The Crane Dan Lima Bayi Kembar

The Crane Dan Lima Bayi Kembar
Bab. 69


__ADS_3

Kireni di mobil bersama Dewa, Sora, Alisha dan Dwi juga naik duduk di bangku tengah.


Sementara Choi dan Moni berdiri di tengah jalan. Di belakangnya ada Barus, Dewa dan beberapa bodyguard. Di bagian depan ada Baim dan beberapa bodyguard lainnya, sisanya memblokade jalan melintang sepanjang sepuluh meter.


Kamera Sabit telah siap sedia begitu juga dengan juru kamera dari pihak Barus. Anak buahnya itu tidak perlu lagi merekam secara sembunyi-sembunyi.


Kedua orang berkolaborasi mengambil gambar dari sudut pandang masing-masing dan hanya keduanya yang mendapat ijin merekam diantara yang hadir.


Sudah diatur bahwa tugas Choi memanggil hujan deras diawal sesi ditandai oleh suara petir dahsyat yang tidak berbahaya. Hanya suaranya yang gede tapi tidak bermuatan listrik yang besar. Kalau terkena pada manusia tidak akan mati kecuali sudah ajal, efeknya gosong-gosong dikit ada lah dan rambut jigrak ke atas seperti kawat berduri.


Nah, setelah masyarakat bubar barulah Baby Moni membaca mantra mengembalikan tamu-tamu. Kireni akan mendukung mereka sesuai porsinya.


Arjit juga telah dihubungi. Saudara kembar Alisha itu telah siap sedia dengan segala kemungkinan sikap yang ditunjukkan oleh tamu-tamu jika nanti mereka ada yang protes atau marah karena merasa dirugikan.


"Siap Choi," tanya Lara Sebi sekali lagi. Si jubir yang ditunjuk menjadi panitia kordinator jalannya prosesi membaca mantra.


"Yup," jawab Choi.


Membaca niat dalam hati saja, membaca mantra barulah dengan suara lantang.


Sambung ketua di dalam kelompoknya itu. Segera kelima mereka menyatukan pikiran mengembara mengikuti jalan pikiran Baby Choi.


Terlihat Masyarakat semakin ramai berkerumun setelah kabar penjual kebab viral dengan hanya waktu lima menit, orang-orang dari jalan Protokol berdatangan ingin meliputi langsung si pedagang yang beruntung. Terutama konten kreator, paling rusuh diantara semua.


Langsung Baby Choi, sebelum bertambah rusuh.


Perintah Kireni melalui telepati. Baby Choi mengarahkan telunjuknya.


Wahai hujan turunlah di antara pertengahan jalan Baru dan sepanjang jalan Protokol daerah Jekate pusat setelah ditandai dengan terdengarnya suara dahsyat dari petir yang baik budi.


"Wingardium Leviosa, wus!"


*


Dari jet Pribadinya Bram memantau jalannya proses memanggil hujan petir, membuka mata lebar. Takut berkedip, nanti tidak bisa melihat langsung bayinya membaca mantra.


Kiara berkaca-kaca menyaksikan anak yang dilahirkan nya melakukan tugas yang berat, tidak tanggung-tanggung memanggil petir buk.


Terlihat di layar jari telunjuk bayi itu mengarah ke langit.


"Wingardium Leviosa, wus!" Baby Choi berkata lantang.


Cring!

__ADS_1


Setelahnya ia terkulai lemas langsung ditangkap oleh Dewa. Paman Kireni itu menggendong nya dengan rasa khawatir yang melanda hatinya.


"Akh!"


Alisha dan Dwi sebagai neneknya saja berteriak apalagi ibu yang melahirkan bayi itu, Kiara menjerit histeris memeluk suaminya, Bram lebih shock lagi.


Yudi menarik nafas berat. Ia tahu bagaimana perasaan Bram sekarang dan sialnya dia sedang tidak ada di dekat bosnya itu untuk memberinya ketenangan.


Mereka pernah kehilangan bayi karena diriku, jangan sampai yang ini hilang lagi.


Laras mengerti dengan kekhawatiran suaminya lalu menggenggam tangannya. "Baby Choi bayi yang kuat," desisnya di telinga Yudi.


"Hum," angguk Yudi.


