
Rombongan Dewa sampai di penginapan, sebuah villa lumayan asri namun karena hari sudah gelap tidak bisa melihat dengan jelas keadaan sekitar.
"Bagaimana dengan makan malam?" Tanya Dewa pada asistennya. Kalau gak mikirin Kireni tidak ingat kalau dirinya sendiri telah melewatkan makan siang.
"Sebentar bos saya ke dapur kalau begitu, mau melihat apakah ada yang bisa dimakan. Anak buah Sarimon langsung pergi setelah mengantar kita tidak ada cerita tentang makan," jelas Baim.
"Hais," keluh Dewa.
Sebagai putra bos besar, kehadiranku benar-benar tidak dianggap oleh cecunguk-cecunguk itu.
Baim meninggalkan Dewa bersama Kireni, tanya punya tanya memanglah perut sudah keroncongan.
Semoga ada yang bisa dimakan atau sekedar teh untuk menghangatkan perut. Kalau ada mie instan favoritku lebih bagus lagi.
Dalam hati Baim teringat bahwa Pak Dewa juga belum makan selain di pesawat saat baru berangkat tadi pagi.
"Gara-gara cahaya putih sampai lupa mengisi perut, hah! Penginapan kosong tidak ada pelayan, dasar Sarimon! Memangnya bos Dewa Tarzan apa, datang-datang langsung dibawa ke hutan tidak ingat ngasi makan," gerutu Baim lalu keluar dari dapur.
"Bos, tidak ada apa-apa yang bisa dimakan. Hanya air mineral di kulkas," ujarnya membawa beberapa botol.
Dewa menarik nafas panjang, "Kamu juga lapar?" tanyanya pada Kireni, "Minum dulu air biar tidak dehidrasi."
Dewa mengambil satu botol air, membuka tutupnya lalu diberikan pada Kireni. Dirinya juga mengambil untuknya sendiri.
Glug...glug...glug. Dewa kehausan seperti di padang pasir.
Walaupun tidak merasa haus Kireni ikut minum mengikut cara Dewa.
Glug glug glug.
Kalau menurut waktu alam Peri memang belum waktunya makan baginya. Saat turun ke Bumi, tak lupa Kireni membawa bekal makan siangnya. Cacing balado yang disimpan di kantong perinya dan juga sebungkus asinan Katak, cemilan favoritnya.
Kalau ditawarkan pada Pangeran apa gak kaget dia, hehe.
Sebagai manusia fana, apa saja makanan Pangeran?
__ADS_1
Kireni lupa bertanya pada Mengyue, dirinya dapat merasakan perut Dewa yang kosong minta diisi kasian sekali belum makan.
"Biar pun tidak lapar tapi ini sudah waktunya makan, sebaiknya minta bodyguard pergi membeli makanan Baim," titah Dewa.
"Siap Bos," segera Baim keluar penginapan jumpa para bodyguard.
"Sebaiknya kita mandi dulu menunggu makanan datang, Kiren. Ayo, aku antar kamu ke kamarmu," ajak Dewa.
Dewa membawa Kireni ke kamar yang seharusnya untuk Arya, namun gadis kecil itu tidak mau ditinggal sendirian.
Astaga, bagaimana sekarang? Tubuhku sudah gerah ingin segera mandi.
Batin Dewa. "Kiren, pria dan wanita harus tidur terpisah. Ini kamar kamu, malam ini kamu tidur disini. Jangan khawatir, saya ada di kamar sebelah dan Baim di kamar depan. Sekarang kamu pergi mandi dulu, ini kamar mandinya." Dewa membuka satu pintu yang diduganya kamar mandi, nah kan benar! "Silahkan kamu membersihkan diri, setelah itu kita makan bersama, Ok." Pujuk Dewa.
Oh, Kireni membulatkan matanya melihat kamar mandi sangat cantik, ada baknya. Sedikit banyak dia mengerti perbedaan pria dan wanita, di alam Peri disebut bangau jantan dan betina tapi tidak ada larangan mandi bersama.
Karena Kireni baru kali ini menjelma sebagai manusia jadi belum mengerti dimana letak perbedaannya. Dia juga belum punya kamar. Di alam peri ia dibebaskan tinggal di kolam mana saja yang dia sukai dari kolam milik kakak-kakaknya, tidak ada batasan jantan dan betina. Dasar dunia manusia merepotkan banyak sekali peraturan dalam hati Kireni.
