The Crane Dan Lima Bayi Kembar

The Crane Dan Lima Bayi Kembar
Bab. 32


__ADS_3

Padahal karena merasa masih kurang walau sudah dapat jatah satu porsi ukuran large size untuk dirinya sendiri.


"Sevi! Habiskan yang itu dulu," tegur Alisha melihat memang mangkok bayi-bayi sisa tinggal sedikit ice cream...Astaghfirullah.


"Sebi Nena," protes Sevi namanya disebut, orang dari tadi nggak bicara apa-apa.


Sudah setahun Alisha belum bisa membedakan antara Sebi dan Sevi, kalau duta dia bisa lihat dari alis mata. Moni and Choi juga, kalau gak lihat cobel ditelinga gak bisa bedain juga dia. Itupun kadang-kadang masih bingung bedain siapa yang cobel kanan siapa yang cobel kiri


"Dasar bayi," gelak Arjit jadi rindu pada kedua cucunya yang sekarang berada di Thailand, ikut Papi Dani yang lagi tugas ditemani Mami Icha.


Semakin memeluk Kireni, mencium mata basahnya lalu berkata. "Tidak apa-apa, pesan saja berapa mau. Bila perlu kita beli sama pabrik-pabriknya." Dewa berusaha melucu untuk mencairkan suasana, mengusap punggung Kireni sayang.


"Jangan!!!!" Serentak kelima bayi teriak lantang.


"Ha!" Dewa terjengkit kaget, ternyata gak lucu dalam hatinya geli sendiri.


Kireni juga terkejut tangisnya pun jadi terhenti, melihat kepada lima bayi.


Lalu satu bayi berdiri, mengarahkan kelima jarinya kehadapan Dewa. "Pabriknya tidak dijual, cuma es krimnya aja!" Baby Moni berkata tegas.


A


Tanpa sadar Dewa membuka mulutnya lebar.


"Karena Pabrik ice cream itu kepunyaanku dan adikku Baby Choi sebagai ahli waris sah Hotel WJ, kami sepakat tidak akan pernah melepasnya sampai kapanpun berapapun tawarannya." Baby Moni berkata lancar dengan penuh percaya diri tidak lupa menekan kata pabrik es krim, kemudian duduk kembali lanjut memakan sisa esnya.


O.


Dewa melongo, masih bayi sudah bicara harta warisan dalam hatinya geli. Penasaran jadi pengen lihat langsung orang tuanya, pernah sih di TV nasional, sosmed dan majalah itupun Presdir WJ nya doang, Nyonya Presdir tidak pernah diekspos ke publik.


"Harap maklum ya Pak Dewa," ucap Alisha tak lupa memberikan senyum terbaiknya. Dia gak mau dong ketinggalan makan es krim sambil menikmati wajah pangeran tampan.


"Baiklah, biar Baim pergi pesan. Ingat Baim, borong ice krimnya aja!"


"Yes Bos!"


Segera Baim membuat panggilan delivery order, karena tadi dia buat pesanan dalam jumlah banyak Baim dapat kartu member gratis siap antar khusus daerah Jkt dan sekitarnya.


"Ayeeee..." senyum kelima bayi jadi suka pada Paman Dewa.

__ADS_1


Walaupun bisa makan gratis di setiap counter Restoran Hotel bapaknya, tapi bagi Moni dan Choi tetap membayar jika mereka kepingin jajanan ataupun makanan berat.


Sifat menurun dari Alisha, Nena yang pandai berhitung untung dan rugi sebuah usaha. Dia bahkan sanggup menjual putranya dari pada melihat perusahaannya bangkrut. Itulah alasan kenapa Moni dan Choi tetap milih membayar, takutnya saat perusahaan bangkrut mereka yang dijadikan tumbal oleh si nenek.


"Sering-sering aja bikin Kak Kiren menangis Paman," celetuk si jaim Lara Sevi tiba-tiba.


Plak!


Lara Duta menepuk pundak kakak kembar yang cuma 10 menit lebih tua darinya itu, walaupun dia suka es krim tapi gak suka kalau kakak cantiknya menangis.


"Auh," teriak Sevi mengusap pundak dengan jari kecilnya.


"Hahahaha," semua tertawa.


Dewa merasa lega melihat Kireni ikut tertawa, mereka bertemu pandang kemudian pria dewasa itu mengecup dahi gadis kecilnya. Mengusap pipinya, yang telah kembali normal tidak ada bekas air mata, bekas ingus ataupun bekas es krim muncrat.


