
Di mobil menuju pusat kota Hokaido. "Kireni, coba kamu ingat-ingat lagi dimana tempat tinggal keluargamu?" Tanya Dewa lagi.
Aduh! Mau berapa kali bertanya, Kireni menggeleng. Tidak mungkin bilang kalau aku datang dari alam Peri batinnya.
"Baim! Kamu urus surat identitas untuk Kiren, dia akan ikut pulang ke negara I." Titah Dewa memutuskan.
"Siap Bos, data-datanya mau ditulis bagaimana?"
Hm, Dewa menghela nafas pelan. "Tulis saja namanya Dewi Kireni usia 9 tahun, masukkan saya sebagai walinya."
Baim melihat dari spion, serius neh batinnya. Selain wajahnya yang cantik apa istimewanya si Kiren dalam hati Baim tidak mungkin hanya karena paras rupa. Memandang Dewa selama ini tidak pernah tertarik, bahkan dengan wanita tercantik di dunia sekalipun. Jadi ini kejadian langka dan aneh sekali...
***
Di negara I.
Claudia gelisah tidak ada kabar dari Dewa, mau nelpon duluan dia gengsi. Sekarang ia sedang di klinik perawatan kecantikan mau relaksasi. Memikirkan Dewa otaknya serasa mau pecah, gundah gulana cemburu gak beralasan.
"Lihat siapa ini?" Florentina, teman satu profesinya datang menghampiri. "Duh, yang seminggu lagi mau nikah masih keluyuran." Sindirnya.
"Emang gak boleh." Claudia jutek.
"Bukankah biasanya calon penganten dipingit?"
"Bukan urusan, Lu!" Ketus Claudia tanpa memandang, pura-pura sibuk dengan ponselnya.
Melihat sikap Claudia, Florentina merasa bersalah. "Terserah lu mau nyalahin gua kayak Arya, tapi gua berani sumpah! Orang yang bikin kakak lu mabok sampai gak bisa bangun itu, gua juga baru kenal semalem."
"Sudahlah, kita ini sama-sama anak main. Lu gak bisa bohong di depan gua Flo." Claudia kesal mengingat kebiasaan buruk Arya, gak bisa nge-rem kebiasaan minumnya apalagi ketemu yang gratis.
"Arya itu pacar gua Claudi, gak mungkin kan gua nyelakain dia. Gua juga korban, kita itu sama-sama korban. Semalam kita bahkan lupa pake pengaman, hah!" Semoga aku hamil, biar cepat dihalalin.
Claudia melihat Flo sedang tidak berpura-pura. "Lu udah tau siapa orangnya?" Tanyanya mulai melunak.
Belum! Tidak ada data mengenai orang itu karena dia bukan member. Tapi kalau ketemu gua masih ingat wajahnya."
"Kalau itu Arya juga ingat tapi jika bukan member, gimana bisa masuk Club?"
Flo juga penasaran. "Nah, itu dia..." Ucapannya terputus tiba-tiba.
"Baby." Seorang pria tampan datang menyapa.
Claudia tercengang, siapa lagi orang yang manggil dia Baby kecuali si brengsek Doni Darman. "Ngapain lu di salon cewek?"
"Jangan sinis gitu Baby, gimana juga aku masih pacar kamu," rayu Doni dengan tatapan penuh rindu.
"Pacar dari mana!" Claudia kesal.
__ADS_1
"Son, aku mau berdua dengan Baby please. Lu juga Flo." Doni mengusir halus Sonia dan Florentina.
"Gak, lu jangan kemana-mana Mak!" Claudia menahan tangan Asisten pribadinya itu. "Gua gak mau ada gosip untuk sebulan ke depan, please! Jangan ganggu hidup gua, Doni. Kita udah masa lalu."
"Baby, aku tuh masih cinta sama kamu. Kita juga belum ada kata putus kan!"
"Gua gak cinta sama lu dan setelah kejadian itu kita putus automatically, lu dan gua end."
"Aku masih simpan photo-photo kebersamaan kita, kamu bayangkan kalau itu ke publish."
Hahahaha. "Donii...Darmanto! Jangan pikir asisten Dewa si Baim itu gak nyelidikin masa lalu gua sebelum keputusan menikah. Maka dari itu, gua gak takut ancaman lu! Silahkan pergi sekarang juga atau lu berhadapan dengan Sekuriti."
Melihat raut gak senang anak emasnya. "Doni, silahkan lu pergi sebelum gua tonjok." Gak tahan Sonia mendorong Doni dengan tenaga prianya.
