
Syukurnya Hotel dirancang bangun mengikuti standar ketahanan terhadap gempa paling dahsyat yang pernah terjadi sejak zaman bumi masih diliputi es, mampu menahan guncangan dari anak-anak manusia yang sedang bergoyang di dalam kamar masing-masing.
Bayangkan ratusan kamar lebih semua penghuninya serentak bergoyang, heah heah. Karena itu Brama sebagai Presiden Direktur yang bijaksana segera menutup Club diskonya setahun yang lalu, guna untuk meminimalisir serangan goyangan terhadap gedung Hotelnya.
*
Baim tidak menelpon Claudia tapi asistennya Sonia, alangkah senangnya pria setengah wanita setengah itu, mendapatkan panggilan dari gebetannya.
"Hallo," jawabnya lembut selembut hati dan perasaannya pada Baim.
"Nona Sonia, katakan pada Nyonya Claudi. Besok Pak Dewa akan datang menemuinya di Apartemen, silahkan kesana kira-kira pukul 10.00wib," terang Baim.
Asik! Sementara Dewa bersama si eneng dikamar bergoeang, gua ame lu Baim di dapur karaokeyan hihihi.
Dalam hati Sonia membayangkan duduk berdua dengan Baim di meja dapur sambil nyanyi lagu dangdut koplo kesukaannya. "Oke Babe, on the way. Aku akan menjemputnya sekarang juga, kasian dari tadi Bebi menangis teruz," jawab Sonia diimut-imutin, ikut senang pada Claudia dan juga pada dirinya.
Maka tanpa make up lagi hanya touch up doang, Sonia berangkat ke rumah anak emasnya Claudia. Tidak perlu konfirmasi dulu, kalau dia yang datang sudah pasti disambit satpam-satpam rumah dengan perasaan beerahi, hihi...
Sori, seleraku tinggi ya. Ibrahim Kasogi, asisten tampan keturunan Turki wonogiri.
*
Mendapat chat dari Kireni, Sora gak bisa tidur satu malaman. Tidak sabar menunggu pagi, sebelum subuh dia merangkak naik ke kasur Alisha.
"Ma," panggilnya menggoyang tubuh wanita baya itu.
"Ha!"
Alisha kaget ada apa Sora masuk ke kamarnya, belum terdengar adzan subuh. Apa mata hari terbit dari barat, tidak seperti biasanya. Bahkan setelah subuh saja anak ini susah dibangunkan.
"Kenapa Sora, ada yang sakit?" tanya Alisha nada khawatir.
"Bukan Ma, minta Samsir ngantar Sora ke rumah Kiren dong sekarang." Sora memohon.
Samsir adalah supir pribadi Alisha. "Baru jam berapa Sora, bukankah kalian janji jam sebelas?"
"Dimajukan Ma, jadwal. Kita mau pergi meeting dengan Istri baru Paman Dewa, jadi Sora diminta datang sebelum jam 06.00wib," jelas anak itu memelas.
Ha! "Bukankah ini kepagian berkunjung ke rumah orang?"
__ADS_1
"Tentu tidak Ma, Kirennya yang pesan jangan sampai terlambat." Sora alasan berbohong, karena dia udah gak betah di kamarnya bengong seperti sapi ompong.
"Hais," keluh Alisha bersamaan dengan suara Adzan berkumandang.
oh, Alhamdulillah.
"Ma, please!" Mohon Sora menangkup kedua tangannya.
Alisha sampai sesak karena tubuh gempal Sora menghimpit tubuhnya, lumayan berat juga anak ini. "Iya baiklah, biarkan Mama bangun dulu."
"Oke yes!"
Cup! Sora mengecup Alisha, langsung lompat dari kasur.
"Apa kamu belum tidur?" Alisha bertanya heran, tumben pagi ini wajah Sora bersih, gak ada belek gak ada ilernya.
"Hehe," mendengar itu Sora yang sudah di pintu terkekeh merasa tidak perlu menjawab. Segera kabur ke kamarnya mau bersiap.
*
Baim lupa kalau teman baru Kireni akan berkunjung, maka saat mendapat laporan dari satpam penjaga gerbang dia kaget melihat waktu masih buta kenapa sudah nongol.
O, bukankan ini terlalu pagi. Lalu bagaimana dengan acara membawa Nona Kiren ke Apartemen.
"Bagaimana Baim, teman Nona datang bersama lima bayi yang wajahnya mirip semua."
"What!" Baim terkejut dua kali.
