The Crane Dan Lima Bayi Kembar

The Crane Dan Lima Bayi Kembar
Bab. 59.


__ADS_3

"Membaca mantra mengembalikan tamu-tamu, bukankah aku harus menunggu semua orang-orang itu bubar dulu?" lanjutnya, tidak dipungkiri ada sedikit rasa takut di hati Moni.


"Kalian yang Penyihir kenapa minta pendapat Kak Kiren?" Ketus Arjit bertanya heran. Ia yakin orang dewasa di sini juga pasti berpikiran yang sama dengannya mengenai keanehan ini, hanya mereka pura-pura budek.


"Jangan berisik Arjit, kalau kita tidak bisa membantu sebaiknya jangan mengganggu," ketus Alisha pada Adik kembarnya itu.


"Karena itu aku ingin tau! Yang penyihir sebenarnya siapa, semua-semua melalui gadis kecil itu." Bisik Arjit pada Alisha. "Aku gak tenang membiarkan kedua cucu bayimu itu harus menanggung semua kesulitan ini."


"Aku tau! Tapi apakah kamu tidak melihat video saat-saat Choi menghilangkan mobil, jadi kita harus membuktikannya sendiri sekarang!"


"Ah, aku tidak percaya Choi bisa sihir. Hentikan saja ide gila memanggil hujan petir, apa kamu yakin Bram akan setuju kalau dia tau," keluh Arjit bergumam menggusar rambutnya kasar.


"Sebagai nenek kedua bayi itu kamu pikir aku percaya, tapi sekarang bukan waktunya untuk berdebat! Bram biar aku yang urus nanti."


Suara Alisha tertahan nada khawatir takut didengar oleh Kireni tapi percuma, semua yang ada di mobil bisa mendengar kedua kakak beradik itu bertengkar, begitu juga dengan orang yang berdekatan dengan mobilnya.


Siapa yang tidak heran mengetahui cucunya tiba-tiba jadi penyihir, itu semua sejak bertemu Kireni. Dalam hati Alisha bahkan sudah berjanji pada dirinya sendiri, setelah selesai urusan ini dia akan menjauhkan gadis aneh itu dari kedua cucunya.


Dewa yang mengerti kegelisahan gadis kecilnya berkata. "Paman dan Baim yang akan membawa Choi serta Moni ke tengah jalan Baru," ujarnya pada Kireni.


Barus yang mendengarnya. "Kami akan mengawal kemanapun kedua Nona Muda pergi!" Berkata kepala Pengawal grup WJ itu kepada Dewa.


"Aku juga ikut," sambung Sora si konten kreator yang sudah tidak sabar ingin merekam gambar.


"Memangnya kamu saja," sela Sabit mengangkat tinggi kamera ponselnya sekalian dia recording suasana tegang antara Nena dan Pepa.


"Aku juga akan menemani Monichoi, tidak perduli hujan badai," ujar Sebi.


"Jangan lupakan aku, Lara Sevi tidak akan berpangku tangan sementara saudarinya berjuang menyelamatkan dunia, uuu." Ujar Sevi satu bulir bening jatuh lagi di sudut matanya.


Mendengar Sevi. "Kamu seharusnya di Mansion saja Lara Sevi, uuu." sela Sebi ikut sedih. Ia jelas tau adiknya itu takut petir.

__ADS_1


"Aku tidak takut kalau beramai-ramai hiks hiks." Sevi menjawab yakin akan ikut menerjang hujan petir walau hati deg degan. Harus berani harus berani dalam hati ia menguatkan dirinya.


"Aku akan ikut kemanapun Kak Kiren pergi, uuu." Duta ikutan sedih memandang kasihan pada Kireni.


"Uwaaaaa, aaaaa," serentak bayi menangis.


"Astaghfirullah," ucap Alisha bingung mau membujuk yang mana dulu.


Dan semua orang dewasa yang ada disitu ikut menitikkan air mata tidak terkecuali Arjit yang sedang marah tak tau entah pada siapa.


Gambaran itu tak lupa diabadikan oleh Sabit dan Sora.


Ha! Artinya semua akan pergi ke tengah jalan Baru dong; hais.


Kireni pusing tujuh keliling.


*


Tanpa setahu Kireni ada dua dari bangsa Bangau Abadi yang sedang memperhatikan mereka, kedua Peri itu adalah Kakak laki-lakinya yaitu Kakak ketiga dan kedelapan.


