
"Anak nakal seperti kamu," sentil Dewa. Ia sudah gak heran lagi atas keserbatidaktahuan Kireni. "Ayo bangun dulu, pakai bajunya." Dewa berguling sehingga posisi Kireni jadi di bawahnya. Segera ia bangun meraih tangan Kireni agar ikut duduk. Kesempatan Kireni nemplok di pangkuannya, hais.
Dewa membuka pakaian baru Kireni yang masih terbungkus plastik, sepertinya Kireni akan tidur bersamaku malam ini batinnya. Karena kamar Kireni akan diberikan pada pengacara yang baru tiba. Di samping ia tidak tenang membiarkan gadis kecil itu tidur sendirian sementara ada banyak lelaki dewasa di penginapan.
Yang bikin Dewa betah adalah tubuh Kireni baunya sangat enak dan itu bukan dari sabun mandi ataupun shamponya. Dewa merasa familiar tapi tidak ingat di mana pernah menciumnya. Gambar bangau di punggung Kiren sempat membuat Dewa berpikir aneh seperti yang pernah dipertanyakan Sarimon.
Apakah dia manusia, boleh jadi Kireni adalah jelmaan, beruntung kotorannya tetap bau sebagaimana manusia normal jadi aku tidak lagi meragukannya.
Selesai Kireni berpakaian, Dewa keluar mengambil baju dalamnya yang tergantung di gagang pintu.
Dasar si Baim, malah dipamerin.
Gerutu Dewa melihat asistennya itu masih duduk bercengkrama di sofa bersama pengacara dan dua bodyguard.
Masuk ke kamar, Dewa menyerahkan pakaian dalam, pada Kireni.
"Nih, pakai ini. Paman mau ke kamar mandi."
Ikut," rengek Kireni.
Gleg! Waduh gawat, aku mau buang kecebong.
***
Sarimon dan anak buahnya menunggu kesempatan untuk bertindak, karir mereka dipertaruhkan malam ini. Menyesal Sarimon membawa Dewa melihat hutan Rawa, ah. Hanya gara-gara penembakan burung liar jadi merembet ke akuisisi perusahaan.
"Bos, sudah bisa dilepaskan belum?" tanya anak buahnya gak sabar. Waktu sudah menunjukkan angka 23.15 waktu negara J dan malam semakin dingin.
"Bagaimana situasi di sana?" Tanya Sarimon.
"Tidak ada tanda-tanda penghuni penginapan sudah tidur, Bos. Baim dan pengacara masih menikmati minuman penghangat tubuh sambil bertukar cerita ditemani beberapa pengawal, tidak ketinggalan dua bodyguard, Bos. Kami yang merana di sini."
Hais! "Apa mereka akan bergadang malam ini? Baiklah lepaskan saja sekarang, kita pulang. Saya juga gak tahan lagi mau ehem-ehem."
"Siap bos!" Anak buah Sarimon bernafas lega, sebentar lagi mereka akan bebas dari derita.
Beberapa ular di dalam karung dibuka pengikatnya, seketika ular-ular keluar menghirup udara bebas. Kelihatan sangat ganas, hampir saja anak buah Sarimon jadi korban patokan karena ular-ular itu mendadak melakukan penyerangan.
Ups, beruntung mereka cepat menghindar. "Hei, kalian masuk ke dalam. Tugas kalian menggigit manusia-manusia di sana, atau kalian mau dikuliti!" Ancam Anak buah Sarimon mendorong ular-ular pakai alat bantu khusus, kayu panjang yang ada pengaitnya.
"Selamat menikmati gigitan ular berbisa Pak Dewa, hihi." Senyum anak buah Sarimon. Semua ular telah merayap ke dalam penginapan.
__ADS_1
***
00.45 waktu negara J.
Dewa belum bisa tidur, beruntung tadi Kireni gak ngotot minta ikut ke kamar mandi. Gadis itu sekarang duduk bersandar di sampingnya, mereka menonton sambil belajar.
Kireni juga gak bisa tidur, satu hari di alam Peri sama dengan satu tahun di alam manusia...ah. Di sini cepat sekali waktu berlalu, sebentar-sebentar terang sebentar-sebentar gelap keluh Kireni.
"Kamu belum ngantuk?" tanya Dewa, kepala Kireni terasa lemas di pundaknya.
"Hm," Kireni menggeleng.