Hm, Kireni melihat bak tidak ada airnya, "bagaimana mau mandi?" tanyanya melihat Dewa.
"Oh," Dewa tidak menyangka Kireni tidak tau bathtub secara pembawaannya seperti anak orang berada tapi ada kran air juga sama saja kan. Dimana-mana mandi ya basah...
"Itu namanya sabun Kiren, kita memerlukan busanya yang lembut untuk menanggalkan kotoran yang menempel di kulit tubuh. Sekarang sudah bisa masuk bak kalau mau berendam jangan lama-lama. Ini ada handuk untuk mengeringkan badan setelah selesai," ujar Dewa.
"Hm," angguk Kireni.
Aku harus belajar jadi manusia walaupun banyak aturan, seru juga kok. Harus sabar demi bisa dekat dengan Pangeran, hihi.
"Kalau mandi air hangat apa bulu-buluku gak rontok, aku gak mau jadi bangau ungkep." Kireni menutup mulutnya yang keceplosan, ups.
Dewa mengerut dahi. "Bangau ungkep?"
Hehe, "Aku sering menghayal jadi bangau," jawab Kireni malu.
"O, kamu sangat menyukai Bangau."
__ADS_1
"Suka." Tentu saja dalam hatinya kan aku memang Bangau. "Jadi Bangau tidak banyak pikiran, hidupnya hanya makan dan menari," jawab Kireni.
"Begitu kah? Ayo bangau cantik, sekarang mandi. Tunggu apa lagi, aku juga mau mandi di kamar sebelah,"
"Iya, baiklah." jawab Kireni senang Dewa memanggilnya Bangau cantik.
Dewa meninggalkan Kireni sendirian. Saat keluar dari kamar Kiren, Dewa bertemu Baim di ruang tengah.
"Bos," sapanya.
"Hm," jawab Dewa mengambil duduk di depan Baim.
"Sudah bisa dipastikan rencana akuisisi akan mendapat perlawanan dari pihak Hikado and co, saya telah meminta perwakilan pemerintahan kota Hokaido mengirimkan beberapa anak buah yang terlatih untuk eksekusi besok. Pengacara sudah dalam perjalanan, Hikado and co terlalu banyak menyelewengkan dana sehingga laporan Laba yang tercatat hanya sedikit di buku besar," jelas Baim.
"Saya yakin mereka semua bermain dibelakang TC grup, Baim. Sehingga perusahaan mengalami defisit, harus segera diambil alih. Interogasi semua orang yang terlibat, masukkan ke penjara sebagai efek jera!" tegas Dewa.
"Baik bos," jawab Baim.
"Bagaimana laporan ke kantor pusat?"
Tuan besar sudah lama curiga bos, segera setelah itu mengirim anda ke Negara J untuk menyelidiki. Jangan khawatir, pasukan khusus secara rahasia menjaga keamanan Villa sudah standby,"
"Hm, Sirobune. Sudah cukup kamu bersenang-senang." Dewa mengepal tangan geram.
Dua jam berlalu ia telah selesai membersihkan diri dan berganti pakaian namun Kireni belum juga keluar dari kamarnya. Makanan telah tersedia di meja dan semua orang kelaparan tapi masih harus menunggu Kiren baru boleh makan. Sadis, gerutu Bodyguard yang sudah kelaparan dari tadi.
"Apa yang dilakukannya di kamar?" tanya Dewa.
"Perlu saya periksa, bos!" Jawab Baim
"Biar saya," ujar Dewa, tiba-tiba ponselnya berbunyi. Panggilan dari Claudia, Dewa melemparkan ponselnya pada Baim. "Jawab, katakan saya sedang ada pertemuan penting."
Cis.
Baim keluar dari ruang tengah menuju halaman lalu mengangkat telepon sementara Dewa ke kamar Kireni. Menguping dari balik pintu kamar mandi, tidak ada bunyi dari dalam. Ngapain sih anak itu, tidak ada suara batin Dewa penasaran. Teringat dengan pertanyaan Sarimon, "sendirian di tengah rawa apakah dia manusia, hah!" lalu teringat dengan Bangau cantik di atas sayap pesawat, suatu kebetulan yang aneh. Apakah Peri itu nyata?
__ADS_1
***tbc.
Like, komen and share 👍.