The Crane Dan Lima Bayi Kembar

The Crane Dan Lima Bayi Kembar
Bab.15


__ADS_3

Hah! "Bagaimana dengan model seksi yang dipesan?"


"Bos, Pak Dewa tidak suka dengan perempuan seksi. Di negara I juga begitu, masa bos tidak tau sih!" Jawab anak buahnya lagi alasan. Sebenarnya mereka tidak menemukan satu model pun yang mau dibawa ke daerah hutan rawa, khususnya malam hari.


"Jadi bagaimana sekarang? Kalau besok si Dewa masih hidup, kita yang mati!" Sarimon gelisah memarahi anak buahnya, gak ada satupun yang ligat kerjaannya.


"Mau bagaimana lagi, kita kabur saja Bos!" jawab anak buah Sarimon.


"Kamu pikir tidak bisa ketangkap kalau kabur, makin kita jadi buronan paham! Siapa yang berhasil membunuh Dewa sebelum pagi, akan ada hadiah ratusan juta," Sarimon memberi semangat anak buahnya, mereka pandang-pandangan.


Ratusan juta harga nyawa dikit amat.


"Bagaimana kalau kita lepas beberapa ekor ular ke penginapan Bos?" Usul salah seorang anak buah Sarimon.


"Lakukan sekarang, cepat! Lepas yang paling berbisa!" tegas Sarimon setuju.


Ide yang bagus, ini daerah hutan rawa. Bukankah wajar kalau mati digigit hewan melata.


"Dewa, anak ingusan. Habislah kau malam ini, hehe." Seringai Sarimon.


"Gimana kalau bukan Pak Dewa yang digigit tapi si Baim dan Bodyguard?" tanya salah satu anak buahnya.


Sarimon melotot. "Lepaskan sepuluh ekor, biar mereka rebutan mau gigit siapa? Cepat laksanakan!"


***


Kireni duduk manis di samping Dewa, pahanya ditutupi selimut. Ketiga orang yang duduk di depan dilarang melirik ke bawah meja.


Menu makanan berupa udang goreng, ikan bakar, dan bebek peking. Satu-satunya yang makan mie, adalah Baim. Makanan favoritnya gak jauh-jauh dari mie.


Kiren keluar air liur melihat mie Baim, cacing masak kuah dalam hatinya. "Paman, aku mau itu," tunjuk Kireni ke mangkok Baim.


"Beri dia Baim, kamu makan yang lain saja!" titah Dewa.


Ck, bos gitu amat sih! Gerutu Baim menyerahkan mangkok mienya pada Kireni. Kesempatan ke negara J mau makan Ramen asli, jadi batal hanya karena anak kecil yang gak tau asal usulnya. Kedua bodyguard tersenyum mengejek.


Belinya pelit amat sih, masa buat dia doang, rasakan lah! Jadi gak makan juga kan hehe, syukurin!


Segera Kireni melahap mie Baim, beruntung dia ahli menggunakan sumpit. "Hm, enak sekali cacing masak kecap," celetuknya.

__ADS_1


Ah, kontan Dewa berhenti makan. "Cacing masak kecap?" Ujarnya menatap Kireni.


"Ups," menyadari dia telah salah bicara lagi, lama-lama ketahuan jati diriku dalam hatinya.


"Kenapa kamu menyebut ini cacing?" tanya Dewa, Baim dan kedua bodyguard juga jadi ilfill mau makan, dasar mereka juga penjijik.


Aduh, mati aku dalam hati Kireni. "Kalau bukan cacing, apa dong?" Kireni balik bertanya sambil menyuap lagi mienya, mulutnya belepotan. Kaos Dewa juga jadi kotor di bagian dada.


Enak sekali cacing masak ala manusia, ah.


Kireni tidak perduli dengan tatapan heran orang-orang padanya, terus makan dengan lahap. Walaupun cara makannya berantakan, yang jatuh di meja makan dikutip lalu dimasukin mulut, sayang. Mau ngeluarin asinan kataknya, Kireni takut Dewa makin shock.


"Ini namanya mie rebus, Kiren! Bukan cacing masak kecap," ujar Dewa setengah tengsion jadi hilang selera makan.


Heran, si Kiren ini makhluk dari planet mana sih, segala mie dibilang cacing.


"Mie?"


Mungkinkah di alam manusia cacing dipanggil Mie, baiklah dalam hati Kiren cuek beibe. Yang penting makanan ini enak luar biasa.


"Bos, silahkan!" Baim mendorong bebek peking ke depan Dewa. "Tidak selera juga, perut harus diisi."


