
"Hahahaha."
Bayi-bayi perempuan tertawa, tidak perduli pada Duta yang merah padam mau menangis melihat Kak Kirennya terpojokkan.
"Ka Kireni tidak punya mantra, mana bisa menyihir mereka pulang, hahaha."
Berani sekali bayi-bayi ini mengejekku hah, belum tau dia batin Kireni pantang dipancing ya kan.
"Iya, maaf bayi-bayi. Aku cuma bercanda karena khawatir mereka akan terluka," ucap Kireni sambil dalam hatinya merapal mantra. Yaitu mantra pembersih daun-daun, bunga-bunga, rumput liar yang ada di taman bermain sekolahnya di alam Peri jika lagi tugas membersihkan halaman.
Minggaos kaliousemuose, wus...
Tidak menunggu lama orang-orang berangsur bubar seperti ditiup angin, tidak sampai lima menit jalanan lengang. Kosong plong hanya ada mobil Limosin yang mereka tumpangi di sepanjang penglihatan.
Kalau mau lebih diteliti lagi, gedung-gedung perkantoran sepanjang jalan protokol Jkt, semuanya kosong. Orang-orang yang sudah ngantor tiba-tiba bingung, kenapa mereka masih ada di rumahnya padahal tadi sudah berangkat naik kereta api subuh dari luar kota. Begitu juga yang tinggal di Apartemen, kenapa mereka jadi balik lagi.
Yang anak-anak kost cewek lebih bingung, tadi perasaan sudah berangkat. Sengaja jalan lewat kost-kostan cowok mau tepe-tepe, harus jalan lagi kembali ke tempat kerja. "Kayak setrikaan aja neng, mondar-mandir?" Kan malu digituin.
Yang dari luar daerah yang lebih kasihan. "Lho mas kenapa udah pulang, dipehaka lagi?" Tanya istrinya heran, karena biasanya suami pulang pas gajian sekalian garap sawahnya. Kok ini tanggung bulan udah nongol, kalau gak di pehaka apalagi coba.
"Mas juga gak tau dek," jawab si suami pusing garuk-garuk kepala sekalian garuk pantat yang tiba tiba gatal melihat Istrinya handukan barusan keluar dari kamar mandi.
Di ruko-ruko juga terjadi keanehan, majikan-majikan pusing nyariin pembantunya. Pagi-pagi jam sibuk kerjaan banyak numpuk, waktu di telpon katanya ada di kampung.
Yang dagang dipinggir jalan apalagi, kan dari daerah semua itu. Stand pada kosong, semua jualan gak ada yang nungguin. Manusianya mendadak hilang baik pedagang maupun pembeli seperti tersedot ke dalam portal ruang dan waktu.
Tanpa Kireni sadari telah terjadi kekacauan perekonomian di jantung kota Jkt pusat.
*
"Ha!" Kelima bayi saja tercengang, apalagi orang dewasa.
Mangap-mangap seperti ikan Arwana yang kekurangan oksigen, mata membelalak tidak terkecuali Dewa. Baim paling lebar diantara semua mulut yang terbuka.
__ADS_1
"Wah, mantra Moni dan Choi berhasil!" Kireni pura-pura memuji kedua bayi. "Yeeee!" Lanjutnya bersorak sambil bertepuk tangan sendirian tidak perduli tatapan orang-orang.
Prok prok prok!
"Astaga." Melihat Kireni, Dewa geleng kepala memicit keningnya tiba-tiba pusing.
Sedangkan Baim memandang Dewa curiga bosnya itu punya sesuatu yang disembunyikan, siapa orangnya di Mansion yang tidak memandang aneh pada Kireni. Dari pelayan, karyawan sampai Satpam serta bodyguards, cuma mereka gak mau ribut di depan majikan Dewa. Hanya Baim yang tau, mereka membicarakan apa di belakangnya.
"Wow."
Sora memandang Moni dan Choi takjub, tak percaya dengan apa yang barusan dilihatnya. Dia jadi ingin dibacakan mantra penghilang ke Amrik bertemu Om Ze nya.
"Wah, kalian benar-benar keren!" Sebi memuji kedua kembar Baby Moni and Choi. Dalam hatinya cemburu, merasa dirinya sebagai ketua kelompok tidak ada apa-apanya jika dibandingkan dengan kedua Penyihir cilik.
