
"Ayo tunjukkan dimana tempatnya, biar aku tolong lepaskan."
Ular-ular pandang-pandangan, neh hantu baik juga dan bisa bicara bahasa mereka. "Bagaimana bisa menolong, kamu hanya seorang hantu manusia kecil?" Tanya satu Ular gak yakin dengan wujud Kireni yang cuma bayang-bayang.
Sengaja ia kamuflase, setidaknya Ular-ular tidak bisa menyerangnya. Kalau saja mereka tau Kireni dari Bangsa Bangau, habislah dia dikeroyok beramai-ramai.
"Percayalah, aku bisa menolong teman-teman kalian."
"Ya udah, ayo ikut kami." Ajak ular-ular sepakat.
"Eit, tunggu. Cukup satu ekor saja yang mewakili, lainya silahkan kembali ke Rawa." Kireni takut juga jalan bareng sama ular. Mana jumlahnya banyak lagi, udah gitu berbisa semua.
Para ular memutuskan siapa yang ikut Kireni secara aklamasi, yang ditunjuk ular yang paling ingat jalan menuju gudang.
***
08.10 waktu negara J keesokan hari Dewa bangun.
Seketika ia panik tidak menemukan Kireni di kamarnya segera keluar mencarinya. "Baim, mana Kiren?" tanya Dewa pada asisten yang sudah standby di halaman Villa, asap mengepul dari mulutnya.
"Tidak tahu bos," jawab si asisten kebingungan. "Bukannya tidur di kamar dengan dikau, Bos?"
"Kalau ada, ngapain saya nanya!" Dewa suara kencang, Baim sampai kaget. Belum pernah bosnya itu sekhawatir ini kehilangan sesuatu.
Bisa kemana dia batin Baim. "Bentar bos, saya kerahkan beberapa pengawal untuk mencarinya."
"Hm," Dewa kembali ke kamarnya tapi hatinya gak tenang mau mandi sebelum bertemu Kireni. "Kiren, kamu dimana?" Panggilnya lirih terduduk di pinggir kasur masih dengan piyama tidur.
Oh," Kireni kaget ada yang memanggil namanya, suara Pangeran. "Gawat aku harus segera kembali," ujarnya heran juga, bukankah jaraknya lumayan jauh, bisa dua jam perjalanan pulang pergi untuk ukuran manusia normal.
Posisi Kireni masih di hutan Rawa, ditunjuk menjadi saksi pemilihan Kepala preman yang baru. Calon Ketua terbagi atas tiga suara, antara Ketua lama, wakil ketua dan satu dari bangsa Ular. Sampai pagi belum ada kata sepakat.
Selama ini kan siapa paling reman dia yang menang, baru ini pertama kali dilakukan pemungutan suara. Jadi semua penghuni rawa exciting ikut serta, gak ada yang mau ketinggalan. Sampai semut-semut, cacing-cacing, lintah-lintah ikut pemilihan, bayangkan berapa ribu koloni itu. Sampai sebulan juga gak kelar-kelar neh Pemilu batin Kireni.
Setelah semalam ia melepaskan bangsa ular dan buaya yang terkurung di gudang secara dramatis, penghuni hutan Rawa tidak lagi takut padanya. Karena itulah dia jadi terjebak dalam situasi ini.
__ADS_1
"Kenapa Kiren?" tanya Wakil ketua sok akrab, merasa paling berani.
Sementara kepala preman masih demam, merasa minder karena kalah keren dari dua kandidat lawannya yang tidak takut sama hantu.
"Aku pulang dulu ya, Paman Dewa mencariku," pamit Kireni. "Nanti kalau temanku Mengyue datang, katakan aku bersama Pangeran. Dia dah ngerti itu," pesannya pada penghuni rawa.
"Jadi, pemilihan ketua gimana?" Tanya mereka.
"Kalau sudah ada keputusan, salah satu dari kalian cari aku aja."
Akhirnya satu bangsa Bangau fana ditunjuk menggantikan dirinya, sebelum Kireni teleportasi kembali ke kamar Dewa.
***
Selesai mandi, alangkah kagetnya Dewa melihat Kireni di atas kasur di dalam selimut.
"Paman," sapa gadis kecil itu tersenyum manis.
Ya Tuhan!
Seru Dewa melompat ke tempat tidur dengan hanya memakai handuk di pinggang yang hampir melorot. "Kamu dari mana tadi?" Dewa menarik selimut penutup tubuh Kireni, pakaiannya benar-benar bersih gak ada bekas dari mana gitu.
