The Crane Dan Lima Bayi Kembar

The Crane Dan Lima Bayi Kembar
Bab. 81


__ADS_3

O


Dewa tidak masalah tinggal dimana saja yang penting baginya adalah bersama Kireni.


Dimana ada bayi di situ ada Kireni, maka di sanalah Dewa akan pergi.


"Hm, baiklah saya setuju." Dewa tersenyum mengangguk.


Ah, keluh Bram. "Mama!"


Tidak enak meninggalkan meja tanpa menyentuh makanan yang sudah disediakan. "Mari kita makan sekarang, Bram tunggu apa?" Alisha memandang tajam putranya,


Hais.


Bram menahan marah, memanglah dia mudah marah dipancing pula.


"Mama! Apa di Mansion tidak ada makanan, lagian ngapain Mama pake ngundang segala. Orang ini ingin menguasai bayiku Mama!" Marahnya pada Alisha lalu memandang Dewa. "Kamu tidak sedang menyusun rencana mengambil istriku juga kan?"


Dewa kaget, sebagai asisten Baim tentu saja tidak senang ada orang yang menuduh bosnya sembarangan jadi naik emosi mendengarnya segera bangun dari duduknya menatap tajam pada Bram. "Jaga bi..,ah." Sudah mengumpulkan tenaga ucapannya terhenti saat melihat Dewa mengangkat kelima jarinya.


Dasar bocah ingusan ini, kemungkinan tidak diajarkan cara sopan berbicara pada yang lebih tua, ck.


Decak dalam hati asisten itu gak puas, rasanya pengen adu jotos sekalian biar dapat pelajaran yang berharga si Tuan muda sombong.


"Bram, tunggu apa?" Alisha memandang putranya mengepal tangan geram masih belum mau duduk.


"Bram, ayolah duduk dulu. Pak Dewa menyiapkannya untuk kita santap bersama," kata Arjit membujuk keponakannya yang emosional. "Semua bisa dibicarakan dengan baik setelah perut terisi penuh, kita semua dari kemarin malam tidak ada yang berselera makan," lanjutnya.


Padahal dia doang yang tidak ingat makan karena sibuk melayani tamu-tamu, yang lain mah enggak.


"Bram, berapa kali Mama manggil agar kamu mau duduk?" Tanya Alisha lagi pada putranya yang keras hati.


"Sayang ayolah kita duduk dulu menunggu bayi bangun kita makan," ajak Kiara.


Ck, decak Bram, kalau sama Kiara mana bisa dia gak luluh asal dipujuk dengan kasih sayang.


"Pak Dewa itu orang baik menyayangi anak-anak kita dan anak-anak lainnya, bukan mau membajak," lanjut Kiara.


"Aku juga mau protes sama kamu, lain kali jangan bicara sembarangan yang menyangkut diriku. Apa kamu pikir aku akan dengan mudah meninggalkan kamu jika ada lelaki yang lebih keren?" Tanya Kiara.


Semua memandang Kiara bagaimana bisa Bram tidak, pria omes itu bahkan melihat istrinya jadi bernafsu. Rasa ingin melu mat bibirnya yang barusan bicara aneh. "Pertanyaan apa itu?"


Bram melotot pada istrinya, Kiara gak takut menantangnya. "Jawablah, apakah aku akan meninggalkan kamu jika ada pria yang lebih keren dari kamu?" Tanyanya lagi.


"Apa kamu akan pergi?" Bram balik bertanya.


"Hanya setelah kau ijinkan."

__ADS_1


Hah! "Sampai mati aku tidak akan mengijinkan!" Tegas Bram.


"Terimakasih kasih sayang, sampai matipun aku tidak akan meninggalkan kamu," senyum Kiara menarik tangan suaminya. Dengan terpaksa Bram akhirnya kalah ditangan istrinya, duduk di bangku semula.


Melihat itu Dewa jadi cemburu. "Saya juga mau jadi suami perempuan seperti anda," ujarnya sengaja cari gara-gara pada Bram.


Astaga.


"...." Bram.


"Bram!" Alisha bersuara sebelum putranya itu buka mulut. "Ayo duduk!"


Acara makan berlangsung hidmat, diantara semua Arjit makan seperti orang yang tidak melihat nasi setahun. "Enak sekali, ah. Pak Dewa, saya ingin menambahkan menu ini di restoran WJ. Kita buat perjanjian kerjasama bisnis saja," ujarnya.


"Apa paman yakin bukan karena kelaparan," celetuk Bram gengsi mengakuinya, padahal dia juga makan dengan lahap.