"Tunggu aku datang," Baim bergegas ke kamar mandi mau cuci muka dulu baru keluar.
Kireni dikamar Dewa pura-pura terpejam, jadi terkikik melihat lima bayi tidak mau ketinggalan lengkap dengan Sitters dan bodyguardse.
Kiren bangun terduduk di kasur, menggoyang rambutnya biar kelihatan rapi. Dewa sedang di walk in kloset baru selesai mandi, menoleh ke tempat tidurnya.
"Apa yang lucu?" tanyanya pada gadis kecil yang beberapa hari ini telah menjadi teman tidurnya.
Ha! Kireni blank
Apakah Paman mendengarku tertawa dalam hati.
__ADS_1
"Tidak ada apa-apa, barusan mimpi," jawabnya cepat dan tepat.
Dewa antara percaya dan tidak, melihat tubuhnya yang berbalut handuk jadi merinding. Takut kalau-kalau Kireni menertawakan dirinya, siapa tau dia melihat ke dalam handuknya, i.
"Paman aku keluar dulu, temanku di gerbang tidak dibolehkan masuk oleh Satpam. Sepertinya meraka minta dipecat!"
Kireni berkata marah tanpa menunggu Dewa menjawab, dia telah menghilang di depan mata pamannya itu.
Gleg, nyuut..
Dikira mentalnya sudah siap menerima keanehan Kiren, akhirnya Dewa akui bahwa dirinya belum cukup kuat. Matanya mendelik, meneguk ludah. Jantungnya berdenyut, hampir ia jatuh di tempatnya berdiri.
Ya Tuhan, bagaimana kalau ada orang lain yang menyadari keanehannya. Please jangan sembarangan menunjukkan keanehanmu Kiren.
Dalam hati Dewa buru-buru mengenakan pakaiannya.
Di gerbang Mansion Dewa.
Sora beserta pasukannya lima bayi kembar identik banget, menggerutu pada Satpam.
"Pak, buka dong pintunya. Tampang imut begini masa dicurigai, kami bukan kriminal pak. Kak Kiren itu, kakak kami. Sudah seperti saudara, sudah janji mau berkunjung. Masa bapak tidak percaya, kemaren kami makan es krim bersama. Paman Dewa yang traktir," Sora di depan pagar mengomel panjang. Sudahlah mengomel memang keahliannya.
"Kesal.. kesal.. kesal!" pekiknya menghentakkan kaki.
Baru kali ini dia diperlakukan begini, benar-benar gak sopan kedua bapak ini batinnya menggoyang-goyang pagar membuat keributan.
Samsir, supir Mama Alisha yang ikut ngantar tertawa geli melihat Sora nemplok di pagar. Ia jadi ingat saat masih di rumah besar Wijaya, satpamnya juga sama seperti ini jadi sudah tidak heran dan tersinggung.
Karena dia dulu juga begitu memperlakukan tamu, seperti mereka diperlakukan sekarang jika tidak membuat janji tertulis. Karena memang begitu peraturannya. Apalagi ini kunjungan pertama, formalitas prosedurnya harus lebih detail lagi.
"Mansion Mama Alisha lebih gede lagi, gak gini ketat peraturan. Orang-orang bebas keluar masuk, apalagi yang mau perawatan. Mobil belum berhenti Satpam segera lari membuka gerbang, jangan sampai tamu duluan turun menunggu gerbang dibuka." Lanjut Sora lagi mengomel panjang kali lebar, suara kencang ngalahin toak Masjid. Ha! Desahnya menarik nafasnya yang ngos-ngosan.
"Sabarlah Non! sebentar lagi Baim datang, gerbang pasti akan kita buka," ujar satpam tetap belum memberi akses pada Sora and the ganks nya.
Lima bayi naik geram, sudah tidak tahan ingin segera turun dari mobil. Sitters sekuat tenaga menahan tubuh anak asuhnya yang gelisah menggeliat-geliat seperti cacing kepanasan.
Kalau gak ingat pesan Nena Alisha. "Siapa yang mau ikut harus nurut sama sitter dan Bodyguardnya masing-masing." Sudah dari tadi mereka menerobos turun menghajar kedua Satpam songong itu.
"Pak, jangan bilang Bapak tidak tau siapa kami!" Duta marahin Satpam dari dalam mobil pribadinya. Kepalanya menyembul keluar jendela dengan pinggang diikat pake tali gendongan oleh sittersnya.
__ADS_1
***tbc.
Like, komen and share, thanks. 👍