
"Tapi kamu hebat Choi, Bayi Penyihir dari grup WJ memang keren!" Sambung Sevi tak kalah senang.
"Aku punya firasat setelah ini hidup kita akan lebih mudah, mau apa saja tinggal baca mantra, wus jadi deh hihi." Lanjut Sevi terkikik geli.
"Hahahaha," semua bayi tertawa kecuali Duta yang merengut.
Hanya Dewa yang tau semua ini ulah siapa, siapa lagi kalau bukan gadis kecil yang ditemukannya di tengah Hutan Rawa kota Hokaido Negara J.
Hm, menarik nafas berat, Dewa sedikit menyesal atas keisengannya membiarkan semua ini terjadi.
Berita bayi penyihir bisa memindahkan mobil lalu dikaitkan dengan kejadian aneh yang baru saja terjadi, jangan lupakan pulangnya sebagian penduduk Jkt ke rumah masing-masing tanpa mereka sadari.
Termasuk imigran luar negri baik yang Resmi maupun Ilegal, mereka tiba dengan selamat di negaranya masing-masing.
Mereka adalah orang-orang yang barusan berkerumun, berdesakan di sekeliling Limousine akhirnya ngeh. Ternyata mereka korban dari ulah Bayi Penyihir yang sedang viral.
Dua kejadian aneh terjadi berturut-turut, berita nasional maupun swasta, dalam dan luar negeri isinya itu semua.
Termasuk anggota parlemen di Istana Negara sidang mendadak langsung membahas kejadian viral.
Ingin menunjukkan wibawanya tanpa debat Ketua berkata. "Saya sebagai Ketua memutuskan, akan memanggil si bayi beserta orang tuanya untuk disidang karena telah membuat kekacauan di seluruh dunia!" Berkata tegas sambil mengetuk palu dengan geram.
Tok tok tok!
"Apa anda tidak takut dipulangkan ke kampung halaman, Pak?" Celetuk satu anggota.
Gleg.
Ketua meneguk liurnya mengingat rumah lamanya yang tenggelam dalam lumpur Lapindo.
"Baiklah, saya batalkan keputusan. Kita akan tinjau ulang dalam rapat dewan berikutnya."
Tok tok tok.
"Hahahaha."
Disambut ketawa oleh semua anggota Dewan Parlemen.
*
Limousine parkir dengan mulus di halaman Apartemen, tidak ada orang yang berjaga di pos satpam.
__ADS_1
"Mungkin mereka juga ikut tersapu oleh mantramu, Choi." Ujar Sebi.
"Ha!" Choi hanya bisa melongo.
Ups gawat.
Dalam hati Kireni merasa dirinya benar-benar bermasalah, segera memindai seluruh gedung memang kosong tidak berpenghuni. Begitu juga gedung perkantoran di sekitarnya termasuk Hotel WJ, yang semalam menginap masih penuh sekarang benar-benar kosong.
Termasuk dapur-dapur tidak ada koki maupun pelayan, ada api yang menyala di beberapa stove segera Kireni membaca mantra pemadam api dan listrik sekaligus, ah. Syukurlah dalam hatinya merasa betapa kacaunya keadaan Jkt pusat sekitar jalan protokol akibat keteledorannya.
Apart Dewa berada di pusat kota Jkt yang juga kawasan jalan protokol, gedung kepunyaan Bram yang memang hanya punya lima kapling. Itupun dia cuma ngontrak karena tidak ada niat mau menetap, Dewa menyiapkannya untuk ditinggali bersama Claudia karena terpaksa harus menikahi perempuan itu.
Akan tetapi tidak ada Claudia. "Mana Baim?" Tanya Dewa.
"Tidak tau Bos," jawab Baim juga heran. "Saya sudah konfirmasi pada Sonia dan berjanji menjemput Nyonya malam itu juga," lanjutnya.
"Cepat hubungi si asisten itu, dimana posisi Claudia sekarang." Perintah Dewa merasa khawatir pada istrinya, apakah ikut tersapu juga.
"Baik bos," jawab Baim segera menghubungi si asisten setengah-setengah.
*
Dewa benar, istri yang baru kemarin dinikahinya itu ikut jadi korban Mantra Sapu Langit Kireni. Claudia juga berada di kerumunan saat-saat dimana Limousine terkena macet, jadi dia di rumah orang tuanya sekarang.
