The Crane Dan Lima Bayi Kembar

The Crane Dan Lima Bayi Kembar
Bab. 80


__ADS_3

Hehe.


Dwi hanya tersenyum terbayang wajah suaminya yang serius jika sedang di khalayak ramai, tapi tidak jika sedang berdua dengannya. Beruntung ada Kiara harta peninggalannya walaupun hasil perselingkuhan, seandainya Burhan tidak selingkuh, Dwi tidak dapat membayangkan betapa sepi hidupnya sekarang, hah.


Rencana Allah memang lebih indah.


Bram jadi haru melihat raut sedih Dwi. "Kita bawa bayi-bayi pulang sekarang selagi masih tidur, kalau menunggu bangun sepertinya tidak mungkin mereka mau diajak baik-baik," usul Bram.


"Bram! Bayimu itu penyihir, kamu yakin mereka gak balik lagi kemari?" Tanya Alisha.


"Itu urusan nanti Mama, sekarang bawa dulu saja. Ayo kalian gendong masing-masing satu." Bram memerintah sitters.


"Baik Tuan," jawab Sitters ingin maju mendekati kasur terdengar suara, "permisi," sapa seorang pelayan di depan pintu tersenyum hormat pada semua. "Sebaiknya makan dulu sebelum pulang, Pak Dewa sedang menunggu di meja makan untuk menikmati hidangan bersama," ujarnya.


"Iya, terima kasih." Ucap Alisha. "Biarkan bayi tidur sedikit lebih lama, ayo Dwi kita turun," ajaknya.


Ini pertama aku berkunjung ke rumah Dewa tampan, rugi kalau langsung pulang.


Dalam hati Alisha.


Ck.


Berdecak kesal karena selalu tidak bisa menang jika beradu pendapat dengan perempuan yang dipanggil Mama dan kedua pada perempuan yang dipanggil istri.


Nyonya besar lagi puber kedua, hais.


Keluh dalam hati Bram.


Kiara melebarkan tangannya minta digendong oleh suaminya turun dari kasur, tentu saja Bram dengan senang hati menyambutnya. "Melihat bayi tidur aku jadi ngantuk," ujarnya.


Ck.


"Kiara, jangan mancing ya." Bram memajukan bibirnya.


Astaga.


"Siapa yang mancing, kamu itu yang ngeres Bram. Orang ngantuk mikirnya ke mana-mana," jawab Kiara mentoel hidung mancung Bram.


Hehe. "Tapi aku cinta padamu," ucap Bram.

__ADS_1


Kiara mengelak saat suaminya itu ingin meraih bibirnya. "Ini di rumah orang, bagaimana kalau kamu turunkan aku sekarang."


"Hm," mengernyit atas penolakan Kiara. "Sekali, sejak turun dari pesawat kita belum berciuman." Bram memajukan bibirnya.


Memang hanya mereka berdua di dalam kamar itu beserta bayi-bayi yang tertidur pulas, Alisha, Dwi dan sitters sudah turun terlebih dahulu.


Kiara pun memenuhi permintaan Bram mengecup bibirnya, namun bagi Bram belum puas jika belum saling melu mat.


*


Di ruang makan Dewa menunggu tamunya, hidangan telah tersedia di meja makan yang telah berganti dengan yang lebih besar dua kali lipat.


Hah, baru saja pagi kemarin diomongin, tamu tak diundang sudah datang seperti magic cepat banget munculnya.


Gerutu dalam hati Baim yang duduk di sebelah kanan Dewa, disusul Arjit, Sabit dan Lee berurutan.


Alisha di sebelah kiri Dewa disusul Dwi, tidak kelihatan sitters duduk di meja makan karena tidak ada bayi yang harus mereka layani. Khusus siang ini mereka melayani keluarga Wijaya dewasa.


Bram dan Kiara turun deri lantai tiga bergandengan tangan, senyum mengembang di wajah keduanya. Bahagia mengetahui bayi-bayinya sehat wal afiat tidak kurang suatu apapun.


Di meja makan. "Kemana Kiren dan Sora?" Tanya Alisha memandang Dewa.


"Mereka masih tertidur pulas kasihan jika dibangunkan," jawab Dewa.


Kiara duduk di samping Dwi disusul Bram duduk di samping istrinya. "Walaupun belum bangun kita akan membawa mereka, selesai makan kita pulang!" Bram berkata tegas.


"Hum."


