The Crane Dan Lima Bayi Kembar

The Crane Dan Lima Bayi Kembar
Bab. 74


__ADS_3

"Hm," angguk keempat bayi setuju.


"Ha!" Baim skak mat.


Fruufht!


Sitters dan Bodyguards kelima bayi pun menahan tawa mendengar nya, begitu juga bodyguards Dewa yang duduk di depan jadi supir.


Cis, dengus Baim.


"Boleh ya kita ke Mansion Paman, please!" Mohon kelimanya bersamaan.


Hm, asalkan Kireni tidak pergi kemana-mana, aku tidak masalah bayi-bayi ini tinggal selamanya denganku.


Dalam pikiran Dewa yang bisa dibaca oleh bayi - bayi.


"Yes." Pekik kelima bayi.


"Tidak apa-apa, Baim. Mereka ada sitters dan pengawal masing-masing yang mengurus nya, kamu tidak akan direpotkan," ujar Dewa pada asistennya.


"Dengar itu Baim." Sebi nada mengejek. Spontan kelima bayi memeluk Dewa menyerbu pipinya rebutan mencium.


Hais, keluh Dewa memandang Kireni yang ikut tertawa bersama Sora.


"Bodyguards! Ayo kita ke Mansion Paman sekarang." Baby Duta memerintah dua pengawal Dewa yang duduk di bangku kemudi.


"Siap Tuan muda," jawabnya.


*


Bagaimana keadaan di kantor BMKG, Dinas tata kota dan juga Dinas kepariwisataan.


Mereka diam terduduk melamun, tiba-tiba gambar menghilang dari layar monitor tidak tau apa penyebabnya. Kepala BMKG yakin benar Petir akan berada di antara jalan Baru dan jalan protokol, dirinya sudah siap dengan rekamannya. Ternyata tidak ada satu gambar pun yang bisa ditangkap oleh setiap kamera CCTV yang terpasang.


"Benar-benar menakjubkan, apakah karena bayi penyihir itu tau kita merekamnya?" Tanya salah satu anggotanya.


"Jangan tanya saya, bukankah kita sama-sama disini menyaksikan hilangnya gambar di layar," ujarnya setengah tension.


"Arghhh!" Keluh kepala BMKG itu meninju meja di depannya kesal, karena tidak jadi mendapat keuntungan dari kejadian ini.


Begitu juga dengan Dinas Tata Kota dan Kepariwisataan, mereka kesal karena tidak bisa menyaksikan fenomena alam langka yang vidio rekamannya kalau terjual bisa kaya mendadak.


Siaran langsung ke Pemda kota sungguh mengecewakan, bagi yang nobar ingin menyaksikan siaran langsung terkejut melihat tiba-tiba Pak Walikota ada diantara mereka memakai kimono tidur.

__ADS_1


"Pak," sapa mereka berdiri dari duduknya.


"Hm," gumam orang nomor satu di kantor kepala pemerintahan tingkat Kotamadya itu.


*


Lalu apa yang terjadi di sepanjang jalan Protokol?


Hujan deras sudah berhenti meninggalkan titik-titik gerimis, karena sempat badai tidak terlihat ada dari Angkatan Darat maupun dari Dinas tata kota di sepanjang jalan, mereka telah kembali ke markas masing-masing. Siapa yang menyangka setelah hujan air dan petir berhenti disambung lagi dengan hujan Manusia.


Terlihat Masyarakat berkerumun dengan berbagai bentuk dan model pakaian tidur masing-masing, maklum malam hari saatnya lena diulit intan tiba-tiba berada di atas aspal seperti kemarin pagi saat hendak berangkat kerja, tentu saja bagi mereka itu sangat mengejutkan.


"Oh no," kata satu bule cewek.


"Oh yes," kata cowok bulenya.


Mereka adalah sepasang kekasih yang terlempar pulang ke negaranya, mereka juga termasuk diantara orang-orang yang tidak keberatan dipulangkan karena memang mereka dalam perjalanan ke Airport kemarin pagi.


Tapi apa hendak dikata, selagi sor-sornya menyatu di kamar rumahnya tiba-tiba terlempar lagi ke dalam mobil mereka yang ketinggalan di jalan Protokol, bersama supir onlinenya sekalian.


