The Crane Dan Lima Bayi Kembar

The Crane Dan Lima Bayi Kembar
Bab. 85


__ADS_3

Choi menjelajah kepikiran Sora, terlihat tantenya itu duduk bersama Kireni di sebuah batu besar di tengah air sungai yang mengalir deras.


Kelima bayi dengan jelas dapat melihat di depan keduanya ada air terjun gede dari gunung batu yang sangat tinggi


"O~ow." Sevi.


"Oh no," kata Sebi.


"Oh yes!" Pekik Dutta mata membelalak, terpesona. "Kak Kiren!" Panggilnya gak sabar.


Kedua orang, Kireni dan Sora menoleh. "Astaga, kenapa kalian bisa kemari?" Tanya Kireni.


"Aku ikut pikiran Choi," jawab Sebi dan Moni berbarengan.


"So do I, beb." Duta tersenyum lebar akhirnya jumpa Kakak cantiknya.


"Na do." Sevi.


"O~ow!" keluh Kireni dan Sora berbarengan. "Ayo kita pulang," ajak Peri Bangau itu pada semua orang.


Kireni khawatir kalau semua mengembara ke alam mimpi Sora, temannya itu jadi terbebani.


"Kak Kiren! Bagaimana kalau kita main dulu sebentar," mohon Dutta. Bayi lelaki itu tidak tahan melihat air terjun dihiasi jembatan warna-warni melingkar seperti pelangi.


"Duta bukankah tadi kamu yang kaget pertama kali saat menyentuh Kak Sora?" Marah Sebi pada adik lelakinya, malah ngajak main di alam mimpinya.


Mendengar namanya disebut. "Kenapa denganku?" Tanya Sora penasaran.


"Tante Sora tidak merasa kedinginan?" Tanya Moni.


Tentu saja dingin.


Jawab pikiran Sora.

__ADS_1


Oh.


Bayi-bayi terkejut, mereka membaca pikiran Sora di alam mimpinya. "Ternyata Sora juga mendapat energi dari Kak Kiren!" Pekik Sebi.


"Wow, hebat!" Sevi.


"Pantas saja kita bisa terhubung dengan mudah," kata Choi.


Bayi sakti itu sudah curiga, tidak mungkin Sora tidak kecipratan energi, kan dia juga ikut balapan.


Hum.


Desah Kireni lemas.


Kenapa mereka semakin pintar. "Ayo, kita sama-sama keluar dari mimpi Sora.


"Sebentar saja Kak Kiren, aku ingin ke air terjun itu," mohon Dutta.


"Yeah, baiklah." Dutta tertunduk lemas.


"Siap, Kak Kiren!" jawab ke empat bayi lainnya.


*


Di alam nyata di kamar Sora, beberapa pasang mata menatap khawatir pada ke lima bayi dan Sora.


Yudi yang baru sampai dari Bandara, memeluk Laras. Ibu dari bayinya itu menangis melihat bayi kembar tiganya, membeku. "Mereka hanya tertidur, sabar lah. Sebentar juga bangun!" pujuk nya.


Bapak tiga bayi Lara itu juga khawatir tapi karena dia bisa membaca pikiran kelima bayi dan Sora jadi merasa sedikit tenang.


Ternyata benar dugaannya, gadis kecil teman Sora adalah penyihir yang sebenarnya. Kelima bayi dan Sora hanya tidak sengaja mendapatkan transferan energinya saat di arena balapan.


Ternyata bayiku juga penyihir. Apakah tidak ada cara memutus sambungan ini, aku lebih suka bayiku jadi manusia biasa saja.

__ADS_1


Batinnya memandang raut khawatir Bram.


Big bos grup WJ itu sedang menatap tak berkedip pada kelima bayi yang duduk membuat lingkaran mengelilingi Sora dalam posisi seperti orang bertapa. Bram memicit-micit keningnya, pusing.


"Bram apa kita perlu mengejutkan mereka?" tanya Kiara.


"Sebaiknya jangan sayang. Kita tunggu saja," jawab Bram.


"Benar Nyonya, kita tunggu saja." timpal Yudi.


"Bos!"


Seorang bodyguard yang diutus menghubungi Dewa di lantai tiga, masuk menghadap. Semua menunggu berita yang dibawanya.


"Hum, bagaimana?" tanya Bram.


"Gadis kecil itu juga sedang tertidur, dari kemarin malam belum bangun. Kata Pak Dewa," lapornya.


"Ayah!" Suara pekikan.


Semua menatap ke arah suara, di kasur ke lima bayi telah membuka mata. Begitu juga Sora, gadis itu heran kenapa banyak orang di kamarnya.


"Alhamdulillah," ucap Laras dan Kiara menghambur ke kasur memeluk bayi-bayi mereka.


"Hiks, hiks, hiks,..uuuu..." Sora menangis, Yudi meraihnya ke dalam pelukan. Hum, memeluk nya erat.


***


Notes : cerita ini akan dipindah ke chat story. Maaf untuk novel akan disambung setelah ada request lebih dari 💯 viewers.


Like komen dan Vote, sebanyak-banyaknya.


Thanks. 👍

__ADS_1


__ADS_2