The Crane Dan Lima Bayi Kembar

The Crane Dan Lima Bayi Kembar
Bab. 22


__ADS_3

Tiga hari berlalu tidak ada kabar dari direktur Hikado and co yang hilang tanpa jejak.


Sarimon berhasil melacak jejak dana perusahaan yang hilang, Dewa mengangkatnya jadi pemimpin sementara mewakili dirinya sambil terus mencari keberadaan Sirobune Hikado.


Waktunya pulang ke negara I bagi Dewa dan Baim, jangan sampai lupa membawa Kireni. Dewa tidak sanggup berpisah dengan anak itu. Kalaupun nanti bertemu dengan keluarganya, Dewa hanya ingin meminta Kireni baik-baik untuk diangkat jadi anak asuhnya.


Dengan tidak ditemukannya identitas yang jelas dan dari seringnya Kireni menghilang lalu tiba-tiba muncul kalau dipanggil, kecurigaan Dewa terhadap Kireni bukan manusia biasa semakin bertambah.


Benar-benar penasaran tentang asal-usulnya, kemungkinan yang bisa diterima akalnya adalah Kireni berasal dari bangsa Jin. Tapi karena di punggungnya ada gambar Bangau jadi seperti tidak singkron. Maka dari itu Dewa bertekad, akan terus mencari tahu asal usul Kireni yang sebenarnya.


Baim membawa mobil ke landasan pesawat diparkir, diantar oleh Sarimon dan beberapa staf terkait.


Kireni teringat pernah menumpang di sayap burung ini bersama Mengyue, "aaaaaa, tidak mau!" teriaknya saat diajak masuk ke pesawat memeluk Dewa erat. "Uwaaa!" Air mata dan keringat bercucuran anak itu ketakutan luar biasa.


Dewa memeluk Kireni posesif, berusaha menenangkan gadis kecil di gendongannya.


"Tidak apa-apa kan ada Paman," pujuk Dewa. "Kita pulang ke rumah, ya."


"Rumah?" gumam Kireni heran kenapa pipinya basah. Sebagai Dewi Bangau, belum pernah ia mengeluarkan air sederas ini dari matanya.


Ha, bukankah rumah berada di villa hutan rawa batinnya, "Pulang." ujar Kireni menunjuk ke arah jalan mereka datang.


Dengan sabar Dewa menjelaskan. "Bukan Kiren, itu bukan rumah tetap kita. Rumah kita ada di negara I ada juga di negara A dan diberbagai belahan negara lainnya. Karena itu, kita memerlukan pesawat sebagai transportasi untuk kesana-kemari."


🎶Mencari alamat🎶, sambung Baim bernyanyi, hihi.


Kireni tercengang mendengarnya. Heh! Dewa meringis pada asistennya, gak nyangka Baim punya selera humor setelah bertemu Kireni.


Banyak sekali rumah, tapi Kireni takut masuk ke dalam perut burung. Bagaimana kalau aku nyusul saja terbang dengan sayap sendiri atau bisa juga duduk manis di pungggungnya.


O~ow!


Kireni teringat pesan Mengyue. Manusia fana tidak boleh mengetahui bahwa mereka dari bangsa Peri.


Dewa memerintah Baim membrowsing blognya tentang pesawat di ponselnya, ditunjuklah pada Kireni.


Dengan kecepatan membacanya, Kireni jadi mengerti bahwa naik pesawat itu tidak berbahaya kecuali jatuh mati mesin. Tapi itu tidak masalah bagi dirinya yang punya mantra sihir. "Jadi aku harus masuk ke dalam perut burung ini," gumam Kireni, Dewa tertegun.


Masuk ke perut burung?


Bertemu pandang dengan Baim yang tersenyum geli, Dewa mendelik. Baim mengkerut menahan tawa. "Maaf bos."

__ADS_1


Sarimon dan para staf juga senyum-senyum melihat interaksi Kireni dan Dewa serta Baim, hanya wajah dua bodyguard yang terpasang ketat tanpa ekspresi.


Pilot dan kru menyambut majikan mereka masuk ke dalam pesawat, dalam hati penasaran siapa gadis yang di gendongan Dewa tapi tidak ada yang bersuara.


Setelah di dalam kabin Dewa menurunkan Kireni duduk di bangku sebelahnya. Ternyata sangat nyaman, tidak seburuk perkiraannya. Kirain ada usus, jantung atau paru, hehe. Suasananya sama seperti rumah. Lalu tersenyum memandang Dewa, Kireni malu teringat tadi ia menangis menjerit-jerit ketakutan.


