The Crane Dan Lima Bayi Kembar

The Crane Dan Lima Bayi Kembar
Bab. 78


__ADS_3

Menarik nafas lega, setelah dua tahun akhirnya ia kembali ke tanah air. "Baiklah kita ke Mansion Mama," angguknya pada Barus. "Ayo sayang." Berkata pada istrinya menarik tangannya.


"Maaf Tuan, Nona muda tidak berada di Mansion Nyonya. Nyonya besar berada di Hotel membantu Manager Arjit, kedua Nona dan bayi lainnya berada di Mansion Tuan Dewa."


Mendengar penjelasan Barus, Bram kaget over akting. "Apa?" Teriaknya memandang gak senang pada Kiara, cemburu melanda hatinya. "Sayang nanti jangan terlalu ramah pada orang asing ya, kamu mengerti!" Lanjutnya berkata pada istrinya.


Cis, Kiara mendengus.


"Bram, setelah kamu tidak cemburu lagi pada Beno, sekarang mencari orang lain untuk dicemburui, apa kamu tidak capek sayang?"


"Tentu saja tidak jika itu menyangkut dirimu." Bram berkata manyun, Kiara jengah. "Ayolah cepat, aku kangen pada kedua bayiku." Ibu muda itu tidak peduli menyeret Bram yang menggenggam erat jemarinya.


Walaupun kesal Bram menyabarkan hatinya, bahwa cinta Kiara hanya untuk dirinya biarpun banyak pria lebih keren darinya di luar sana yang penting cintanya pada Kiara tetap setia.


Sabit sengaja ikut menjemput Bram ke airport walaupun ia belum tidur sepejam mata. Saat mengetahui bayi-bayi tidak pulang ke Mansion Mama Alisha namun ke Mansion Dewa, Sabit benar-benar bete dilanda rindu. Tidak bisa tenang ingin bertemu dengan pujaan hatinya, si cantik Kireni.


Maka dia pun ikut ke Mansion Dewa bersama guru Lee dengan alasan menemani Bos Besar menjemput adik-adik bayinya.


*


Alisha yang sedang sibuk di Hotel membantu Arjit segera permisi pulang ingin menyambut putra kesayangannya yang barusan dikabarkan telah tiba di tanah air.


"Arjit kamu bisa sendiri kan, aku mau menjemput Bram."


Mendengar Alisha. "Saya ikut mbak," jawab Arjit yang juga ingin menyambut keponakan sekaligus Bos besarnya itu.


"Ini pertama Bram Pulang ke tanah air setelah dua tahun, aku sebagai Manajer merangkap Paman tidak datang menyambut, apa kata dunia." Arjit alasan padahal dia kecapekan berdiri menyalam ratusan orang tamu yang memenuhi kamar Hotelnya.


Cih, sinis Alisha. "Cepatlah kalau mau ikut!"


"Yes," seru Arjit segera permisi pada staf Hotel yang telah kembali ke tugasnya masing-masing.


Berdua mereka menemui Samsir yang telah menunggunya di Lobby bersama Dwi yang telah duduk manis di depan di samping bangku kemudi


"Kita diminta langsung ke Mansion Tuan Dewa Nyonya," kata Samsir, mempersilahkan Alisha dan Arjit masuk ke jok belakang.

__ADS_1


"Kenapa?" Tanya Alisha sambil menghenyakkan bokongnya. "Bukankah saya pesan agar mereka kembali ke Mansion."


"Bayi-bayi tidak mau pulang ke Mansion Nyonya, mereka maunya ikut Kak Kiren katanya. Tuan muda Brama juga dalam perjalanan kesana." Samsir menjawab sambil menutup pintu.


"Hm, padahal aku ingin menjauhkan gadis aneh itu dari kedua cucuku. "Alisha mengeluh. "Baiklah kita kesana saja," lanjutnya pasrah.


*


Demikianlah ada sepuluh mobil di depan Mansion Dewa menunggu pintu pagar dibuka, diantara orang-orang Sabit yang paling tidak sabar ingin bertemu ceweknya.


Baim tergesa berjalan ke gerbang menyambut tamu tak diundang.


Karyawan dan pelayanan wanita yang mengintip dari ruangan mereka mengences melihat Tuan muda tampan memakai kaca mata hitam, walaupun menggandeng seorang perempuan cantik mereka menganggapnya patung yang tidak bernyawa.


"Tampan sekali," gumam satu karyawan wanita.


