The Crane Dan Lima Bayi Kembar

The Crane Dan Lima Bayi Kembar
Bab. 36


__ADS_3

Dewa belum keluar juga dari kamar Kireni, maghriban dia di dalam diam-diam.


Baim masih belum berani membuka kamar Kiren, hanya habis maghriban dia ngajak dua bodyguard makan di meja dapur. Perutnya lapar nasi, dari tadi cuma es krim yang masuk ke lambungnya selain sarapan pagi.


"Gak sabar nunggu Bos Dewa keluar kamar, kita makan saja duluan e eh..." Baim teringat sesuatu.


Pesan Tuan besar si bos harus selalu diingatkan makan, hais.


"Bentar ya mau manggil Pak Dewa makan," pamitnya pada dua orang bodyguard.


🎶"Pergilah Baim tapi jangan lama-lama,"🎶 jawab Kedua bodyguard bernyanyi duet.


Cis.


Baim lebih suka makan dengan bodyguard di meja makan dapur di lantai satu, lebih santai dan bisa nambah-nambah. Cuma sudah kebiasaan Dewa mengajak mereka menemaninya makan di meja makan utama lantai dua, jadilah Baim badannya singset karena segan mau rakus.


Tok tok tok!


"Pak Dewa," panggil Baim.


Cklekk!


Tidak menunggu dua kali pintu dibuka, Dewa keluar lalu memerintah Baim membawa makanan ke kamar untuk dua orang.


"Berikan lauk yang banyak untuk Kiren," Dewa suara serak.


"Baik Pak Dewa segera saya siapkan," ujar Baim sempat mengintip lewat celah pintu, ada Kireni masih tertidur lalu memandang Dewa. "Kiren belum bangun, Bos?" tanyanya hati-hati.


Hm, "Aku akan di kamar menunggunya bangun," jawab Dewa suara lemah.


Baim melihat Pak Dewa seperti habis menangis.


Apa sebenarnya yang terjadi pada Kireni, tidak biasa dia tidur gini lama. Apakah sakit hatinya terlalu dalam..


Dalam hati Baim segera berlalu dari hadapan si bos, dari pada kena bereng.


*


Kireni memindai gedung WJ mencari teman barunya.


Dengan cepat dia menemukan posisi kelima bayi yang sekarang tengah berada di lantai paling atas gedung, beramai-ramai mereka mandi di bathtub bermain sabun sambil tertawa-tawa.


O~ow


Kireni jatuh cembulu, bermain air adalah kesukaannya jadi kepingin gabung.

__ADS_1


Sementara Sora berbaring santai di sofa di kamar yang berbeda sedang sendirian mantengin tabletnya.


Vidio seram apa yang sedang ditontonnya, kelihatan serius lengkap dengan ekspresi tegang di wajahnya.


Batin Kireni. "Astaga Soraya!" Gak sengaja ia teriak membuka matanya lebar.


Ternyata Sora senang menonton drama orang dewasa bercinta.


"Ya!!"


Sora kaget buru-buru menutup tabletnya, bangun dari baringnya kemudian melongo seperti sapi ompong.


"Tidak ada orang, lalu siapa yang memanggilku barusan."


Gumamnya mencari-cari dengan matanya keliling ruangan, secara dia yakin sudah mengunci pintu agar tidak ketahuan hobinya yang suka menonton pilem ceks.


Sora berlari naik ke kasur masuk ke dalam selimut, menunggu Sabit datang menjemputnya selesai Isya.


"Yes," pekik Kireni pelan banget, merasa senang ternyata Sora bisa mendengarnya.


Oke mari kita kejutkan, apakah mereka bisa melihatku? Dimulai dari kelima bayi dulu..


Walaupun wujud halusnya tidak bisa berubah ke wujud manusia tapi bisa disesuaikan ukurannya. Sebagai Bangau Abadi yang masih muda, ukuran maksimal Kireni masih setinggi tiga meter dengan rentang sayap sepanjang lima meter. Masih bisa tumbuh lagi seiring dengan bertambahnya usia menjadi sepuluh kali lipat bahkan lebih, hm.


Terlalu raksasa kalau dilihat oleh manusia, ntar dikira spesies baru Dinosaurus yang sudah punah lagi. Bisa dipastikan akan menakuti kelima bayi seperti penghuni hutan rawa.