Dewa mengusap wajah Kireni yang basah. "Bagaimana, enak tidak naik pesawat?"


Hm. Kireni mengangguk setuju, kalau begini tidak perlu capek mengepak sayap.


Ternyata alam manusia lebih canggih, alam peri kuno tidak ada apa-apanya.


Dalam hati Kireni kembali sibuk dengan ponselnya, dia lagi seru sama satu game online.


Kiren, saat take off jaringan harus dimatikan begitu juga saat landing. Tapi kamu masih bisa bermain game offline," terang Dewa.


"Baiklah Paman tapi game offline gak seru," protes Kireni sambil menekan tombol offline di layar ponselnya.


"Kalau begitu kamu dengarkan lagu saja," ujar Dewa.


"Lagu, bagaimana?"


"Sini," Dewa mengeluarkan ponselnya, memberikan satu headset di telinga Kireni. Memutar musik kesukaannya, River Flows ini You versi Edward Cullen lebih lembut sebagai pengantar tidur.


Dewa senang Kireni mudah diberi pengertian, daya tangkapnya diatas rata-rata. Penasaran berapa kira-kira IQ nya, Dewa jadi ingin menguji nanti setelah tiba di negara I.


Terbang sambil mendengarkan lagu, Kireni menikmati pemandangan awan dari jendela. Kelihatan sepasang Peri sedang kejar-kejaran di atas awan sambil tertawa-tawa, Kireni coba mengambil gambar. Hanya awan yang kelihatan tidak ada Peri.


Kamera tidak bisa tembus ke alam peri, heh!


Kireni membuang muka malu, melihat Peri pria mencium peri wanita. Jadi mereka sepasang kekasih dalam hati Kireni.


Jauh setelah pesawat terbang dari dua peri yang sedang pacaran, ada kilau cahaya api yang terang di dalam awan berwarna hitam. Kireni melihat ada beberapa peri sedang mengadu ilmu kesaktian, aih ada-ada saja batinnya khawatir takut berimbas pada pesawat terbang.


Kireni tidak mau melihat lagi, menoleh pada Dewa yang terpejam di sampingnya. Wajahnya sangat tampan jadi ingin menciumnya, hihi tapi Kireni malu merasa gak pantas.


"Kamu gak mau tidur?" tanya Dewa membuka mata.


Ups! Kireni kaget dan malu telah ketahuan memandangi wajah Dewa. "Enggak," jawabnya cepat. Kalau mengikuti ukuran alam peri, bisa setengah tahun sekali dia tidur di alam fana.


Hehe, pasti dianggap aneh. Aku harus pura-pura tidur mengikuti manusia bumi, biar Paman gak curiga.

__ADS_1


"Hoaaaam." Kireni menguap.


"Itu ngantuk, tidurlah Kiren. Masih ada dua jam lagi kita terbang."


Kelembutan Dewa menyentuh sanubari Kireni jadi semakin nge-fans pada Pangeran Poenix.


"Iya, baiklah." Kireni memejamkan mata, Dewa membawa kepalanya nyender di bahunya. Mereka tiduran sambil mendengarkan musik melalui headset bluetooth.


***


Di negara I.


Claudia di kamarnya di rumah orang tuanya, menunggu dengan sabar walaupun tidak ada kabar dari calon suaminya. Dua hari lagi pernikahan, besok sudah harus ke hotel untuk persiapan. Dewa benar-benar kelewatan, tidak ada cinta di hatinya untukku. Hah, apa yang kau harapkan Claudia.


Tok tok tok. Suara ketukan di pintu.


"Odi!"


"Ya Ma!"


Jawab Claudia mendengar suara Nyonya Santoso, paling sebel dipanggil Odi kayak nama cowok. Sudah lama dia membiasakan diri memanggil Claudi, cuma Mama yang gak nurut tetap aja manggil nama kecilnya itu.


"Waktunya makan malam," Mama mengingatkan.


Aku harus menyimpan tenaga untuk hari H yang melelahkan.


Claudi bangun membuka pintu dengan wajah lemas.


"Belum ada kabar dari Dewa?"


Hm, Claudia merengut, menggeleng sedih.


"Jangan khawatir, Dewa sudah sampai Jkt dari kemarin."


Mendengar Mama, Claudia tercengang kenapa dia kurang informasi. "Benar Ma!"


"Benarlah, diam-diam Papamu mengirim mata-mata ke negara J."


"Oh."


Walaupun senang tapi belum seratus persen, kalau memang sudah sampai dari kemaren kenapa tidak menghubunginya. Claudia Kembali sedih.

__ADS_1


***tbc


like, komen and share, 👍


__ADS_2