
Saking senangnya Duta tak kuasa menahan debaran jantungnya lalu berkata dengan bibir yang agak kelu. "A-aku Duta, pria paling tampan di keluarga grup WJ .."
"Iya benar," sambung Choi belum selesai Duta bicara.
Ketiga bayi perempuan menatapnya curiga. "Apa kau menyukai Duta?" tanya Moni serta merta.
"Eit," tahan Duta sebelum Choi membuka mulutnya.
"Diantara kalian tidak ada yang boleh menyukaiku, karena aku sekarang sudah punya Kak Kiren," ujarnya tanpa peduli raut kecewa Baby Choi.
Plak!
Lara Sebi menabok pundak Duta. "Hu! siapa yang menyukai adiknya sendiri!"
"Siapa tau kamu punya kelainan, hehe." Duta.
"Sudah Duta, ayo tanya lagi. Malah bertengkar." Moni melerai kedua orang bersaudara, gak sabar mau dengar suara burung bicara.
Astaga, bocil-bocil ini terlalu cepat dewasa.
Dalam hati Kireni jadi teringat Sora si bocil penyuka drama dewasa, hm. "Aku Bangau Abadi dari alam Peri," jawabnya.
"Aaa..tidak..tidak! Ini keren sekali!" Teriak Sebi melompat-lompat kegirangan.
"Benar sekali. O~aku juga mau punya burung." Choi merajuk manja.
"Coba tanyakan, apakah dia punya saudara kembar seperti kita." Sevi menyuruh Duta, dia jadi cemburu pengen punya Burung Abadi juga.
"Iya iya, kalau boleh kembar empat, aaaaa!!!" Lagi-lagi Sebi terpekik girang.
Bagaimana kalau aku mengatakan yang sebenarnya sekarang, bahwa aku adalah Kireni. Apakah mereka akan percaya, apakah Duta masih akan menyukaiku?
Batin Kireni menimbang-nimbang, keputusan apa yang harus diambil, baiklah.
"Aku gak punya kembaran maaf," jawab Kireni gak bohong kalau dia punya saudara. Tidak mungkin dia bilang punya kakak laki-laki kan...
"Yeah..." keempat bayi perempuan menunduk lemas.
"Tapi boleh kan aku berteman denganmu," mohon Baby Choi, tidak mau melewatkan kesempatan memiliki teman hewan keren yang bisa bicara.
"Iya, aku juga mau jadi temanmu." Sevi memelas.
"Aku juga," Sebi tak mau ketinggalan.
"Tentu saja boleh," jawab Kireni.
"A yes," seru keempat bayi perempuan teramat senang.
"Nah Duta dengar itu, kita juga boleh berteman. Bukan milikmu seorang seperti Kak Kiren itu, seenaknya main klaim-klaim sendiri." Sebi memperingatkan Adik laki-lakinya agar jangan egois.
Ketiga Sevi, Moni dan Choi mengangguk setuju, "betul," ucap mereka berbarengan.
"Iya baiklah," ujar Duta teringat pesan Ayah Yudi, harus ngalah pada perempuan.
__ADS_1
"Apakah kamu punya nama?" Duta bertanya pada Kireni, dari tadi dia penasaran.
"Oh, iya hampir lupa. Siapa namamu, aku Lara Sebi juru bicara merangkap ketua kelompok." Sebi duluan memperkenalkan dirinya.
"Aku Lara Sevi sebagai sekretaris ketua," sambung Sevi.
"Ha, sejak kapan?" Keempat yang lain melotot padanya.
Hehe, "Aku mengangkat diriku sendiri sekarang," senyum Sevi, "aku kan mau juga punya jabatan."
"Kalau begitu aku Baby Moni sebagai Bendahara, karena Papa Bram punya banyak uang," ucap Moni gak mau kalah memilih jabatannya.
"Aku Baby Choi sebagai apa dong?" tanya Choi, gengsi kan gak punya jabatan.
"Kamu dan Duta bagian anggota saja, itu juga jabatan penting di dalam sebuah kelompok," usul Lara Sebi.
"Baiklah," Choi tertunduk lemas.
Ck ck ck, decak dalam hati Kireni.
Ada-ada saja bayi-bayi ini.
"Jadi siapa namamu?" tanya Duta lagi, merasa familiar mendengar suara si burung jadi teringat pada Kak Kiren.
Mati aku, nama apa yang akan kuberikan...
Tok tok tok.
"Ha!!" Kelima bayi serentak menoleh ke pintu.
