
"Iya aku salah maaf," ucap Bram memeluk istri kesayangannya, mengerti akan kesedihan hati seseorang ibu yang telah melahirkan bayi-bayinya sampai bertaruh nyawa.
"Perjalanan masih lama lebih baik kita tidur yuk," ajak Bram mencium pipi empuk basah air mata.
"Aku gak bisa tidur!" Bentak Kiara di wajah Bram, curiga bahwa suaminya ini bukan ngajak tidur dalam arti yang sebenarnya.
"Aku tidurin kamu biar cepat terlelap, hehe." Bram tersenyum jail, maksudnya mau menghibur Kiara.
Ck, tuh kan!
"Bram kamu terbuat dari apa sih! Kuat sekali kemalwnnya."
"Hahahaha."
Bram tidak bisa tidak tertawa mendengar kata-kata istrinya, mana kuat lagi suaranya. Sudah pasti kedengaran oleh Pengawal dan juga kru-kru pesawat yang tak jauh dari bangku mereka.
"Apa kamu lupa bahwa aku ini Bapak Bayi Penyihir, tentu saja kuat sayang." Candanya daripada stres.
Cis, dengus Kiara. "Aku tidak percaya bayi kita Penyihir Bram."
"Aku juga." Bram mengangguk setuju, walaupun ia menyukai film fantasi yang bertema sihir tapi tidak berharap anak-anaknya jadi penyihir.
"Besok kita buktikan, ayolah tidur sayang. Jam delapan pagi waktu negara I kita sudah tiba di Soeta lebih duluan sampai daripada pesawat Yudi, kemungkinan mereka sampainya sore." Bram membujuk Istrinya lagi, teringat pada asistennya itu juga dalam perjalanan ke negara I langsung dari NYC, hm.
"Benarkah?"
Laras juga pasti sedih seperti diriku.
Dalam hati Kiara teringat pada Ibu ketiga Baby Lara sekaligus teman baiknya itu.
Hm.
"Kita dari Negara E hanya butuh waktu tujuh belas jam lebih kurang, mereka dari negara A kira-kira dua puluh jam lebih kurang." Bram.
O
Bibir Kiara membulat sudah mulai relaks teringat ada ibu lain yang sama sedihnya seperti dirinya.
"Ayolah tidur," ajak Bram memandang sayu istrinya.
Kiara mencubit hidung mancung suaminya. "Yakin benar-benar tidur."
__ADS_1
"Hehe, sekalian."
Cis, dengus Kiara.
Namun dia tidak keberatan saat Bram menggendongnya masuk kamar khusus, istirahat.
*
Sambungan langsung jarak jauh terus terhubung antara asisten Yudi dan Brama.
Namun karena bosnya itu sedang sibuk membujuk Istrinya, asisten setia itu menyandarkan duduknya tetap siaga memantau bayi-bayi yang terhubung langsung dengan kamera anak buahnya di Jkt.
Diri layar LED ukuran lebar, Yudi dapat membaca dengan jelas raut kelima bayi tidak dalam keadaan tertekan ataupun terancam, mereka tenang bahkan terlalu bersemangat berbanding terbalik dengan raut ketakutan para anak buahnya yang terlatih.
Saling berkomunikasi dengan cara yang hanya dimengerti oleh mereka sendiri, hah! Yudi menarik nafas pelan ada rasa bangga di hatinya atas keberanian yang dimilik oleh kelima bayi.
Yudi berangkat langsung dari Negara A di dalam jet pribadi yang ditumpanginya bersama Laras, ibu dari ketiga bayi kembarnya itu tidak bisa duduk tenang di sampingnya.
Saat mendengar Kiara menangis, istri dari asisten Yudi itu manahan dirinya agar tidak ikutan menangis. Sekarang temannya itu sudah tenang, tiba-tiba Laras ingin menangis teringat bayi-bayi kecilnya.
"Abang sih! Katanya gak sanggup berpisah dari bayi-bayi, ngapa tiba-tiba memberi ijin ketiga Baby Lara ikut pulang bersama Monichoi, hiks hiks!" Laras mulai terisak.
Mau bagaimana lagi, BBB ( Baby Big Bos) yang meminta langsung padaku, dengan terpaksa harus diberi ijin.
Dalam hati Yudi mengeratkan pelukan, mengusap-usap punggungnya. "Kita berdoa agar mereka baik-baik saja disana, ada banyak orang yang menjaga mereka. Sitters dan bodyguardse masing-masing satu pasang, Nyonya Besar Alisha, Nainai Dwi, Pepa Arjit, Ol..."
