
"Tidak masalah, Paman adalah suami masa depanku. Kalau boleh tidur bersama sekarang, kenapa harus menunggu lama." Kireni menjawab santai, teringat jawaban Mengyue saat dia belajar mantra berubah wujud.
What, suami masa depan.
Hahahaha, Dewa tergelak mendengar jawaban Kireni. "Kenapa kamu berpikiran begitu?" tanyanya penasaran.
"Karena aku menyukai Pangeran, eh Paman!" ralat Kireni merasa keceplosan.
Mampus lah, Paman curiga tidak ya.
Hm, bukan pertama kali Kiren memanggilnya Pangeran. "Kamu punya pangeran impian?" tanya Dewa menyelidik, menyangka Kireni telah salah mengenal seseorang yang mirip dengannya.
Astaga! Bagaimana ini, kenapa aku bilang menyukai Pangeran.
Ditatap Dewa, Kireni mengangguk jujur.
"Dimana Pangeran itu sekarang?"
Argh, jangan sampai buka rahasia...
Serta merta Kireni berbalik membelakangi Dewa, memejamkan mata mendengkur...argh.
"Hehehe, Paman tau kamu hanya pura-pura."
Dewa mendorong punggung Kireni, malam ini mereka kembali tidur bersama.
***
Satu malam terlewati.
Dewa terbangun dikejutkan oleh Kireni yang mencium pipinya. "Pagi Paman," senyum anak itu tanpa merasa ada yang salah dengan perbuatannya.
"Pagi Kiren," jawab Dewa suara serak khas bangun tidur.
Tidak melihat ada tanda-tanda sembab khas bangun tidur di wajah Kireni seperti anak seusianya pada umumnya, iler di pipi ataupun belek di mata. Dewa sudah tidak merasa aneh dengan keanehan ini. "Apa kamu tidak tidur?" tetap saja dia bertanya, penasaran dengan jawaban Kireni.
"Aku gelisah takut kita terlambat ke acara hari ini, jadi aku menjaga Paman sepanjang malam."
Ups, aduh kenapa aku jawab begitu. Kan keceplosan lagi...ah.
Kireni tertunduk lemas, menunggu reaksi Dewa mendengar perkataannya.
Apakah Pangeran akan terkejut seandainya aku berkata jujur, terus terang berat sekali rasanya menyimpan rahasia ah...
Melihat sikap Kireni seperti ada yang disembunyikan tapi tidak boleh diungkapkan, Dewa bersikap biasa pura-pura bodoh.
"Kamu tidak perlu begitu, ada alarm yang memberitahu kita untuk bangun tepat waktu."
"Alarm?"
"Iya, itu." Dewa menunjuk jam di dinding.
__ADS_1
"Ini namanya Alarm? Bagaimana caranya dia memberitahu kita, sedangkan dia tidak bisa bicara?"
"Haha," Dewa tertawa hambar. IQ Kireni cukup tinggi, cuma EQ nya yang agak kurang jadi seperti orang oon.
"Ada burung di dalamnya, dia yang akan memberitahu kita. Burung akan berbunyi pada waktu yang telah ditetapkan." Dewa semakin ingin menggoda Kireni.
Teng...teng..teng...teng...teng!
Jam berbunyi lima kali lalu keluar kepala burung suara kikuk kikuk.
"Nah, itu!" Dewa menunjuk lagi.
"Oh iya benar."
Kireni ingin bicara pada burung, seketika hatinya sedih ternyata burung tidak bernyawa. "Burung itu telah mati," gumam Kireni merasa kasihan.
Hah! Desah Dewa.
"Bukan mati tapi memang benda mati Kiren! Burung buatan manusia, bahannya dari kayu," jelas Dewa.
Kireni memindai ke dalam burung. "Oh, cuma patung. Tidak ada jantung dan ususnya, hahahahaha." Dia tertawa terpingkal-pingkal.
Apakah Kiren bisa melihat tembus ke dalam perutnya, bagaimana kalau iya. Bukankah segala sesuatu seperti telanjang di depannya, oh ya ampun.
Dewa menarik selimut setinggi leher, Kireni semakin tertawa.
Apa dia sedang menertawakan ku, oh tidak...tidak?
"Tidak ada usus dan jantung, apa itu lucu?" Dewa bertanya kesal, menggelitik pinggang Kireni.
Dasar aneh, ih.
Dewa merinding, lebih baik jaga jarak. "Paman mau mandi, kamu pergilah bersiap kalau mau ikut."