Moni benar-benar shock, matanya memerah, pipinya juga merah, bibirnya memang selalu merah jadi gak heran. sitternya segera mengambil anak asuhnya yang terdiam mematung.
Baby Choi lebih enjoy, selain penyuka Hewan dia juga Fans fanatik termuda film-film sihir dari seluruh dunia. Choi bahkan pernah meminta Papa Bram agar saat masuk TK didaftarkan di Hogwarts school of witchcraft and Wijardy di London. Sekolah tokoh Penyihir idolanya, Om Harry Potter.
"Benarkah itu karena mantra sihirku dan Moni?"
Membelalak bukannya takut tapi lebih kepada exciting, betapa senangnya Choi mengetahui bahwa ternyata dia memiliki darah keturunan seorang penyihir seperti idolanya.
Waduh gawat.
Batin Kireni tiba-tiba merasa ada yang salah. Di samping kasihan melihat Moni yang termangu diam membisu di pelukan Sitternya ditambah lagi Choi yang udah ngarep banget memiliki mantra sihir.
"Tentu saja," ups Kireni mengatup bibirnya yang sering berpikir kurang logika jadi suka keceplosan kalau bicara.
Daripada rahasia diriku terbongkar lebih baik Moni dan Choi yang dikambing hitamkan.
Batinnya, dan kalau Kireni yang bicara semua bayi sudah pasti langsung percaya no debat.
"Ajarin aku Moni, ya Please!" mohon Sevi. Alangkah senangnya jika dia juga punya sihir, mau apa saja tinggal baca mantra ya kan.
__ADS_1
Moni menggeleng, diantara dua kembar dia lebih berpikiran realistis. Tidak yakin kalau dia punya mantra, pasti ada sesuatu yang tidak beres dalam hal ini.
Melihat ekspresi Moni dan sifatnya yang selalu perhitungan, bayi kembar lainnya beralih ke Baby Choi. "Kamu aja ya Choi, yang ngajarin aku. Sesama saudara kita harus berbagi ilmu ya kan." Sebi tidak gengsi untuk memohon demi sebuah mantra, sebagai ketua gak mau dong kalah dari anggotanya.
Choi memandang tangannya antara percaya dan tidak mungkin dalam hatinya. "Benarkah, mantraku berhasil?" gumamnya masih memandang Kireni mohon pencerahan.
"Coba saja lagi Choi! Pulangkan para bodyguards kembali ke Mansion hahaha." usul Sebi tertawa konyol.
Gleg.
Para bodyguards meneguk liur, antara percaya atau tidak. Tapi dalam hati mereka penasaran, benarkah Choi bisa mengirim mereka kembali ke Mansion. Asal jangan raib di telan Bumi aja, ya kan.
"Oke, baiklah aku akan mencobanya." Choi berkata dengan polosnya mulai beraksi.
Oh, my God.
Ucap Kireni minta ampun pada Tuhan langit diatas langit. "Tunggu!" Tahannya.
Bisa gawat kalau memulangkan bodyguards sekarang, siapa yang akan menjaga bayi-bayi.
"Bagaimana kalau satu mobil Paman saja yang dikirim ke Mansion?" Kireni mengerling manja pada Dewa.
Gleg.
Dewa antara mengangguk dan menggeleng dia sendiri gak yakin. "Choi, kamu yakin akan mengirimkan mobil ke Mansion Paman kan, bukannya ke Mansion Nenekmu?" tanya Dewa maksudnya pada Kireni walaupun dia menyebut nama Baby Choi
Ck ck ck, decak Baim geleng kepala. "Bos yakin dengan apa yang bos tanyakan?" tanyanya. Tidak menyangka pria dewasa serealistis Dewa bisa-bisanya ikut drama permainan bayi-bayi halu.
Hm. "Tentu," jawab Dewa yakin.
Aku bahkan pernah melihat Kireni menghilang di depan mataku.
Dalam hatinya juga penasaran apakah kali ini akan berhasil sekalian dia ingin memastikan dugaannya terhadap Kireni. "Oke, Paman setuju. Silahkan kirim ke Mansion Paman tapi kalau nyasar entah kemanapun, kalian harus menggantinya dengan yang sama persis."
__ADS_1
***tbc.
Like, komen and share 👍