The Crane Dan Lima Bayi Kembar

The Crane Dan Lima Bayi Kembar
Bab. 49


__ADS_3

Ha kembar lima, diantara mereka cuma dua cucu asliku. Apa gak bisa bedain..


Dalam hati Alisha. "Sudah keturunan barangkali, saya juga kembar mbak-mbak," jawab Alisha membiarkan saja kesalahpahaman itu terjadi.


"Oh iya juga tapi bagaimana cucu Nyonya bisa jadi penyihir? Anda bukan nenek sihir kan ups," tanya satu orang yang paling ember jadi takut karena keceplosan. Semua orang disekitar mengangguk menatap Alisha penasaran.


Sembarangan ngatain aku nenek sihir, ku kirim ke Afrika baru tau..


Kesal dalam hati Alisha, "hehe" tapi bibirnya tetap tertawa. "Tentu saja bukan. Itu juga yang mau saya cari tau mbak-mbak sekalian, kita sekeluarga juga sama penasarannya. Untuk sekedar informasi cucu saya tidak suka kerumunan jadi tolong, nanti jangan terlalu dekat-dekat ya. Anda-anda tau sendiri kan apa akibatnya."


Gleg.


Mendengar itu members yang berkerumun sok akrab disekelilingnya, kontan menjauhi Alisha.


Mereka takut bahwa Alisha juga punya kemampuan sihir yang bisa melempar mereka ke galaksi lain, lebih baik pulang sendiri ke rumah sendiri lebih aman lagi.


"Hah syukurlah."


Ucap dalam hati Alisha lega, seketika Mansionnya sepi.


"Now What? Bagaimana jika pelanggan tidak mau datang lagi perawatan," keluh Alisha serba salah.


Barusan juga datang laporan dari Arjit, adiknya itu lagi otewe dari rumahnya dalam perjalanan ke Mansionnya. Ternyata dia juga ikut jadi korban mantra Kireni, beserta semua karyawan Gedung WJ grup dari top to bottom hilang entah kemana. Begitu juga hotelnya kosong melompong.


"Berapa kerugian yang harus ditanggung pihak Manajemen hah," gumam Alisha mendesah.


*


"Aaaaa..aaa, gak mau turun." Bayi-bayi menangis saat bangun mereka digendong sitters keluar dari Limo.


"Sudah sampai sayang, ini Nena." Alisha menyambut cucu-cucunya.


Kelima bayi melihat sekitar memang benar mereka berada di Mansion neneknya. "Nenaaa uuu," tangis Choi dan Moni berbarengan. Tiga Baby Lara tetap tegar, kan mereka sudah dewasa tidak boleh cengeng.


Alisha senang cucunya sekarang rajin menangis seperti bayi pada umumnya tapi jadi agak takut dan seram setelah mengetahui bakat terpendamnya.


Dewa disambut di ruang keluarga utama. "Maaf Pak Dewa, cucu-cucu saya telah merepotkan anda," ucap Alisha, dirinya ditemani Arjit adiknya yang telah sampai lebih awal bersama Sabit ( kakaknya Sora ) yang juga ikut jadi korban mantra viral Baby Choi.


Saya yang seharusnya minta maaf.


Dalam hati Dewa tersenyum canggung merasa bersalah. "Tidak apa-apa Nyonya, mereka bayi-bayi lucu yang aktif. Saya menyukai mereka," Berkata Dewa sambil memandang Kireni yang duduk di sebelahnya, raut wajahnya menunjukkan penyesalan.


Keempat bayi perempuan bernafas lega tidak ada Papa Bram menyambut mereka.

__ADS_1


Seperti dikomando. "Horeeeeee," teriak mereka serentak melompati-lompat kesenangan.


Hm, semua mata tertuju pada mereka heran apa gerangan gak ada hujan gak ada angin. "Jangan senang dulu," celetuk Duta.


Cuma dia yang paham situasinya, karena otaknya terkoneksi ke pikiran keempat bayi perempuan.


"Uweek!" Cibir keempat bayi perempuan. "Kak Kiren, ayo ke kamar kita-kita." Sebi mengajaknya. "Baiklah," jawab Kiren. Dia gerah semenjak sampai dipandang terus oleh satu orang lelaki remaja lumayan tampan.


"Akh!" Pekik Sora merasa tangannya dicekal oleh Sabit saat ia juga mau masuk ke kamar Bayi-bayi.


"Ayo ikut!" Paksa Sabit menyeret adiknya.


"Apa sih!" Sore memajukan mulutnya tak berdaya, pasrah dibawa kemana saja oleh kakaknya.


