The Crane Dan Lima Bayi Kembar

The Crane Dan Lima Bayi Kembar
Bab. 14


__ADS_3

Kireni keasyikan bermain air sampai lupa waktu, ternyata seru banget jadi manusia. Mandi busa di dalam bak, Kireni sangat mengagumi tubuh manusianya. Kaki rampingnya diangkat ke atas tinggi-tinggi. Menyentuh setiap inchi bagian tubuhnya, wangi sabun membuat Kireni terlena. Dia melempar 3 bebek lagi ke dalam bathtub sehingga air penuh buih, dan busa kemana-mana bahkan jatuh ke lantai.


Tok tok tok!


"Kiren!" panggil Dewa.


Oh, Kireni kaget segera menurunkan kakinya. "Iya," jawabnya.


"Sudah selesai mandinya belum, waktunya makan. Apa kamu tidak lapar?" tanya Dewa.


Oh, iya lapar. Aku harus lapar kalau gak makan nanti pangeran curiga.


"Iya Pangeran, sebentar aku masih berendam," jawab Kiren. Aku harus kelihatan seperti manusia normal, tapi masih perlu banyak belajar ah! Kalau ada Mengyue kan bisa bertanya, hais.


Pangeran, kenapa Kiren memanggilku Pangeran dalam hati Dewa membuka pintu kamar mandi bertepatan dengan Kiren keluar dari dalam bak.


Astaga!


Kireni berdiri di depan Dewa polos tanpa sehelai benang, tubuhnya penuh dengan busa dari ujung kepala sampai ujung kaki.


"Aah!"


Dewa menjerit kaget, Kireni tak kalah kaget.


"Ada apa Pak Dewa?" suara Baim baru sampai pintu kamar tertahan suara Dewa.


"Jangan masuk!" teriak bosnya itu, Baim tambah kaget segera melangkah mundur.


Dengan cepat Dewa menyambar handuk menutupi tubuh Kireni, seketika terkesiap melihat ada gambar Bangau cantik di punggungnya. Benarkah dia manusia, terngiang lagi pertanyaan Sarimon. Ah, tentu saja. Dewa membuang jauh prasangka anehnya.


Melihat raut Dewa. "Kenapa pangeran menjerit?" tanya Kireni.


"Kiren! Gambar di punggung, kamu tatto di mana?" tanya Dewa. Semoga mendapat petunjuk dari orang yang membuat gambar.


Tatto, apa itu batin Kiren. "Di sana," jawabnya asal padahal ia tidak tau apa maksud Dewa.


"Kamu benar-benar menyukai bangau, sampai-sampai menggambarnya di punggungmu. Ayo siram tubuhmu di bawah Shower!"


Oh, Kireni berdiri patuh, Dewa menggosok tubuhnya. Karena masih kecil, Dewa rasa tidak apa-apa dia membantu Kireni mandi. Sepertinya Kireni anak yang kurang akal pikiran, mungkinkah karena itu ia dibuang? Bagian dadanya belum sempurna, daging tumbuh masih sebesar biji salak. Tapi kenapa darah di tubuh Dewa, ser-seran melihatnya.

__ADS_1


Aih, benarkah ada gambar Bangau di punggungku batin Kireni. "Apa gambarnya jelek, Pangeran?" tanyanya. Dewa tersadar, barusan dia melamun mengagumi tubuh Kireni. Kehalusan kulitnya juga area perempuannya yang licin tanpa bulu.


"Tidak Kiren, bagus kok. Tapi kenapa kamu memanggilku Pangeran?"


"Oh,"


"Karena Pangeran sangat tampan," jawab Kireni.


Cis! "Kamu masih kecil, tau apa tentang pangeran tampan?" Senyum Dewa.


"Tau dong! Dengan sayap pangeran bahkan jauh lebih tampan," puji Kireni dengan fasihnya.


"Sayap?" tanya Dewa mengerut dahi.


Ups! Aish Kiren, bicara apa kamu?


"Hehe, umpamanya. Pangeran punya gak?" tanya Kireni ngeles, malu-malu. Wajah Dewa sangat dekat sementara jemarinya sangat lembut menyentuh kulitnya. Benar-benar anugerah, tidak sia-sia dia mengembara ke Bumi. Sesuatu yang tidak mungkin terjadi di alam Peri, memandang Pangeran sangat jauh di atas levelnya.


Tampan di alam Peri begitu juga di alam manusia, hihi.


"Saya tidak punya sayap Kiren, apa kamu punya?" tanya Dewa penasaran, apakah Kireni akan menjawab, iya.


"Berapa usia kamu, Kiren?" tanya Dewa lagi, pria tampan itu geleng kepala melihat Kireni senyum-senyum sendiri gak ada segannya. Santai saja tubuhnya dikuel-kuel.


