
Begitu juga Sabit gak sadar keluar air liur memandang Kireni yang duduk disampingnya, harum baunya terasa nyata menghipnotis dirinya yang semakin mendamba.
Tidak mau kalah Dewa masuk dengan tatapan lasernya memandang kedua orang yang ingin merebut gadis kecilnya.
Aku yang bawa dari Negara J, kalian mau garap. Oh tidak bisa...
Batinnya semakin menatap tajam kepada dua orang saingannya.
Tidak ada yang sadar kecuali ketiga pria yang beradu lirikan itu bahwa perang dingin antara sesama pengagum sedang terjadi di jok belakang. Ketiga mereka tidak perduli masalah hujan mau turun apa enggak, masyarakat mau bubar apa enggak, sana! Persaingan ketat sedang berlangsung, jangan sampai kalah mop.
Choi yang sudah merasakan bagaimana efeknya ke tubuh setelah membaca mantra mengangguk lemah menahan debaran jantungnya, deg degan sekali batinnya. "Iya," angguk Choi.
"Benar Mon, jangan sampai baca mantra dua kali. Kita belum berlatih tenaga dalam, akibatnya bisa fatal. Harus di lokasi yang tepat antara jalan Baru dan jalan Protokol," lanjutnya pada saudari kembarnya.
Hm, angguk Moni setuju.
"Ditengah jalan Baru juga ramai orang, bagaimana cara mengusir mereka?" tanya Sebi yang gak Sabar ingin menyaksikan kekutan sihir Moni dan Choi, ikut merasa tegang. Ia pun telah berdiri di dudukan bangku Nainai Dwi di dekat adik kembarnya Lara Sevi.
Orang dewasa pandang-pandangan, bahkan Bodyguards yang sudah standby berdiri di samping mobil Alisha menunggu perintah, serentak menggeleng saat semua mata menatap mereka.
Tatapan beralih kepada Ketua Bodyguardse sebagai Kepala Keamanan grup WJ. "Meminta dengan cara baik-baik takutnya tidak digubris maklum masih baru jadi masih euporia, mengusir dengan kekerasan lebih salah lagi," jelas Barus juga gak tau harus bagaimana.
Baru kali ini ia merasa tidak berguna sebagai kepala keamanan, harus menyerahkan tanggung jawabnya kepada bayi yang baru lahir.
Apa kata Bos Brama dan asisten Direktur Yudi, ah! Hancurlah karierku kalau begini hah..
Dalam hati Barus mendesah. "Haruskah melibatkan angkatan bersenjata serta anggota dari kepolisian?" tanyanya.
"Anggota tidak berani lagi turun ke jalan, itu urusan Bayi Penyihir kata mereka. Takut dipulangkan ke kampung halaman masing-masing seperti teman-teman yang telah terlempar lebih dulu. Begitu juga anggota parlemen bahkan tidak berani protes dengan alasan tidak mau dipulangkan ke habitat masing-masing," lapor salah satu anak buahnya.
"Hais, ini masyarakat juga ngeyel. Apa gak takut dipulangkan masih aja berkerumun," keluh Alisha kasihan pada kedua cucunya yang bayi harus berpikir keras.
Kireni memindai lokasi jalan protokol yang semakin padat dipenuhi lautan manusia, terutama konten Kreator yang sedang Live streaming. Tidak perduli berdesak-desakan kesempatan mereka Colaborasi, setiap akun selalu dibanjiri netizen dalam dan luar negeri.
__ADS_1
Membuat cemburu hati bagi orang-orang yang belum bisa ke lokasi, mereka pun telah siap-siap berangkat long march besok subuh membawa perbekalan yang banyak. Tidak ketinggalan seorang nenek renta yang telah bersiap dengan buntalan bekalnya seperti pendekar.
"Nenek buyut jangan nyusain diri, di rumah saja duduk manis!" Si cicit mengeluh kesal, harusnya bisa jalan cepat malah disuruh mapah si Nenek kapan sampainya hah.
"Kenapa nyusain?" Si nenek melotot pada cicitnya. "Nek Buyut lebih kuat dari kamu, jaman penjajahan sudah ikut Bang Dirman masuk hutan keluar hutan. Ini cuma masuk kota mah kecil, pulang juga gampang. Ntar juga dimantra sama Bayi penyihir, udah nyampe rumah deh." Balas si nenek gak mau ngalah sama cicitnya.
