
Dewa tidak mengambil hati dengan sikap Bram, dia beralih pada perempuan muda yang berdiri di sampingnya. "Selamat datang Nyonya," ucapnya mengulurkan tangan pada Kiara. "Senang bertemu dengan wanita cantik yang telah melahirkan kedua bayi penyihir." Dewa tersenyum lebar sampai telinga heran, kenapa dirinya tidak lagi alergi berdekatan dengan perempuan.
Ah! Keluh Bram memandang ekspresi istrinya.
"Haha," balas tersenyum lebar juga, Kiara memandang kagum pada Dewa. "Terima kasih karena anda perduli pada kedua bayi saya Tuan, ternyata dilihat langsung anda lebih tampan," pujinya langsung mendapatkan tatapan gak senang dari Bram, hihi gelak dalam hati Kiara sengaja manasin hati suaminya.
Benar saja. "Kiara, aku mendengarnya." Bram menjeling istrinya.
"Haha."
Alisha dan Dwi juga tidak bisa tidak menertawai Bram, masih belum hilang sikap cemburunya padahal sudah dua tahun menikah.
Para bodyguards bayi yang ikut menyambut Bram di ruang tengah menahan senyuman, walaupun dikatakan secara bercanda mereka tau kalau majikannya itu serius dalam hal perasaannya.
"Apa senyum-senyum! Samsir, minta mereka membawa mobil pulang sekarang." Titahnya.
"Baik Tuan."
Samsir belum bicara kelima bodyguard segera kabur, syukurlah bisa terbebas dari beban mental jika berhadapan dengan Big bos, yang bukan masalah pun jadi masalah kalau berurusan dengannya.
Melihat wajah merenggut suaminya, Kiara semakin gak tahan ingin menggodanya. "Sayang aku sudah sering memujimu, hampir sejuta kali malah. Bolehkan aku sekali saja memuji orang yang telah perduli pada bayiku." berkata Kiara pada Bram sambil tersenyum pada Dewa semakin lebar.
Ah!
"Baiklah sayang," ujarnya mengalah pada belahan hatinya lalu Bram memandang Dewa. "Anda senang bertemu dengan wanita yang telah melahirkan bayi penyihir, bagaimana dengan saya sebagai Bapak yang telah susah payah mengadon bayi-bayi itu?" Tanya Bram.
Ha!
Dewa terlalu memandang tinggi penampilan Bram, ternyata dia tidak menjaga image bicaranya sama sekali.
"Astaghfirullah," ucap Alisha. "Jangan kekanakan kamu Bram, jaga sikap sopan jika sedang bertamu ke rumah orang." Alisha menegur putranya.
Cis, Bram sinis. "Maaf kalau begitu, saya mengucapkan terimakasih yang sebanyak-banyaknya pada anda Tuan Dewa karena telah perduli pada kedua bayi saya." Bram membalas tersenyum lebih lebar dari senyuman Kiara.
"Maaf diterima tapi tidak perlu berterima kasih, saya menyukai bayi-bayi itu, mereka sangat menggemaskan." Kata Dewa basa-basi, yang mendapat tatapan sinis dari Baim.
"Perfecto, anda memang baik hati dan sangat tampan Pak Dewa. Walaupun ibunya tapi saya harus jujur bahwa anda lebih tampan daripada putra saya ini," ujar Alisha menepuk pundak Bram semakin memanasi hatinya.
"Ha!"
Bram tak percaya bahkan wanita yang melahirkannya sekongkol dengan istrinya, menjatuhkan harga dirinya.
"Anda bisa saja Nyonya, putra anda lebih muda dan lebih tampan," kata Dewa merasa sebagai orang yang waras sebaiknya mengalah.
Heg.
__ADS_1
Bram tersenyum hambar, dipuji seorang pria merasa dejavu serasa melihat Daniel di depan matanya. "Terimakasih kasih kembali Tuan Dewa, boleh saya bertemu dengan kedua bayi saya sekarang?" Bram.
"Tentu saja boleh, silahkan saya akan mengantar anda." Baim berkata cepat.
Semakin cepat bertemu semakin cepat pulang.
Dalam hatinya. "Mereka berada di lantai tiga kemungkinan masih belum bangun," jelas Baim berharap semoga tamunya sakit pinggang naik turun tangga.
Sitters yang mengetahui keberadaan Tuan dan Nyonya di ruang tengah segera datang menghampiri majikannya.