Doni bergeming. "Baby, please. Kamu tau si Dewa gak suka cewek, kemana-mana dia dikelilingi laki-laki."
Hah! "Gua udah tidur sama dia, Doni! Mau ngomong apa lagi, lu."
Kamvreet! Dony mengepal tangan kesal, sudah lama dia kepingin malah keduluan orang lain. "Tapi yakin dia mencintai kamu, jangan-jangan cuma pencitraan."
"Diam!" Bentak Claudia merasa tertohok, mana Dewa belum menghubungi nya. "Mbak!" jeritnya memanggil pegawai salon. "Saya bilang gak mau diganggu, kenapa ada orang yang menyebalkan ini?" Marah Claudia pada pegawai salon yang datang menghampirinya.
"Maaf mbak Claudia," ucap pegawai menunduk pucat, gak tau apa-apa cuma dijadikan tumbal untuk dimarahi.
"Mentang-mentang dia aktor populer, kalian langsung memberi nya ijin. Dibayar berapa?" Bentak Claudia benar-benar emosi, dia takut ada mata-mata Dewa lalu salah paham.
Argh! Tepis aktor papan atas itu kesal.
Hais, keluh Florentina. Jangan sampai ketahuan kalau dia yang nyogok pegawai untuk memberi mereka info keberadaan Claudia di salon ini.
"Baby, jangan bilang aku gak ngingatin kamu." Doni menunjuk-nunjuk ke wajah Claudia, gak terima dirinya dicampakkan.
"Lakukan apa yang ingin kamu lakukan, uwek!" Ejek Claudia memeletkan lidahnya.
"Maaf, Pak Doni. Silahkan anda keluar sekarang." Akhirnya dua sekuriti berbadan tegap datang melerai.
"Ingat Baby, urusan kita belum selesai."
Claudia melongo. Hais, Florentina menyeret paksa Doni keluar.
"Kita pergi aja, Mak!" Ajak Claudia.
Hm. "Tadi juga gua udah ngingatin lu, jangan keluar dulu sebelum tanggal menikah!" Keluh asistennya.
"Iya, maaf."
Baru kali ini Claudia benar-benar bete sepanjang hidupnya hanya karena seorang Dewa.
__ADS_1
***
Di negara J, di sebuah super Mall.
Dewa menggandeng Kireni mutar-mutar cari barang-barang keperluan anak perempuan. Gadis kecil itu senang sekali diajak shopping, tak lupa Dewa membelikannya sebuah ponsel canggih keluaran terakhir. Seperti halnya laptop, Kireni cepat ahli menggunakan gadgetnya. Selfi-selfi sampai lebih seratus photo sepanjang tempat yang mereka lalui.
"Kiren, jangan lupa ngecarge batere." Pesan Dewa.
"Baik, Paman." Ckrekk...ckrekk, tak lupa mengambil photo Dewa.
"Sekarang kita makan, kamu lapar kan?"
Biji mata Kireni membesar lalu mengangguk, walaupun tidak terasa lapar namun karena makan adalah hal yang sangat menyenangkan baginya.
***
Di restoran sebuah Mall kota Hokaido.
Dewa, Baim dan Kireni lunch bersama, tidak ketinggalan dua bodyguard.
Sambil makan Kireni sibuk ber selfi ria, update status di sosial media. Kecepatan browsingnya luar biasa, Baim gak percaya dengan apa yang dilihatnya.
"Kenapa Baim?" tanya Dewa memandang raut asistennya yang terheran-heran.
"Baru semalam bilang tidak bisa membaca sekarang sangat lancar mengetik di ponselnya, apa bos tidak heran?" Tanya Baim.
Hm. "Itu tugasmu," jawab Dewa singkat.
Maksud Dewa yang ditangkap Baim adalah cari tau sampai dapat bagaimanapun caranya, mengenai asal-usul Kireni.
"Paham," angguk Baim.
Selesai makan, Dewa memerintahkan Baim take away beberapa menu untuk dibawa pulang ke penginapan.
Baim memborong semua sesuai dengan permintaan Kireni, cukup membuatnya dan kedua bodyguard kerepotan harus membawa paket makanan ditambah paper bag belanjaan, masing-masing belasan kotak.
***
Di mobil menuju Apartemen Dewa, Claudia melamun menatap ponselnya.
Sonia yang sedang menyetir melirik Claudia. "Lu aja yang ngalah telpon duluan," usulnya mengerti apa yang diresahkan Claudia.
"Percuma Mak. Selalu Baim yang jawab, Dewa gak pernah mau ngangkat kalau gua yang telpon."
***tbc.
like, komen and share. 👍
__ADS_1