Masih di ruang keluarga. "Pak Dewa, tinggallah disini sampai makan malam. Hanya tinggal beberapa saat lagi," tawar Alisha.


Ah, Dewa memandang Baim asistennya.


"Tolong jangan menolak please," mohon Alisha pasang tampang memelas.


"Iya, untuk mempererat hubungan silaturahmi. Ijinkan kami menjamu anda." Arjit mendukung Kakaknya.


"Bukankah tadi pagi bayi-bayi sarapan di kediaman anda," lanjut Alisha lagi.


Hm, Dewa merasa tidak enak lagi mau menolak. "Baiklah Nyonya kalau anda memaksa," jawab Dewa, Baim di sebelahnya tersenyum dikulum.


"Oh tidak, tidak!" Dewa menolak cepat. "Tidak ada yang perlu dibayar, saya sendiri yang membiarkan Choi melakukannya jadi resiko apapun saya akan tanggung sendiri," lanjutnya jadi lebih merasa bersalah.


Astaga! Ini bukan ulah bayi itu, Choi hanya korban dari kejahilan Kiren.


Dalam hatinya. "Serius! Nyonya jangan sungkan saya juga terhibur atas kehadiran Bayi-bayi," Dewa berkata sungguh-sungguh.


"Hm, baiklah kalau begitu." Alisha tersenyum semanis mungkin.


Jadi ingin minta Choi menyihirku menjadi remaja kembali, hah.


*


Sampai di kamar adiknya, Sabit gak sabar mau bertanya. "Itu siapa cewek cakep banget, kenapa aku gak tau kamu punya teman sebaya perempuan?"


Ha, sora melongo. Kirain mau nanya Baby Choi apakah benar bisa sihir, tenyata itu gak lebih penting baginya dari pada Kireni. "Kenapa, kamu suka?" Tanyanya, padahal sudah jelas tergambar di wajah juteknya.


"Hm," angguk Sabit jujur dari hati yang paling dalam.

__ADS_1


"Sorry, tidak boleh!" jawab Sora ketus.


Ha! Membuka mulut lebar. "Kenapa jadi kamu yang melarang-larang." Sabit sewot pada adiknya.


"Kireni sudah punya Duta, uweek! Jadi kamu gak punya harapan," cibir Sora.


Ha! Lagi-lagi Sabit menganga. "Jadi sainganku bayi?"


"Hm," angguk Sora pasti. "Dan aku mendukung mereka dan akan menjadi tim sukses Duta, karena kamu tidak pernah mendukungku dengan Omze!"


"Astaga!" Sabit menepuk jidatnya.


"Sora please, tolonglah kakakmu ini ya. Setelah in aku akan menjadi tim sukses kamu mendapatkan Omje, deal."


Hm, Sora memandang Sabit tajam.


"Sure!" Sabit mengangkat jati membentuk huruf V. "Kita kerjasama win win solusi," angguk Sabit memohon.


"Apa kamu sering bertanya kabar pada Omje?" Tanya Sora menyelidik.


Gleg.


Sabit meneguk liurnya, dia tau Omje sedang pedekate dengan mahasiswi sebuah universitas di LA.


"Tidak terlalu tapi bisa dicoba kalau mau nelpon pakai hapeku," tawar Sabit.


Hm, Sora menjadi curiga ada sesuatu yang disembunyikan kakaknya.


"Maaf, lebih baik aku bekerjasama dengan Baby Choi, dia lebih sakti." Sora hendak keluar kamar ditahan lagi oleh Sabit.


"Sora please, paling tidak berikan aku nomor hapenya." Sabit memohon gak mau putus harapan.


Hm, Sora merasa kasihan bagaimanapun mereka saudara. "Baiklah," ujarnya membuka tabletnya.


"Thanks Sora yang cantik dan baik hati," puji Sabit gak pernah-pernahnya. Tersenyum memandang photo profil Kireni yang cantiknya pake banget.


*


Di ruangan bayi-bayi, Kireni menemani mereka, karena lagi bermain mereka tidak keberatan sambil disuapin sitter masing-masing. Kan tangan mereka lagi repot juga.


Ternyata kamarnya seluas dua kali lapangan Bulu tangkis standar Internasional. Semua koleksi dikeluarkan, bayi-bayi heboh memamerkan mainannya masing-masing.


Terutama Duta, satu-satunya bayi lelaki di kamar itu, tidak mau duduk jauh-jauh dari Kakak cantiknya.

__ADS_1


***tbc.


Like, komen and share 👍.


__ADS_2