
"Sepertinya kawasan timur ini memang jarang didatangi Peri, Kiren. Tidak ada hawa peri sedikitpun selain dari baumu," jelas Mengyue setelah mereka berbaur dengan Bangau fana.
"Apakah kamu mencium bauku?"
"Tentu saja, Kiren. Aku bisa mencium baumu dari jarak 100 meter. Kamu juga harus gunakan hidungmu itu, bagaimana kalau ada siluman jahat mengintaimu? Kamu harus bisa merasakannya dari jarak jauh kalau mau selamat."
"Baiklah Mengyue, apakah bau setiap peri itu sama?"
"Tidak Mengyue, kamu bisa mulai dengan bauku. Bisanya setiap rubah memiliki bau yang sama denganku, cuma dibagi lagi dengan ciri khas masing-masing."
"Bagaimana dengan bauku?"
"Baumu sangat enak Kiren, kamu peri Bangau terwangi yang pernah ku cium. Sebaiknya kamu hati-hati Kiren, hawamu ini adalah santapan lezat bagi siluman jahat."
Oh, gumam Kiren.
"Terlihat dari ketatnya Ayahmu menyembunyikan auramu ini, mungkin karena belum setengah hari kamu hilang menurut ukuran alam peri makanya kamu belum dicari oleh kelurgamu ya,"
"Hehe, aku juga maksudnya begitu, akan kembali sebelum 24 jam."
"Kamu di Bumi sudah berapa lama?" tanya Mengyue.
Pertama kita bertemu itu baru 7 kali matahari kembali ke Barat."
"Artinya seminggu, kamu masih Banyak waktu. Jangan lupa, setahun waktu Bumi sama dengan satu hari di alam peri."
"Asiap, Mengyue. Banyak sekali Bangau fana tapi sepertinya aku kelihatan mencolok deh, tidak ada yang benar-benar mirip denganku."
"Benar kiren, bentuk dan ukuranmu lebih cantik dan indah. Mahkotamu bersinar merah keemasan, bulu-bulumu lebih halus dan bercahaya. Lihat manusia-manusia itu menunjuk ke arahmu, aduh bisa bahaya kalau gini!" Suara Mengyue nada khawatir.
"Nah itu dia, kenapa kamu membawaku kemari? Ayo kita cari pesawat saja Mengyue, perasaanku gak enak." Kireni menarik Mengyue, perasaannya sekarang benar-benar mulai gelisah.
"Tenang dulu Kireni, pesawat Pangeran sudah tidak kelihatan di udara. Mungkin sudah mendarat, kita lihat apakah dia ada diantara pengunjung itu."
*
Di negara I.
Claudia juga gelisah, mengetahui Arya tidak jadi ke negara J. Artinya tidak ada yang mengawasi Dewa, "Kak Arya, ah!" kesalnya.
"Jangan salahkan aku, asisten calon suamimu itu yang terlalu. Telat lima menit saja gak mau nunggu," jawab Arya membela diri.
"Lima menit juga bagi orang bisnis seperti Dewa tetap namanya telat Kakak. Seharusnya Kak Arya yang nunggu bukan mereka, statusku masih belum jelas jadi Kak Arya jangan sok hebat. Masih bagus kakak diterima di perusahaannya, tidak dianggap mata-mata oleh Dewa."
"Jadi bagaimana sekarang, apa kamu mau aku menyusulnya ke negara J?"
"Gimana Mak dengan job ke negara J tempo hari?" Tanya Claudia pada asistennya.
"Sudah terlanjur batal Claudi, job kamu satu bulan ke depan aku kosongkan." Jawa Sonia.
Ah, keluh Claudia. "Hidupku akan lebih membosankan dalam seminggu ini daripada sebulan yang lalu, hah!"
__ADS_1
*
Rombongan Dewa memasuki kawasan ramai pengunjung. Ada jalur bagi pejalan kaki berupa jembatan perlintasan menuju rawa agar bisa lebih jauh berjalan menikmati pemandangan Hutan Rawa.
Daerah hutan ditutupi kabut sepanjang tahun, suasana yang sejuk sangat baik untuk relaksasi dari kepenatan hidup perkotaan sambil melihat burung-burung menari.
Perhatian Dewa tertuju pada kerumunan pengunjung yang heboh menunjuk ke kawanan Bangau, "Ada apa mereka histeris, apakah ada yang terkena peluru nyasar?" tanya Dewa pada Sarimon.
"Tidak ada berita mengenai itu, Pa Dewa. Tidak pernah ada manusia yang mati di kawasan hutan rawa, baik pemburu maupun pengunjung," jelas Sarimon.