"Mau," jawab Kireni cepat melompat dari kasur berlari ke pintu kamar membuka pintunya dengan sedikit mantra. Hampir saja dia teleportasi, biar lebih cepat lagi hihi...
Tanpa sadar Dewa membuka mata dan mulutnya lebar, takjub dengan kecepatan Kireni seperti terbang, melayang terbawa angin. Membuka pintu tanpa memutar kunci, gleg! Jakunnya menggulung, seram. Tidak bisa diterima akalnya sebagai manusia normal, Dewa beranjak dari kasur berjalan ke kamar mandi.
Hm, makhluk apakah sebenarnya kamu ini Kiren. Jangan sampai ada manusia lain yang menyadari kamu berbeda dari manusia biasa.
*
Cring...
Di kamarnya Kireni menggunakan mantra sihirnya berdandan secantik mungkin. Karena semalam Pangeran sangat tampan, dia pun browsinglah baju apa yang sesuai untuk dipasangkan dengan jas Pamannya itu. Kireni juga mau pakai baju cantik dan baru, seperti Pangeran.
Hihi.
Kireni senyum-senyum membayangkan reaksi Dewa saat melihatnya nanti.
***
__ADS_1
Di meja makan Kireni kesal dengan ekspresi Dewa yang biasa saja melihat penampilannya.
Baim yang melihat raut merengut Kireni, menegurnya. "Hari ini Nona Kireni sangat cantik, Baim tidak tau Nona punya baju sebagus itu," ujarnya dengan maksud ingin menghibur Kireni.
Dalam hatinya mungkin Dewa sudah memberitahu Kiren mengenai pernikahannya hari ini, sehingga anak itu gak senang ataupun kecewa.
"Terimakasih kasih, Baim. Penglihatan kamu lebih jelas dari pada satu orang yang dipanggil Paman!" ketus Kireni, melirik Dewa dengan ekor matanya.
Fruufht!
Baim menahan tawa melihat keberanian Kireni menyindir Dewa, ternyata gadis kecil ini minta dipuji.
Apa susahnya sih bos.
Dalam hati Baim melihat ekspresi Dewa cool abis sudah berpakaian rapi, calon pengantin.
Hm.
Dewa tau dirinya disindir, walaupun dipermukaan tenang tapi tidak di dalam hatinya. Dia tau jelas bahwa baju yang dipakai Kiren bukanlah baju yang dibelinya.
Bagaimana cara Kiren mendapatkannya, itulah yang mengganjal di hati Dewa. Dia hanya tidak mau Baim dan yang lain menyadari keanehannya dan ternyata memang Baim merasakannya juga, hah bukankah lama-lama bisa ketahuan.
"Kiren memang cantik pakai baju apa saja," ujar Dewa tersenyum pada Kireni.
Tapi lain kali pakai baju yang paman beli ya, biar orang lain tidak curiga...lanjut dalam hatinya.
"Terima kasih Paman, tapi lain kali aku tidak ingin orang lain yang terlebih dahulu memuji kecantikanku," ujar Kireni masih ketus.
Waduh gawat, apa mereka pacaran... dalam hati Baim.
***
Khusus untuk acara akad Claudia kelihatan cantik dengan balutan kebaya renda warna pink muda. Selesai akad barulah nanti dia berganti gaun, selayar panjang renda warnah putih gading dan satu gaun malam warna merabella. Sudah di tes sangat cantik di kulitnya yang putih bersih.
Baim sudah konfirmasi bahwa mereka lagi on the way, jam menunjukkan angka 8.30wib waktu Jkt, tinggal satu jam lagi acara dimulai. Claudia sudah tidak sabar menunggu tapi harus sabar juga.
"Cie, yang lagi berdebar-debar menunggu Dewa cinta." Florentina datang menggoda, sebagai pacar Arya dia termasuk tuan rumah.
"Hm," senyum Claudia. "Makasih ya Flo, lu udah mau repot ngurusin acara gua."
"Ei, ini gak gratis ya. Lu harus bantu ngebujuk Arya agar segera ngelamar."
"Arya brengsek gitu, yakin mau jadi istrinya?"
"Habis mau gimana lagi, nyari yang seperti Dewa dimana lagi ada. Atau gua jadi madu lu, aja."
Cis, dengus Claudia.
Aku aja sering dicuekin apalagi kamu gak akan dianggap.
Batinnya. "Ntar deh, gua kasih lu pelangkahan biar cepat nyusul."
__ADS_1
***tbc
Jumpa lagi, jangan lupa like.