The Crane Dan Lima Bayi Kembar

The Crane Dan Lima Bayi Kembar
Bab. 73


__ADS_3

Setelah Barus menghubungi Arjit agar siap sedia menghadapi kemungkinan terburuk di semua gedung perusahaan WJ , Baby Moni memusatkan pikirannya sesuai dengan petunjuk adik kembarnya yang telah berpengalaman.


Pikirannya mengembara ke sepanjang jalan Protokol kemudian mengarahkan telunjuknya lurus ke arah gedung perkantoran perusahaannya.


Wahai tamu-tamu hotel WJ, karyawan gedung WJ dan juga masyarakat yang saat itu berada di sepanjang jalan Protokol yang ikut terlempar pulang ke rumahnya ataupun ke kampung halamannya kemarin akibat bacaan mantra Choi dan diriku sendiri, kembalilah dengan keadaan tidak kurang suatu apapun ke tempat semula.


"Confundus Charm, wus!" Berkata lantang.


Cring!


Duarr!


Bersamaan dengan bunyi petir Moni jatuh terkulai ke pelukan Dewa, karena Bayi itu telah berpesan sebelumnya bahwa hanya Paman Kireni itu yang boleh menangkap tubuhnya seperti Choi saudara kembarnya.


Akh!


Seperti biasanya Kiara tidak bisa tidak teriak, Bram segera memeluknya, semua terdiam menunggu perubahan selanjutnya.


Setelah ini selesailah urusan membaca mantra.


Dalam hati Dewa segera berlari menggendong Moni ke penghujung jalan Baru menuju mobil Alisha diikuti semua Orang, Sebi dan Sevi digendong oleh Bodyguardse masing-masing Sora naik ke pundak Barus.


Sementara Sabit memilih berlari dengan mengarahkan kameranya merekam kejadian sepanjang perjalanan.


Sampai di Mobil kembali Alisha terisak melihat Cucu pertamanya yang kini terbaring lemah.


"Ya Tuhan. Lindungilah cucuku," ucap Alisha.


Begitu juga Dwi air mata bercucuran dari pelupuk matanya, Nenek yang banyak neko-neko itu tidak pernah berharap cucunya menjadi penyihir, cukup menjadi bayi biasa saja.


"Nena harap cukup sekali ini kalian membaca mantra!" Alisha Berkata tegas pada Choi.


Kireni menarik nafas lega akhirnya ia tidak lagi dicurigai sebagai orang aneh yang membawa masalah, namun tiba-tiba kejadian yang tidak sempat diprediksinya.


O~ow, siap-siap kita akan tertarik ke jalan Protokol.


Keempat bayi minus Moni karena masih belum sadarkan diri dan juga Sora yang membaca pikiran Kireni ikut khawatir.


Tidak berapa lama kelima bayi, Dewa, Baim, Sora dan kedua Bodyguardnya beserta bodyguards kelima bayi menghilang dari pandangan semua orang, Alisha shock sampai pingsan melihat Moni menghilang dari pangkuannya. Dwi melebarkan mulut dan kedua bola matanya, ingin pingsan pun gak bisa karena harus menangkap tubuh besannya.


Barus dan anak buahnya saja termangu apalagi Sabit, remaja tanggung itu sampai terduduk di aspal dengan kamera yang masih menyala merekam detik-detik hilangnya beberapa orang di depan matanya.

__ADS_1


"Now What!" Pekiknya.


Bram di dalam pesawat pribadinya sampai melompat berdiri melihat kejadian melalui layar monitor lebar sambil memeluk Kiara yang telah pun menangis teriak.


"Kemana mereka?!" Bram menjerit di telinga Barus dan juga Yudi.


Laras tidak bisa tidak menangis, Mama tiga bayi Lara itu hampir pingsan terduduk lemas. Yudi menahan tubuh istrinya.


"Tenanglah Bos. Bayi-bayi tidak sendirian," ujar Yudi menenangkan bosnya sementara dirinya sendiri hampir tumbang juga hampir tak kuat menahan berat tubuhnya dan juga Laras di pelukannya.


*


Kita lihat keadaan di sepanjang jalan Protokol keadaan sama persis seperti saat pembacaan mantra pertama kemarin pagi, hanya bedanya kalau kemarin saat hari masih terang sekarang hari gelap karena Dewi malam masih menyelimuti daerah Jkt pusat.


Ternyata kelima bayi, Baim, Kireni, Sora dan kedua Bodyguardnya berada di dalam mobil Limousine bersama Dewa dengan posisi yang sama persis seperti semula.