Dewa merasa dia gak mungkin salah, semua sudut kamar sudah diperiksa apalagi atas kasur. Jelas-jelas tadi gak ada Kireni, kenapa sekarang tiba-tiba ada. "Baim!" Panggilnya penasaran.
"Iya, Bos." Jawab Baim tergopoh masuk ke kamar Dewa tanpa mengetuk. "Lho, itu Kiren." Ujarnya bingung. Barusan yang nyariin siapa, orangnya ada di sini.
"Iya, apa kamu lihat dia masuk kamar?" Tanya Dewa.
"Tidak Bos, kita sudah cari seluruh sudut rumah dan luar halaman sejauh seratus meter bahkan lebih kecuali kamar bos Tapi laporan dari pengawal, tidak ada yang melihat Kiren pagi ini."
Waduh gawat, gimana ini batin Kireni. Dia kan barusan dari rawa, gak mungkin memberitahu yang sebenarnya.
Melihat raut Kiren sepertinya ketakutan. "Sudahlah, yang penting dia telah kembali." Dewa tidak mau memperpanjang lagi. Nanti saja pelan-pelan dia menyelidiki siapa gadis kecil aneh yang ditemukan nya ini. Dewa belum siap kehilangan, kalau tiba-tiba Kiren takut padanya lalu pergi.
"Baiklah Bos, saya permisi. Semua telah menunggu di kantor Hikado and co." Baim.
__ADS_1
Hm. "Saya segera bersiap, kamu keluar dulu."
"Siap, bos." Baim meninggalkan kamar Dewa dan menutup pintunya sebelum keluar.
***
Merasa tidak tenang meninggalkannya sendirian walaupun ada pengawal, Dewa membawa Kireni ke pertemuan.
Karena Sarimon berhasil menemukan kekurangan dana perusahaan yang hilang. Dewa melepaskannya beserta anak buahnya.
"Saya tidak akan menuntut kamu asalkan kamu bisa membawa Sirobune dalam waktu tiga hari." Dewa.
"Baik Pak Dewa, sekali lagi maaf atas kekhilafan saya." Sarimon pasrah, ternyata Pak Dewa orangnya baik banget. Dia tidak menyangka TC grup sangat berkuasa, yang selama ini dipandang sepele olehnya ternyata mempunyai banyak pasukan rahasia dan terlatih.
"Tapi ada laporan dari bagian gudang, Bos. Semua reptil yang masih hidup telah kabur," lanjut Sarimon.
Gleg! Kireni yang duduk di samping Dewa, menelan saliva. Jantungnya berdegup kencang, seperti seorang pencuri yang tertangkap basah.
"Hasil pantauan CCTV, semua kerangkeng terbuka dengan sendirinya, Pak." Sarimon sampai merinding menceritakan nya.
Dewa berusaha menyembunyikan rasa terkejutnya. Teringat pembicaraannya dengan Kireni tadi malam, apakah kejadian ini ada hubungan dengan hilangnya gadis kecil itu pagi ini. "Mana hasil rekamannya, coba saya lihat." Dewa penasaran.
"Baik Pak."
Selanjutnya bagian IT nge-rewind layar monitor CCTV. Memang terlihat seperti yang diutarakan Sarimon, gembok segede-gede gaban terbuka sendiri.
WTF, no way!"
Semua yang hadir dalam pertemuan tentu saja tidak percaya sebelumnya, tapi saat mereka menyaksikan sendiri sekarang mereka benar-benar dibuat menganga. "Siapa yang punya ilmu sakti ini, mungkinkah Sirobune?" Ujar salah satu dari mereka, Peristiwa dikaitkan dengan hilangnya Direktur Hikado and co itu yang tiba-tiba tanpa jejak, banyak dari mereka yang sependapat akhirnya.
Huh! Kireni menarik nafas lega, beruntung dia menggunakan mantra menghilangkan tubuh sehingga wujudnya tidak terlihat di kamera.
Dewa memicit keningnya, mengalami berbagai kejadian aneh saat datang ke Negara J. Mulai dari Bangau di atas pesawat, pertemuan dengan Kireni di tengah hutan rawa. Sampai kejadian tadi pagi jika dikaitkan dengan gambar di punggungnya, benarkah Kireni bukan manusia? Kalau bukan, makhluk apakah dia?
"Kalau begitu pendapat saudara-saudara mengenai hal ini, sebaiknya kita tunggu Sirobune ditemukan." Dewa memandang Sarimon lalu berdiri dari duduknya, mengancing jasnya. "Ayo Kiren," menarik tangan gadis kecil itu keluar dari pertemuan. Semua anggota rapat ikut berdiri, menunduk hormat.
__ADS_1
***tbc.
like, komen and share, thanks.