"Usia saya 900tahun, Paman," jawab Kireni. "Usia Paman Dewa berapa?" tanyanya tanpa merasa berdosa.


Apa!


Dewa shock mendengar jawaban Kireni. "900 tahun! Kamu tau berapa itu, tidak ada manusia normal zaman sekarang setua itu! Memangnya dinosaurus?" Dewa melotot tajam.


"Hehe, jadi berapa?" tanya Kireni.


"Kamu sekolah gak?" tanya Dewa lagi mulai curiga isi otak si kiren ini lari berapa jauh.


"Saya malas pergi sekolah lebih seru bermain." Selalu diledek teman-teman karena wujudku masih bangau sih jadinya kesal lanjut dalam hati Kireni.


Dewa memperhatikan raut Kiren yang mengerut kelihatan berpikir keras.


Hais, 900 tahun di langit apakah sama dengan anak 90 atau 9 tahun di Bumi. Semoga saja.

__ADS_1


"Mungkin sembilan," jawab Kireni membetulkan ucapannya.


Hm, angguk Dewa. Ia telah selesai mengeringkan tubuh Kireni, "Itu baru benar," Dewa mengusap gambar burung di punggung gadis kecil aneh yang baru ditemuinya itu, sepertinya alami bukan tatto.


"Kiren, siapa orang yang menggambar di punggung kamu?" tanya Dewa.


Ah, gambar di punggung? "tidak ada," jawab Kiren, dia bahkan tidak tau ada gambar di punggungnya kalau Dewa tidak memberitahunya.


Jadi benar ini bukan tatto, seperti tanda lahir. Siapa sebenarnya Kiren ini?


"Kiren, mana pakaian kamu yang tadi? Sementara pakai itu dulu malam ini, besok kita beli baju yang baru," ujar Dewa, nanti saja dibahas lagi masalah tatto. Sebaiknya keluar dulu dari kamar mandi baru nanya-nanya lagi batinnya.


Astaga! Aku telah menghilangkan pakaianku, oh tidak! Bagaimana aku bisa lupa melepasnya dengan cara manusia, sekarang aku harus mengembalikannya dengan cara sihir tapi tidak mungkin di depan pangeran, bisa kaget dia ah!


"Itu, Paman." Kireni menunjuk ke arah belakang Dewa sambil menggunakan sihir, Cring! Syukurlah berhasil, aih kalau gak bisa gawat aku gak punya pakaian.


Dewa menoleh, terlihat pakaian Kireni teronggok di dekat pintu dalam keadaaan basah. "Ini tidak bisa dipakai, kenapa dibasahi bajunya Kiren? Sekarang kamu pakai apa, gak ada baju ganti!"


Aduh merepotkan, kenapa bisa basah? "Tidak apa, pakai itu saja," jawab Kireni mengutip pakaiannya, nanti juga kering pakai sihir lanjut dalam hatinya.


"Tidak bisa, nanti kamu masuk angin!" Dewa mengambil pakaian dari tangan Kiren, meletakkan nya di dalam keranjang baju kotor. "Ayo ikut aku," lalu ia menyeret Kiren.


Baim dan dua bodyguard bengong melihat Kiren ditarik keluar dari kamar Kiren masuk ke kamar Dewa hanya dengan mengenakan handuk. Mereka pandang-pandangan, sejak kapan Bos Dewa tertarik ngurusin anak gadis kecil dalam hati mereka.


Keluar dari kamar Dewa, Kireni pakai kaos Dewa yang kedodoran. Sekarang masalahnya Kireni tidak pakai underwear, bagaimana mau duduk di depan para pria jomblo. Cempak Dewa gak ada yang kecil setelah di tes melorot semua terjun bebas di kaki Kireni.


Astaga!


*


Perusahaan TC grup adalah perusahaan finansial terbesar se Asia yang juga telah merambah ke benua Amerika. Demi memajukan bisnis di Negara A, banyak perusahaan aliansi Asia yang main belakang karena kurangnya pengawasan dari pusat. Untuk itu Dewa diutus oleh ayahnya ke negara I.


Di Benua Amerika, Dewa terbiasa dengan perusahaan besar dan mapan. Sekarang dia benar-benar dibuat repot oleh perusahaan-perusahaan kecil dari Benua Asia. Di negara I sudah lumayan teratur, sekarang Negara J berulah.


"Bagaimana dengan makan malam Pak Dewa dan kawan-kawan?" tanya Sarimon.


"Anak buah kita tidak bisa lewat mengantar makanan ke penginapan bos, pengawalan diperketat. Mengenai makan malam bodyguard pergi membeli sendiri," jawab anak buah Sarimon.


***tbc.

__ADS_1


Like, komen and Share, jumpa lagi 👍


__ADS_2