Tentu saja si supir membelalak melihat penumpangnya yang kemarin dalam keadaan telnjang. "Oh, shitt! Tutup mata anda." Si cowok bule membentak si supir, si Supir tentu saja tau diri segera keluar.


Siapa yang mau melihat gituan kecuali diajak join gak masalah.


"What the hell!" Terdengar satu bule lagi yang juga terlempar ke negaranya, padahal dia sudah pesan tiket balik ke Jkt karena ada bisnis penting yang harus diselesaikannya.


Kalau tau akan ditarik pulang, kenapa mesti repot membuang uang untuk hal yang sia-sia.


Gerutunya berdiri di samping supir.


"Astaga!"


"Ya tuhan."


"Ya Allah."


"Astaghfirullah."


"Oh my God."


Seru orang-orang beramai-ramai jadi naik darah darah tinggi, lagi enak-enaknya tidur dipanggil pulang ke jalan Protokol.


"Apa sih maunya si bayi penyihir itu!"

__ADS_1


Ketus seorang yang sedang asoy bersama istrinya kaget melihat tubuhnya seperti manusia purba yang belum mengenal peradaban, tergelatak di aspal di samping motornya yang juga tergeletak.


"Dasar bayi penyihir, anj...!" Keluh satu orang lainnya tidak berani menyumpah, segera kabur mencari penutup tubuhnya, diikuti yang lain.


"Lu ngapa ngikutin gua?" Semprotnya pada satu gadis yang ikut lari di belakangnya.


"Ini aku bang, masa lupa sih! Kemarin kita nginap di hotel pulang pagi."


"Astaga, pergi sana. Aku gak kenal kamu," katanya malu.


"Jangan pura-pura ya, abang belum bayar." Si gadis ngotot mengejar si abang.


"Oh tidak," jeritnya. "Lu gak liat, mata lu picek. Baju pun aku gak punya apalagi uang, hus sana!"


*


Keadaan jalan Protokol memang masih dalam keadaan seperti pagi kemarin, kendaraan yang ditinggal oleh pemiliknya ataupun orang-orang yang berkerumun masih ada seperti sedia kala.


Contohnya yang bawa mobil pribadi ditarik kembali ke dalam mobilnya, yang naik motor berada di samping motornya. Begitu juga yang naik bus-bus panjang, penumpang beserta supirnya ditarik ke dalam bus dengan berbagai macam rupa bentuk dan penampilan.


Yang pake kolor ada, yg pakai kaos doang juga ada, yang pake baju ada, sarungan saja juga ada. Bahkan yang polos tanpa sehelai benang pun ada.


"Mbak pakai ini," Kata satu orang yang memakai sarung pada wanita yang telnjang, wajahnya merah menahan malu. Beruntung di dalam bus lampu padam dibantu malam hari suasana sudah pasti gelap.


"Terimakasih bang," ucapnya lebih kasihan lagi pada suami yang sedang memberinya nafkah batin dipaksa lepas begitu saja.


"Seandainya kemarin aku tidak terjebak di dalam kerumunan itu, tidak akan terjadi hal yang memalukan ini," gumamnya bingung, tubuhnya menggigil kedinginan.


"Sabar Mbak. Salah orang-orang yang berkerumun juga sih. Memancing kemarahan si penyihir, saya dengar hujan dan petir barusan juga atas ulah bayi sakti itu guna mengusir orang-orang yang ngeyel." Kata supir bus yang hanya pakai kaos oblong dan celana kolor. "Beruntung istriku menolak, katanya capek dari pagi belum istirahat. Kalau gak nasib kita sama mbak hehe," sambungnya, gak tahan ia terkekeh juga.


Yang lain menahan senyuman.


Terus, bagaimana mau pulang?


Dalam pikiran mereka, karena tidak ada satupun diantara mereka yang membawa uang sepeser pun.


Menyadari kembali terjebak macet, orang-orang bergidik tidak ada yang berani melirik Limo. Mereka segera menyingkir memberi jalan bagi mobil panjang dan mewah itu, takut membangkitkan kemarahan bayi penyihir.


Diantar pulang lagi jadi bolak balik kan ngeselin dalam pikiran mereka bersamaan.


***tbc


Like komen and Vote, 🙏

__ADS_1


__ADS_2