Baim segera mengutus salah satu bodyguard untuk mencari tahu. "Awas saja kalau terbukti ada Pak Sarimon!" Kecamnya.
Heg!
Sarimon merasa nafasnya sesak. "Benar Komandan! Saya siap menerima sanksi," jawab Sarimon.
Hais, malapetaka benar kehadiran Pak Dewa kali ini.
Dalam hatinya.
"Bagaimana dengan peringatan menembak satwa liar, apa sudah disampaikan?" tanya Dewa. "Saya tidak mau mendengar ada penembakan lagi."
"Sudah Tuan, pegawai hutan telah bertindak cepat tanggap. Si Penembak bahkan sudah dibawa ke kantor kehutanan untuk diinterogasi," jawab Sarimon.
"Jangan dilepas, tunggu saya datang!" Dewa berkata tegas.
"Baik, Pak Dewa."
"Bangau cantik?" gumam Dewa.
"Benar Pak Dewa, ramai yang melihat bangau cantik laksana Peri. Ada yang bilang lagi bagaikan Dewi yang turun dari langit," jelas Bodyguard.
"Jadi kamu tidak melihatnya sendiri?" Tanya Dewa.
"Tidak sempat Pak, menurut mereka Bangau tiba-tiba menghilang."
"Menghilang, bukan terbang?" yakin Dewa.
"Benar Pak Dewa menghilang, raib di depan mata!" Kata Bodyguard meyakinkan lagi perkataannya.
Dewa mengernyit, teringat Bangau cantik yang hinggap di atas sayap pesawat.
Apakah seperti itu, menghilang.
Dalam hatinya. "Ayo kita ke sana, Baim!" ajaknya, penasaran ingin melihat dengan mata kepalanya sendiri.
"Baik Bos, silahkan." Baim mengawal Dewa menuju tempat kejadian perkara, diikuti rombongan.
***
Di dalam rawa hutan.
__ADS_1
"Bagaimana Mengyue?" Tanya Kiren.
"Mantap Kiren, manusia-manusia itu tidak ada yang bisa melihatmu setelah tubuhmu aku tutup dengan selimut kabut Peri. Mereka berteriak heboh saat kamu tiba-tiba menghilang."
"Oye, sekarang kita cari Pangeran!" Kireni berseru kegirangan.
"Yups."
Tapi tiba-tiba, alarm di tubuh Mengyue berbunyi.
Astaga!
"Kiren! Ayah mencariku, bagaimana ini! Kamu aku tinggal sebentar ya, berani tidak?"
"Yah Mengyue, kok gitu sih kamu!" Kireni mengeluh lemas, jadi gak semangat.
"Mungkinkah masalah Pangeran Naga yang ingin buru-buru menikah?"
Mengyue menduga-duga. Salah apa dia sehingga ada panggilan darurat, rasa gak tega meninggalkan Kireni tapi mau bagaimana lagi sepertinya panggilan penting.
"Kamu duduk dulu di bawah pohon itu, aku pergi gak akan lama. Sebentar ya, Kiren. Tenang saja, selimut kabut Peri akan menjagamu dan jangan keluar sembarangan dari lingkaran pembatas yang aku buat, ok!"
"Hm, baiklah. Tapi jangan lama-lama Mengyue!" Angguk Kireni lemah.
"Aku pergi ya, Kiren!"
Cring!
Mengyue telah menghilang dari pandangan Kireni, baru kali ini ia merasa hidupnya sangat sepi saat ditinggal sendiri. Selalunya dia gak perduli, biasa main sendiri juga kan."
Kireni merasa bosan lalu menari membuang suntuk sambil membayangkan wajah Pangeran.
*
Sarimon melihat ke arah yang ditunjuk Dewa, oh. Sebuah pohon berkabut, akarnya menjuntai ke air. Kalau gak sarang ular berarti sarang buaya atau dua-duanya dalam hati Sarimon bergidik seram.
"Belum ada yang pergi ke sana, tempat itu rawan hewan melata Pak Dewa. Tempat favorit bagi spesies ular dan juga buaya menyimpan telur-telurnya," jelasnya.
"Cari satu perahu!" Perintah Dewa.
Dia benar-benar dibuat penasaran tentang cahaya putih yang berkibar-kibar seolah memanggil-manggil dirinya datang.
"Bapak yakin mau ke sana dengan perahu, jangan Pak Dewa itu berbahaya." Sarimon memperingatkan lagi.
"Mana perahu, cari cepat!"
Perintah Dewa tidak perduli dengan peringatan Sarimon, rasa penasarannya lebih besar.
***tbc.
Jangan lupa like nya ya guys.
__ADS_1
Klik favorit juga biar terus terupdate, thanks.