*


Memandang wajah kireni yang biasa saja Dewa merasa tidak ada masalah dengan Choi, kemudian membawa nya masuk ke mobil memberikan bayi itu pada Alisha.


Mama dari Papa bayi itu jatuh air mata memandang Choi yang terkulai lemas di pangkuannya, begitu juga Dwi menangis tersedu sedan.


Walaupun khawatir, semua yang tidak mempunyai kemampuan Peri tentu saja hanya diam menyaksikan, dalam hal ini mereka tidak bisa membantu apa-apa hanya jadi penonton.


Keempat bayi lainnya memandang Choi mengerut dahi lalu beralih memandang Kireni.


Tanya mereka.


Tidak apa-apa, Choi akan pulih seperti saat memindahkan mobil. Hujan dan Petir lebih berat dari mobil kan.


Jawab Peri Bangau cantik itu karena ia telah mengukur kemampuan Choi masih bisa bertahan tanpa bantuannya. Hanya untuk membuktikan pada Alisha dan orang tua bayi yang menonton siaran langsung keturunan mereka membaca mantra.


Untuk hal ini Kireni akui ia memang egois telah melibatkan bayi untuk menutupi identitasnya. Kireni harus berterima kasih pada teman-teman bayi yang telah mau berkorban demi dirinya.


Oh syukurlah.


Dalam hati mereka merasa lega, selanjutnya menunggu apakah hujan petir akan turun di tengah jalan Baru dan juga di jalan protokol. Sebelum Moni melakukan tugasnya, masih harus menunggu orang-orang bubar dulu kan.


"Choi tidak apa-apa Nena sebentar juga bangun," jelas Sebi yang bisa didengar semua bahkan dari pesawat pribadi kedua orang tua mereka.


"Hah!" Bram menarik nafas lega. "Dengar itu sayang," ujarnya pada Kiara tanpa rasa malu menangis bahagia memeluk istrinya bahkan mencium bibirnya di depan kru dan karyawan yang berdiri di belakangnya.


*


Kita lihat keadaan di tengah jalan Baru.

__ADS_1


Langit mulai gelap, angin dingin menerpa wajah dan kulit orang-orang yang memakai pakaian tebal, apalagi mereka yang berpakaian tipis.


"Dingin, lu ngerasa gak?" Tanya satu konten Kreator pada teman colaborasinya.


"Iya, kayak mau hujan."


"Suasana kok tiba-tiba serem sih!" Satu cewek yang lagi makan sate berkata pada temannya.


Terlihat angin berhembus menerpa tenda-tenda pedagang. "Ayok ah! kita pulang saja Pak kayak mau datang badai," kata satu istri pada suaminya.


Belum bunyi petir sudah ada beberapa dari mereka yang tidak berkepentingan memilih pulang.


"Hati-hati bayi penyihir marah, datang mengirim angin tornado menyapu kita semua," terdengar suara entah siapa.


"Iya mungkin dia marah mendengar kata-kata si penjual kebab yang sempat menghujatnya."


O


"Bisa jadi."


Si tukang kebab yang ngatain bayi penyihir sialan langsung tersungkur di tanah, pingsan ketakutan.


Hais.


Keluh temannya yang lagi jadi narasumber seorang konten kreator, karena akan menjadi tugasnya mengantar pulang si teman.


Mana rumah beda arah lagi ah!


"Sudah dulu wawancaranye ye bang! Ane mau bawa pulang ni," katanya menunjuk temannya yang pingsan.


"Iye, makasih ye bang." Konten kreator menutup sesi terakhir live streamingnya.


"Ayo pulang yeang, takut." Kata satu cewek pada cowoknya tak jauh dari gerobak si penjual kebab.


"Rumah kamu kan jauh dek, gimana kalau kamu menginap saja di hotel terdekat. Abang temani kalau kamu takut," kata cowoknya.


Sorry ye, mau menemani atau mau gremek.


Si cewek yang sudah membaca akal bulus cowoknya, "maaf bang belum halal, kalau gak mau nganter aku bisa kok pulang sendiri," jawab si cewek segera meninggalkan cowoknya


"E eh, jangan ngambek dong. Iya, Abang antar walaupun rumah adek di ujung dunia." Si cowok mengejar ceweknya.


***tbc

__ADS_1


Like komen and Share 👍


__ADS_2