
Gleg.
Kakak Kedelapan meneguk liurnya mata membelalak lebar. "Bagaimana Pil berharganya itu bisa sampai ke perut Dewi?" Tanyanya heran.
"Kalau cinta sudah melekat taik gigi rasa coklat hehe," gelak Kakak ketiga.
"Kakak tolong jangan bercanda di saat seperti ini ya."
"Kamu tidak suka gosip itulah masalahnya," ledek Kakak Ketiga.
"Apa hubungannya?" Kakak kedelapan memajukan mulutnya, kesal.
"Cucu Dewa Naga, Pangeran Naga air menyukai seorang gadis dari Bangsa Rubah. Saat Peri itu mengajaknya berkencan tidak sadar ia telah dirayu untuk memberikan Pil itu pada kekasihnya. Siapa yang menyangka kalau benda paling berharga leluhur bangsanya itu akan diberikan pada Kireni, sementara si Rubah betina sampai bersumpah mengakui dirinya lah yang telah menelan Pil itu," jelas Kakak ketiga dengan bangganya.
"Dia kira Dewa Naga bodoh! Bagaimana kalau Dewa pelit itu mengetahui Pil berharganya sudah masuk ke dalam perut Dewi, apakah adik kita akan mendapatkan sanksinya?" Kakak kedelapan nada khawatir.
"Itu aku kurang tau, yang jelas sekarang Pangeran Naga air sedang menjalani hukuman atas perbuatannya," kata Kakak Ketiga. "Kalau Dewa Naga murka bahkan Ayah pun tidak dapat menolong Dewi," lanjutnya berkata lemah.
"Hais. Selamanya aku tidak akan pernah jatuh cinta pada perempuan walaupun itu dari Bangsa Bangau." Kakak kedelapan menahan geram
"Itu karena kamu tidak tau betapa enaknya rasa perempuan, coba dulu satu kali, mati pun kamu pasti rela."
Cis.
Mendengar Kakak ketiga, Kedelapan mencibir.
"Tidak dengar kisah Ye hua si Naga Hitam cucu kaisar langit Shanghai dengan Bai qian si rubah putih dari Peach Blossom?"
"Tetap saja aku tidak akan pernah mau dibodohi oleh perempuan, ayo pikirkan cara menolong Dewi!" Kakak Kedelapan bertambah resah.
"Bagaimana kita bisa menolongnya?" Tanya Kakak ketiga, ia pun bingung gak ngerti caranya.
"Kita Kakaknya, pikirkan caranya! Ayo bagaimana?"
"Hais, kamu tau kenapa Ayah memintaku mengunci nadi Peri Kireni?"
"Untuk menutupi wajah aslinya yang cantik," jawab kakak Kedelapan cepat.
"Salah! Tapi karena kekuatan aslinya yang dahsyat itu hanya bisa dilatih saat usianya 3000 tahun, siapa yang menyangka belum seribu tahun ada Peri lancang yang membukanya ditambah lagi kekuatan dari pil jutaan tahun..."
"Jadi kita tidak bisa menolongnya?" Kakak kedelapan memotong bicara Kakak ketiga, sudah tau pasti kekuatan itu akan jadi kontroversi di istana langit.
Hm.
"Kita akan menunjukkan diri pada Kireni tanpa diketahui oleh manusia-manusia fana itu, untuk mengajaknya diskusi bagaimana cara memanfaatkan kekuatannya. Tapi masalahnya adalah,.." jeda Kakak ketiga.
"Karena kelima bayi kembar itu dapat melihat wujud halus Kireni, kemungkinan mereka juga bisa melihat wujud kita," lanjutnya.
"Lalu bagaimana sekarang, cepatlah berpikir." Desak Kakak Kedelapan. "Bagaimana kalau kita mengambil alih masing-masing satu bayi, lalu membantu Kireni melalui mereka?" Lanjutnya memberi usul.
"Maksudnya masuk ke tubuh mereka?" Tanya Kakak ketiga.
__ADS_1
"Hm," angguk Kakak kedelapan.
"Kamu ternyata harus belajar lagi, sekolah yang benar biar pintar!" Kakak Ketiga kesal akan kebodohan adiknya mengetok kepalanya dengan kipas di tangannya.
"Kenapa, apa yang salah? Kita bisa masuk dengan wujud haluskan!" Kakak Kedelapan bertanya heran.
"Kita ini Peri bukan hantu atau roh gentayangan yang bisa masuk kemudian keluar begitu saja, tubuh bayi-bayi itu tidak akan mampu menampung energi kekuatan kita yang terlatih selama ratusan ribu tahun waktu langit! Kecuali kamu melepas, membuang semua kekuatanmu lalu masuk sebagai roh biasa!" Kakak ketiga menjelaskan sampai mengeraskan suaranya.
