The Crane Dan Lima Bayi Kembar

The Crane Dan Lima Bayi Kembar
Bab. 61


__ADS_3

"Aku mendengar ada yang berbicara dari atas kepalaku."


Mendengar suaranya yang kencang sontak semua mata menoleh menatapnya, terutama orang-orang dewasa yang ada disekitar mobil mengerut dahi saling bertukar pandang.


Barus si Kepala Bodyguard, Arjit dan Alisha apalagi, mereka serentak melihat ke atas kepala Baby Choi.


"Huh!"


Ketiga mereka bernafas lega melihat tidak ada siapa-siapa disana selain rambutnya yang keriting menutup sebagian wajah imutnya.


"Aku juga," jawab Moni.


Sekarang mata orang-orang dewasa beralih ke kepala Moni.


"Benarkah?" Tanya Choi.


"Benar," jawab Moni.


Orang-orang dewasa melihat bolak balik bergantian antara kepala kedua bayi-bayi imut itu, tapi mereka tetap tidak melihat ada apa-apa disana.


Barus sebagai kepala keamanan yang ditugaskan menjaga langsung keselamatan kedua Ahli Waris, tentu saja pusing kepala memikirkan siapa yang berbicara diatas kepala kedua anak majikannya ini. Manusia biasa sepertinya, tentu saja tidak bisa melakukan apapun terhadap makhluk tak kasat mata.


Malam-malam di jalan raya apalagi masih balita kemungkinan besar mereka didekati hantu, siang saja kadang ada balita yang biasa main dengan makhluk halus.


Dalam pikiran Barus.


"Aku pun demikian," sambung Duta tak kalah kencang sambil mendongak pula bayi imut itu ke langit, matanya terbelalak kaget seperti orang kesurupan.


Nah lho.


Melihat itu segera Barus memerintah, "siaga satu!" Kapala bodyguardse grup WJ itu melalui gerak tubuh memberi kode kepada anak buahnya.


"Apakah kamu juga mendengarnya Sevi?" Tanya Sebi mengikuti pandangan Duta, Choi dan Moni yang sudah lebih dulu melotot ke langit.


"Ehm, aku juga."


Angguk Sevi menoleh ke belakang lalu melihat ke langit mengikuti pandangan saudara-saudarinya, ternyata dia yang paling telat diantara semua akhirnya ikut membelalak saat melihat ada dua Bangau Abadi melayang-layang di udara. Kelima bayi terdiam saling bertukar pandangan, dengan mata dan mulut terbuka lebar. Rambut mereka yang keriting, berkibar-kibar.


Melihat ekspresi kelima bayi yang mencurigakan, serentak bodyguardse mengeluarkan senjata yang tadi disembunyikan. Terdengar derak bunyi pelatuk pistol ditarik bersamaan, mereka siaga dengan tangan mengarah ke segala arah di udara.


"Wow!"


Pekik Sabit sambil merekam setiap kejadian seru seperti kameraman dalam drama bertema action.

__ADS_1


Hanya dirinya yang terlihat santai karena memang tidak ada apa-apa yang harus ditakutkan, bayi bicara ngaco kan sudah biasa teringat dirinya yang sampai sekarang kadang-kadang masih bisa melihat wujud halus ibunya yang telah meninggal.


Tak ayal jantung bodyguardse merasa deg degan menunggu kalau-kalau ada serangan tiba-tiba dari makhluk jahat turun dari langit, bukankah bayi-bayi penyihir biasanya disukai oleh siluman ataupun monster dalam film-film fantasi. Dalam pikiran mereka mulai terpengaruh keluar dari logika akal sehat manusia normal.


Tidak ada yang tidak pusing mendengar perkataan kelima bayi-bayi aneh, sebagai orang dewasa yang berpendidikan mereka merasa telah dibodohi oleh anak baru lahir setahun.


Selain bintang-bintang yang cerah disinari cahaya bulan purnama yang terang, Bodyguards dan orang-orang dewasa lainnya tidak melihat ada apa-apa di langit.


Tapi apa boleh buat, namanya juga demi keselamatan anak bos ya kan. Mau gak mau, logika atau tidak mereka tetap harus siaga.


"Hais, sumpah!"


Gerutu Arjit memicit-micit keningnya kenapa ia lupa membawa obat darah tinggi dan gula darahnya, ah.


