
Baim yang baru masuk selesai memarkir mobilnya sempat bingung lalu menjawab. "Bukannya kunci Pak Dewa yang simpan?"
"Iya, di laci nakas." Dewa menjawab tanpa menoleh, menggoyang-goyang gagang pintu, memanggil-manggil nama Kireni. "Kiren! Kiren, buka pintunya." Dewa nada khawatir.
Di rumah utama kamar Kireni diseberang kamar Dewa, di lantai dua hanya ada dua kamar ini saja. Kamar Baim dan dua orang bodyguard berada di lantai satu.
Pegawai atau pelayan punya kamar di luar rumah utama, mereka mendiami beberapa bilik di halaman belakang. Hanya petugas keamanan yang punya sift kerja, bergantian antara siang dan malam menjaga Mansion beserta semua yang ada di dalamnya. Sementara yang lain sift normal, six in the morning to eight in the evening, sudah termasuk lembur empat jam.
Setelah mendapatkan kunci, Baim sampai berlari menemui Dewa yang masih menggedor-gedor pintu kamar Kireni seperti orang stres. Baru kali ini ia melihat bosnya itu bersikap tidak menjaga image. Baim jadi jatuh kasihan, walaupun tadi dia sempat marah pada sikap si Bos yang tidak mau berterus terang pada Kireni sebelum acara nikahannya digelar.
"Ini bos," Baim memberinya kunci. Dewa langsung menyambarnya, membuka pintu dengan tergesa.
Brak!
Terdengar suara pintu dibanting, Baim sampai kaget.
"Oh, syukurlah," ucap Dewa menarik nafas lega.
Baim mengintip ada Kiren di atas kasur terbungkus selimut, hah!
"Kiren," panggil Dewa gak sabar naik ke atas kasur menghampiri gadis kecilnya, mata terpejam tubuhnya hangat masih bernafas.
Alhamdulillah.
"Paman gitu ribut kamu bisa tidur gini lelap, dipanggil-panggil gak dengar." Dewa meracau seperti orang gila.
Apakah ini normal.
Dalam hatinya bertanya-tanya mengingat Kireni baru saja masuk kamar kok bisa langsung tepar, sepertinya ini bukan kebiasaan Kireni. Dewa selalu melihat gadis kecilnya itu terjaga sepanjang masa, baik sebelum dia tidur atau setelah dia bangun. Belum pernah dia melihat Kireni bangkong seperti anak pada umumnya.
Ternyata bisa tidur juga dia, aku sudah mikir yang tidak-tidak.
Dalam hati Dewa masuk ke dalam selimut lalu berbaring di samping Kireni.
Baim melihat itu kemudian menarik pintu, kamar ditutup olehnya.
"Hah!"
Hape di sakunya berbunyi panggilan Tuan besar dari negara A.
"Hallo Tuan," jawab Baim.
"Dewa mana Baim?" todong Tuan Dorman.
Gleg, Baim menelan saliva melonggarkan kerah kemejanya.
__ADS_1
"Ada Tuan," jawab Baim.
"kenapa tidak pernah menghubungi orang tua, tidak perduli pada Mamanya yang rindu." Tuan Dorman, Papa Dewa mengomel di seberang telepon.
Hais, batin Baim. "Pak Dewa di kamar Tuan, sedang tidur."
O
Baim dapat membayangkan bentuk mulut Tuan besarnya saat menyebut kata O, itu tidak akan kelihatan karena tertutup kumis tebalnya.
"Katakan padanya biarpun baru nikah, tidaklah masing siang sudah masuk kamar," sindir Tuan Dorman, ia tau waktu Jkt sekarang masih tengah hari.
Astaga!
Baim tergelak dalam hati.
Tidak mungkin bilang, Pak Dewa di kamar bersama gadis kecil usia sembilan tahun kan, apalagi mengatakan bahwa Dewa kabur dari resepsi. Bisa dipaksa cerai lalu diseret menikah dengan Jane mantu pilihan mereka.
"Maklumlah Tuan, Pak Dewa kelamaan jadi biksu. Baru ketemu harem jadi langsung on," canda Baim.
"Hahahaha, kamu Baim."
Tuan Dorman tak kuasa menahan tawa pikiran pada istrinya, walau sudah lama menikah tapi soal rasa masih sama seperti penganten baru layaknya.
"Terimakasih Tuan, kalau boleh pakai si cepat ya ngirimnya biar capcus bisa langsung unboxing, hihi"
Gelak Baim, ups! Langsung menutup mulutnya menyadari bahwa dia bicara sudah melampaui batas santai pada Bos besar. "Maaf Tuan, saya..."
