
Berkata Sabit dengan wibawa seorang pria yang sudah akhil baligh. "Kamu tau karena mantramu itu, sekarang ibu kota Jkt pusat khususnya sepanjang jalan protokol terlihat jadi seperti kota hantu. Gelap tidak ada cahaya listrik sampai saat ini, sepi dan tidak berpenghuni," jelasnya dengan nada diseram-seramkan.
"Semua yang menginap di hotel WJ hilang tersapu Mantramu entah kemana, kalau Hotel kosong darimana ada penghasilan? Dalam satu hari ini saja Paman Arjit dan Nena Alisha sudah menghitung jumlah kerugian sebanyak 12 milyar, karena tidak ada pemasukan. Tamu-tamu semua menghilang tidak ada yang membayar uang sewa menginap kamar, bagaimana kalau itu berlanjut sampai besok, besoknya lagi sampai satu bulan. Dan orang-orang tidak ada yang berani lagi datang ke Hotel karena takut tersapu oleh mantramu, hitunglah sendiri 12 Milyar kali sebulan berapa kerugian yang harus ditanggung Papa kalian berdua," lanjut Sabit panjang kali lebar menekan Moni dan Choi sambil melirik pada Kireni yang juga sedang menatapnya. Sabit tersenyum dalam hati karena mendapat perhatian dari ceweknya.
Belum jadian Sabit jangan geer dulu..
Gleg.
Kireni meneguk liurnya, ternyata separah itu dalam hatinya. Kalau dia manusia normal bisa dipastikan wajahnya pucat seputih kertas gambar. Tapi memanglah wajahnya putih banget, lebih bersih dari kertas gambar.
"Belum lagi Gedung perkantoran WJ, tidak ada karyawan yang melakukan pekerjaannya. Semua urusan terbengkalai, pengiriman ke proyek tahap tiga kota reklamasi jadi terhambat. Pembangunan gedung stop karena tidak adanya stock bahan material." Semakin menjadi-jadi Sabit menakuti bayi-bayi.
Mendengar itu. "Hiks hiks," Kireni menangis terisak merasa sangat bersalah.
Bukan bayi yang melakukannya tapi diriku.
Dalam hati Kireni ingin rasanya berteriak mengatakan semuanya dengan jujur bahwa dialah biang keroknya.
Melihat Kireni bersedih Choi merasa menyesal, ternyata jadi penyihir itu tidak semudah mengarahkan telunjuk saja. "Uwaaaaa.. aaaa," tangisnya kencang, air mata bercucuran.
"Uwaaaaa." Moni juga ikutan menekan gasnya langsung gigi 4. Sepertinya tidak lama lagi dirinya dan Choi akan dinikahkan demi menyelamatkan grup WJ dari kebangkrutan.
"Uwaaaaa." Sebi dan Sevi serentak. Berbagi suara satu dan suara dua gak mau kalah merdu dari teriakan Moni dan Choi.
"Uwaaaaa, aaaa." Duta paling kencang diantara semua, nangisnya double-double.
Antara sedih melihat Kireni menangis atau karena rasa solidaritasnya terhadap saudari-saudarinya, entahlah. Dia sendiri bingung, kan gua laki gitu loh dalam hatinya sih. Akan tetapi tidak bisa berhenti menangis, apalagi melihat Kakak cantiknya bersedih. Benar-benar gak sanggup hatinya sakit bagai teriris sembilu tajam.
Kelima bayi teriak saling bersahutan sambung menyambung menciptakan melodi irama kesedihan yang memilukan bagi siapa saja yang mendengarnya.
Suara mereka terdengar sampai ke ruang keluarga dimana Arjit, Dewa dan Alisha membahas masalah Jkt pusat. Khususnya sepanjang jalan protokol, termasuk mengenai Bapak Walikota yang juga ikut terlempar pulang ke kampungnya di Solo. Keempat mereka tidak ketinggalan Baim, saling bertukar pandangan.
"Uwaaaaa.. uwaaaa," teriakan kelima bayi semakin kencang.
__ADS_1
Melihat Kireni tak bisa berhenti menangis bahkan semakin kencang juga. "Huuuuu, uuu."
Sedih banget melihatnya, Sabit gak tahan jadi pengen meluk tapi sudah keduluan adiknya, aish. Sabit kesal, ingin rasanya memundak Sora melemparnya jauh ke Negara A bertemu Omje yang dirindukannya.