Melihat suaminya, Olivia memberinya relaksasi krim roll miliknya yang selalu dibawanya kemana saja.


"Terimakasih," ucap Arjit menerima roll krim aromaterapi istrinya, segera menggosok-gosok di pelipisnya dengan kasar.


Alisha juga pusing tapi mau meminjam roll krim Olivia ia malas beramah-tamah.


"Nih!" Besannya Dwi memberikan miliknya.


"Thanks Dwi," ucap Alisha.


Bangau Abadi datang menemui kita, jangan bicara apa-apa nanti orang dewasa curiga.


Mendengar suara pikiran Duta, ehm. Keempat bayi lainnya mengangguk setuju.


Benar! Kalau ketahuan Bodyguardse, teman-teman kita bisa ditembak mati. Aku gak rela, sumpah!!


Tegas pikiran Choi. Si penyuka hewan mania itu sangat senang mengetahui ada dua burung dan karena satu telah menjadi milik Duta.


Hei kalian, karena aku pertama yang menyadarinya, berarti burung yang kedua itu kepunyaanku.


Lanjutnya langsung mengklaim satu burung sah menjadi hak miliknya.


Baiklah Choi, aku yakin mereka bukan cuma berdua. Pasti masih ada lagi temannya, bukankah burung suka berbondong-bondong. Dilihat dari yang paling banyak usianya kalau ada burung ketiga jadi milikku ya, setelah itu barulah kalian berdua Sevi dan Moni bergiliran.


Mendengar pikiran Sebi bayi-bayi lainnya mengangguk kecuali Moni, si bayi perhitungan itu memandang gak senang padanya.


Jangan dilihat dari banyaknya usia dong, seharusnya setelah ini aku yang berhak memilih, karena diantara kita aku yang memiliki mantra.


Protesnya, gak mau dong dia kalah dari Choi. Masa adeknya lebih unggul dari pada Kakaknya.

__ADS_1


Karena itu kamu harus mengalah Moni, tidak boleh serakah! Atau berikan mantramu pada Sebi, setelah itu kamu boleh memiliki satu Burung Abadi. Sebagai ketua masa tidak punya kehebatan sihir maupun Burung Abadi.


Sevi membela saudarinya.


Cus, dengus Moni.


Iya Mon! Kita sudah punya mantra sebaiknya mengalah, sebagai saudara memang harus berbagi. Burung itu akan menjadi milikmu Sebi, aku merelakannya untukmu.


Ujar Choi memandang bibir Sebi yang sudah mulai mewek, bulir bening jatuh disudut matanya.


Baiklah.


Angguk Moni terpaksa memilih ikhlas jadi urutan terakhir dari pada harus menyerahkan Mantra sihirnya.


Mendengar Choi dan Moni, Sebi benar-benar terharu.


Terimakasih Choi terimakasih Moni, selamanya kita memang saudara. Aku menyayangi kalian.


Ketua kelompok kelima bayi itu tersenyum senang karena harga dirinya sebagai ketua dapat diselamatkan.


Yoi, kami juga menyayangimu Sebi, Sevi juga Duta.


Moni dan Choi mengangguk berbarengan, mengangkat kedua jempol mereka.


Yes!!!


Pekik dalam pikiran Sevi tersenyum senang karena usahanya sebagai sekretaris berhasil memberikan keadilan pada saudarinya, tanpa dikomando kelima bayi memandang Kireni teringat kedua burung ada menyebutkan namanya.


Orang-orang dewasa bertambah pusing melihat gelagat aneh kelima bayi berkomunikasi tidak bersuara hanya ekspresi wajahnya yang berubah-ubah.


Sekarang Alisha semakin takut pada Kireni, tapi tak berdaya. Melihat cucu-cucunya yang relaks tanpa beban, Alisha menahan dirinya agar tidak berpikiran buruk yang hanya akan merugikan dirinya sendiri.


Sebaiknya aku tidak usah terlalu khawatir, bikin jantungan dan sakit otak saja.


"Ah!"


Alisha pusing hampir jatuh, Salma menahan tubuhnya. Si asisten itu juga pusing tapi mau bagaimana lagi, menyesal juga dia ikut ke jalan Baru.


Hanya Dwi yang menyerahkan semuanya pada Allah yang Maha Kuasa, berdo'a dalam hati agar cucunya dijauhkan dari segala mara bahaya.


***tbc


Like komen and share, 👍

__ADS_1


__ADS_2