Ups.
Mengatup mulutnya rapat saat hendak menyebut nama mantannya Olivia, hah! Selamanya ia akan jadi saudara dengan perempuan dari masa lalunya itu.
Melihat Yudi termenung Laras mendongak, mendelik pada suaminya. "Ingat mantan sampai segitunya," sindir mama muda itu cemburu.
"Hehe maaf," ucap Yudi mengecup kening istrinya.
"Ada kakak-kakaknya juga Sora dan Sabit, mereka semua menyayangi kelima bayi-bayi dan akan menjaganya seperti menjaga nyawanya sendiri. Tugas kita yang jauh dari mereka, berdoa pada Tuhan semoga diberi jalan keluar yang terbaik," lanjut asisten yang punya kemampuan membaca pikiran itu.
Laras menatap Yudi. "Menurut abang benarkah Baby Choi seorang Penyihir?"
"Hum," geleng Yudi yakin itu tidak mungkin ada di jaman modern.
"Abang sudah melihat Videonya secara detail, kemungkinan ada yang mengendalikan Baby Choi. Abang curiganya sih gadis kecil yang menjadi teman mereka," kata Yudi pikiran menerawang.
__ADS_1
"Tapi gadis kecil itu kelihatan baik, cantik banget lagi. Belum pernah melihat ada wajah manusia sehalus itu seperti lukisan," ujar Laras.
Justru disitu letak keanehannya.
Dalam hati Yudi berpikir setelah melihat salinan CCTV asal mula kelima bayi bertemu Kireni di arena bermain Hotel WJ dan juga dari laporan bodyguardse mengenai remot pengendali mobil mainan yang tidak berfungsi. Setelah kehadiran gadis kecil itu kelima bayi mengemudi dengan baik dan bisa mengelak dengan tangkas. Menyetir tidak lagi nabrak layaknya seorang pembalap profesional.
"Tiga Bayi Lara dan duo Monichoi sangat sensitive, mereka punya kelebihan menilai orang dengan sangat baik. Kalau gak suka mereka tidak akan mau berteman, terutama Duta. Bayi lanangmu itu paling cuek sedunia tapi dia sangat menyukai gadis kecil itu bahkan tergila-gila."
Tersenyum lebar pada istrinya. "Selamat ya Mama Laras, sebentar lagi kamu punya menantu." Yudi menggoda ibu dari Baby Duta itu.
"Cih," cebik Laras. "Abang kepingin cepat punya cucu?"
Hehe.
"Sembari menunggu cucu, kita bikin adik dulu buat Tiga Lara yuk dek," ajak Yudi mengedip mata pada istrinya ketularan omes Brama.
"Bayi-bayi gimana nasibnya, gak dipantau?" Laras nada khawatir.
Hah! Desah Yudi. "Bisa apa dari ketinggian pulahan ribu kaki sayang, tapi kamu harus jaga kesehatan. Kerja lembur ngerjain tas-tas belum ada istirahat dari kemaren malam, ayuk aku temani kamu tidur."
"Ayuk, Abang juga butuh istirahat."
"Hm," angguk Yudi memberi tanda pada pengawalnya agar datang menghampiri. "Kamu gantikan sebentar menjaga layar, kalau ada yang mengkhawatirkan jangan segan-segan menggedor," titahnya.
"Baik Pak, siap!" Si pengawal mengangguk hormat.
*
Di perbatasan jalan Baru dari arah Kota Reklamasi, Kireni beserta kelima bayi berkomunikasi dengan kedua Bangau Abadi melalui telepati.
Bodyguards dan orang-orang dewasa tak ayal dibuat pusing oleh kelakuan mereka. Ditambah lagi sekarang melihat Kelima bayi kembali menengadah ke atas, membuka mata dan mulutnya lebar terpesona melihat sesuatu yang ada di langit.
Hais, desah Arjit menyapu lagi roll krim aromaterapi ke pelipis dan juga di keningnya. Olivia yang mendadak kalem membantu memicit-micit tengkuk suaminya.
"Mbak, sebaiknya bawa cucu-cucumu itu kembali ke Mansion sebelum kita orang yang berpendidikan di sini gila dibuatnya!" Ketus Arjit berkata pada Alisha.
Hum.
***tbc
Like komen and share 👍
__ADS_1