"Kamu mau tubuh mereka hancur lalu dengan santai melihat keluarga bayi-bayi itu melimpahkan kesalahan pada Kireni?" Lanjutnya nada marah yang bisa didengar oleh Kireni.
Kakak ketiga, kakak kedelapan.
Panggil dalam hati peri Bangau Abadi itu lega, mencoba telepati pada kedua kakaknya.
Dari atas langit Jkt di dalam kabut malam di perbatasan jalan kota Reklamasi menuju jalan Baru, Pangeran Ketiga dan Kedelapan Peri Bangsa Bangau Abadi tersenyum lebar mendengar suara adik perempuannya.
Kakak Kedelapan menyentil pundak Kakak ketiga dengan seruling bambunya, seruling itu memang selalu dibawanya kemana saja dia pergi.
Sebagai Pangeran paling bungsu dia mendapat tugas dari Raja Bangau Abadi, mengawasi serta menggiring burung-burung yang mulai belajar terbang dengan alunan suara serulingnya.
Burung-burung baru menetas itu biasanya suka bandel dan sering tersesat masuk ke daerah kekuasaan siluman hitam bermata merah.
"Aku mendengar Dewi memanggil nama kita," ujarnya pada Kakak ketiga yang terdiam, senyuman aneh terukir di bibirnya.
"Ada ap..."
Belum habis Kakak kedelapan bicara, Kakak ketiga mengangkat kipas ditangannya ke hadapan adiknya.
Cis.
Kakak Kedelapan mendorong tangan Kakak ketiga dari wajahnya.
Kakak ketiga.
Terdengar lagi suara Kireni memanggil.
"Kakak ketiga ayo jawab!" Kakak kedelapan gak sabar mendesak Kakak laki-lakinya yang suka lamban dalam bertindak.
Ck.
Kakak Ketiga mendelik pada adiknya, Kakak Kedelapan tak kalah sewot lebih melotot lagi atas keleletan Kakaknya.
"Adik kesembilan," gak sabar Kakak kedelapan memanggil Kireni.
Kakak, apa kalian mendengarku?
Kedua kakak saling memandang. "Katakan Dewi, Kami bisa mendengarmu." Kakak Ketiga yang menjawab adik perempuannya.
"Iya Kiren katakan, apa yang bisa aku lakukan untuk menolongmu, Dewi!" Sambung Kakak Kedelapan senang sekali bisa komunikasi jarak jauh dengan adiknya.
Aku terjebak masalah dengan manusia Bumi, apakah kalian bisa menolongku?
__ADS_1
Kiren tetap berbicara melalui pikirannya agar tidak didengar oleh manusia fana yang ada di dekatnya.
"Itu perkara mudah," jawab Kakak Ketiga.
Huh, syukurlah.
Kireni menarik nafas lega.
"Hum!"
Tadi katanya tidak bisa menolong kenapa sekarang bilang perkara mudah.
Dalam pikiran Kakak Kedelapan memandang Kakak ketiga heran.
Diamlah, kamu mau membuat mental adik kesembilan down!!.
Kakak Ketiga membentak kesal pada Kakak Kedelapan melalui pikirannya.
Baiklah.
Dalam pikiran Kakak Kedelapan.
Mereka lupa walaupun berbicara melalui pikiran, Kireni tetap dapat mendengar dengan jelas apa yang mereka katakan.
Hah, jadi kalian tidak bisa menolongku.
Kakak ketiga terkejut mendengar adiknya mendesah sedih. "Bu-bukan begitu Dewi! Hanya kami tidak tau permasalahannya," jawabnya tergagap melotot pada Kakak kedelapan. "Ish, gara-gara kamu."
"Maaf," ucap Kakak kedelapan, menyadari bahwa Kireni bisa mendengar isi pikiran mereka.
Kita sedang telepati Kakak, tentu saja aku bisa tau isi pikiran kalian.
Ujar Kireni.
Iya baiklah, apa yang bisa kami lakukan Dewi?
Tanya Kakak Ketiga memandang Kakak Kedelapan.
Aku akan membuat hujan petir dengan mantra.
Jawab Kireni.
"Dengan Kemampuanmu yang sekarang, itu perkara mudah tapi kamu juga harus mengetahui bahwa ada konsekwensi yang harus ditanggung oleh seorang Peri jika merubah-rubah ketentuan langit bagi manusia-manusia di Bumi," jelas Kakak Ketiga.
Aku siap bertanggung jawab Kakak, sudah terlanjur kacau jadi aku harus memperbaiki kesalahanku..
Jawab pikiran Kireni bersamaan dengan suara Baby Choi.
***tbc.
Like, komen and share 👍.
__ADS_1