"Belum!" Teriak Sebi cepat.
"Sudah habis waktunya, ayo sekarang buka pintunya!"
"Bagaimana ini?" tanya Sebi sebagai juru bicara dia harus jawab apa, baru kali ini dia kehabisan kata-kata.
"Kalian keluarlah, aku juga harus pergi sekarang. Nanti aku datang lagi mencari kalian," ujar Kireni melihat kebingungan bayi-bayi.
"Benar ya burung kamu harus datang mencari kami," Choi suara sedih hampir menangis.
"Iya bye bye, jumpa lagi."
Lalu...cring!
Kireni hilang dari hadapan bayi-bayi, seketika...
"Uwaaaaa...aaa." Kelima bayi serentak teriak, menangis sedih.
Bodyguard dan sitters terlonjak kaget, bingung kenapa sekarang bayi-bayi jadi rajin menangis.
Cklekk!
Gubrak!!
__ADS_1
Pintu dibuka paksa oleh Bodyguard, kelihatan kelima bayi berbaris rapi menghadap ke satu sudut kamar mandi, wajah basah air mata.
Bergegas sitters mengangkat anak asuh masing-masing, hais.
"Apa yang terjadi, cepat periksa tubuh mereka mungkinkah ada yang terluka!" Titah satu bodyguard yang jadi ketua mereka.
Dari kamar mandi bayi, Kireni ke kamar Sora.
Terlihat temannya itu di atas kasur terbungkus di bawah selimut, wajahnya tegang ketakutan. Entah karena tadi mendengar suara-suara atau karena vidio yang ditontonnya gak taulah, Kireni tetap gak tega mengejutkan anak cewek genit itu.
Nanti sajalah masih banyak waktu, sebaiknya aku melihat Paman sekarang. Siapa tau ada kesempatan masuk kembali ke wujud manusiaku..eh nanti dulu.
Dalam hati Kireni penasaran apa yang terjadi pada Kak Bebi Claudi lalu ia memindai kamarnya, tidak ada siapa-siapa disana. Memindai lagi mencari-cari dimana kira-kira kakak itu berada, terlihat si pria tulen sedang duduk di depan seorang petugas berseragam di sebuah ruangan seperti kantor, ada apa batinnya mendekat.
"Anda kami tahan atas laporan Tuan Akiong tamu penting dari Negara S, anda dinyatakan telah membuat keonaran dan mengganggu ketenangan tamu hotel yang sedang istirahat. Kedua, atas laporan Nyonya Dewa Erlangga Claudia Santoso, anda dinyatakan telah menerobos ke kamarnya dimana statusnya sebagai seorang istri merasa dipermalukan oleh netizen dari akun lambe-lambe gosip."
Gleg, Doni meneguk liurnya.
"Maaf Pak, saya hanya kasian pada mantan saya. Masa kabur dari acara resepsi, suami gak ada akhlak masih dibela-bela, akh!" Marah Doni menggertakkan giginya, merasa miris dengan nasibnya. Mau jadi pahlawan di depan mantan, malah dilaporkan.
"Aaa!!!"
Jerit Kireni kaget merasa dirinya terlalu dekat dengan seorang petugas berseragam, namun seketika bernafas lega karena tidak ada yang menyadari kehadirannya. Bahkan suara jeritannya tidak ada yang terkejut mendengarnya seperti Sora.
Baiklah, kita tinggalkan saja mereka.
Cring!
Kireni teleportasi ke Mansion Dewa, bersembunyi di satu pohon rindang yang ada di tepi kolam ikan.
"Hai," sapanya pada ikan-ikan.
"Aaaa!!!!"
Jerit ikan-ikan melompat ketakutan, hampir keluar biji mata.
"Ada Bangau gede, ayo semua menyelam bersembunyi di dasar kolam!" Teriak satu ekor ikan yang paling besar.
Hahahaha, Kireni tertawa ngakak.
Memindai lagi kamarnya, masih ada paman berbaring di kasurnya dengan mata terpejam memeluk wujud manusianya.
Ini kesempatan baiklah, eh tapi tunggu dulu.
Kejailannya kumat mau gangguin Satuan Pengaman yang tugas malam, lalu...
"Dor!"
Kireni muncul tiba-tiba di depan seorang satuan pengaman. Pria berbadan kekar itu bergeming tidak terkejut melihatnya, bahkan tidak mendengar suaranya.
***tbc.
Like komen and share, 👍
__ADS_1