The Crane Dan Lima Bayi Kembar

The Crane Dan Lima Bayi Kembar
Bab. 21


__ADS_3

Hm, mendesah prihatin. "Yakin, masih mau lanjut menikah?" tanya Sonia.


"Yakinlah! Yakin banget malah, tinggal selangkah lagi dia jadi milikku. Semoga tidak ada aral melintang," jawab Claudia tiba-tiba ingat Tuhan dan semua dosa-dosanya. Apakah do'a hamba seperti dirinya yang suka mengumbar aurat akan terkabul.


"Amiin," ucap Sonia ikutan sedih. "Semoga minggu depan Dewa sah jadi suami lu."


"Amin ya Allah," ucap Claudia penuh harap.


***


Di penginapan, Kireni gak bisa berpisah dengan gawai barunya. Dewa mendownload banyak film Cartoon di ponselnya.


Terlalu penasaran dengan hal yang baru dimilikinya, Kireni nge klik satu persatu aplikasi yang ada di layar. Dia dibuat takjub dengan banyaknya berita dan informasi yang ditangkap oleh otaknya mengenai kehidupan fana, belum lagi yang namanya gugel.


Hebat sekali smartphone ini, seperti jendela untuk melihat ke dunia lain. Di alam peri, hanya Dewa berusia ratusan ribu tahun yang menguasai ilmu ini.


Kalau ada yang melihat dikira Kireni gila. Kadang tertawa, kadang melotot ketakutan. Sebentar menangis, kemudian tertawa lagi sampai jungkir balik.


Suaranya bahkan sampai kedengaran Dewa dan Baim di ruang tengah yang larut dengan pekerjaan masing-masing.


"Pak Dewa," panggil Baim mengarahkan laptopnya. Rekaman CCTV yang mengganggu perasaannya sedang diputar di layar monitor.


Hm, Dewa menoleh.


"Kita tidak bisa melihat apa-apa, tapi coba dengarkan ada suara desis seperti seekor ular." Baim bangga.


"Dimana anehnya, gudang itu memang kandang Ular."


Baim speechless, Dewa merasa biasa saja dengan hasil penemuannya. Emang iya disitu banyak ular tapi...


"Pak Dewa! Ini CCTV pintu masuk utama sebelum dibuka, sementara kandang-kandang ular ada di dalam dan ini..." Baim mengarahkan kamera ke bagian lantai dasar, kelihatan bayangan ekor panjang lumayan gemuk.


"Hm," ekspresi Dewa tenang. "Daerah ini banyak ular dan binatang melata lainnya, pasti ada paling tidak satu yang nyasar ataupun lepas, kan."


"Nah, itu dia! Mungkinkan ular ini datang untuk menyelamatkan teman-temannya, dengan ilmu sakti membuka pintu dengan mantra sihir." Baim ekspresi bego, merasa dirinya telah dikhianati oleh drama-drama yang ditontonnya.


Fruufht!


Dewa geli mendengar analisa Baim, ngaco dalam hatinya. "Kamu gemar menonton drama fantasi?"


Apa salah kalau cowok suka drama.


"Hais," keluh Baim malu jadi ketahuan dengan hobi barunya.


Memang gak masuk akal sih kalau di dunia nyata, ada ular punya kekuatan super.


Hanya Dewa yang bisa melihat ada sesuatu yang bergerak berbentuk bayangan lebih terang sedikit dari cahaya di sekelilingnya, kalau dilihat dari ukurannya menyerupai bentuk...


Hm, makhluk apa sebenarnya kamu Kiren.

__ADS_1


***


Di tengah hutan rawa jauh dari jangkauan manusia, Kireni kebingungan mau melerai buaya-buaya yang berselisih membentuk formasi perang yang menakjubkan.


Tidak menyangka separah ini, bagaimana kalau live di yutub atau ig pasti banyak viewernya batin Kireni.


"Hei berhenti, ada Dewi Kireni!" Teriak raja Katak suara kencang, merasa hebat dirinya bisa dekat dengan hantu.


Hari ini dia tidak perlu takut jadi santapan bangsa ular dan bangau atau pemangsa lainnya karena saat pemilu, semua hewan puasa memangsa. Tidak boleh makan kalau mau minum gak apa, itu aturan tidak tertulis dari Dewi Kireni.


Mendengar nama Kireni Buaya-buaya berhenti berkelahi, dimana perebutan kekuasaan versi lama sedang terjadi.


Tadi saat asik yutuban seekor burung mendatanginya ke kamar Dewa melaporkan kejadian di hutan rawa, terpaksa Kireni cepat-cepat teleportasi.


