
"Nomor ponsel baiklah," ujar Kireni mengerut dahi memandang hape Sora.
Ternyata ada yang lebih lebar dari hapeku.
Batinnya. "Ponselmu lebar sekali," gumam Kireni yang masih bisa didengar teman baru kenalnya itu.
"Ini namanya tablet Kiren," jelas Sora merasa aneh dengan pertanyaannya. "Kamu gak tau tablet kah?"
Sora seolah merendahkan pengetahuannya, benar-benar penghinaan batin Kireni.
"Iya, tau!" bantahnya ngeles, jangan sampai Ketahun bodohnya. "Maksudku, tidakkah itu terlalu lebar untuk jari kecilmu?" Kireni bertanya menunjuk tangan Sora memang agak kewalahan.
"Tidak apa, karena gambar gede paling enak kalau mau lihat yutub. Kan ada cover dan tas penyimpanannya juga." Sora menunjuk tas ranselnya, membanggakan tablet kesayangannya.
"Iya, terserah kamu saja." Kireni ngalah pada teman barunya.
Bagaimanapun kehadirannya barusan telah menyelamatkan nya dari masalah besar. Karena kalau tadi Sora tidak menahannya teleportasi, bisa heboh dunia nyata dan dunia maya. Bisa mati berdiri atau paling tidak pingsan, hihi.
Kireni terkikik geli membayangkan kalau itu sempat trending, maka tidak ada tempat lagi baginya di bumi ini.
"Terimakasih tadi sudah memanggil namaku," ucapnya bersungguh-sungguh sambil meraba ke dalam saku bajunya.
Kireni gak marah aku panggil, malah berterima kasih hihi lucu sekali.
Dalam hati Sora merasa lega, padahal tadi dia sudah was-was. Setelah berteman, Sora jadi tau sifat Kireni agak sedikit galak tapi hatinya baik dan tulus. Sifat mengalahnya membuat Sora merasa seperti disayangi kakak. "Sama-sama," ucapnya masih dengan hape standby di tangan.
"Jadi bisa kita tukaran nomor sekarang," lanjut Sora tersenyum semanis madu.
Jangan sampai gagal, kelihatan Kireni seperti sedang mengulur waktu. Kayak mau ngasi kayak mau enggak.
"Oke," jawab Kireni.
"Yes," pekik Sora kegirangan.
Karena bajunya hasil dari mantra sihir jadi Kireni menyimpan hapenya di kantong Peri yang ada di dalam sakunya, enak kan? Sekarang dia ada akal untuk mendesign bajunya sesuai kebutuhan.
"Berikan nomormu aku save nanti miss call," pinta Kireni telah mengeluarkan hapenya.
"Akun sosial media juga ya," ujar Sora.
"Baiklah."
"Alhamdulillah," ucap Sora, merasa senang tidak jadi kehilangan teman.
Semua itu tak luput dari perhatian Baim.
Lumayan bisa mengulur waktu sejenak.
Dalam hatinya yang baru saja menghubungi Dewa, mengatakan agar cepat datang karena Kireni mencarinya
__ADS_1
Gleg!
Jakunnya menggulung melihat kedua anak telah selesai tukaran nomor dan juga akun sosial media.
Cepatlah Pak Dewa kalau tidak ingin ketahuan.
Dalam hati Baim memohon.
"Baim," panggil Kireni.
"Yups!" Baim pura-pura kaget. "Ada apa Nona Kiren?"
"Kamu jangan pura-pura pikun, ayo antar aku ke tempat Paman Dewa. Dia sekarang sedang bersama per...ups!" Kiren gak jadi marah segera ngerem mulutnya yang sering kali hampir keceplosan.
Jangan sampai Baim mencurigaiku sebagai makhluk aneh.
"Ayo, cepat bawa aku ke tempat Paman!" Paksa Kireni gak sabar, menarik-narik tangan Baim yang kelihatan malas bergerak.
Bagaimana gak malas, Dewa mewanti-wanti jangan sampai Kireni masuk ke Ball Room.
Selesai akad katanya dia akan langsung keluar, tapi mana? Sampai sekarang belum muncul batang hidungnya, ah! Berapa lama bisa menahan Kireni?
"Sabarlah Nona Kiren, sebentar lagi juga selesai. Bagaimana kalau balapan lagi, tuh ditungguin."
Baim menunjuk pada kelima bayi yang dari tadi ikut mendengarkan perdebatan Kiren dan Sora dengan dikawal oleh sitters dan Bodyguard masing-masing.