Bagaimana jika Kireni pergi meninggalkanku setelah teman-temannya tidak lagi tinggal disini.


Dewa mengernyit khawatir. "Biarkanlah mereka disini barang setahun ataupun selamanya, saya tidak keberatan menanggung biaya hidup mereka seluruhnya." Berkata Dewa nada memohon.


Ha!


Baim melongo mendengar perkataan Dewa, apalagi Bram dan Kiara sebagai orang tua kandungnya.


Alisha sebagai neneknya merasa senang-senang saja jika hanya ada Dewa, akan tetapi ada gadis aneh yang akan mempengaruhi jalan pikiran cucunya tentu saja ia khawatir.


"Pak Dewa, jika anda menyukai bayi buatlah sendiri. Saya mendengar anda telah menikah tapi saya tidak melihat ada perempuan berstatus Nyonya Dewa di meja makan ini," sinis Bram.

__ADS_1


Baim memandang gak senang pada Bram lalu menjawab. "Bukan Pak Dewa yang menginginkan mereka tinggal di sini, tapi bayi-bayi yang merepotkan itu memaksa ikut kemari. Tadi itu hanya basa-basi saja, anda jangan kegeeran. Kalau mau dibawa pulang sekarang saja bawa, tidak ada yang melarang!" Ketusnya.


Semua yang mendengar terdiam, merasakan aura tegang. "Baim!" Dewa menegur asistennya.


"Iya bos! Silahkan makan saya juga lapar," jawab si asisten pura-pura bego.


"Minta maaf pada keluarga Wijaya," ujar Dewa.


Ha!


Baim menganga mendengarnya. "Saya hanya membela anda Bos, agar orang tidak bicara sembarangan!" Marah Baim, dia tidak sudi minta maaf pada si Tuan Arogan.


Dewa memandang tajam Baim. "Minta maaf terlebih dahulu."


*


"Tidak perlu Pak Dewa, putra saya juga bicara keterlaluan." Ujar Alisha segan kemudian memerintah putranya itu meminta maaf pada Tuan rumah Yang baik hati. "Bram, minta maaf pada Pak Dewa." Tegas Alisha.


Tentu saja Bram keberatan disuruh minta maaf pada orang yang ingin menguasai bayi-bayinya. "Mama tidak dengar apa yang dikatakannya, ingin bayiku tinggal disini selamanya hah. Itu namanya highjeck Mama, membajak! Aku tidak akan membiarkan kedua bayiku tinggal disini walaupun semenit," jawab Bram tidak memperdulikan Alisha, untuk bayi-bayi dia lebih berhak memutuskan.


"Ayo sayang kita bisa makan di tempat lain," lanjutnya segera bangun dari duduknya menarik tangan Kiara ikut bersama, lalu memerintah pada sitters. "Kalian semua bawa bayi-bayi ke mobil, cepat!"


Sitters menunduk segera bergegas ke tangga, Bram memandang Kepala pengawal yang duduk di samping Samsir. "Baru pergi cari Sora, walaupun masih tidur angkat saja bawa ke mobil."


Sebagai Bos besar semua harus patuh padanya terutama Kepala Keamanan Barus. "Siap Tuan muda!" Jawabnya.


Melihat Barus berdiri Samsir jadi ikutan berdiri walaupun dia supir Alisha tidak ada hubungannya dengan masalah ini.


Baru ini sempat makan kalau masih harus ditunda lagi bisa mati kelaparan.


Dalam hati Arjit melihatnya jadi serba salah. "Bram tunggu dulu," ujarnya menahan tangan keponakannya.


Dewa yang semakin khawatir mencoba sabar dan mengulur waktu. "Paling tidak pergilah setelah makan, mari nikmati hidangan yang tersedia. Semoga bisa memanjakan lidah-lidah anda semua sehingga tidak ada makanan sisa yang terbuang sia-sia," ujarnya.


Alisha tersentuh dengan keinginan Dewa mempertahankan bayi-bayi, dan Bram sebenarnya juga tidak salah.


Kadung cucu-cucuku lagi maruk mantra lebih baik gadis aneh itu yang tinggal denganku, daripada membiarkan keduanya tinggal disini.


"Terimakasih Pak Dewa, setelah ini ikutlah ke Mansion. Saya mengundang anda tinggal dengan kita walaupun itu untuk seumur hidup anda, saya akan menanggung semua biayanya," kata Alisha.

__ADS_1


***tbc.


like komen and share, 🙏


__ADS_2