
"Setahu Mama, Kiren tinggal di Mansion Kota reklamasi ya, kalau gitu bisa main ke Mansion kita dekat situ juga," lanjut Alisha pada Kireni.
"Benar Ma?" Sora mata berbinar. "Yeeee, Kiren! Ternyata kita tetangga," pekik Sora kesenangan.
Kireni merasa sedikit tenang sambil berpikir-pikir, apakah dia kembali saja ke alam peri tapi baru saja mendapatkan teman seru, ah serba salah.
"Ayo Kiren," ajak Sora menggandeng tangan Kireni agar mengikuti langkah Baim.
"Ikut!"
Kelima bayi heboh turun dari mobil-mobilan mereka masing-masing, tidak mau ketinggalan menyaksikan sinetron Ku Menangis nanti di ruangan Ball Room lantai empat.
"Lha! Katanya mau makan es krim," tahan Arjit memandang Alisha, kenapa tidak dihalangi itulah maksudnya.
"Kan bisa sekalian Pepa bawa ke Ball room lantai empat," ujar Lara Sebi yang telah dilantik sebagai juru bicara bayi-bayi.
Ditatap adiknya Alisha mengangkat bahu, mana aku sanggup itulah maksudnya.
Sitters terpaksa mengikuti anak asuh masing-masing dikawal bodyguard masing-masing, itulah enaknya jadi sitter kelima bayi Wijaya, mereka sudah gak mau digendong lagi. Mereka berbaris mengantri di belakang Baim menunggu lift.
Ting!
Pintu terbuka ada Pangeran tampan keluar dari dalamnya, dia sudah tau duduk persoalannya dari laporan Baim.
Hiks, hiks Kireni buang muka tak mau menatap Dewa.
Sora terngaga melihat makhluk indah di depannya tapi jadi ilfill setelah tau dia seorang penghianat, cis! Sora ikut buang muka seperti temannya.
Alisha terpelongo, dia tau selama tiga tahun ini ada pengusaha tampan yang sering masuk majalah selain putranya Brama.
Ternyata dilihat langsung jauh lebih tampan, Ya Tuhan sisakan satu untukku yang seperti ini.
Dimana-mana seorang ibu pasti mengatakan bahwa anaknya lah yang paling tampan di dunia, tapi tidak bagi Alisha. Menurutnya Dewa lebih tampan dari Putranya Bram setelah Beno tentunya.
Kelima sitters apalagi, mengences sampai banjir. Anak asuhnya aja sudah lama gak ngences biarpun saat bangun tidur.
"Hapus liurmu!" Lara Sebi menegur sitternya.
Eh, "maaf Nona Sebi," ucap sitter jadi malu kemudian mengusap mulutnya.
"Bos," sapa Baim menatap Dewa, maaf sudah ketahuan itulah maksudnya.
Hm, angguk Dewa seadanya tatapan pada Alisha.
__ADS_1
"Nyonya, apa kabar?" sapanya tersenyum pada Nyonya pemilik Hotel mengulurkan tangan. Untuk pertama kali dia menegur duluan seorang wanita selain Mamanya. Kecantikannya termasuk awet untuk wanita seusianya dalam hati Dewa menilai Alisha.
"Baik Pak Dewa, sela...ah!" Seketika berhenti, menarik tangannya yang terulur. Alisha tak bisa meneruskan ucapan selamatnya saat terdengar suara Kireni yang terisak.
"Terima kasih Nyonya, pelayanan Hotel sangat baik dan aman," ucap Dewa mengerti arti dari sikap Alisha.
"Sela..." Arjit mengulurkan tangannya tapi tiba-tiba...
Plak!!
"Ais..." Arjit meringis, menarik tangannya yang sakit akibat digeplak kakaknya.
Gak ngerti situasi banget sih, begitulah artinya geplakan Alisha pada Arjit.
Hehe. "Maaf Pak Dewa," ucap Alisha tersenyum sungkan pada Dewa.
Hm. "Tidak apa Nyonya," jawab Dewa mengangguk sopan.
"Karena Paman Dewa sudah ada bersama kita, gimana kalau kita pesan es krim sekarang?" Seru Arjit menyeringai memandang Dewa, hehehe.
"Setuju!" Kelima bayi menjawab serentak.
"Untuk itu kita persilahkan Paman Dewa yang traktir karena telah sukses membuat kelima bayi keturunan orang penting di grup WJ menangis," todong Arjit langsung mendapatkan tatapan tajam dari Alisha.