"Benar, masih lebih muda dari Tuan Dewa. Yang ini sesuai tipeku," sambung yang lain.


"Dia tipe kamu tapi kamu gak tipenya, tidak lihat itu pere yang digandengnya juga masih muda dan cantik luar biasa."


"Tapi lihatlah gaya pakaiannya jelek sekali, jadul dan kebesaran di tubuhnya. Lama-lama bisa ilfeel tuh babang tampan."


Seperti merpati bergosip di depan jendela, mereka tidak tahu kalau Bram sengaja mendandani istrinya seperti Ratu Inggris, Elizabeth 2.


"Bisa bayangkan seperti apa tuanya?"


*


Karena tak sabar ingin bertemu kedua bayinya Bram memilih keluar dari mobilnya begitu juga Kiara, sekalian menikmati pemandangan Mansion Dewa yang termasuk dalam proyek tahap tiga perusahaannya.


"Sayang, bangunan ini salah satu proyek grup WJ perusahaan kita." Bram berkata pada istrinya menunjuk Mansion Dewa.


"Benarkah sayang, bagus banget." Kiara membuka kaca mata hitamnya agar bisa melihat lebih jelas bunga-bunga beraneka warna.


"Tentu saja benar, suamimu ini hebatkan? Semenjak aku yang jadi Presdirnya, grup WJ sekarang menjadi perusahaan pertama se-Asia." Bram membanggakan dirinya sambil memeluk istrinya.

__ADS_1


Eleh, bukankah semua karena kerja keras Yudi si asisten super.


Dalam hati Kiara juga memeluk suaminya, tersenyum lebar di bibirnya.


Tak sabar ingin berjumpa dengan Kireni, Sabit juga mengajak Lee keluar dari mobil. "Guru, kamu akan ku kenalkan pada calon istri muridmu yang tampan ini," ujar remaja pria itu senyum tak kalah lebar dari Kiara dan Bram.


"Aku sudah melihat siaran langsungnya Sabit," balas Lee yang sudah tau siapa perempuan yang dimaksud Sabit.


"Guru pasti melongo saat melihatnya langsung Kireni bahkan lebih cantik lagi."


Obrolan mereka terhenti saat melihat pada seorang lelaki yang berjalan tergesa ke pintu gerbang lalu memerintahkan Satpam agar membuka pagar tanpa perlu prosedur pemeriksaan pada mereka.


Satpam membuka pintu lebar-lebar, Baim menghampiri Bram. "Saya Ibrahim, asisten Tuan Dewa. Silahkan masuk Tuan Bramasta Wijaya, selamat datang di kediaman Erlangga." Baim mempersilahkan Tamunya masuk.


"Hum."


Bram hanya mengangguk dingin, merasa diremehkan karena bukan Dewa yang keluar sendiri menyambutnya bahkan masih dibiarkan berdiri di luar seperti penagih utang.


"Terimakasih," ucap Barus dan Samsir mewakili bosnya.


Bersama supir lainnya mereka membawa mobil masuk sampai ke halaman Mansion, disana juga masih ada lima mobil yang sangat dikenal Bram merupakan mobil milik keluarganya.


"Ma, bukankah itu mobil kita?" tanyanya pada Alisha yang juga memilih keluar dari mobil begitu juga Arjit dan Dwi.


"Iya, kemarin saat mengantar bayi-bayi jadi tertinggal karena mereka tidak mau berpisah mobil dengan gadis aneh itu," jawab Mamanya suara pelan.


"Minta bodyguard membawanya pulang ke Mansion, Ma. Jangan biasakan menitip harta di kediaman orang," kata Bram pada Alisha, dirinya takut jadi dianggap hak milik pula sama yang punya rumah.


"Iya, nanti kan bisa saat pulang sekalian." Jawab Mamanya.


Bram menoleh pada Samsir yang berjalan di belakang Alisha setelah memarkirkan mobilnya. "Samsir, minta bodyguards kelima bayi membawa pulang mobil-mobil itu." Perintahnya sambil menunjuk kelima Mobil yang tak asing bagi Samsir. "Baik Tuan Muda," jawabnya.


Baim diam-diam mendengarkan, membawa tamunya menuju gedung utama. Disana sudah ada Dewa yang menyambut mereka. "Selamat datang tuan Bramasta," ucapnya pada Bram mengulurkan tangan.


Bram menerima uluran tangan tidak bersemangat melihat pria tampan di depannya. "Terima kasih," jawabnya dingin.

__ADS_1


***tbc.


like komen and share, 🙏


__ADS_2