"Aaaaaaa!" Jeritnya tiba-tiba stres.
Di ruang keluarganya semua orang juga heboh nobar sambil ngeteh bareng Tuan dan Nyonya Santoso dimeriahkan oleh asistensi rumah tangga. Mereka terkejut melihat Claudi muncul dihadapan mereka, padahal tadi sudah pamit mau ke Apart.
"Mana Sonia?" Tanyanya.
"Hm," semua menggeleng tanda tak tau. Sendirinya datang tiba-tiba dalam hati mereka.
"Mungkin tersapu ke kampungnya mbak," jawab satu ART menahan senyuman.
Begitu juga yang lain tidak berani menyinggung perasaan majikan yang seperti terlempar dari dimensi lain datang dengan muka kusut. Sejak menikah bukannya tambah ceria malah tambah uring-uringan.
Ck, decak Claudia segera menghubungi Sonia. "Mak, gua udah pesan tiket! Cepat lu balik kemari," pekiknya memerintah sesaat Sonia mengangkat panggilannya.
Karena asistennya itu anak daerah, Sonia tersapu pulang ke kampungnya di Wonogiri.
"Astaghfirullahaladzim, iya." Sonia yang shock seketika lega setelah mengetahui dirinya korban mantra Bayi Penyihir yang marah karena Limousinenya dikerubutin massa, kirain apa ya kan.
__ADS_1
"Gua ngajak lu balik semalam gak mau, maksa mau pagi. Ya gini akibatnya gak nurut cakap emak," omel Sonia kesal diujung sambungan.
"Iya maaf ah bawel, buruan balik sini!" Jerit Claudia bersamaan dengan bunyi...
"Hoamm!"
Semua menoleh pada suara yang mirip beruang mengaum, Nyonya Santoso mengerut dahi. "Astaghfirullah," ucapnya mengelus dada.
"Ma, siapa yang ngantar Arya pulang semalam?" tanya kakak Claudi itu heran kenapa dia ada di kamarnya di rumah orang tuanya, seingatnya dia di hotel WJ di kamar pengantin adiknya bersama sang pacar.
"Hm, makanya jangan mikirin kesenangan sendiri saja, lihat tuh satu dunia heboh cuma kamu yang ketinggalan berita." Nyonya Santoso mengomeli putranya, hatinya pada Kireni yang ada di live berita viral pagi ini. Kapan bisa bertemu lagi ya dalam hatinya.
"Kih kih kih."
"Ha, astaga!"
Segera Arya kabur kembali ke kamarnya saat mendengar suara cekikik menyeramkan dari mulut selusin ART keluarganya itu. Bagaimana gak terkikik dia keluar cuma pakai kolor doang. Lumayan cuci mata batin ART melihat tubuh bagus majikanya.
"Odi, kamu benar-benar tidak tau suamimu si Dewa memiliki banyak anak?" Tanya Tuan Santoso pada putrinya, yang ikut salah paham menganggap bayi-bayi itu anak-anak menantunya.
"Tidak Pa, tidak tau sama sekali. Odi juga shock saat mengetahui Mas Dewa punya satu anak cewek dari Mama eh ternyata, masih ada satu cewek lagi ditambah lima bayi, hah!" Keluhnya menarik nafas berat, matanya mengerjab-erjab.
Hanya Nyonya Santoso yang tersenyum bahagia. "Odi jadi ibu dari tujuh anak-anak cantik itu sekaligus, keren banget. Jangan lupa bawa cucu-cucu Mama kemari ya Odi, Please!" Mohonnya.
"Oh, tidak!" Claudi tertunduk lemas.
*
Di kamarnya, Arya menelpon Florentina tapi tidak diangkat-angkat.
"Hais," rengut Arya melempar ponselnya ke kasur lalu masuk ke kamar mandi.
Tentu saja flo gak angkat, karena pacar Arya itu sedang berada di desa yang telah lama ditinggalkannya. Yang namanya tidak ada tercatat pada gugel map, tidak ada jaringan apalagi internet. Desa yang terlupakan judulnya.
"Huhu uuuu, eang please jemput gua dong," tangis flo seorangan di dapur gubuknya yang reot.
"Jauh amat terlemparnya Mbak?" Tanya othor.
***tbc.
Like, komen and share 👍
__ADS_1