O~ow.


Keempat bayi minus Moni yang belum sadar tidak bisa tidak melongo merasakan sendiri sensasi bagaimana dirinya saat ditarik ke ruang dan waktu, begitu juga dengan orang Dewasa.


Di tambah sitters yang sedang enak-enaknya tidur ikut tertarik dari Mansion Alisha, kelima pengasuh itu shock mendapati diri mereka tidak lagi di kamar bayi-bayi.


"Wow!" Pekik Sora. "This is unbelieveble," ujarnya exciting.


Segera Dewa mengangkat Moni yang tergeletak di pangkuan sitter yang terbengong seperti sapi ompong efek dari pendaratan darurat akibat bacaan mantra.


Keempat bayi lainnya ikut naik ke pangkuannya jadilah Dewa menggendong lima bayi sekaligus.


Seperti dejavu keadaan ini pernah terjadi, hah!


Keluh dalam hati pria kalem itu.


"Kak Kiren! Kenapa kita juga ikut ditarik ke jalan protokol, saat itu bukankah kita tidak ikut dipulangkan?" Tanya Sebi penasaran.


Hehe maaf! Aku juga tidak tau tapi sepertinya karena mobil merah itu.


Dalam pikiran Kireni. "Bukankah dia juga dipulangkan, bisa jadi kita ikut kembali ke saat sebelumnya," ujarnya menunjuk mobil merah yang terparkir manja di lantai dua Limousine, semua memandang ke Mobil tidak terkecuali Dewa.


"Hahahaha," keempat bayi, Sora serta Kireni tertawa, akhirnya Dewa, Baim dan orang dewasa lainnya mengerti kenapa mereka ikut tertarik ke jalan Protokol.


"Apa yang kalian tertawakan?" Baby Moni membuka mata.

__ADS_1


"Lihat kita ada dimana Mon," jawab Sebi.


"Kamu tidak akan percaya kita ada di jalan Protokol sekarang," sambung Sevi.


"Ha!" Tak ayal Moni melongo.


Dert derrt dert.


Bunyi ponsel Sora, panggilan vidio dari Sabit. "Kalian dimana?" Teriak Kakaknya itu sesaat panggilannya diangkat.


"Limousine," jawab Sora mengarahkan kameranya keliling mobil.


"Semua yang menghilang dari ujung jalan Baru ada di sana." Seru Sabit.


"Hah, syukurlah." Ucap Alisha terlihat di layar menarik nafas lega.


"Nena, Nainai." Kelima bayi melambai padanya, Alisha dan Dwi balas melambai.


"Kalau begitu Nena juga mau ke Hotel bersama Samsir, kalian pulang ke Mansion ya." Kata Alisha. "Barus beri laporan pada Bram agar dia tidak mengkhawatirkan bayinya," sambungnya.


"Siap Nyonya," jawab barus ikutan lega.


"Dah Nena dah Nainai."


Kelima bayi melambai tapi tidak yakin juga mereka akan kemana, Sora memutuskan sambungan. "Aku akan ikut kemanapun Kak Kiren pergi," ujar Duta duluan memandang kakak cantiknya tatapan memohon, Kireni memandang Dewa meminta persetujuan.


"Bukankah Nena Alisha meminta kalian kembali ke mansion?" Baim menjawab cepat merasa keberatan.


Benar-benar merepotkan kalau ada bayi-bayi ini di Mansion, hidup gak bisa tenang. Sekarang saja pun, Bos Dewa belum tidur dari kemarin pagi, kasian bodyguard juga belum sempat istirahat.


Dalam hatinya yang bisa diketahui oleh kelima bayi, kelimanya tidak mau putus asa mencari akal agar bisa bersama-sama Kireni sepanjang liburan mereka di Negara I.


Sebi mendapat tatapan penuh pengharapan dari anggota kelompoknya untuk mencari jalan keluar, ting!


Deg deg deg.


Keempat bayi berdebar menunggu ide briliannya. "Baim! Aku mendengar Nena hanya mengatakan kembali ke Mansion. Itu artinya tidak masalah walau ke Mansion mana saja termasuk ke Mansion Paman Dewa. Kamu kelamaan tinggal di Negara A, jadi tidak memahami bahasa Negara I dengan baik dan benar. Sebaiknya pergi sekolah lagi biar pintar," kata Sebi.


***tbc.


Like komen and vote, 🙏.

__ADS_1


__ADS_2