Sora yang lagi browsing sosial media teman barunya ini, sampai terjengkit kaget, tapi tidak sekaget melihat pengikut Kireni satu juta followers dalam empat hari.
Aku saja setahun baru satu juta setengah dalam hati sora merasa cemburu.
"Hahahaha."
Terdengar suara bayi-bayi yang tertawa, lucu melihat kakak cantik kesal sampai mau nangis.
"Udah gede gak malu nangis yee, kita dong udah enggak," ledek Lara Sebi si paling vocal.
"Hahahaha."
Bayi-bayi kembali tertawa, sitters jadi sibuk ngutipin empeng yang berjatuhan dari mulut anak asuhnya.
Ada ratusan empeng baru di tas mereka, kalau jatuh langsung buang tidak boleh dipakai ulang itu perintah Tuan Muda Bram (Direktur utama WJ grup, Papa dari si kembar Moni and Choi). Bayangkan saja Bram sampai mengakuisisi sebuah perusahaan empeng di Amrik demi Bayi-bayinya.
Mendengar Kireni ditertawai anak buahnya, Sora jadi kasihan pada temannya. "Tenang Kiren, aku bisa mengantarmu!" ujarnya menenangkan Kireni.
Padahal dia penasaran ingin melihat langsung wajah Paman tampan yang ada di galeri album sosmed Kireni, begitu banyak photo Kireni cantik-cantik semua tapi wajah Paman tampan lebih menarik perhatian Sora.
Mungkinkah ini paman yang dimaksud, ya Tuhan betapa beruntungnya kalau aku juga keponakannya. Bisa setiap hari melihat wajahnya.
"Ya sudah, ayok!" Kireni menghempaskan tangan si malas Baim. "Kau sungguh tidak berguna!"
__ADS_1
Astaga!
"Eee..ee, anak-anak tunggu-tunggu!"
Dengan tangan kekarnya Baim menahan pinggang dua anak perempuan yang hampir kabur, tubuh mereka terangkat jadilah kaki mereka menggantung di udara meronta-ronta.
"Aaa!"
Sora menjerit kaget, sementara Kireni mendesah marah, hah.
"Apa lagi sih Baim? Kamu kalau malas duduk aja yang manis, jangan halangi kami!" Ketus Kireni setengah emosi.
"Bukan begitu Nona Kiren, dengar dulu Baim ngomong. Paman Dewa ada acara penting, sebaiknya kita tidak mengganggunya, ya. Please!" Baim memohon tampang disedih-sedihkan.
"Aku tau semua tentang Hotel WJ, bisa katakan lebih spesifik acara penting apa?" tanya Sora mendelik di wajah Baim.
Etdah, Baim gak tahan mendengar ucapan bocil sok intelek.
Melihat Baim terdiam. "Kamu tau acara apa di Ball Room Hotel lantai empat?" Tanya Kireni pada Sora.
"Itu pertanyaan mudah," jawab Sora sombong. "Baim, cepat turunkan kami!" Bentak Sora, hah..Baim ngalah menjatuhkan kedua anak itu menjejak bumi.
"Huh!"
Sora menarik nafas lega sebelum bicara. "Di lantai empat ada Ball Room termahal nomor satu di ibukota Jkt, setahuku tidak ada meeting disana tapi acara pernikahan seorang Top Model Internasional," lanjutnya berkata lantang.
Duarr!
Kireni seperti mendapatkan hukuman petir mendengar perkataan temannya. Saking sakitnya perasaan Kireni, dia menduga peringkat Perinya akan naik level setelah ini. Tapi tidak, dia baru sembilan ratus tahun. Masih ada seratus tahun lagi, waktu baginya ujian naik peringkat.
"Apa! Apa tadi katamu, coba ulangi!" Kireni suara kencang di wajah Sora.
"Ups!" Sora mengatup bibirnya, mungkinkah dia telah salah bicara.
Oh my God, please help me.
Dalam hati Baim merasa kariernya akan berakhir hari ini.
"Katakan pernikahan siapa?" jerit Kireni lagi.
"Maaf, apakah nama pamanmu Dewa Erlangga?" Sora bertanya takut-takut.
Hm, angguk Kireni, cus..air mata tumpah di wajahnya.
"Ya Tuhan!" Ucap Sora prihatin dengan nasib Kireni.
***tbc.
Like, komen anda share, Thanks 👍.
__ADS_1