The Crane Dan Lima Bayi Kembar

The Crane Dan Lima Bayi Kembar
Bab. 16


__ADS_3

"Baik bos," jawab Baim, menahan tawanya.


"Masih mau makan udangnya, Kiren?" tanya Dewa setelah mulut Kiren terlepas dari tragedy kulit udang.


"Hm," Kiren menggeleng, trauma nyangkut lagi.


"Neh, aku kasi yang sudah dikupas." Baim menyodorkan udang cocol saos langsung ke mulut Kiren.


Sangat menyelerakan, walau ragu dibukanya juga mulutnya, nyam. Kireni mendelik, keenakan dikupasin. "Uhm enak, mau lagi Baim."


Astaga! "Doyan apa rakus?" Celetuk Baim, menyuap satu lagi.


*


Sementara Dewa dan genknya sedang menemani Kiren makan, Sarimon dan anak buahnya mengatur strategi rencana pembunuhan dengan cara yang paling seksi. "Dipatok ular berbisa, hahahaha!" Sarimon tertawa terbahak-bahak, membayangkan kehebatan rencananya.


Setelah dari gudang tempat penyimpanan reptil, anak buah Sarimon menghadap bosnya. "Bos, sepuluh cukup kah?" tanya mereka.


"Cukup, sudah pilih yang paling lapar dan ganas?"


"Sudah semua Bos, tenang saja."


"Hahahaha," tawa Sarimon. "Hehe kalian ada tugas mulia. Kalau Dewa mati malam ini, saya janji tidak akan menguliti kalian, hihi." Seringai Sarimon pada ular-ular di dalam keranjang, ular-ular mendesis seolah mengerti perkataannya.


"Baiklah, ayo kita bergerak ke penginapan," ajak Sarimon. Mereka naik mobil terbuka dengan sepuluh keranjang ular berbisa. Mereka berangkat dua mobil, setiap mobil berisi 5 orang.


***


Acara makan selesai juga, semua ludes disapu Kireni. Dibantu Dewa dan Baim nyuapin bergantian, Bodyguard bagian kupas dan kopek.


Sekarang masalahnya adalah sesuatu yang mendesak ingin keluar dari bokongnya. "Aaaaa," jerit Kiren tiba-tiba berdiri memegangi pantatnya. Bunyi yang familiar terdengar lantang.


Tuuut, truut...tut tut tut tut tut tut. Akhirnya terlepas, antara bunyi kereta api berangkat dan lagu Blackpink. Semua orang tahan napas menutup hidung.


"Hahahaha," Baim dan kedua bodyguard tertawa terpingkal-pingkal.


"Bos! Anak ini lucu sekali, sepertinya dia ingin buang air besar. Kiren jangan buang air di sini, sana ke toi...let!" Belum sempat selesai ucapan Baim, Kireni sudah berlari ke luar halaman penginapan sambil pegang bokong.


"Lha, kenapa malah keluar," ujar salah satu bodyguard mengikuti Kireni. Benar saja di halaman luar, ia melihat Kireni ngeden sambil berdiri. Walaupun samar karena kabut, masih kelihatan mulutnya merat-merot matanya menyipit.


"Astaga, buang air kenapa begitu sih Kiren?" tegur nya.


Pria-pria dewasa belum pernah punya anak kebingungan melihat cara Kireni buang air besar, astaga! Dewa menepuk jidat, mana baunya minta ampun lagi.

__ADS_1


"Bukankah ada kamar mandi, jangan bilang kiren gak pernah buang air di wc?" tanya Baim pada Kireni.


WC, apalagi itu.


Batin Kireni sambil terus ngeden. Baru ini dia boker sebanyak ini dan merasa jijik untuk pertama kalinya dengan kotorannya sendiri.


Dewa mengerut dahi, siapa sebenarnya Kiren ini? Mulai dari tatto, cara makan yang belepotan. Tidak bisa membaca, sekarang cara buang air yang masih primitif.


"Aaaaa! Jerit Kiren melebarkan kaki, "Paman!" panggilnya, berjalan ke arah Dewa.


"E, eh! Jangan gerak, tunggu di situ!" teriak Dewa.


"Hahahaha," Baim dan Bodyguard tertawa melihat tingkah Kireni.


"Bos turut berduka cita," ujar Baim menahan senyum.


Ck. "Ambilkan air!" Titah Dewa pada bodyguard. "Itu ada selang, sekalian siram seluruh tubuhnya! Aku yakin kaosnya juga kena kotoran!" lanjutnya.


"Baik, bos."


"Siapa bagian yang menggosok bokongnya," tanya Baim.


Aish, keluh Dewa. Tugas berat ini harus dia sendiri yang turun tangan, ada rasa gak rela bagian perempuan Kiren disentuh orang lain. "Ambilkan sarung tangan!"


"Ambil saja, nanti langsung dibuang saja."