"Tidak apa-apa Baim," Tuan Dorman memotongnya bicara, "barang sudah otewe ditunggu saja, hahaha."
Gleg.
Mampuslah, gak iya ini Tuan muda Dewa pasti marah.
Batin Baim.
Kenapa mulutku akhir-akhir ini seperti perangkap yang menjerat leherku sendiri, ah. Sepertinya Tuan Besar bukan mau mengirimkan istri buatku tapi mata-mata untuk mengawasi Pak Dewa, gawat! Aku harus minta maaf biar tidak dipecat tapi gak enak mengganggu dua orang yang lagi mediasi, hah! Serba salah...
*
Adapun Kireni sedang keluar dari raganya menggunakan mantra ia berkelana dengan wujud halusnya ke langit dunia, tadi ia hanya mencoba ternyata bisa.
Duduk termenung di atas awan menimbang-nimbang, apakah kembali saja ke alam Peri atau tetap di samping Dewa menghabiskan waktu dengannya sampai usia 60 tahun. Kalau ukuran alam langit itu cuma satu bulan lebih saja lagi, mengingat sekarang umur Dewa sudah 27 tahun.
Kireni kagum dengan keahliannya setelah kunci nadi perinya dibuka, berbagai kemampuan baru dapat dimiliki dengan hanya memikirkannya saja.
__ADS_1
Ia ingin meminta pendapat Mengyue tapi temannya itu tidak ada kabarnya lalu dengan wujud halusnya ia teleportasi ke hutan rawa, melihat kabut peri Mengyue ternyata masih ada di pohon beringin tua.
Sekalian saja aku menyapa penghuni rawa.
"Aaaa!!!"
Jerit penduduk rawa yang sedang main kejar-kejaran mangsa, terkejut melihatnya.
Yang masih bocil bersembunyi di belakang orang yang lebih tua, yang dewasa terkencing-kencing untung gak pake celana.
"Hei jangan takut, ini aku Kireni." Panggilnya pada mereka yang lari tunggang langgang, ketakutan melihat wujudnya.
"Hais, malah kabur." Kireni menggerutu.
Saat meninggalkan wujud kasar manusianya, wujud asli yang merupakan Bangau abadinya yang keluar. Dia juga baru tau, dalam wujud halus dia tidak bisa berubah wujud ke bentuk manusianya. Mungkin harus sekolah lagi dalam hati Kireni.
"Hai jangan lari, aku bukan makhluk jahat. Hanya mau bertanya, apakah temanku Mengyue pernah datang mencariku!"
Suara Kireni terdengar kuat ditelinga penduduk rawa, Kepala Buaya Preman yang baru dilantik segera menghampiri Kireni yang berdiri di atas air danau meninggalkan selir barunya. Hadiah atas kemenangannya sebagai Kepala Preman terpilih untuk tiga periode langsung no debat.
"Tidak ada Dewi Kiren, tidak ada yang datang mencari kamu," jawabnya suara ditahan jangan sampai gemetar. Karir dipertaruhkan kalau sampai ada yang melihat dia ketakutan.
Tidak dipungkiri, dia kaget juga tadi saat melihat wujud halus Kireni, seekor Bangau abadi yang tinggi menjulang. Hanya suaranya yang membuat Kepala buaya preman yakin bahwa Bangau di depannya ini memang benar, Dewi Kireni si hantu gadis kecil yang secara tidak langsung membantunya mendapatkan jabatannya sebagai orang paling penting di hutan rawa.
"Hm, begitu."
Kireni tertunduk lemas, masih mendengar suara Dewa menangis memanggil namanya.
Kalau aku balik ke tubuhku sekarang aku takut pangeran akan terkejut melihat roh Bangauku masuk ke tubuh manusiaku.
Maka Kireni memilih lebih baik menunggu sampai Dewa meninggalkan kamarnya, baru dia akan kembali.
Sekarang aku kemana enaknya, Sora!
Kireni teringat teman barunya.
Apa sebaiknya aku memberitahu Sora, siapa aku sebenarnya. Kalau dia terkejut, tinggal menghapus ingatannya kan beres.
Hehehe, Kireni tertawa membayangkan raut terkejut Sora dan kelima bayi saat melihat wujud aslinya.
Aku harap mereka tidak terkejut, biar ada manusia yang berbagi rahasia denganku.
****tbc.
Like, komen and share, thanks, 👍
__ADS_1