The Crane Dan Lima Bayi Kembar

The Crane Dan Lima Bayi Kembar
Bab. 82


__ADS_3

"Bukan begitu, Pak Dewa. Tuan besar meminta anda segera menghubunginya, mereka akan sampai ke Mansion dalam minggu ini." Jelas asistennya itu khawatir.


Ha!


"Apa mereka tidak tau Negara I sedang ramai pengunjung?"


"Justru itu, kalau orang lain saja heboh apalagi mereka bos."


"Hm," hanya bergumam.


"Bagaimana dengan Nyonya Claudia?" Tanya Baim lagi.


"Bagaimana lagi," masih bergumam sehingga Baim dibuat kesal.


Tadi pagi kemungkinan Kireni yang membaca mantra penghilang Limosin dari pandangan orang-orang, apa itu artinya aku tidak diperkenankan bertemu Claudia.


Dewa melirik gadis kecilnya yang masih tertidur pulas. "Pergilah istirahat," ujarnya pada Baim.


Baim mengerti Dewa ingin berdua dengan Kireni. "Baiklah bos, sampai jumpa lagi."


Hm, gumam Dewa.


Sesaat asistennya keluar Dewa mendatangi Kireni ke kasur, menyentuh pipinya hangat.


"Kiren," panggilnya.


Ah sudahlah! Semua bayi juga masih tertidur, ada apa dengan mereka kompak tidur sepanjang hari.


*


Memang benar kelima bayi dan Sora juga sama masih tertidur pulas.


Bram tentu saja khawatir dengan keadaan kedua bayinya yang biasanya tidak pernah tidur lebih dari 6 jam.


Hanya karena mulut mereka menganga dan mengeluarkan iler, makanya bapak dari kedua bayi itu sedikit bernafas lega. Yakin bahwa memang bayi-bayinya itu hanya tidur bukan kemana-mana.


Arwahnya mengembara ke alam lain contohnya, maklumlah akhir-akhir ini banyak kejadian aneh yang tidak bisa diterima oleh akal sehatnya.


"Jam berapa mereka tidur, kenapa satupun belum ada yang bangun?" Bram bertanya pada Sitters.


Walaupun nada marah namun kelima Sitters merasa adem memandang ketampanan wajah Tuan muda, mereka bahkan berharap dimarah sesering mungkin agar selalu bisa berinteraksi dengannya.


"Hampir subuh Tuan, sebelum itu mereka makan dengan kenyang katanya untuk stock selama tidur. Namun begitu setiap tiga jam kita kasi susu dua ratus lima puluh mililiter mereka tetap menyedotnya sampai habis," jawab sitter Lara Sebi sebagai ketua kelompok para sitters.


Sebagai sitter Lara Sebi, keempat sitters lainnya sepakat mengangkatnya menjadi ketua kelompok mereka mengikuti bayi-bayi, hanya bedanya di kelompok mereka tidak ada Sekretaris maupun Bendahara.


Cis.


Marahnya belum habis pada Dewa ditambah lagi bayi-bayinya, masa tidak ada yang bangun menyambut kedatangannya, apa Bram gak semakin kesal.

__ADS_1


"Stock selama tidur, akhir-akhir ini mereka semakin pintar saja bicara ngawur."


"Sayang, tunggulah sebentar lagi. Sepuluh jam tidur itu masih wajar, apalagi kemarin malam mereka banyak kehabisan energi." Kiara memberi pengertian pada Suaminya yang emosian.


"Setengah jam lagi tidak bangun, rendam mereka di bathtub!"


Kata Bram suara keras sengaja membuat keributan agar bayi-bayi pada bangun dan protes, sebagai seorang bapak yang mempunyai naluri tajam dan banyak akal Bram merasa bayinya sengaja menghindar tidak mau bertemu dengannya.


Dan naluri Bram memang benar meskipun kelihatannya tertidur, kelima bayi tetap waspada. Pikiran mereka terjaga mendengarkan semua apa yang terjadi disekitarnya layaknya seperti orang yang sedang koma.


Kalian dengar itu.


Kata Sebi.


Hum.


Jawab keempat bayi lainnya.


Bagaimana sekarang, apa kita bangun saja?


Tanya Sevi.


Tidak usah dulu, tunggu saja sampai kita direndam.


Jawab Moni yang sudah hapal dengan sifat Papanya, pasti akan menginterogasinya dengan bermacam-macam pertanyaan. Apalagi perusahaannya dalam keadaan kacau balau.


Sepakat.


2 in


Kata yang lainnya.