"Sudahlah jangan sedih Kireni, ini juga bukan salah kamu." Sora membujuk temannya yang baperan.
Aish, Sabit semakin kesal karena ceweknya itu makin terisak. "Huuu uuu..hiks hiks."
Yang diiringi oleh suara kelima bayi. "Uwaaaaa aaaa."
Sitters kebingungan gak tau harus bagaimana mendiamkan anak asuhnya.
"Ada apa, kenapa menangis?" Alisha pun telah sampai ke kamar bayi masuk bersama Dewa dan Arjit disusul Baim yang selalu membayangi kemanapun Bosnya pergi.
Melihat Kireni bersedih, segera Dewa meraih gadis kecilnya masuk ke dalam pelukan.
Sabit yang melihatnya hampir muntah darah, oh no. Mengira saingannya cuma Baby Duta, bayi mah kecil tapi yang ini lebih besar. Dapatkan Sabit mangalahkannya?
Ini hanya pelukan sayang seorang Paman pada keponakan kan?
"Kenapa bayi menangis?" Alisha bertanya lagi pada Sitter.
"Kenapa akhir-akhir ini aku jadi sering mendengar cucuku menangis, kalian juga kenapa diam saja tidak berusaha mendiamkan bayi-bayi." Alisha menegur sitters yang akhir-akhir ini tidak becus bekerja.
Semakin ramai semakin rusuh dalam hati Alisha.
Mendengar itu Sora merasa perlu membela sitters yang tidak bersalah. "Sabit tuh Ma yang nakut-nakuti kelima Bayi," ujarnya melempar kesalnya pada Kakaknya itu.
"Lho, kenapa jadi nyalahin aku sih!" Marah Sabit.
Gak senang dong dia disalahkan apalagi di depan Kireni ya kan, bisa jatuh harga dirinya sebagai cowok polos, ah.
"Gara-gara ucapan kamu tuh, bayi-bayi jadi menangis!" Sora menjawab ketus. "Benar kan, bayi-bayi?" lanjutnya bertanya pada kelimanya.
__ADS_1
"Uwaaaaa, aaaa." Bayi-bayi semakin menangis teringat ucapan Sabit memang menusuk di hati terutama buat Moni dan Choi.
"Sudah sayang cucu-cucu Nena, jangan sedih sebentar lagi Papa dan Mama kalian sampai dari Negara A. Mereka sudah dalam perjalanan ya, jangan sedih lagi."
"Uwaaaaa waaa, aaaaa." Bayi semakin teriak histeris.
Astaga! Alisha sampai terlonjak kaget.
Apa yang salah dengan ucapanku?
Dimana-mana bayi kalau bertemu orang tuanya pasti senang kenapa cucunya tambah teriak.
Dasar kurang ajar, pasti si Bram ini yang kasar pada kedua bayi makanya minta ikut aku ke Jkt.
Dalam hati Alisha kesal, berjanji saat mereka sampai nanti ia akan memarahi putranya itu habis-habisan.
Melihat Alisha terbengong, merasa ketakutan pada mereka. Seolah takut dirinya dilempar ke dimensi lain kalau sedikit saja salah bicara. "Nena jangan salah paham, kami menangis karena Ka Kiren bersedih. Dan yang kedua karena Papa Bram dan Ayah Yudi akan datang menjemput, kami berlima tidak mau pulang ke Negara A. Mau disini bersama Kak Kireni," jelas Sebi merasa ini adalah tugasnya sebagai juru bicara dan sebagai ketua kelompok untuk menjalankan tanggung jawabnya.
"Hm," keempat Bayi lainnya mengangguk serentak.
"O." Alisha membuka mulutnya lebar.
Syukurlah bukan karena Bram kasar pada kedua cucuku...
Dalam hati Alisha lega. "Ya sudah nanti saat Papa datang Nena bilangin agar membiarkan kalian disini lebih lama lagi, sudah ya. Jangan menangis lagi." Alisha membujuk kelima bayi-bayi bijak itu.
"Sitters, sudah waktunya memandikan bayi-bayi." Lanjutnya memerintah pada kelima pengasuh cucunya itu.
"Nena kami mau mandi di Hotel WJ," ujar Sebi lagi dengan suara nyaringnya.
"Ha!" Alisha tidak bisa tidak terkejut.
***tbc.
__ADS_1
Like, komen and Share 👍.