The Crane Dan Lima Bayi Kembar

The Crane Dan Lima Bayi Kembar
Bab. 24


__ADS_3

Satu hari menuju pernikahan.


Menjelang malam Claudia dan keluarganya berangkat ke Hotel WJ, tempat resepsi digelar. Mereka akan menginap malam ini sampai seminggu berikutnya.


Di Hotel ini Claudia akan menghabiskan malam pertamanya sebagai isteri Dewa, walaupun sudah pernah curi start beberapa kali sebelum menikah. Tidak ada bulan madu yang dijanjikan Dewa padanya, seperti impian-impian pengantin baru biasanya.


Undangan terbatas pada kalangan artis papan atas dan keluarga dari pihak Claudia, sedangkan keluarga Dewa tidak ada yang diundang.


Untuk itu pun aku harus sabar, hah! Tunggu aku hamil anak kamu, lihat apa sikapmu masih sama.


Di kamar pas ditemani Sonia, Claudia baru selesai fitting gaunnya sekali lagi. Dia agak cerewet, banyak permintaan. Kurang ini kurang itu, tambah ini tambah itu.


Designer jadi bete, kenapa tidak bilang dari awal. Kalau gini karyawan harus lembur, dua kali dia harus membayar gaji. Tapi pelanggan adalah raja harus sabar menghadapinya kalau mau terus jadi langganan, apalagi Claudia Model internasional. Masih harus pasang senyuman di wajah walaupun hati kesal.


"Bisakan Kak Ivan diganti motifnya, disini kek kurang glamor deh," tunjuk Claudia pada gaun putih berendanya.


Designer bisa apa kecuali harus menyetujuinya saja. "Bisa tapi pegawai jadi lembur sampai pagi," sindirnya semoga yang disindir pengertian.


"Jangan khawatir Kak, saya yang akan bayar gaji lembur mereka."


Nah itulah bagusnya Claudia, walau cerewet tapi dia gak pelit sama duit. Sangat menghargai orang yang bekerja keras seperti dirinya.


"Oke kalau gitu," senyum Designer. Kali ini dia ikhlas begitu juga anak buahnya, lumayan dapat tambahan dalam hati mereka.


"Mengenai Jas, gimana ya ngepasinnya ke Pak Dewa?" tanya designer.


Tidak satu kali pun dia mau datang fitting. Untuk ukuran badan, Baim memberikan jas lamanya sebagai patokan. Designer ngarap banget bisa bertemu Dewa, pengusaha sukses yang sering masuk majalah bisnis. Ketampanan setingkat Dewa perlu diabadikan di laman sosial medianya, sekalian buat promosi hasil karyanya hehe.


"Bentar ya Ka Ivan, aku telpon lagi." Claudia gak mau putus asa, walau sudah sering dicuekin. "Mak, pinjam ponsel." Claudia mengulur tangan pada Sonia.


Hm, "ya pasti ketahuan lah kalau mau nyamar, kan Baim ada nyimpan kontak gua." jawab Sonia tau maksud Claudia. "Pake hape Ivana aja, kan ada alasan mau fitting Jas." Sonia mengusulkan.


"Oh iya benar, boleh pinjam ponsel. Pasti kak Ivan pingin jumpa Dewa juga kan?" Claudia menggoda designer.


Tersipu malu. "Nih," Ivana memberikan hapenya dengan senang hati, sekalian dia bisa keep nomor Dewa nanti.


Rumor mengenai pria kutub itu tidak suka cewek sudah tersebar di kalangan para seleb, siapa tau sukanya cowok gemulai yang full power sepertiku dalam hati Ivana. Dirinya dan Sonia satu komunitas dari spesies yang sama, kaum minoritas.

__ADS_1


***


Dewa tetap tidak mau pergi fitting kalau harus ke hotel, ada Kireni yang sudah pasti tidak mau ditinggal. Baim meminta anak buahnya yang pergi menjemput jas Dewa, dia juga malas mau bertemu Claudia.


"Tuan, silahkan dicoba!" Pelayan yang bertugas menjemput jasnya telah tiba.


Hm, Dewa meletakkan stik gamenya. Dia lagi seru main game online bersama Kireni, lagi-lagi anak itu kagum dengan permainan canggih manusia bumi.