Untuk Sora yang sekarang menginjak usia sembilan tahun, satu meter dua puluh senti termasuk pendek. Karena Kireni yang sama usia dengannya sudah mencapai tinggi satu meter lima puluh senti.


Lalu...cring!


Dengan mantra merubah ukuran, Kireni mengecilkan dirinya menjadi setinggi Sora yaitu semekot saja.


"A," gumam Baby Duta dengan mulut terbuka lebar saat melihat ada burung cantik di sudut kamar mandi. Bulunya putih halus highlight merah biru dengan jambul berwarna merah seperti mahkota di kepala.


Oh my Godness, jadi dia dapat melihatku.


Dalam hati Kireni senang bercampur khawatir sambil menunggu apakah bayi akan kabur lari tunggang langgang ketakutan, pasti lucu kali ya hehe..


"Lihat itu ada burung!" Seru Duta kepada saudari-saudarinya.


"Mana?" tanya keempat bayi serentak menoleh ke duta.


"Itu, di pojok!" tunjuk satu-satunya bayi lelaki di dalam kamar mandi itu.


"Keempat bayi perempuan menoleh lagi ke tempat yang ditunjuk Duta.

__ADS_1


"Wow!" Lara Sebi.


"Wah!" Lara Sevi


"Ho ~ ow," Baby Moni


"O ~ I want it." Baby Choi.


Berbagai ekspresi ada dengan mata dan mulut terbuka lebar, tapi tidak terlihat raut ketakutan di wajah mereka. Yang kelihatan malah ekspresi penasaran karena seketika mereka keluar melompat dari bathtub, lari tunggang langgang saling berlomba mendekati Kireni.


"Hei, aku duluan yang melihat. Artinya dia kepunyaanku," teriak Duta melihat kehebohan saudari-saudarinya, segera merentangkan tangan menghalangi mereka maju lebih dekat.


"Iya tau, kepunyaanmu juga tidak apa-apa. Tapi kamu gak boleh pelit sama kami, kan kita saudara. Masa mau lihat aja gak boleh," marah Lara Sebi si juru bicara mewakili isi hati adik-adiknya.


Merujuk pada banyaknya usia walau cuma hitungan menit dari Sevi dan Duta serta beda tiga bulan dari Moni dan Choi, secara alami keempat bayi secara aklamasi mengakui Lara Sebi yang menjadi ketua di kelompok mereka.


"Iya jangan gitu Duta," sambung Lara Sevi ikut marahin adik beda sepuluh menit darinya itu.


"Kita sesama saudara harus saling berbagi, seperti empeng dan es krim itu kepunyaan siapa?" Baby Moni geram jadi mengungkit harta bapaknya kan, ah!


"Betul sekali." Baby Choi mengangkat kedua jempolnya. Secara dia penyuka binatang, cuma dilarang Mama Kiara punya hewan peliharaan selain ikan hias. Sebel kan...


"Hm, baiklah. Karena kalian sudah setuju burung ini kepunyaanku, maka aku ijinkan kalian melihatnya. Ayo kita tanyakan, apakah dia bisa komunikasi," ajak Duta. Pada dasarnya dia juga gak suka dibilang pelit karena takut rejekinya sempit.


"Oke!" sorak keempat bayi perempuan semangat.


Sitters sudah biasa mendengar keributan di kamar mandi jadi mereka tidak heran lagi, hanya menunggu sekitar sepuluh menit lagi dari waktu yang dibolehkan berendam. Sebelum itu mereka tidak boleh diganggu.


"Hai," sapa Duta melambai kepada Kireni. Terpaksa harus menengadah, ingin melihat wajahnya yang jauh diatas kepalanya.


"Hai," jawab Kireni tersenyum geli melihat bayi-bayi gak takut padanya.


"Aaaa!!!!"


Mendengar suara Kireni, keempat bayi perempuan menjerit histeris.


"Dia bisa bicara, oh my God!" Pekik Lara Sebi exciting.


"Hum," senyum Duta lebih exciting, senang mengetahui burungnya bisa bicara.


"Ayo bicara lagi pada burungmu, Duta." Baby Choi si penyuka hewan berkata sedih karena kalah cepat dari Duta, kenapa bukan dia yang melihat duluan tadi aah...


"Iya, tanya lagi." Sevi dan Moni bersamaan.


***tbc.

__ADS_1


Like, komen and share 👍.


__ADS_2