"Semua anak dan cucu sudah meninggal termasuk orang tua kamu, Nek Uyut masih umur panjang. Itu artinya nenek kuat, awas kalau kamu pingsan di jalan tak tinggal kui," lanjut si Nenek tiba-tiba sedih. Jadi teringat almarhum suaminya saat jaman perang, sebenarnya ia ingin bernostalgia ikutan longmars.
"Hais," keluh si cicit gak bisa berkutik lagi.
*
"Tidak bisa dibiarkan, takutnya aksi damai disusupi oleh Ormas-ormas yang tidak suka dengan kebijakan pemerintah. Apalagi sekarang minyak goreng langka, dikhawatirkan pasukan sakit hati membakar amarah massa yang berpikiran normal."
Pidato Komandan angkatan bersenjata mengatur barisan anggotanya, mereka ditugaskan bersiap-siap turun ke jalan mengamankan suasana. Terutama untuk besok, ibukota dikabarkan bakalan pecah dihantam gelombang penduduk dari berbagai penjuru dunia.
"Tidak takut dipulangkan, Dan?" Tanya satu anggota angkatan.
Gleg!
Tak ayal Komandan juga kembut, dirinya berasal dari daerah bagian pedalaman banget paling Timor negara I yang telah dipecah menjadi dua bagian. Komandan masuk negara I, satu tahun lagi akan pensiun kalau misi gagal habis lah reputasi yang dibangunnya berpuluh tahun.
Hum, Komandan menarik nafas pelan sebelum bicara. "Besok kita juga akan dibantu oleh pasukan UNO yang telah berangkat dari pangkalan masing-masing."
Ha! Anggota angkatan saling pandang, benar-benar bahaya batin mereka.
"Diharapkan kepada setiap anggota tidak boleh takut, menjaga keamanan negara adalah prioritas utama mencegah penyusup masuk mengambil kesempatan. Baik itu dari dalam negeri terlebih lagi serangan penyusup dari luar." Lanjut Komandan berkata tegas, tidak perduli dengan kekhawatiran dirinya dan juga anak buahnya.
"Jangan melakukan tindakan lebih dari sewajarnya, walaupun ada oknum yang berbuat onar. Diamankan saja dulu sesuai prosedur, karena mata dunia Internasional sekarang mengarah ke Negara I. Jangan sampai dihujat netizen satu dunia, karir kita dipertaruhkan. Terutama dari serangan Lambe-lambe yang berusaha menjatuhkan kredibilitas angkatan bersenjata republik negara I."
Pidato Komandan berapi-api seolah ingin berangkat, berjuang ke medan perang mempertahankan tanah air Bumi Pertiwi.
"Mengerti!!!!" Teriak Komandan.
__ADS_1
"Siaap!!" Balas Anggota angkatan lantang serentak lebih kencang.
"Siap dipulangkan ke kampung halaman!" Teriak Komandan lagi.
Gleg!
Semua anggota angkatan meneguk ludah.
Gak tahan komandan menarik ujung bibirnya, tersenyum.
*
Di mobil Alisha dalam persiapan pembacaan mantra oleh Moni dan Choi, Sora membuka tabletnya ingin tau perkembangan dunia maya.
Astaga!
Sementara dia gak online, vidio terakhir yang diunggahnya di medsos diserang netizen. Bagi yang barusan melihat ia online, seketika akunnya pecah diserbu followers pada minta Sora live kegiatan Bayi Penyihir.
"Oh My God," ucap Sora mulut menganga.
Kireni dan semua menoleh padanya, kecuali tiga pria di jok belakang sebelah kanan mobil.
"Apakah aku boleh merekam saat-saat Choi menurunkan hujan?" Tanya Sora.
"No!" Teriak Pepa di telinganya cepat. "Kamu tau dampak buruknya pada Perusahaan!" Arjit mencubit pipi Sora.
"Tante ih, masih aja ngeyel" Moni juga marah.
"Kak Sora mau bikin heboh dunia lagi, mau bikin negara I karam!" Sebi berkata keras menegur Kakak perempuannya.
***tbc.
Like, komen anda share 👍.
__ADS_1