Tidak sia-sia aku mengembara mencari Pangeran dalam hatinya. "Mau kemana, Om?"


Nah itu lah Kiren, seseru apapun dia main tidak bisa lihat Dewa gerak dikit.


Om?


Dewa mengerut dahi dipanggil Om. "Kamu main dulu sama Baim, Paman mau fitting baju."


Fitting baju, apa itu.


"Ikut." Kireni menyusul Dewa ke ruang pakaian, melemparkan stik gamenya.


Aish!


"Sebentar, mau tau apa itu fitting baju!" Kireni tidak perduli cepat menyusul pamannya.


"Fitting baju ya ngepas baju," teriak Baim. Dia paling malas melihat setiap kali Dewa fitting, ketampanannya mengintimidasi.


Sebagai asisten yang selalu standby di sisi Dewa yang jam kerjanya serba cepat, dia belum punya kesempatan. Padahal sudah lama Dewa menyediakan ruangan bermain untuk karyawan tapi gak ada yang berani bermain. Sekarang ada kesempatan, lawan mainnya pula kabur.


"Main sama aku yuk, Dan."


Bodyguard juga mulai santai sejak ada Kireni, ternyata Bos Dewa tidak sedingin kelihatannya.


Cis, dengus Baim. "Kamu bisa main?"


"Bisa! Siap-siap aja Komandan dapat malu," ledek Bodyguard.


Dari tadi tangannya sudah gatal pingin main, saat Dewa bolak balik dikalahkan Kireni. Gak nyangka hebat juga anak itu, pengen sekali-sekali menjajal kemampuannya.

__ADS_1


Baim menerima tantangan Bodyguard, benar saja dalam lima menit ia defeated oleh bodyguard dalam permainan single player.


Baim gak senang menerima kekalahan, melihat orang bermain sepertinya mudah tapi ternyata sulit. Cis, "ayo main lagi."


"Oke," jawab Bodyguard.


Beberapa anak buah mulai berani mendekat, ingin melihat mereka bermain syukur-syukur dikasi kesempatan mencoba.


***


Di kamar Dewa, kireni baring tengkurap di kasur kakinya diangkat sambil mainin ponselnya. Sudah tidak heran lagi baginya bagaimana Kireni bisa tau kata sandinya.


Dewa keluar dari ruang pas pakai Jas komplit benar-benar tampan. "Apa kita akan naik pesawat lagi?" tanya Kireni merasa dejavu, segera ia duduk dari baringnya. Kireni mengaitkan kejadian waktu mau pulang ke Negara I, Dewa dan dirinya sempat fitting baju di Mall.


Hm.


Dewa bingung mau bilang atau tidak, mengenai pernikahannya.


"Tidak Kiren! Kita memang besok mau ke suatu acara tapi tidak perlu naik pesawat cukup naik mobil, kamu harus bangun pagi jika tidak mau ketinggalan."


Ah, itu masalah kecil senyum Kireni. "Apa aku perlu fitting juga?" Kireni tak berkedip memandang Dewa, lebih tampan dari biasanya yang memang sudah tampan.


"Tidak perlu. Kamu masih punya baju banyak di lemari, pakai yang mana saja boleh."


"Hm, baiklah." Kireni tertunduk lemas. Dia mau sama seperti Dewa, pantang tak top istilahnya.


Dewa senyum melihat ekspresi Kireni, putar kanan putar kiri di depan cermin. Dirasa sudah pas dan bagus, "terima kasih, tidak ada masalah tapi tolong di steam lagi yang rapi." Berkata pada pelayannya.


"Baik, Tuan."


***


Malam hari saat mau tidur kembali Dewa dibuat pusing, Kireni tidak mau disuruh kembali ke kamarnya. Bagaimana nanti kalau sudah menikah ada Claudia, masa mau tidur bertiga,


Dewa mengusap pipi gadis aneh yang berbaring di sampingnya, karena percuma juga Dewa menunggui Kireni tidur di kamarnya. Dia bisa pindah sendiri tanpa membuka pintu.


Jalan satu-satunya adalah dengan memberinya pengertian. "Kiren, seorang gadis pintar hanya akan tidur bersama laki-laki, nanti bersama suaminya setelah dia menikah."

__ADS_1


***tbc


Like komen and share, 👍


__ADS_2