Berbaris teratur. "Nyonya Muda, Tuan muda selamat datang." Mereka menyapa sebelum Bram dan Kiara melangkah menaiki tangga.
"Ayo tunjukkan dimana kamar bayi-bayi," ujar Alisha pada Sitters.
"Baik Nyonya besar silahkan," jawab salah satu dari mereka bersamaan mendahului majikannya berjalan ke tangga.
"Dimanakah adik saya, Soraya?" Tanya Sabit, ia yakin adiknya itu sudah tidak diragukan lagi pasti bersama Kireni.
Ini kesempatan kita bertemu sayang, tunggulah aku segera datang menemui kamu.
"Masih tidur di lantai dua, harap jangan mendatanginya. Tunggu saja setalah bangun baru kamu boleh menemuinya!" Dewa berkata tegas tanpa segan-segan.
Cis, dengus Sabit kecewa.
Si Dewa ini benar-benar menunjukkan aura permusuhan denganku.
Jawaban Sabit hampir membuat Dewa muntah darah mendengarnya. "Kamu mencari adik atau Kireni?" Tanya Dewa melototin Sabit.
"Dua duanya sekalian, satu adik satu calon istri" Jawab Sabit gak mau kalah mop
"Kita lihat saja nanti apakah kalian berjodoh, tapi sebelum usia 19 tahun saya harap kamu menjaga jarak dengannya," sinis Dewa.
Ha!
"Itu bukan kita yang menentukan Paman, sebaiknya minta pendapat Kireni. Karena ini juga menyangkut kebahagiannya."
"Aku sebagai Paman harus menjaga keponakan menggantikan orang tuanya kan,"
"Syukurlah Paman sadar diri, kalau Kireni itu keponakan jadi tidak perlu berebut dengan saya."
Ha! Dewa terngaga.
"Walaupun Paman, kami bisa menikah karena tidak satu darah dari keluarga kandung."
Heg, Sabit terhenyak.
__ADS_1
"Hahahaha," tawa Baim.
*
Di lantai tiga di kamar bayi-bayi.
Cklekk!
Bram membuka pintunya.
"Oh."
Kiara berebut masuk duluan tak sabar ingin melihat kedua bayinya.
Bram melebarkan bola matanya melihat kelima bayi tidur saling silang, bayi yang satu menimpa yang lainnya.
Papa ganteng itu mendekati kedua bayinya yang tidur menimpa ke tiga bayi Lara, begitu juga Kiara, Dwi dan Alisha. Sitters menunggu tak jauh dari mereka.
"Sayang, jangan diganggu kasihan mereka bergadang semalaman," kata Kiara mencubit pipi salah satu bayinya.
"Kiara, kamu bilang jangan ganggu tapi tanganmu ini gratil sekali." Bram cemburu menangkap jemari istrinya.
"Tanganku lembut sayang tidak apa-apa," ujarnya.
Timbul rasa ingin mencium bayinya jadilah Kiara merangkak ke atas kasur agar bisa lebih dekat memandang wajah kedua bayinya. "Mereka agak kurusan," gumam ibu muda itu memandang mertuanya Alisha sambil mengelus satu satu pipi bayinya. "Sayang!"
Plak!
Kiara menepuk tangan suaminya saat hendak menyentuh bayinya. "Jangan ganggu," larangnya.
"Menurut kamu tanganku kasar?" Tanya Bram memandang gak senang pada istrinya.
"Tidak kasar kalau menyentuhku tapi bayi kulitnya lebih halus dari kulitku, sentuhanmu bisa membangunkan mereka," jelas Kiara.
Hehe, otak Bram mengembara ke malam pertama saat tubuh mereka menyatu, tidak dapat pipi bayi, pipi emak bayi pun jadi malah lebih enak lagi hihi. "Kulit kamu juga halus sayang, enak diraba." Akhirnya Bram mengusap pipi istrinya.
"Hei, kalian berdua." Alisha menegur mereka.
"Iya Ma, ada apa?" Tanya Bram kaget menarik tangannya dari wajah Kiara.
"Kamu jangan kegenitan kalau di depan orang, tidak punya malu itu namanya." Marah Alisha.
"Ma, sama istri sendiri harus memuji yang banyak walaupun di depan orang," jawab Bram. "Iya kan, Bi?" Bram bertanya pada Dwi.
"Kamu nanya bibimu? Burhan lelaki paling cool yang pernah Mama jumpa," ujar Alisha.
__ADS_1
***tbc.
like komen and share, 🙏