Melihat itu Sora jatuh cemburu dan jadi rindu pada Om Ze nya yang cuek bebek.


Jauh di mata jauh di hati, hah!


Desah Sora menunduk lemah.


***


Acara pas jam makan siang, tamu-tamu sudah pada datang. Mereka gak mau rugi katanya, kan sudah ada iuran sesama model dan artis khusus hajatan. Jadi datang tinggal makan, apalagi menunya masakan chef Hotel WJ yang terkenal mehong.


"Ini kesempatan untuk memperbaiki gizi, kalau gak dibawa daddy gak mungkin kita sanggup makan di sini." Sesama model yang merangkap jadi sugar baby berbisik-bisik.


Hihihihi.


Mereka senyum dimanis-manisin sambil melirik-lirik manja pada tamu-tamu pengusaha teman bisnis Dewa, siapa tau ada can mau ganti daddy yang lebih mantab.


Claudia kembali ke Ball room tidak melihat lelaki yang telah sah menjadi suaminya itu di setiap sudut ruangan, melihat ada bodyguard Dewa segera Claudia memanggilnya. "Dewa kemana, Pak?" Tanyanya.


"Tadi pamitnya mau ke toliet, Nyonya."


Bodyguard menjawab dengan lidah sedikit keseleo, disuruh bohong soalnya sama Bos Dewa. Tampang boleh sangar tapi berbohong mereka lemah takut dosa.


Cis! "Pergi susul dong." Titahnya. Claudia menduga Dewa gak cuma ke toilet, pasti pergi ke tempat anak gadisnya yang disembunyikan.

__ADS_1


"Baik Nyonya," angguk bodyguard berlalu dari hadapan Claudia.


"Sayang, suami kamu mana?" Tanya Nyonya Santoso datang menghampiri putrinya.


"Ke toliet katanya Ma," jawab Claudia ikutan keseleo lidah, sambil menenangkan hatinya yang gelisah.


Apakah Dewa akan membawa masuk putrinya ke Ball room untuk diperkenalkan ke publik, apakah ibu dari anak itu juga akan hadir.


Berbagai macam reaksi tamu-tamu menghantuinya.


Bagaimana dengan perasaanku sendiri, apakah aku akan siap menerima surprise dari Dewa, ah.


"Claudia ada apa, kenapa kamu gelisah?" Tegur Nyonya Santoso melihat putri cantiknya berdiri gak tenang duduk gak tenang.


Claudia tidak mendengar suara Mamanya, matanya fokus ke pintu masuk ruangan. Tidak ada tamu undangan yang tidak dikenalnya, jadi setiap kali melihat tamu wanita terasa asing di ingatannya, jantungnya langsung dugum dugum.


Lihat apa sih.


Dalam hati Nyonya Santoso ikutan memandang ke pintu. "Odi," panggilnya lagi sambil menepuk pundak Claudia pelan.


"Eh, iya. Mama bikin kaget aja, ada apa sih?" tanya Claudi sedikit meninggikan suaranya.


Astaghfirullah, ucap Nyonya Santoso mengerut dahi. "Mama lihat kamu gelisah, ada apa?" Nyonya Santoso mengulangi pertanyaannya.


"Enggak kok Ma, tamu undangan sudah mulai rame mempelai prianya gak ada kan aneh, Claudi tuh lagi nungguin Dewa," jawab Claudia menyembunyikan keresahan hatinya.


"Mama lihat Dewa keluar lumayan lama, kemana ya?" tanya Nyonya Santoso dia juga kecarian, benar-benar dibuat penasaran dengan gadis kecil yang bersamanya.


"Nah itu dia masa ke toilet aja setahun," Keluh Claudia lebai dot com.


"Suami kamu mana Odi," Tuan Santoso pula datang menghampiri.


Dia sudah tidak sabar mau memamerkan menantunya ke teman-teman bisnisnya, karena kalau hari biasa Dewa sangat susah diajak pertemuan. Hari ini adalah kesempatan, jadi jangan sampai disia-siakan.


Papa, Mama yang nanya aja aku naik darah tinggi, apalagi tamu-tamu undangan nanti.


Batin Claudia kesal pake bingit pada sikap Dewa.


***Tbc.

__ADS_1


Like, komen and share 👍


__ADS_2