"Biar itu saya yang urus, Bos. Silahkan cari tempat untuk bersantai saja," ujar Baim tersenyum pada Dewa mengulurkan tangan, rasain lho kena sindir kan dalam hatinya.
Hm.
Dewa mengerti arti uluran tangan Baim kemudian menyerahkan ponselnya buat bayaran nanti di kasir melalui mobil banking. "Baiklah, kalau begitu. Ayo kita cari tempat," ajak Dewa memandang kelima bayi mukanya mirip semua susah mau membedakannya.
"Mereka cucu-cucu saya Pak Dewa," jelas Alisha mengerti arti tatapannya.
"Kembar identik paling sama persis yang pernah saya lihat," ujar Dewa pura-pura takjub.
Karena memang baru pertama kali ini dia melihat bayi kembar, pada ngerti kan kalau Dewa gak gaul.
"Paman! Traktir es krim belum cukup sebagai hukuman karena membuat Kak Kiren menangis."
Lara Duta gak tahan mau membalaskan sakit hati kakak cantiknya.
"Ah begitu, siapa nama kamu?" tanya Dewa heran masih bayi banget sudah sangat fasih berbicara.
"Lara Duta Putra Yudian Wahyudi, Asisten Utama Presiden Direktur grup WJ." Duta berkata lancar tanpa jeda.
__ADS_1
Saat masuk usia enam bulan sejak dia bisa bicara, yang pertama kali dihapalnya adalah namanya sediri dan yang kedua adalah jabatan Ayahnya.
"Hukuman apa yang ingin kamu tambahkan pada Paman, Lara Duta?" tanya Dewa.
"Restui saya menjadi kekasih Kak Kiren!" Duta berkata tegas.
"Hahahaha," tak ayal semua yang mendengar tertawa begitupun Dewa, baru ngeh kalau alis Duta lain sendiri.
Acara makan ice cream santai diputuskan duduk di tengah arena balapan.
Membentuk lingkaran, Dewa di antara Kireni dan asisten setianya Baim. Sitters dan para bodyguard tidak ketinggalan duduk di belakang anak asuh mereka masing-masing. Ikutan dapat jatah juga, Alhamdulillah ucap dalam hati mereka bersyukur bisa diterima jadi pengasuh kelima bayi-bayi ajaib.
Sora diantara Kireni dan Mama Alisha, mencuri-curi pandang pada Dewa. Selama ini yang paling tampan dimata dan hatinya hanyalah Om Ze nya seorang, tapi Paman Kiren ini memang berbeda dalam hatinya.
Dewa mengusap pucuk kepala gadis kecilnya. "Maafkan Paman," ucapnya. "Acara itu sudah diatur jauh sebelum kita bertemu," lanjutnya sontak mendapatkan tatapan tajam dari bayi-bayi, kalau itu pedang dia sudah mati lima kali ditusuk kelima bayi.
"Yaaaaahhhhh...si Paman!" seru berlima bayi serentak, meletakkan sendok ice cream masing-masing di mangkoknya.
"O." Dewa menyadari bahwa dia telah salah membahas sesuatu bukan pada waktunya.
Diingatkan lagi tentang pernikahan. "Hiks, hiks!" Kireni kembali mewek, sedetik kemudian…
"Uwaaaaa," terdengar teriakan kencang dari mulutnya, ice cream bercampur dengan air mata, ingus dan ludah muncrat kemana-mana.
"Cup..cup..cup, sayang." Dewa mengangkat Kireni ke pangkuannya, membawa gadis kecil itu ke pelukannya.
Benar-benar takut setelah ini Kireni meninggalkannya, bisa gila dia kalau itu terjadi. Makanya Dewa tidak mau menunda lebih lama lagi untuk membahasnya
"Maaf, Paman bersalah pada Kiren. Mau kan memaafkan Paman," ucapnya sungguh-sungguh memohon.
"Uwaaaaa," Kireni semakin teriak.
Hah!
Baim mendesah memandang Dewa, kenapa gak tunggu selesai makan es krim sih Bos dalam hatinya ikut sakit melihat Kireni menangis.
"Astaga Paman!" Lara Sebi menepuk jidatnya.
"Silahkan membeli es krim lagi karena telah membuat Kak Kiren menangis berkali-kali," lanjutnya alasan.
***tbc
Like, komen and share thanks 👍
__ADS_1