Saat mendapat peringatan dari mantra yang ditanamnya di tubuh adiknya itu, bergegas Kakak ketiga mengajak adiknya, yaitu kakak kedelapan Kireni untuk menemaninya mencari keberadaan Calon Ratu Bangsa Bangau Abadi itu.


Dengan melihat wujud manusia Kireni, Kakak ketiga akhirnya mengetahui ternyata memang benar nadi Peri adik mereka telah dibuka oleh sebuah kekuatan yang sangat dahsyat, jauh melebihi kekuatan dirinya bahkan Ayah mereka tidak dapat menandingi kekuatannya. Dan kekuatan itu juga telah tertanam di tubuh Dewi Kireni tanpa gadis itu sadari apa manfaatnya ataupun bahayanya.


"Kalau kakak tidak mau menolong biar aku saja yang pergi," kata Kakak kedelapan pada Kakak ketiga.


"Tunggu!" Kakak ketiga menahan kakak kedelapan saat hendak teleportasi. "Jangan main pergi begitu saja."


"Kita tidak bisa hanya jadi penonton kan!" Kakak kedelapan berkata cemas.


"Bagaimana cara kamu menolongnya?" Kakak Ketiga bertanya, ia tau jelas kemampuan adik lelaki paling bontot di keluarganya itu paling rendah diantara semua.

__ADS_1


"Peri penjaga awan hujan petir teman baikku, minta dia bawa sedikit kemari," jelas Kakak Kedelapan.


"Kamu mau melibatkan banyak pihak mengatasi masalah Kireni, agar saat dihukum ada yang menemanimu?" Kakak ketiga berkata pesimis bahwa temannya itu akan menolongnya.


"Minta sedikit aku rasa tidak akan masalah?" kakak Kedelapan bersikeras.


Kakak ketiga memandang ke atas. "Lihatlah langit begitu cerah tidak ada tanda-tanda hujan akan turun, kalau tiba-tiba hujan bukankah akan ketahuan oleh Dewa bintang dan lihat juga gaya si Bulan itu sedang sombong-sombongnya pada manusia bumi. Apa kamu pikir dia tidak akan protes pada Dewa malam jika tiba-tiba wajahnya tertutup awan hujan ditambah petir?!"


"Cis, dia mengira manusia Bumi tidak tau kalau wajahnya itu jerawatan huh," dengus Kakak Kedelapan tidak bisa membantah bahwa ini memang bukan perkara yang mudah.


"Mari lihat dulu apakah Kireni bisa mengatasinya, kita akan menolongnya hanya saat keadaan terdesak. Kamu sudah tau kan apa hukumannya jika kita sembarangan merubah takdir manusia?"


"Karena itu aku khawatir, tubuh lemahnya tidak akan sanggup menahan hukuman langit dari serangan petir jutaan tahun bila ketahuan menyalah gunakan mantra! Usia Dewi masih sangat muda bahkan belum seribu."


Kakak kedelapan benar-benar cemas, Kireni adalah adik kesembilan setelah dirinya maka hubungan mereka sangat dekat. Tentu saja dia sangat menyayanginya, ditambah lagi dia anak perempuan satu-satunya di keluarganya.


"Kamu tau berapa kali lipat kekuatan Kireni bertambah dari kekuatan aslinya yang memang jauh diatas kekuatan kita yang telah berlatih ratusan ribu tahun?"


"Hum." Kakak Kedelapan menggeleng. "Memangnya kamu tahu?" Tanyanya.


"Aku yang diminta Ayah mengunci nadi perinya, bisa merasakan efeknya bahkan dari jarak 10 ribu kilometer kecepatan cahaya," jawab Kakak ketiga nyembur di wajah adiknya.


Kakak kedelapan terbelalak. "Begitu hebatkan?" Tanyanya takjub.


"Kamu tidak akan menyangka pil emas hitam yang diminumnya milik siapa kan?" Tanya Kakak ketiga.


"Siapa?" Kakak kedelapan balik bertanya.


"Kepunyaan Dewa Naga air yang telah dipermentasikan selama jutaan tahun, itu simpanan rahasianya hadiah dari kakek moyangnya dari jutaan tahun yang lalu. Bayangkan berapa usia Pil emas hitam itu."


Gleg.

__ADS_1


***tbc


Like, komen and Share, 👍


__ADS_2