***


Sarimon dan anak buahnya parkir tak jauh dari halaman penginapan, beberapa pengawal terlihat siaga.


"Ngapain mereka?" tanya Sarimon.


"Tidak tau Bos, tapi sepertinya mereka sedang memandikan anak kecil yang tadi ketemu di hutan Bos."


"Kemarikan keker!"


Anak buahnya memberikan Sarimon teropong jarak jauh, karena si bos rabun jauh tidak bisa melihat dengan jelas tanpa bantuan alat apalagi malam tanpa Bintang. Daerah hutan rawa, gak siang gak malam penuh kabut.


"Apa yang terjadi, kenapa mereka menyiram anak itu di malam yang sedingin ini?" tanya Sarimon jatuh kasian pada Kireni.


"Ternyata mereka lebih kejam dari kita, pantas mati! Cepat, menyusup melalui jalan rahasia bawa sekalian ular-ular ini dan tunggu aba-aba!"


***

__ADS_1


Dewa dengan tangannya yang memakai glove, menggosok bokong Kiren sambil disiram pakai air selang lengkap dengan sabun. Selang yang biasa dipakai buat mencuci mobil, cuman airnya dibuat sedang gak terlalu deras.


"Aaa..aaa..aaa," Kireni menjerit-jerit kegelian menghindari saat Dewa menyentuh daerah perempuannya.


"Tenang dulu, Kiren. Biar kamu gak bau kotoran!" Dewa mengomel.


Aku direktur TC grup tidak pernah nyebokin anak kecil seumur hidup, kamu benar-benar beruntung.


Batin Dewa heran kenapa dia mau melakukan semua ini untuk Kiren.


"Aaa!" Kireni menahan sensasi aneh yang menggelanyar tiba-tiba. Sekarang kaosnya diangkat naik lepas dari tubuhnya, Kireni memeluk pinggang Dewa. Menghindari daerah depannya dari pandangan orang-orang, gadis kecil itu tiba-tiba merasa malu. Rasa yang belum pernah ia alami sebelumnya.


Dewa menyiram lagi tubuh telnjang si bocah aneh, akhirnya pria tampan itu ikut basah kecipratan air. Kireni semakin menjerit-jerit kesenangan bisa basah-basahan dengan Pangeran, gak perduli lagi dengan rasa malunya.


Setelah yakin bersih, baru kemudian Dewa mematikan keran air. "Aaaa, lagi..." Kireni kecewa, pengen main lebih lama.


"Sudah malam gak boleh lama-lama main air, kita baru mandi sekarang mandi lagi!" Dewa mengeraskan suaranya.


He..em, rajuk Kireni.


"Baim, bagaimana dengan baju yang dipesan?" tanya Dewa suara lantang biar kedengaran pada Baim yang menunggu standby dari jauh.


"Otewe, Bos!" Jerit Baim tak kalah kencang. Soalnya dia dan Bodyguard gak boleh mendekat, para pengawal juga disuruh hadap belakang gak boleh melihat ke arah Kireni.


"Hais," keluh Dewa, apakah harus mengorbankan kaosnya lagi.


"Lemparkan handuknya!"


Baim pun melempar handuk yang dipegangnya dari tadi, beruntung bisa ditangkap Dewa lalu membalut tubuh Kireni. "Kita masuk dulu," Dewa menyeret Kireni masuk ke dalam rumah melewati Baim dan bodyguard yang segera menutup mata.


Senyum Kireni melebar senang dengan keseruan hidupnya sebagai manusia, basah-basahan dengan pangeran impian yang gak mungkin terjadi di alam peri.


Dewa membawa Kireni ke kamarnya, sekalian masuk ke kamar mandi. "Kiren, lain kali buang air besar atau kecil di tempat seperti ini! Ini namanya WC, ngerti!" tegasnya membuka penutup toilet lalu menekan tombol pembuangan air.


Kireni memandang ada lobang berair, kalau dipencet juga bisa mengeluarkan air. "Baiklah," jawabnya.


Ntar aja dipelajari caranya, sekarang yang penting jangan sampai ketahuan jati diriku jadi aku harus pura-pura mengerti.


Kemudian Dewa menyeret lagi Kireni ke kamarnya sendiri. Bajunya juga basah kuyup, Dewa membukanya dihadapan Kireni. Gadis itu melihat perut six pack, banyak bercak bekas digigit nyamuk, astaga! Kireni menelan liur. "Paman Dewa sangat tampan, kenapa perutku tidak seperti itu?" tanyanya heran hampir saja membuka handuknya ingin menyamakan perut mereka


"E-eh," Dewa menahan tangah Kireni. "Jangan dibuka, kalian para gadis tidak perlu punya perut seperti ini," jelas Dewa, segera ia memakai kaosnya gak ingin Kireni berpikir terlalu jauh terhadap bekas kiss mark ditubuhnya.


***tbc.

__ADS_1


Like, komen and share. vote yang banyak ya, 👍


__ADS_2