"My name is Dewi Kireni, I am nine years old. I want to sleep with you Uncle Dewa," ujar nya menggunakan bahasa negara A.
"Ha!" Dewa melongo. Ternyata Kireni sangat pintar dan ingatannya sangat tajam. Pokoknya sekali dikasi tahu langsung nempel di otaknya.
Sudah bisa mengeja berbagai aksara. Bahasa negara A, negara J, juga tulisan negara I bahkan sudah khatam. Gak nyangka IQ nya di atas rata-rata. Yang lebih membuat takjub Dewa, Kireni bisa menterjemahkan bahasa hewan saat mereka menonton discovery chanel.
"Kenapa tadi kamu bilang tidak bisa membaca, Kiren?" tanya Dewa.
"Hm," Kireni angkat bahu, hanya melalui laptop sekarang dia sudah banyak mengerti tentang alam fana, khususnya yang berkaitan dengan manusia.
***
Saat masih bersembunyi di semak-semak dengan anak buah Sarimon, mereka mendengar katak-katak bergosip bahwa hutan rawa kedatangan hantu perempuan kecil. Sekarang berada di penginapan dalam pengawasan seorang pemuda pemberani, kalau ada yang berani menyakiti pemuda tampan akan berhadapan dengan kepala preman dari bangsa buaya.
"Bagaimana ini?" tanya sesama ular.
"Kita pergi saja, bisa repot urusannya kalau kita nekad mematuk si pemuda pemberani." Jawab salah satu ular.
"Benar itu, kita kembali saja ke rawa. Melapor pada kepala buaya preman bahwa teman-teman kita banyak yang dipenjara di gudang oleh Sarimon dan anak buahnya."
"Kita beritahu bagaimana kejamnya, bangsa buaya dan bangsa ular dikuliti." Sambung yang lain.
Kireni yang mendengar semua pembicaraan ular-ular menjadi prihatin dengan nasib penghuni hutan rawa
***
"Paman, untuk apa ular dikuliti?" tanya Kireni.
"Untuk dibuat tas, sepatu, ikat pinggang dan banyak lagi lainnya kebutuhan fesyen." Jawab Dewa.
__ADS_1
"Sebagian dimakan dagingnya, bagi orang yang doyan." Lanjutnya.
"Bangau makan ular," ujar Kireni.
"Ular, katak, cacing tergantung dimana si Bangau tinggal. Kalau di daerah laut makannya ikan, kalau persawahan makannya serangga," jelas Dewa.
Bangau makanannya termasuk beragam dan aku makan semuanya asalkan matang dalam hati Kireni. "Apa paman pakai barang dari kulit ular?"
"Tidak Kiren, Paman alergi dengan kulit hewan."
"Alergi?"
"Efek sampingnya, kulit Paman akan gatal-gatal jika bersentuhan lama dengan benda berbahan dasar kulit hewan, bukan hanya ular."
"Kalau daging ular, makan?"
"Tidak Kiren, Paman gak doyan." Sampai pagi gak selesai-selesai neh obrolan dalam hati Dewa. "Ayo tidur," ajak nya membaringkan tubuh, menarik selimut.
"Baiklah." Kireni ikut melorotkan dirinya. Diam-diam ia menggunakan mantra, seketika Dewa terpejam tak sadarkan diri.
Setelah Dewa tertidur, Kireni keluar kamar menggunakan mantra bunglon. Jadi teringat Mengyue, paling jumpa sebulan lagi ukuran waktu Bumi batinnya berharap semoga temannya itu tidak menemui masalah di alam Peri.
Melewati ruang tamu, Kireni melihat Baim dan yang lain ikut tertidur lalu menggunakan mantra teleportasi mau nyamperin ular-ular.
"Hai," sapanya pada ular-ular yang sedang merayap di terowongan semak-semak menuju rawa hutan.
Ular-ular pada kaget melihat Kireni, ternyata benar ada hantu perempuan kecil. Tapi tidak seseram yang digosipin bangsa katak, wajahnya cantik sekali laksana Peri.
"Hai," balas para ular mendesis.
"Kalian mau menolong teman yang dipenjara di gudang?" tanya Kireni.
"Iya," jawab salah satu ular. "Bagaimana kamu tau?"
"Aku mendengar pembicaraan kalian saat di dapur,"
Bagaimana bisa dalam hati ular-ular. Tidak ada melihat ada bayang orang saat mereka mengobrol di dapur.
***tbc.
Jumpa lagi.
__ADS_1