"Makannya pelan-pelan, Kiren. Gak ada orang yang mau merebut cacing masak kecapmu?" Celetuk Baim, senyum menggoda Dewa.


Aish, diingatkan lagi. Keluh kedua bodyguard kesal, makanan yang sudah masuk mulut nyangkut di tenggorokan. "Jangan gitu komandan, kan kita jadi geli."


"Baim!" tegur Dewa melotot pada asistennya, segera menyudahi makannya. Acara santap yang penuh dengan penderitaan melihat cara makan Kireni yang berantakan. Seperti anak kurang akal, aish Dewa menghela napas panjang.


"Kiren! Ini bebek Peking masak kecap, mau gak?" tanya Baim, melihat mangkok mie Kireni yang sudah kandas masih dijilat-jilat.


"Hm," angguk Kireni. "Baim, ada mie cacing lagi kah?" tanyanya menjilati bibirnya. "Benar-benar lezat, mau nambah lagi."


"Cuma satu porsi, Kiren. Besok kita beli Ramen yang banyak." Senyum Baim melihat Kireni gantian sekarang menjilati jemarinya.


"Apa itu, Ramen?" tanya Kiren, sambil ngelap mulutnya pakai baju.


Ck, decak Dewa miris melihat nasib kaosnya. Itu dia beli seharga 15 juta, merk Dunhill ori langsung dari designer di negara A jadi hancur gak berbentuk di tangan Kireni.


"Ya itu yang kamu makan namanya Ramen," jawab Baim.

__ADS_1


Tadi bilang mie, sekarang bilang Ramen. Mana yang benar, Baim?" tanya Kireni menjilat ulang mangkoknya.


Astaga ampun! Dewa membatin.


"Sama saja Kiren, Mie sama dengan Ramen, Mie...Ra...men." Baim mengeja untuk Kiren. "Kamu bisa baca tidak, di tutup mangkok ada tertulis," jelas Baim melempar tutup mangkoknya ke depan Kiren.


Oh, gawat!


Kiren memandang tutup mangkok lalu melemparnya kembali pada Baim. "Aku gak bisa baca, Baim," jawabnya, mengangkat sepotong bebek langsung dilahap masuk mulut.


"Wah," mata Kireni mendelik, kapan daging bebek jadi seenak ini...


"Apa! Kamu gak bisa baca?" seru Baim tatapan pada Dewa, anak siapa yang dikutipnya ini. "Berapa umur kamu, segede gini belum bisa baca?" lanjut tanyanya benar-benar takjub dengan penemuan bosnya itu.


Itu tulisan manusia ya gak bisa lah, beruntung bahasanya aku bisa mengerti.


Batin Kiren. "Kenapa, ada masalah?" tanyanya selow lanjut menggerogoti bebeknya. Enaknya jadi manusia, semua makanannya lezat-lezat hehe tawa dalam hati Kireni.


Astaga! "Enggak Kiren, gak ada masalah." Jawab Baim semakin aneh memandang Kiren. Sebagai anak yang tersesat, tidak ada rasa takutnya pada orang asing padahal tampang kedua bodyguard sangar-sangar.


Aku mau itu dong, Baim!" Pinta Kiren menunjuk udang.


"Oh, apa saja untuk Kiren. Ini namanya apa Kiren?" tanya Baim sekalian ngetes pengetahuan, mendekatkan piring udang ke depan Kiren.


"Ini udang, temannya ikan." Jawab Kireni, mengangkat satu udang besar langsung digigit.


"Pinter!" Suara Baim bersamaan dengan jeritan Kireni. "Aaaaa!"


"Hahahaha," tawa Baim dan Bodyguard serentak. "Kiren, darimana kamu belajar makan udang sama kulit-kulitnya?" tanya Baim.


"Baim!" tegur Dewa kasian pada Kiren, orang kesakitan malah diketawain.


"Aaaaa! Paman Dewa," tangis Kiren.


"Sini," Dewa bantu mengambil kulit udang dari sela-sela gigi Kiren dengan penuh kesabaran tingkat tinggi, mana giginya kecil-kecil. Tidak dipungkiri Dewa mulut Kiren sangat cantik pas mangap, lidahnya itu sangat seksi pas melet-melet.


"Baim, kamu pesan ke perwakilan kota Hokaido. Kirimkan pakaian gadis kecil ukuran 9 sampai 12 sekarang juga." Titah Dewa membuang jauh pikirannya, ternampak dada Kiren yang kecil menonjol. Kaosnya benar-benar jorok tidak mungkin bisa dipakai buat tidur, ia tidak mau baju lainnya jadi korban.


***tbc

__ADS_1


Like, komen and share. 👍


__ADS_2