"Apa kamu juga kelaparan sampai nambah dua piring?" tanya Arjit menyindir keponakannya.


Gleg.


Bram meneguk liur malu. "Aku harus menyuapi Kiara juga kan," alasannya.


"Tapi lebih banyak masuk ke perut kamu Bram," balas Kiara.


"Oh! kamu masih lapar sayang, kita tambah lagi satu porsi."


Bram tanpa menunggu persetujuan istrinya segera mengisi lagi lauk-pauk yang banyak ke piring di depannya.


Semua tercengang atas ketebalan muka si Tuan muda, diantaranya Baim yang paling kesal


Selesai makan Bram benar-benar membawa bayi-bayinya pulang tanpa menunggu kelimanya terbangun, tidak mau ketinggalan Dewa juga ikut menggendong Kireni yang sedang tertidur pulas, bersama Baim beserta kedua bodyguardnya.


Sabit paling senang diantara semua, acara pedekate dengan Kireni semakin mudah.


"Yes," pekiknya.


*


Sesampai di Mansionnya.


Karena gedung bagian depan telah dijadikan klinik kecantikan, Alisha membawa Dewa dan Kireni yang belum juga terjaga dari tidur lelapnya ke lantai tiga gedung belakang khusus keluarganya.


"Kiren akan tidur dikamar Sora," ujar Alisha pada Dewa.


Mereka mengikuti Barus yang sedang menggendong gadis kecil bertubuh gempal itu ke kamarnya.


"Tidak!" Dewa menolak tegas. "Biar Kireni tidur dengan saya," katanya.

__ADS_1


"Oh, baiklah!"


"Kita ke lantai tiga saja langsung, saya menyiapkan beberapa kamar untuk keluarga yang berkunjung," kata Alisha.


Mereka menaiki tangga indah berbelok, bagian bawah selebar kira-kira 3 meter menyempit ke atas jadi dua meter.


Di lantai ini ada beberapa kamar yang sengaja dikosongkan untuk tamu, Alisha membawa Dewa ke kamar depan di dekat balkon. "Silakan Pak Dewa, semoga anda bisa tinggal dengan nyaman. Ada ruang kerjanya juga jadi jangan sungkan anggap seperti rumah sendiri." Alisha membuka satu kamar yang terbaik diantara sepuluh kamar yang ada.


Dewa membawa Kireni masuk ke dalam kamar, diikuti anak buahnya. "Untuk tamu seperti saya ini sudah sangat mewah, terimakasih Nyonya," ucap Dewa sambil meletakkan Kireni diatas kasur.


Kemudian Alisha memandang ketiga pengawal Dewa. "Asisten dan bodyguardse pilih saja yang mana suka, ada sembilan pintu kamar kosong lagi."


Terimakasih Nyonya," ucap ketiganya Baim dan dua bodyguard.


"Baiklah saya tinggal dulu," ujar Alisha permisi segera keluar dari kamar tamunya.


Setelah Alisha pergi, Baim melakukan penyisiran terhadap kamar Dewa apakah ada kamera pengintainya. "Aman bos," ujarnya mengangkat jempolnya.


*


Alisha turun ke lantai dua ke kamar cucu-cucunya, karena ia yakin anak dan menantunya juga pasti ngumpul di sana.


"Ma!" Panggil Sabit mencegat Alisha di tangga.


"Hm, ada apa?" Tanya Alisha.


Ia sudah membaca gelagat anak angkatnya ini, sudah tau apa yang ingin dikatakan remaja puber itu.


"Sabit pindah ke lantai tiga ya," mohonnya.


Hm, benarkan dugaanku. "Kamu mau dekat-dekat Kiren?"


Hehe. "Boleh ya Ma, please."


"Terserah kamu tapi jangan mengganggu kenyamanan tamu, mengerti!"


Yes!


"Oke Ma, terimakasih." Sabit melompat kegirangan.


*


Sembari menunggui Kireni tidur, Dewa bersama Baim di balkon melakukan pekerjaan kantornya. Namun waktu sudah menunjukkan angka 17.00 waktu negara I, gadis kecil itu belum juga bangun. Tidur tidak bergerak ataupun berputar-putar seperti manusia pada umumnya.


"Bos, sampai kapan kita tinggal disini?" Tanya Baim.


"Kenapa, apa kamu gak betah?" Dewa balik bertanya padanya.

__ADS_1


***tbc.


like vote dan hadiah 🙏


__ADS_2