
Sebelum itu di perbatasan jalan Baru.
Baby Choi telah pun membuka mata bulatnya, bibir mengecap-ecap seperti orang kehausan. Alisha menciumnya bertubi-tubi, perasaan lega bercampur haru melihat cucu saktinya telah siuman.
"Alhamdulillah. Cucu Nena hebat sudah bangun," puji si Nenek, Nainai Dwi memberinya sedotan, Baby Choi menyedot air dari dalam botol.
Keempat saudara-saudari yang mengerubungi Baby Choi, menarik nafas lega. Kireni dan juga Sora. "Kamu membuat kita semua khawatir Choi," ujar Tantenya itu namun pikiran Choi mengembara ke pertengahan Jalan Baru. "Kenapa hujan belum turun?" Bertanya lemah.
Sudah ada reaksi dari awan, Altocumulus sekarang sedang ngebut ke arah jalan baru dan jalan Protokol. Tidak lama lagi akan sampai.
Jawab pikiran Sebi.
Sebagai kordinator, dirinya bertanggung-jawab memberi laporan setiap ada perubahan yang terjadi setelah pembacaan mantra. Penyihir yang belum mempunya bacaan mantra itu mengikuti jalan pikiran Kireni yang mengembara di atas awan mengawal jalannya awan Altocumulus.
Siap-siap.
Dalam pikiran Kireni memberi peringatan, yang hanya bisa didengar Kelima bayi dan Sora.
O
Deg deg deg, deg deg deg.
Bunyi detak jantung, lalu...
DUARRR!!!!
Akhirnya yang ditunggu-tunggu pun datang.
"Eh copot!" Teriak Alisha terkejut memegang jantungnya.
"Astaghfirullah," ucap Dwi juga memegang dadanya.
Karena tiba-tiba Barus dan para bodyguards tidak bisa tidak terkejut, apalagi mereka menggunakan headset penghubung satu sama lain menggunakan energi tenaga listrik, beruntung tidak tersambar petir kalau gak bisa pecah gendang telinga. Mereka cepat-cepat melepas headsetnya siapa tau ada petir susulan.
Dewa, Baim dan kedua Bodyguardnya memakai penutup kuping dari bahan karet pun masih terdengar kencang di telinga mereka.
Sabit yang tidak terlalu terkejut pun ikutan pura-pura terkejut, melompat ke mobil terjun memilih jatuh ke pangkuan Kireni, asik.
Kireni terkejut karena karena diantara semua orang, cuma Sabit yang dia tidak bisa baca pikirannya. Gadis peri itu pun bingung kenapa bisa begitu.
Cis.
"Aaaaaaa!" Jerit Duta mendorongnya.
"Hahahaha," dari menangis Duta merubah modenya jadi tertawa, menertawakan saingan cintanya yang nyungsep jatuh tersungkur di lantai dasar mobil. "Hahahaha."
__ADS_1
"Kamu ini ada masalah genting bisa-bisanya mengambil kesempatan dalam kesempitan," tegur Alisha.
"Hehe," tawa Sabit.
"Dasar modus, jangan mau dengannya Kiren!" Ketus Sora ikut menabok pundak Kakaknya gantiin Kireni, ia tau temannya itu tidak akan bisa marah menggunakan mulutnya paling-paling menyihirnya jadi kodok.
Hehe, akhirnya aku memelukmu sayang. Demi cinta aku rela kelihatan bodoh.
Senyum Sabit menyeringai segera turun dari mobil tanpa basi-basi pada Kireni, minta maaf pun tidak.
"Kenapa kalian tidak terkejut mendengar petir begitu kencang?" Tanya Alisha pada Bayi-bayi yang masih menertawakan Sabit.
Hehe.
"Karena kita dan petir berteman Nena," jawab Sebi.
"Ha!" Alisha sampai melongo mendengar jawaban Sebi yang membagongkan, hihi Dwi tertawa geli.
Tik tik tik, tik tik tik.
Di telinga kelima bayi mendengar suara air menetes satu-satu di kejauhan, mereka pun saling bertukar pandang.
"Hujan segera turun!" Kata Sebi suara kencang.
Barus menggunakan teropong memantau keadaan jalan Baru. "Masih ramai pengunjung, beberapa dari mereka mulai berlarian mencari tempat berteduh," Ujarnya.
*
Siap-siap Mon.
