setiap orang yang menyambutnya.
"Saya mendapat laporan bahwa anda datang bertiga, mana satu lagi Pak Dewa?" tanya Kepala rombongan.
Oh, Dewa teringat pada Arya yang ketinggalan. Baim tidak berani menatap Dewa, gak penting amat dia ikut dalam hatinya. "Ada hal mendadak jadi keberangkatan beliau dibatalkan Tuan-tuan," jawabnya acuh tak acuh.
"Oh, begitu. Baiklah, silahkan Pak Dewa mau istirahat dulu atau kita langsung menuju proyek? Ini saat yang tepat menikmati pemandangan rawa karena banyak bangau langka datang bermigrasi," jelas Kepala rombongan. "Kita jalan-jalan dulu, oke," tawarnya memaksakan kehendak.
Karena ini pertama bagi Dewa ke Negara J, jadi dia mau pamer keindahannya yang menakjubkan.
Hm, "baiklah," jawab Dewa.
"Oke yes, silahkan Pak Dewa."
Kepala rombongan mempersilahkan Dewa berjalan di depan duluan.
"Mari," ujar Dewa melangkah diikuti Baim.
Kedua bodyguard mengambil tempat di depan bosnya. Semua rombongan Dewa dibawa masuk ke dalam sebuah mobil terbuka.
***
Di negara I.
"Apa!" Tuan Santoso marah saat Arya melapor padanya, bahwa putra bodohnya itu ketinggalan pesawat.
"Arya yakin ada yang sengaja mengaturnya Papa, si Dewa memang tidak menginginkan Arya ikut. Papa sih maksa, cuma telat sebentar masa gak mau nunggu. Itu kan pesawat pribadi bisa diatur keberangkatannya."
Benar-benar apes deh, gimana aku bisa lengah diajak minum oleh teman-temanku.
Kesal Arya menenangkan dirinya.
"Tapi bukan kamu juga jadi yang ngatur, alasan ban kempes di jalan tol atau karena kamu yang telat bangun karena bergadang!"
Bentak Tuan Santoso meradang menutup telpon, bukan dia tidak tau kesenangan putra manjanya itu.
*
Dari atas mobil terbuka, Dewa memandang ke alam sekitar. Sepanjang jalan terhampar luas rawa yang sangat indah, kiri kanan berhektar-hektar dipenuhi kawanan burung, khususnya dari berbagai jenis spesies Bangau.
"Pak Dewa, Bagaimana perasaan anda. Apakah tertarik mau berburu?" tanya kepala rombongan yang bernama Sarimon itu.
Berburu artinya menembak mati, dasar manusia kejam. Tidak punya keperibinatangan!
Rutuk dalam hatinya. "Apa pemerintah membolehkan menembaki burung-burung Bangau itu?" Tanya Dewa pada Kepala rombongan.
"Oh."
__ADS_1
Berpikir sejenak, apakah dia telah salah informasi. "Bukankah Pak Dewa punya hobi berburu?" tanya Sarimon pada Dewa.
"Berburu hewan yang bisa dimakan baru boleh, apa kalian makan daging Bangau!" Dewa berkata Ketus.
"Maaf Pak Dewa, tentu saja tidak. Tapi peraturan larangan berburu hewan termasuk burung-burung liar belum keluar. Pemilik saham terbesar kedua dari perusahaan pelestarian Rawa ada pada Hikado & co dan putra pemiliknya sangat gemar menembak," jelas ketua rombongan.
"Baim, selidik Hikado & co! Sebelum pulang saya mau perusahaan itu diakuisisi. Kecuali dia setuju menandatangani perjanjian larangan menembak Bangau dan satwa liar lainnya!" Dewa Berkata tegas pada asistennya.
"Baik, bos!" jawab Baim.
Gleg.
Kepala rombongan bergidik, tiba-tiba keringatan. Kalau namanya akan ikut terseret bisa gawat, kariernya dipertaruhkan.
Duarr! Duarr!Duarr!
Benar saja, tidak berapa lama terdengar suara tembakan. Burung-burung terbang ketakutan, Dewa mengepal tangan geram.
"Cari siapa penembak itu sampai dapat, masukkan ke dalam penjara! Itu Hikado akuisisi sekarang juga, Sarimon! Apa kau dengar?" Dewa marah kepada kepala rombongan, wajahnya merah padam
"Ba-baik Pak," jawab Sarimon ketakutan, segera ia mengerahkan anak buahnya.
"Lakukan seperti yang diperintahkan, minta kerja sama Sirobune Hikado sementara jangan menembak selama seminggu mengerti!" Bisik Sarimon pada anak buahnya.