"Kenapa kalian berkelahi?" Tanya Kireni suara lantang.


"Pemilihan sementara wakil ketua unggul, Kepala preman tidak setuju lalu ngajak duel," desis perwakilan bangsa ular.


"Siapa yang membuat onar langsung didiskualifikasi saja, pemilihan berikutnya antara wakil ketua dan perwakilan ular!" Kireni menegaskan, tatapannya pada kepala preman yang kelihatan tidak senang memandangnya.


"Siapa kamu ngatur-ngatur!" Kepala preman marah, rasa takutnya sudah hilang yang tersisa hanya rasa malu.


"Kamu tidak tau siapa aku, aku menantangmu berkelahi satu lawan satu!" Kireni melotot pada si kepala buaya preman.


Gleg! Si kepala preman meneguk liurnya susah payah.


Semalam hantu kecil ini begitu berani melepaskan buaya dan ular dari gudang, menantangnya berarti cari mati. Buaya preman terdiam, beringsut menahan kesal sekaligus menyimpan dendam. Tapi statusnya sekarang buronan anak buah Dewa, gak nyangka TC grup sangat berkuasa.


Hah! Desis ular lemah karena sudah bisa dipastikan bangsa mereka akan kalah.


Wakil ketua buaya tersenyum sampai telinga, merasa dirinya menang mutlak. Tidak lama lagi dia yang memimpin rawa hutan Hokaido, hm.


***


Dewa masuk ke kamarnya mau buang air kecil, mendengar suara gemerisik di kamar mandi menyangka itu Kireni.


Anak lagi maruk, jangan-jangan ponselnya juga dibawa masuk. Bagaimana kalau jatuh ke dalam toilet.


Penasaran diam-diam Dewa mengintip, membuka pintu ternyata tidak dikunci.


Kenapa tidak ada Kiren?


Dawa membuka pintu lebih lebar, air di wastafel penuh sampai tumpah-tumpah.


Kemana dia?


Yang lebih membuat heran, Dewa tidak melihat Kireni keluar dari kamar.


"Jendela!" Segera Dewa memeriksa, semua tertutup ketat.

__ADS_1


Akh!


Dewa terduduk di kasur, jadi lupa tadi dia mau ngapain. "Kiren," panggilnya lirih, mengusap wajahnya gusar.


Jangan hilang lagi please, mau cari kemana?


"Paman," suara Kireni keluar dari kamar mandi, tidak ada kesan basah sama sekali.


Kaget, Pak? Tanya Dewa pada dirinya.


Ya kagetlah, jawabnya juga pada dirinya.


"Sudah selesai urusanmu di kamar mandi?" Dewa bertanya hati-hati, "hilang kemana kamu" padahal itulah yang ingin dia tanya.


Hm, Kireni tersenyum fals menutupi rasa gugupnya. Beruntung dia bisa mendengar panggilan Dewa dari jarak jauh, buru-buru Kireni teleportasi takut pamannya khawatir.


Syukurlah, walaupun dia bisa menghilang tapi segera datang saat dipanggil.


"Sini," panggil Dewa meminta Kireni mendekat.


Kireni menghampiri pamannya ke kasur berdiri diantara sela kakinya yang terbuka, Dewa menangkup pinggangnya. "Hape jangan jatuh ke air, bisa rusak." omelnya mencubit pipi Kireni.


"Iya tahu," jawab anak itu gerah.


Kan aku menyimpannya di kantong peri, paman.


Senyum dalam hati Kireni mundur dari hadapan Dewa melompat ke kasur, tidak ingin melihat ekspresi gak jelas di wajahnya.


Dewa bangun dari duduknya masuk ke kamar mandi, baru terasa kebelet.


Hah! syukurlah tidak ketahuan.


Kireni menarik nafas lega.


***


Malam hari belum ada laporan dari Intel, Sirobune seolah menghilang ditelan Bumi.


Dewa baring di kasur bersama Kireni, wajah direktur Hikado and co itu terpampang di layar laptop yang diletakkan di pahanya.


Terpandang Kireni yang tetap masih dengan gadgetnya, seketika mengerut dahi.


Wajah ini tidak asing, dimana pernah melihat ya!


"Ini siapa Paman?" tanyanya.


"Ini orang jahat Kiren, kalau bertemu segeralah menjauh," jawab Dewa.


Haa...cih! Sirobune bersin, dengan wujud buayanya meringkuk di rawa.

__ADS_1


***tbc.


Jumpa lagi, jangan lupa like, 👍


__ADS_2