Kata pikiran Sebi memandang Baby Moni.
"Ha!" Moni melongo.
Saat melihat Choi jatuh terkulai pingsan, dirinya yang paling khawatir diantara semua. Takut tidak bisa bangun lagi, teringat saat di Limosin setelah membaca mantra tubuhnya lemas, beruntung ada sitters yang mengangkatnya tidak sampai tersungkur.
Kireni dan keempat bayi mengerti kekhawatirannya.
Hanya lemas seperti mau tidur Mon, tidak ada yang perlu dicemaskan. Saat di Limo kita belum tau kalau kita punya kemampuan tentu saja terkejut, sekarang tidak kaget lagi hanya memang energi terasa terkuras apalagi aku membaca dua kali berturut-turut.
Jawab pikiran Choi memberi semangat pada saudari kembarnya.
Itu karena kamu sudah beberapa kali jadi tidak takut lagi sementara aku...
Moni berhenti berpikir.
__ADS_1
Kalau punya mantra memang harus dilatih Mon, lama-lama terbiasa seperti Kak Kiren atau aku gantikan kamu membacanya.
Sambung pikiran Sebi yang sudah kepengen banget mempunyai bacaan mantra.
Iya, berikan saja pada Sebi biar dia yang mewakilimu, jadi kan adil. Satu penyihir dari keluarga Wijaya, satu lagi dari keluarga Yudian.
Tambah pikiran Sevi setuju usul kakak kembarnya Sebi.
"Sepertinya sudah turun hujan deras di tengah jalan Baru, sudah hampir waktunya Moni membaca mantra," kata Dewa.
"Orang-orang masih sibuk berlarian belum sepenuhnya kosong," jawab Barus yang masih memantau jalan Baru melalui teropong di tangannya.
"Sabar Paman," tambah Sevi si sekretaris pada Dewa.
Bagaimana Kak Kiren, apakah aku boleh menggunakan mantra Moni?
Tanya Sebi pada Kireni beharap bisa melakukan sesuatu untuk membantu anggota kelompoknya.
Karena Moni dan Choi sudah terlanjur diketahui orang-orang dewasa biarkan mereka saja yang melakukannya, untuk tiga Baby Lara sebaiknya merahasiakan kemampuannya untuk saat ini. Kelahiran bayi-bayi penyihir biasanya disukai roh-roh jahat atau siluman hitam bermata merah untuk dijadikan santapan menambah energi, tidak sedikit bayi Peri mati sebelum sayapnya bisa mengepak sayapnya terbang.
Jawab Peri Bangau cantik itu bukannya mau menakut-nakuti.
Karena aku juga dijaga ketat oleh Ayah dan kakak dengan cara mengunci nadi Periku.
Lanjut pikiran Kireni yang bisa didengar jelas olah kelima bayi.
O
Kelima bayi saling memandang demikian juga Sora, perasaan Moni semakin takut lagi.
Dert derrt dert.
Masuk panggilan dari Manager Arjit di ponselnya, Alisha mengangkat panggilan.
"Mbak! Jalan Protokol sekarang sepi, kapan tamu-tamu bisa dikembalikan?" Tanya Arjit di ujung sambungan.
"Sabar dulu Arjit," jawab Alisha memandang Moni yang kelihatan ragu, tanpa memutuskan sambungan dengan adiknya itu, "bagaimana Moni? Kalau tidak yakin tidak usah saja." Alisha berkata pada cucu pertamanya yang kelihatan pucat seperti ketakutan.
Nenek yang bijaksana itu tidak mau memaksakan kehendaknya, melihat Choi pingsan saja hampir membuat nyawanya keluar dari raganya. "Tidak jadi penyihir juga kamu tetap ahli waris utama, kalian berdua tetap cucu kesayangan Nena dan Nainai," sambungnya memandang Choi dan Moni bergantian, rasa haru menyelimuti jiwanya.
Mendengar kata ahli 'Waris Utama' Moni seolah mendapat kekuatan sebesar gunung menimpa tubuh kecilnya, merasuk ke sanubarinya.
Aku tidak mau mewarisi hutang keluarga, akan kulakukan demi Perusahaan.
Kata pikirannya bertekad, memutuskan akan melakukan sendiri tanggungjawabnya, yang bisa didengar oleh bayi-bayi.
__ADS_1
***tbc
Like komen and share, 🙏