"Siap bos," jawab anak buahnya segera menjalankan perintah.
*
Duarr! Duarr! Duarr!
Dari jauh kedengaran suara yang belum pernah didengar Kireni, mirip petir tapi tidak ada cahaya yang turun dari langit. "Suara apa itu Mengyue?" Tanyanya penasaran.
"Suara tembakan, itu cara manusia modern berburu." Jawab mengyue.
"Oh, mengerikan sekali." Kireni bergidik ketakutan. "Tapi mengyue kenapa kita masih di sini, berapa lama lagi kamu selesai berpikir. Bukankah kita harus terbang mencari pesawat?" Lanjutnya bertanya.
"Sabar Kiren, kita mau uji coba dulu pada kawanan hewan fana. Apakah mereka bisa melihat wujud kita setelah kamuflase," jelas Mengyue masih penasaran kenapa Dewa bisa melihat mereka saat di pesawat.
"Bagaimana caranya?"
"Kamu dekati katak itu, berbicara lah dengannya," titah Mengyue.
"Okey," jawab Kireni segera melakukan perintah sahabatnya, sekarang dia sedang berwujud Bangau.
Hei kodok! Apakah kamu tidak takut jika aku memakanmu?" Tanya Kiren pada katak hijau gede di pinggir kolam yang duduk dengan sombongnya.
Sepertinya dia adalah raja katak, karena di kepalanya terdapat sebuah mahkota kebesaran.
Bangau cari mati.
Dalam hati Katak. "Silahkan saja, tidakkah kamu tau aku ini Raja katak. Ludahku paling beracun di dunia," jawabnya mencibir pada Kireni.
__ADS_1
Bangau baru belagu, cuih!
"Belum tau ya, ular saja tidak mau memakanku," ejek Katak dengan sombongnya merasa dirinya hebat.
"Oh, bagiku racun tidak masalah karena aku adalah Peri spesialis racun. Lagipula aku tidak akan memakanmu dalam keadaan mentah, setelah dibuang racunnya dagingmu itu sangat enak dibuat asinan. Mau coba?"
Cring!
Tiba-tiba Kireni berubah wujud jadi manusia berbentuk bayangan karena ditutup kabut peri oleh Mengyue.
Gleg.
Si katak mendelik menelan ludah melihat bayangan Kireni nyalinya langsung menciut, "hah...han..tuuu!" Sang Katak teriak hampir keluar biji mata, lalu melompat ke dalam air disusul katak-katak lainnya.
"Hahaha."
Kireni tertawa begitu juga mengyue. "Bagaimana dengan hasil wawancaraku?" Tanya Kireni pada temannya.
"Si katak tidak mengenali kita tapi masih bisa melihat, dasar oneng. Kebanyakan nonton kartun Casper dia, aku jadi penasaran apakah Peri tidak pernah datang ke rawa bagian Timur Bumi. Kenapa Katak-katak itu menduga kita hantu, mereka betul-betul tidak bisa membedakan antara hantu dan Peri. Sama seperti manusia, semua yang tak kasat mata dikira hantu."
"Apakah itu buruk?"
"Buruk, sangat buruk! Bukan hanya di depan manusia, lain kali di depan para hewan-hewan fana juga jangan coba-coba berubah Kiren." Mengyue memperingatkan Peri dibuka nadinya itu.
"Jadi, gimana sekarang. Bisakah kita segera mencari Pangeran?"
Hm.
"Kebanyakan hewan di Bumi memang dapat melihat makhluk halus tapi bukankah saat ini pangeran benar-benar manusia fana, hah!"
Mengyue pusing lalu teringat dengan buku kecil yang selalu dibawanya.
"Sifat-sifa manusia fana. Mata adalah alat untuk melihat benda asalkan ada cahaya, namun sebagian manusia fana ada yang punya mata batin bisa tembus pandang ke alam roh. Mereka disebut dukun ataupun paranormal." Mengyue membaca catatannya.
"Mungkinkah Pangeran seorang Paranormal?" tanya Kireni.
Hm.
"Bisa jadi Kiren." Mengyue menyimpan lagi catatannya. "Ayo kita berbaur dengan kawanan Bangau fana di sana," ajaknya.
"Aaaa.. kamu yakin! Bagaimana dengan suara tadi?"
"Tembakan?" Mengyue mengerutkan keningnya.
"Hm," angguk Kireni.
"Peri tidak mempan dengan tembakan, Kiren! Sekalian kamu belajar kamuflase dan teleportasi pakai mantra masing-masing oke!"
"Oke sip," jawab Kiren semangat.
***tbc.
__ADS_1
Like, komen and share, jumpa lagi 👍.