🎶Zzzzz, zzzz, zzzz.🎶


Kembali ke mode tidur koma bahkan dengkuran di setel berirama. Kelima bayi semakin pintar memanfaatkan kemampuannya, diam-diam mereka belajar di belakang Kireni.


"Bagaimana dengan Popok , apa sudah diganti?" Masih nada marah Bram kembali bertanya pada Sitters.


"Ada Tuan muda setiap 4 jam, ini sudah yang kedua kali," jawab Sitter Sebi.


"Hei, bangun!"


Bram mentoel pipi entah siapa, dia sendiri bingung menandai bayinya yang mana Moni yang mana Choi, itu karena kedua bayi nakal itu suka bertukar identitas untuk mengelabui orang-orang khususnya mereka orang tuanya paling sering dikerjai.


Hanya jika dilihat dari cobel telinganya barulah Bram yakin siapa yang diajaknya berbicara, rambutnya yang keriting sampai menutupi wajah, tidak kurang kerjaan juga kan setiap kali harus menyibak rambut melihat telinga cobel biar tidak salah memanggil nama.


Karena sudah diputuskan, kelima bayi kompak mengacuhkan suara bising petinggi nomor satu di grup WJ itu. Mereka semakin masuk ke alam mimpi mencari keberadaan Burung Abadi.


Kiara yang sangat merindukan bayinya, jadilah dia duduk di kasur mengangkat satu bayi ke pangkuannya. "Moni sayang ini Mama," panggil mama muda itu mencium pipi ileran putri kecilnya, Baby Choi di pangkuannya membuka mata sayu. "Mama, ini aku Choi bukan Moni," jawabnya kemudian kembali terpejam.

__ADS_1


Bram yang sudah senang kembali marah melebarkan bola mata galak. "Astaghfirullah," ucapnya. "Apa bedanya mau Choi atau Moni sama saja, itu mewakili kalian berdua. Ayo bangun bayi nakal!" Sentil Bram di hidung kecil bayinya, namun Choi tidak memperdulikan lagi. Terlelap melanjutkan tidurnya bermain bersama keempat saudara-saudari di alam mimpi.


"Choi, kenapa tidur lagi sayang bangunlah. Apa Choi gak lapar?" Panggil Kiara lagi.


"Choi," gantian Bram yang memanggil.


Masih tidak ada respon walau wajahnya diguncang-guncang.


"Hum, baiklah."


Bram yang gak sabar mencari akal bagaimana membangunkan kelima bayi, dia pun berjongkok di kaki istrinya agar wajahnya bisa dekat dengan wajah bayinya. "Choi! Kamu tau dimana ini, kita di pesawat menuju negara A." Kata Bram tepat di hidung Choi.


"Tidaaaaaak!" Teriak kelimanya terduduk kontan.


Haha!


Bram senang usahanya berhasil. "Takut dipulangkan ya, lalu kenapa kalian suka memulangkan orang?" Tanya Papa ganteng itu memandang kelima bayi geram.


"Uawaaaa, Kak Kiren," teriak mereka berbarengan.


"Kalian pikir kalau sedang tidur, Papa tidak bisa mengangkat kalian naik ke pesawat?" Bram berkata puas akal bulusnya berhasil membangunkan bayi-bayi nakal.


Kelima bayi melihat sekeliling.


Ini kamar kita di Mansion Mama Alisha.


Isi pikiran Sebi mengusap air matanya.


Iya benar syukurlah, tapi bagaimana bisa kita berada disini?


Tanya Moni menatap sekeliling, begitu juga dengan bayi lainnya segera sadar bahwa mereka sedang dipermainkan.


Mungkin sebelum kita mengetahui dan mengaktifkan mode tidur koma, sehingga kita tidak menyadarinya.


Jawab Sebi.


"Aaaaaa aaaaaaa," kelima bayi tanpa dikomando membuat teriakan protes.


"Mau ke Mansion Paman Dewa, uuuuuwaaa," tangis mereka serentak.


*


Bram berdiri melipat tangannya di dada memandang kelimanya, khususnya kedua bayi penyihir apakah ada yang berbeda dari segi penampilan. Tumbuh taring seperti vampir atau tanduk seperti iblis misalnya.


Syukurlah tidak ada, semua sama kecuali tinggi mereka yang bertambah dan agak kurusan, hum.


Dalam hati Bram. "Kalian anak keturunan keluarga Wijaya sudah seharusnya tinggal di Mansion Wijaya, kenapa malah pergi ke Mansion Erlangga," marah Bram.


***tbc

__ADS_1


like vote dan hadiah, 🙏


__ADS_2